Keberadaan Yang Tersembunyi

Keberadaan Yang Tersembunyi
Pengakuan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Setelah jam istirahat Arina pergi ke ruangan latihan sihir untuk melihat latihannya Dedi.


"Elemen Angin - Bola Angin" Rapalan Dedi


Melihat sihir itu, Arina kaget dan juga terkejut.


"Sepertinya kau masih hebat saja, ya?" Tanya Arina


"Ah, tidak. Aku ini masih seperti dulu. Ia pernah mengajariku bahwa sihir bola angin paling cepat ialah 3 detik" Jawab Dedi


"3 detik? Apa kau yakin?" Tanya Arina


"Darma saja untuk mengalahkan Ronald butuh waktu 3 detik" Jawab Dedi


"Benarkah?" Tanya lagi Arina


"Apa kau melihat pertandingan final waktu Ronald melawan Darma 5 tahun lalu?" Tanya Dedi


"Ah, maaf. Aku tidak melihat sama sekali" Jawab Arina


"Sayang sekali, padahal pertandingan itu ramai sekali. Aku rasa itu seperti pertandingan terbesar dalam daratan Restafa" Kata Dedi


"Kau tahu semuanya, ya?" Tanya Arina


"Bukan hanya tahu, aku ini juga penggemar berat Darma, loh" Jawab Dedi


"Apa benar?" Tanya lagi Arina


"Ya, mungkin sedikit" Jawab Dedi


"Tapi, apa kau yakin bisa menguasai teknik itu?" Tanya Arina


"Aku butuh teori untuk bisa menguasainya" Jawab Dedi


"Kalau begitu, semangat" Kata Arina


"Baik, bagaimana kalau kita latihan bersama?" Tanya Dedi


Tiba-tiba terdengar bel sekolah menandakan waktu istirahat telah selesai.


"Maaf. Tapi, waktu istirahat sudah selesai. Mungkin lain kali" Jawab Arina tersenyum


"Sialan kau bel sekolah" Kata Dedi kesal


"Maaf, ya. Kalau begitu, aku pergi dulu" Kata Arina pergi meninggalkan Dedi sendirian


"SIALAN KAU BEL SEKOLAH!!!" Kata Dedi teriak dengan keras


Di kantor Assosiasi sihir.


"Jadi, bagaimana laporannya?" Tanya Ronald


"Mereka melaporkan bahwa para monster yang ada di sebelah utara sudah mulai hilang" Jawab Tiara


"Begitu, ya. Pastikan terus untuk memantaunya" Kata Ronald


"Baik" Kata Tiara


Tidak lama, Ronald berdiri dari kursinya dan berjalan ke luar ruangan.


"Anda ingin kemana, master?" Tanya Tiara


"Aku ingin mencari minuman" Jawab Ronald


"Kalau begitu, biarkan aku saja. Master diam saja di kursinya" Kata Tiara


"Tidak, tidak. Tapi, aku ingin sekali keluar dari kantor ini dan mencari udara segar" Kata Ronald


"Kalau begitu, aku temani" Kata Tiara

__ADS_1


"Terimakasih" Kata Ronald


Saat keluar dari kantornya, banyak orang dan juga para penyihir yang menghormati Ronald. Bahkan ada juga yang menyapanya.


"Kau sangat terkenal, master" Kata Tiara


"Jujur, aku sebenarnya tidak menyukai ini" Kata Ronald


"Apa maksudmu?" Tanya Tiara kebingungan


"Entah kenapa, aku tidak menyukai kehidupanku yang sekarang" Jawab Ronald


"Aku tidak mengerti apa katamu" Kata Tiara


"Coba kau pikir, apa orang lain akan senang jika mereka mendapatkan keinginannya dengan cara yang tidak sehat?" Tanya Ronald


"Yah, itu..." Kata Tiara


"Sejujurnya, aku tidak suka orang mengatakan bahwa aku ini seorang pemenang. Mereka mengatakan seolah-olah aku yang memenangkan pertandingan itu. Padahal kenyataannya tidak. Aku selalu memikirkan ini saat pertama kali aku mendapatkan gelar itu" Kata Ronald


"Aku juga sependapat denganmu. Tapi, apa semua orang yang ada di kantor ini mengeluhkan itu?" Tanya Tiara


"Itu.. Mereka tidak peduli" Jawab Ronald


"Tepat sekali. Tapi, hanya satu yang mereka yakini. Yaitu mereka menaruh harapan padamu" Kata Tiara


Mendengar pernyataan itu Ronald terdiam sejenak.


"Mungkin kau benar. Sepertinya aku harus berhenti memikirkan masa lalu dan terus memikirkan masa sekarang" Kata Ronald


"Nah begitu. Ini The Master Academy yang kukenal" Kata Tiara


"Tiara..?" Tanya Ronald


"Ada apa?" Tanya balik Tiara


"Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya" Jawab Ronald dengan wajah malu-malu


"Sama-sama" Kata Tiara sambil tersenyum


Pada saat malam hari di penginapan. Nia menghampiri Aris yang sedang berada di kamarnya.


"Aris?" Tanya Nia sambil mengetuk pintu kamarnya


"Ya, silahkan masuk" Jawab Aris


Nia pun membuka pintu kamarnya dan ia melihat banyak barang yang sudah disiapkan untuk besok.


"Apa persiapannya sudah selesai?" Tanya Nia


"Sudah, sekarang tinggal waktu saja" Jawab Aris


Saat sedang melihat-lihat, Nia terpaku pada sebuah kantung kecil berwarna hitam.


"Apa itu?" Tanya Nia sambil menunjukkan ke arah kantung hitam tersebut


"Ini emas" Jawab Aris


"Ada berapa jumlahnya?" Tanya Nia


"1 kantung berisi 100 keping emas" Jawab Aris


"100 keping emas? Itu uang yang sangat banyak. Untuk apa uang sebanyak itu?" Tanya lagi Nia


"Kau tahu, aku baru ingat saat kita ke toko bang Roy. Kita belum membayar barangnya. Maka dari itu, aku akan membayarnya dan juga uang atas jasanya karena membantuku untuk mendapatkan kembali Yuli" Jawab Aris


"Apa kau akan memberikan 1 kantung itu? Bukankah terlalu banyak?" Tanya lagi Nia


"Menurutku ini tidak seberapa. Oh, iya. Dan juga aku masih punya 1 kantung lagi untuk bang Ijas. Masing-masing berisi 100 keping emas" Jawab Aris

__ADS_1


"Apa itu tidak terlalu merugikan dirimu?" Tanya Nia


"Rugi? Menurutku membantu orang itu perlu. Tetapi, aku hanya merasa ada yang kurang apabila seseorang membantuku tetapi aku tidak membalasnya dengan benar" Jawab Aris


"Kau benar-benar orang baik" Kata Nia


"Ah, benar. Kalau kau mau, aku masih punya 1 kantung lagi untukmu" Kata Aris


"Sudahlah, aku tidak memerlukannya" Kata Nia


"Aku mohon, terimalah" Kata Aris memohon sambil memberikan kantung yang berisi keping emas


"Baiklah, aku terima" Kata Nia merasa malu-malu


"Terimakasih" Kata Aris sambil tersenyum


"Aku yang harusnya berterimakasih" Kata Nia mukanya memerah


"Baiklah, kau simpan ini untuk dirimu" Kata Aris sambil memberikan ramuan botol


"Apa kau sudah menyimpannya untuk dirimu sendiri?" Tanya Nia


"Aku sudah menyimpannya" Jawab Aris


Tidak beberapa lama, terdengar suara pintu diketuk.


"Permisi, Aris?" Tanya Bela yang sedang mengetuk pintu


"Silahkan masuk" Jawab Aris


Saat hendak membuka pintu, Bela kaget karena sudah ada Nia yang ada didalam kamarnya Aris.


"Ada, Nia?" Tanya Bela


"Ada apa?" Tanya balik Nia


"Makan malam sudah siap. Cepatlah kalian kebawah sebelum makanannya menjadi dingin" Jawab Bela


"Baiklah, kami akan segera kesana" Kata Nia


"Ya, sebentar lagi kami akan selesai" Kata Aris


"Kalau begitu, aku akan menunggu kalian dibawah" Kata Bela


"Bolehkah aku bertanya padamu?" Tanya Aris


"Ada apa?" Tanya balik Nia


"Apa maksud Izo bahwa kau mencintai Darma?" Tanya lagi Aris


"Eh, ya.. Itu" Kata Nia bicaranya patah-patah


"Aku penasaran" Kata Aris


"Sepertinya sudah tidak bisa disembunyikan lagi, ya" Kata Nia


"Apa maksudnya?" Tanya Aris


"Sebenarnya saat aku masih di kantor asosiasi sihir. Aku sudah mencintai Darma bahkan sebelum ia mendapatkan gelar itu. Saat aku ingin bicara padanya selalu saja gagal. Entah karena tugas ataupun halangan lainnya" Jawab Nia


"Aku merasa kasihan padanya. Apa kau sekarang masih mencintainya?" Tanya Aris penasaran


"Sebenarnya aku masih agak ragu untuk sekarang. Dan sebenarnya mulai sekarang aku sudah menyukaimu" Jawab Nia


Mendengar itu spontan Aris sangat terkejut.


"Apa kau akan memberikan jawabannya sekarang?" Tanya Nia sambil mendekati Aris


Hati Aris langsung berdegup sangat kencang saat Nia mulai mendekati tubuhnya.

__ADS_1


"Bagaimana ini?" Tanya Aris dalam hati panik


...END...


__ADS_2