Keberadaan Yang Tersembunyi

Keberadaan Yang Tersembunyi
Bekal Bantuan


__ADS_3

Keesokan paginya, Aris bangun dari tidurnya. Setelah itu, ia pergi ke toilet untuk bersih-bersih. Setelah mandi, ia pergi ke kamarnya Riana dan Ririn yang sedang beristirahat.


"Kalian, bagaimana keadaannya?" Tanya Aris


"Cukup lumayan, Kak Maya merawat kami dengan sangat baik" Jawab Ririn


"Begitu. Baiklah, kalian berdua tunggu sebentar" Kata Aris memberikan sihir cahaya ke arah mereka berdua


"Kak Aris, apa ini?" Tanya Riana


"Ini akan membantu kalian sedikit sembuh" Jawab Aris


"Terimakasih banyak" Kata Riana


"Master, maaf. Kami kira kita sudah cukup kuat. Tapi, nyatanya kami belum berkembang" Kata Ririn


"Tidak usah dipikirkan. Kalian belajar lagi saja, mungkin itu akan bisa membantu kalian berkembang" Kata Aris


"Baiklah. Akan kami lakukan" Kata Ririn


"Baiklah. Dengan begini kalian bisa berpergian. Alangkah baiknya, jika kalian ditemani oleh Kak Maya sampai di desa" Kata Aris


"Kami tidak ingin merepotkan dia. Karena, dia sudah sibuk disini" Kata Ririn


"Begitu, ya. Baiklah, aku harus pergi. Kalian berisitirahat saja" Kata Aris


"Baik" Kata Ririn


"Terimakasih banyak, Kak Aris" Kata Riana


Setelah keluar dari kamarnya Riana dan juga Ririn, Aris pergi ke meja makan untuk sarapan.


"Kak Aris dan Kak Maya kemana semalam?" Tanya Elfiza


"Kemarin kita berdua memeriksa di daerah perbatasan dan hasilnya aman kok. Kalian tenang saja" Jawab Aris


"Apa benar Kak Maya?" Tanya Elfiza


"Benar. Kalian tidak perlu khawatir. Ada Kak Maya yang akan melindungi kalian semua" Jawab Maya


"Baiklah. Aku harus pergi, aku masih memiliki misi yang diberikan oleh ketua OSIS di sekolahku. Sampai jumpa" Kata Aris


"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya" Kata Maya


"Sampai jumpa" Kata Septi


"Mungkin jika aku mencubit pipimu aku akan senang" Kata Aris


"Silahkan, Kak Aris" Kata Septi mengangkat kepalanya


"Benarkah? Baiklah, akan aku lakukan" Kata Aris sambil mencubit pipinya Septi


"Bagaimana? Apa Kak Aris senang?" Tanya Septi


"Kakak sangat senang. Aku pergi dulu, ya" Kata Aris


"Dadah" Kata Septi


Setelah keluar dari rumah, Aris langsung berpindah tempat ke asrama. Sesampainya disana, ia melihat Alan yang sedang tertidur di gerobak makanan.


"Maafkan aku, Alan" Kata Aris bersuara pelan


Aris pergi ke kamarnya untuk melihat keadaannya.


"Sepertinya dia masih tertidur. Oh iya. Aku harus membuat bekal untuk mereka. Aku harap Quester masih menyisakan bahan-bahannya" Kata Aris


Aris pun mencari bahan-bahannya di sekitar lemari dan menemukan beberapa.


"Kita memang tidak memiliki daging. Tapi, kita gunakan biasa saja" Kata Aris

__ADS_1


Aris pun melihat jam dan menunjukkan pukul setengah delapan.


"Waduh hampir terlambat. Aku harus bergegas" Kata Aris


Aris pergi ke lemari untuk mengganti pakaiannya dan merapikan buku pelajarannya dan juga membawa bekalnya.


"Aku tidak boleh terlambat" Kata Aris


Sesampainya di kelas, Aris sudah terlihat sangat lelah.


"Ada apa? Sepertinya kau kelelahan" Kata Dedi


"Aku hampir kesiangan" Kata Aris


"Begitu, ya" Kata Dedi


Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi yang menandakan bahwa pelajaran sudah dimulai.


"Mungkin lain kali kita mengobrol nya. Dadah" Kata Dedi


"Baik. Sampai jumpa" Kata Aris


Pelajaran pun dimulai seperti biasa. Setelah cukup lama akhirnya jam istirahat sudah dimulai.


"Dedi, temui aku di mejaku. Ajak Arina dan yang lainnya" Kata Aris menghampiri Dedi


"Baiklah. Sepertinya ini hal yang penting" Kata Dedi


Setelah semuanya berkumpul, Aris mengeluarkan bekal makanan dari tasnya. Semuanya pun terkejut.


"Apa ini?" Tanya Arina


"Ini adalah janjiku. Maaf jika rasanya kurang enak. Tapi, silahkan dicoba" Kata Aris


"Baiklah. Aku terima. Akhirnya setelah sekian lama" Kata Resti


"Dedi, ini untukmu. Aku sudah menambahkan sesuai janji kita yang sebelumnya" Kata Aris


"Dan Dinda, ini untukmu. Isinya sama dengan yang lain. Aku harap kamu suka" Kata Aris


"Asalkan itu masakanmu, aku akan memakannya. Terimakasih banyak" Kata Dinda


Aris pun juga mengeluarkan bekalnya. Dedi melihat satu lagi bekal yang belum dikeluarkan.


"Aris, bekal itu untuk siapa?" Tanya Dedi


"Ah, aku lupa memberikannya. Aku pergi dulu" Kata Aris sambil mengambil bekalnya dan pergi


"Pasti punya ketua OSIS, kan?" Tanya Arina


"Tentu saja. Dia juga membantu kita, kan" Kata Dinda


"Kalian benar. Sepertinya lawan kita bertambah" Kata Resti


"Baiklah. Semuanya, mari kita makan masakan Aris. Aku jadi ingin merasakannya. Selamat makan" Dedi


Dedi pun terkejut rasanya karena sangat enak. Begitu pula dengan yang lainnya.


"Apa ini? Padahal hanya sedikit bahan yang digunakan. Tapi, rasanya sangat enak" Kata Resti


"Kau benar. Aku tidak bisa berhenti memakannya" Kata Dinda


"Aku jadi iri dengannya karena bisa memasak beginian dengan bahan yang sedikit" Kata Arina


Tibalah Aris di depan pintu kantor OSIS.


"Permisi" Kata Aris sambil mengetuk pintunya


"Masuk saja" Kata Angelia

__ADS_1


Aris pun membuka pintunya dan masuk kedalam.


"Jadi, ada apa? Apa kau ingin menanyakan tentang jubahmu? Saat ini Debi sedang keluar. Mungkin mengambil jubahmu" Kata Angelia


"Tidak. Aku ingin memberikan ini" Kata Aris memberikan bekalnya


"Bekal?" Tanya Angelia yang kebingungan


"Ya. Ini adalah balasanku karena kau pernah membantuku membuat dapur. Jadi, aku sudah memasaknya untukmu dan juga yang lainnya" Kata Aris


"Eh? Begitu, ya. Aku jadi penasaran dengan rasanya" Kata Angelia


"Kalau begitu. Aku pergi dulu. Aku juga harus makan karena sebentar lagi jam istirahat akan habis. Sampai jumpa" Kata Aris sambil pergi


Angelia pun memakan sedikit dan rasanya sangat enak.


"Apa-apaan dengan bekal ini? Bahannya hanya sedikit, tapi rasanya sangat enak. Aku jadi ingin terus memakannya" Kata Angelia


Sesampainya di kelas, Aris melihat semuanya sedang senang.


"Kalian, apa yang terjadi?" Tanya Aris


"Aris, jadilah kepala koki di tempatku. Aku akan memberikanmu sejumlah emas yang banyak" Kata Dinda


"Eh? Kenapa memangnya?" Tanya Aris terkejut


"Masakan. Masakanmu sangat enak. Kepala koki ku saja tidak mungkin bisa membuat masakan seenak ini. Apalagi hanya dengan bahan yang sangat sedikit" Kata Dinda


"Yah itu karena aku menemukannya bahan-bahannya sedikit. Lagipula itu juga sisa semalam" Kata Aris


"Sisa semalam? Apa maksudmu?" Tanya Arina


"Aku sekarang memulai usaha makanan. Aku juga buka mulai dari jam delapan sampai jam sebelas. Dan anehnya makananku selalu saja habis. Jadi, aku sangat susah mendapatkan bahan-bahannya untuk kalian" Jawab Aris


"Tentu saja selalu habis. Masakanmu saja sangat enak" Kata Arina


"Ngomong-ngomong, dimana kau berjualannya?" Tanya Resti


"Aku selalu di alun-alun kota. Disana ramai sekali" Jawab Aris


"Kalau begitu, kami juga akan datang. Benar, kan?" Tanya Resti


"Kalian ingin datang?" Tanya Aris


"Apa tidak apa-apa?" Tanya Resti


"Tidak masalah. Kalian boleh datang kok" Jawab Aris


"Kalau begitu, kita akan pergi nanti malam" Kata Arina


"Aku jadi ingin tahu kedainya seperti apa" Kata Resti


"Kedaiku hanya sebuah gerobak. Itu pun aku menyewa dengan pak Aryo. Kalian tahu, yang pernah aku sewa untuk membawa barang-barang kita" Kata Aris


"Oh pak Aryo. Aku ingat sekarang" Kata Resti


"Kenapa kau tidak membuatnya saja?" Tanya Dinda


"Aku tidak mempunyai uang sama sekali. Uangku sudah habis pas liburan kemarin" Jawab Aris


"Tenang saja. Aku akan meminta ayahku untuk mengirimkan mu sejumlah uang, Bagaimana?" Tanya Dinda


"Raja ingin memberikanku uang? Aku tidak bisa menerimanya. Terimakasih banyak" Kata Aris


"Begitu, ya. Baiklah" Kata Dinda tertunduk lesu


"Bukannya aku tidak mau menerimanya. Hanya saja, aku lebih suka dengan caraku sendiri" Kata Aris


"Begitu. Baiklah. Aku menghargai pendapatmu" Kata Dinda

__ADS_1


"Terimakasih banyak" Kata Aris


...END...


__ADS_2