Keberadaan Yang Tersembunyi

Keberadaan Yang Tersembunyi
Melawan Monster Tingkat SSS


__ADS_3

Mereka semua pun makan malam bersama. Malamnya, menjelang mau tidur. Aris merasakan ada sesuatu yang aneh di sekitar hutan.


"Maya, apa kau merasakan sesuatu?" Tanya Aris


"Sesuatu? Aku tidak merasakan apa-apa" Jawab Maya


"Maya, bagaimana dengan yang lainnya? Apa mereka sudah tertidur?" Tanya lagi Aris


"Sudah. Memangnya ada apa?" Tanya balik Maya


"Maya, ikutlah denganku ke hutan. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh" Jawab Aris


"Baiklah. Aku akan pergi denganmu" Kata Maya


Mereka pun pergi ke hutan. Sesampainya di perbatasan, Aris melihat ada seekor badak yang besar dengan corak merah kehitaman.


"Itu, kan" Kata Aris terkejut


"Badak penghancur. Kenapa ada disini?" Tanya Maya bersuara pelan


"Badak itu. Dia adalah monster tingkat SSS. Petualang kelas SSS saja belum tentu bisa mengalahkannya. Dia hanya bisa dikalahkan oleh para pahlawan dan juga beberapa penyihir. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan perbatasan sihir yang kubuat" Kata Aris


"Apa kau bisa mengalahkannya?" Tanya Maya


"Biarpun sekelas The Master Academy belum tentu bisa mengalahkannya. Kulitnya sangat keras dan juga dengan tubuh sebesar itu kecepatan larinya sangat cepat" Jawab Aris sambil berdiri


"Apa kau akan mengalahkannya?" Tanya lagi Maya dengan sedikit panik


"Tentu saja. Akan berbahaya jika dia masuk ke dalam perbatasan rumah. Aku akan memanggil mereka" Kata Aris sambil melafalkan mantra ke tanah


"Kakek, ini kan.." Kata Quester terkejut karena muncul cahaya di bawah kakinya


"Kita dipanggil" Kata Alan


Mereka berdua pun muncul di depan Aris.


"Tuan, ada apa memanggil kami? Padahal sebentar lagi kita tutup. Benar, kan kakek Alan?" Kata Quester


"Benar apa yang dikatakan nona Quester. Ada hal apa sehingga memanggil kami berdua" Tanya Alan


"Kalian berdua, berbaliklah" Kata Aris


Mereka berdua pun berbalik. Betapa terkejutnya mereka melihat badak yang sangat besar.


"Eh? Apa itu? Besar sekali" Kata Quester terkejut


"Wah, aku sampai kagum. Apa kita akan mengalahkannya?" Tanya Alan


"Ya. Kita akan mengalahkannya. Dia akan sangat berbahaya bila sampai keluar dari hutan ini. Semuanya keluarkan semua kemampuan kalian" Kata Aris mengeluarkan jubah sihirnya yang berwarna emas


"Tuan, itukan.." Kata Quester


"Ya, aku menggunakan 50% kekuatanku. Jika aku menggunakan 100% kekuatanku, maka penampilanku akan berubah. Sepertinya kalian semua belum pernah melihat aku menggunakan semua kemampuanku, ya" Kata Aris


"Tentu saja. Aku hanya melihat Tuan menggunakan setengah dari seluruh kekuatannya" Kata Quester


"Baiklah. Mari kita kalahkan dia dan kembali tidur" Kata Aris


"Baik" Kata mereka semua serentak


Aris mengeluarkan lubang untuk memperlambat pergerakannya. Sedangkan Quester dan yang lainnya menyerang badak itu dengan seluruh kekuatannya.


"Percuma, kulitnya keras sekali" Kata Maya


"Sepertinya kita harus menyerang di satu titik. Itu mungkin bisa membuat kulitnya sedikit rapuh" Kata Alan

__ADS_1


"Kalau begitu, dimana kita harus menyerangnya?" Tanya Quester


"Kalian. Apa kalian mempunyai rencana?" Tanya Aris


"Kami akan menyerang di satu titik. Apa kau tahu dimana letak titiknya?" Tanya balik Maya


"Serang saja bagian perutnya. Karena disanalah kelemahan hewan itu" Jawab Aris


"Baik, Tuan. Kami akan mengalahkannya" Kata Quester


Quester mengeluarkan sihir apinya dan Alan menggunakan teknik tangan kosongnya untuk membuatnya sedikit terkejut.


"Maya, buatlah sabetan di antara perutnya. Aku akan mencoba untuk memperlebar sabetan" Kata Aris


"Baiklah, akan aku lakukan" Kata Maya


Maya melakukan apa yang disuruh Aris. Setelah membuat sabetan, Aris langsung melakukan hal terakhir yang harus dilakukan.


"Kau hebat sekali, Tuan" Kata Quester


"Kekuatan The Master Academy memang sudah tidak diragukan lagi" Kata Alan sambil tersenyum


"Tidak, ini belum cukup" Kata Aris


Badak itu pun mengaum sambil mengangkat kedua tangan depannya dan menghentakkan ke tanah sehingga membuat gelombang yang sangat besar. Aris pun yang menyadarinya langsung berpindah tempat dengan elemen petir nya.


"Aris, kau tidak apa-apa?" Tanya Maya


"Dia menyadari kehadiran kita" Jawab Aris


"Terus apa yang harus kita lakukan?" Tanya Quester


"Tidak ada pilihan lain. Kita harus mengalahkannya dengan seluruh kemampuan yang ada. Lagipula, bagian bawah dia sudah tidak terlalu kuat. Kita harus menyerang di bekas sabetan itu" Jawab Aris


"Awas Tuan, semuanya. Dia akan mengangkat kakinya lagi" Kata Alan


"Aku akan mengangkatnya menggunakan sihir angin. Saat itu juga kalian serang di bagian yang terbuka" Kata Aris


"Baik!!" Kata mereka serentak


Aris menggunakan sihir anginnya untuk mengangkat badak itu. Setelah cukup terangkat, mereka bertiga langsung menyerang di bagian yang sudah terbuka sebelumnya.


"Apa berhasil?" Tanya Maya


"Masih belum" Jawab Aris


"Kuat sekali" Kata Quester


"Semuanya, awas ekornya" Kata Alan


Mereka semuanya pun menghindari ekornya yang panjang.


"Benar-benar, mari kita lakukan sekali lagi" Kata Aris


"Baik!" Kata mereka serentak


Mereka berempat melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


"Apa kali ini berhasil?" Tanya Quester


"Dia hanya lumpuh. Biarkan aku yang mengalahkanya" Kata Aris sambil mengeluarkan pedang emas


"Tuan, pedang apa itu?" Tanya Quester


"Ini adalah pedang cahaya emas. Ini pedang adalah hasil buatan sendiri dan elemen yang digunakan dalam pembuatan ini adalah elemen cahaya" Jawab Aris

__ADS_1


"Mohon maafkan hamba, Tuanku. Tapi, hamba belum pernah melihat senjata ini?" Tanya Alan


"Tentu saja. Aku membuatnya secara diam-diam. Untuk membuat senjata ini, aku membutuhkan 16% mana dari seluruh manaku" Kata Aris


"Begitu, ya. Terimakasih sudah menjawab pertanyaanku" Kata Alan


"Baiklah, aku belum pernah mencobanya. Mungkin sekarang yang tepat untuk mencobanya" Kata Aris


Aris pun mengumpulkan tenaga. Disekeliling pedang itu terdapat cahaya yang sedang berkumpul dan membuat pedang itu semakin bersinar.


"Baiklah, kalian tunggu disini sambil melihatnya" Kata Aris


"Baik" Kata Alan


Aris pun menyerang dengan kecepatan tinggi sehingga membuat badak itu terbelah menjadi dua.


"Aku semakin tidak ingin melawannya" Kata Quester


"Jangan coba-coba, ya. Nona Quester" Kata Alan tersenyum


"Sejak kapan dia menjadi sekuat ini?" Tanya Maya dalam hati


Aris pun perlahan turun dari udara dan pedangnya ikut menghilang.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Aris


"Tentu saja, Tuanku" Jawab Alan


"Aku semakin takut jika macam-macam dengan, Tuan" Kata Quester sedikit panik


"Ada apa?" Tanya Aris melihat ke arah Maya


"Tidak. Tidak ada" Jawab Maya menundukkan kepalanya


"Kalau begitu, aku akan kembalikan kalian berdua. Quester, jangan lupa sampai salah hitung ya pendapatan hari ini" Kata Aris


"Baik" Kata Quester


"Baiklah, aku mulai" Kata Aris melafalkan dengan tangannya


Mereka berdua pun menghilang dan kembali ke tempat semula.


"Jadi, ada apa? Katakan saja" Kata Aris


"Ternyata aku tidak bisa bersembunyi, ya" Kata Maya


"Soalnya kau itu gampang ditebak orangnya. Apalagi, aku dan kau pernah menjadi teman pada saat kecil" Kata Aris


"Begitu, ya. Maaf, ya" Kata Maya


"Jika begitu, katakan padaku apa yang terjadi?" Tanya Aris


"Aku.. Sejak kapan kau menjadi sekuat ini? Aku tidak ingin kau menjadi kuat. Jika aku menjadi kuat maka aku bisa melindungimu dan juga jika kau yang semakin kuat maka aku tidak bisa mendekatimu lagi. Kenapa? Hei, katakan padaku. Kenapa kau jadi semakin kuat?" Tanya Maya sambil menangis


"Kau bisa mendekatiku. Lagipula kau sudah semakin kuat. Buktinya kau bisa mengalahkan para bandit itu dan menjaga Tasya dan yang lainnya. Menurutku itu sudah cukup kuat. Sudahlah berhenti menangis, kau masih ingat kan dengan syarat kita?" Tanya Aris sambil memeluk Maya


"Tentu saja aku mengingatnya. Aku juga ingin segera menikahi mu" Jawab Maya membalas pelukannya.


Setelah itu, mereka berdua kembali ke rumahnya. Mereka disambut oleh yang lainnya. Sesampainya disana, Maya memeluk mereka sambil menangis.


"Kak Aris, apa sudah kau lakukanlah?" Tanya Tasya


"Aku? Aku tidak melakukan apapun" Jawab Aris kepanikan


"Seorang pria tidak boleh membuat wanita menangis, kau tahu itu, kan?" Tanya Melani

__ADS_1


"Tapi, aku sungguh tidak melakukan apapun padanya" Jawab Aris sambil teriak


...END...


__ADS_2