
"Ada apa ini? Kami tidak melakukan kesalahan!!" Kata Angelia teriak
"Diam!!" Kata salah satu pemimpin grup asosiasi sihir
"Lebih baik diam dan dengarkan" Kata Aris bersuara kecil
"Kalian telah melakukan kontrak dengan iblis maka dari itu saya sebagai pemimpin menghukum kalian semua!!!" Kata pemimpin grup asosiasi sihir
"Kami..." Kata Dinda sambil teriak perkataannya dipotong
"Sudahlah" Kata Aris menenangkan Dinda
"Baiklah, kami akan menerima hukuman tapi bisa jelaskan apa yang terjadi disini?" Tanya Aris
"Kalian semua melakukan kontrak dengan iblis dan berusaha menghancurkan kantor ini!!" Kata pemimpin itu
"Buktinya?" Tanya Aris
"Dari pedang itu. Itu adalah pedang dark sword" Kata pemimpin itu
"Aku tahu pedang itu makanya aku menyarankan untuk membawa pedang itu kesini untuk dihancurkan" Kata Aris
"Menyarankan?" Tanya pemimpin itu
"Itu adalah pedang yang dibeli oleh gadis itu dari pedagang selama 5 tahun lalu. Dan juga jenis pedang itu adalah pemutus hubungan. Dan dia mengalami pemutus hubungan dengan orangtuanya selama 5 tahun. Apa kau mengerti perasaannya?" Tanya Aris
"Yah, itu.." Kata pemimpin itu terdiam
"Jadi sekarang bubarkan pasukan mu dan biarkan aku yang bertanggung jawab" Kata Aris
"Ba-baiklah. Semuanya bubar. Dan kau ikut aku ke kantor" Kata pemimpin itu
"Tidak masalah" kata Aris
Pasukan itu pun bubar dan semua orang yang ada disitu menjadi waspada terhadapnya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Angelia
"Tenang saja, ini bukanlah masalah" Jawab Aris
"Tapi, apa kau bisa mengatasi kesalahpahaman ini?" Tanya Arina
"Ini hanya masalah kecil. Jadi, jangan terlalu dipikirkan" Jawab Aris
"Aris, aku takut" Kata Dinda
"Tenang saja. Kau bisa menungguku bersama mereka" Kata Aris
"Baiklah" Kata Dinda
"Maafkan aku. Ini salahku karena memiliki pedang itu" Kata Angelia
"Sudahlah, lagipula aku yang menyarankan mu untuk pergi ke sini" Kata Aris
"Aris.." Kata Angelia
"Baiklah semuanya kita istirahat dulu" Kata Aris
"Baik!!" Kata mereka bertiga
Saat sudah tenang akhirnya pedang itu sudah dihancurkan dan juga mereka bisa pulang.
"Kalian pulanglah terlebih dahulu. Aku masih harus dipanggil olehnya" Kata Aris
"Tidak, kami akan menunggumu disini" Kata Angelia
"Ya.. kami tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian" Kata Arina
"Dan jangan lupa kencannya" Kata Dinda
"Kau ini ya, baiklah. Jika itu kemauan kalian, aku akan pergi bersama kalian" Kata Aris
Setelah pergi cukup lama akhirnya Aris dibebaskan dari hukumannya.
"Bagaimana?" Tanya Angelia memegang kedua tangannya
"Tenang saja. Aku dibebaskan kok" Kata Aris
"Benarkah?" Tanya Dinda
"Ya. Itu benar" Kata Aris sambil tersenyum
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Arina
__ADS_1
"Tentu saja pulang ke rumah, kan?" Tanya Aris
Mendengar itu Angelia dan Dinda cemberut karena lupa janjinya.
"Ada apa?" Tanya Aris
"Tidak ada apa-apa!!" Kata Angelia
"Ya benar, ayo kita pulang" Kata Dinda sambil pergi mengajak Angelia
"Ada apa mereka berdua? Tumben mereka akrab sekali" Kata Aris
"Kau tidak pernah mengerti perasaan wanita, ya?" Kata Arina sambil pergi
"Apa? Ada apa? Tunggu dong, beritahu aku" Kata Aris
"Kita bisa melihat bahwa pedang itu sudah cukup banyak diperjualbelikan" Kata seorang wanita berkacamata
"Tapi, kita akan menghentikannya dan juga orang itu sepertinya kuat" Kata Ronald
"Tumben tuan mengatakan itu" Kata wanita itu
"Tiara, jika apa yang kulihat maka yang aku ucapkan itu ada benarnya" Kata Ronald
"Apakah kekuatannya setara dengan tuan?" Tanya Tiara
"Aku rasa dia bisa dibandingkan dengan orang itu" Jawab Ronald
"Orang itu? Apa jangan-jangan.." Kata Tiara
"Ya.. Darma" Kata Ronald
Setelah berjalan melewati alun-alun kota mereka merasa diawasi oleh seseorang.
"Apa kau merasa kita diawasi?" Tanya Angelia
"Mungkin, aku juga merasakan hal yang sama" Kata Dinda
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya Arina
"Tenanglah. Mereka tidak akan bisa berbuat seenaknya di depan banyak orang" Kata Angelia
"Jadi yang kita perlu lakukan adalah berjalan seperti biasa" Kata Dinda
"Baiklah" Kata Arina
"Mereka bertiga sedang membicarakan apa, sih?" Tanya Aris bersuara kecil
"Tuan, apa kau merasakan ada sesuatu yang mengganjal?" Tanya Quester lewat telepati
"Ya.. mereka ada empat. Dan mereka semua monster. Yang jadi pertanyaannya siapa yang mereka incar?" Tanya Aris lewat telepati
"Apa mereka akan mengincar salah satu wanita itu?" Tanya Quester lewat telepati
"Entahlah. Tapi aku akan memancing mereka" Jawab Aris sambil mengeluarkan aura yang kuat dan hanya bisa dilihat oleh monster
"Dia memiliki aura yang kuat. Apakah kita akan membawanya untuk dijadikan persembahan?" Tanya monster itu
"Ya.. kita harus membawa mereka yang memiliki aura sihir yang kuat dan menjadikan mereka sebagai persembahan untuk raja kita" Jawab monster itu yang sepertinya pemimpinnya
"Kalian pergilah dahulu. Dan usahakan untuk cepat kembali ke asrama!!" Kata Aris
"Tapi ada apa?" Tanya Angelia
"Masih ada pekerjaan yang perlu dilakukan" Jawab Aris sambil pergi
"Ah Aris.. tunggu" Kata Dinda
"Apa dia bisa merasakan hal yang sama seperti kita?" Tanya Arina
"Itu masih dipertanyakan" Kata Angelia
"Terus, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Dinda
"Kita harus mengikutinya dan mencari tahu apa yang terjadi" Kata Angelia
"Baiklah, karena kita sama-sama mencintainya" Kata Dinda
"(tersenyum).. Aku tidak akan pernah kalah dari siapapun jika menyangkut masalah cinta" Kata Angelia
"Eh.. emang aku mencintainya?" Tanya Arina
"Sudahlah, kami tahu" Kata Dinda
__ADS_1
"Baiklah, kita akan menyelamatkan dia apapun yang terjadi" Kata Arina
"Ya!!" Kata mereka berdua
"Baiklah kita pergi!" Kata Angelia
"Ya!!" Kata mereka berdua semangat
Akhirnya mereka bertiga mengikuti Aris dari belakang. Dan Aris tiba di hutan, ia ditunggu oleh keempat monster itu.
"Baiklah, sepertinya kalian yang mengawasi aku dan temanku" Kata Aris sambil menoleh kebelakang
"Berikan tubuhmu maka kami akan melepaskan mereka" Kata monster itu
"Tubuhku? Apa kau ingin melakukan sesuatu yang mesra-mesraan denganku? Menjijikkan" Kata Aris
"Manusia lemah, kami melihat tubuhmu mengeluarkan aura sihir yang kuat, maka dari itu kami akan mengambilnya untuk dijadikan persembahan" Kata monster satunya
"Persembahan?" Tanya Aris kebingungan
"Ya.. dengan begitu maka raja kami bisa bangkit dan menguasai dunia" Kata monster itu
"Silahkan saja. Tapi, aku tidak akan melepaskan begitu saja" Kata Aris
"Kami berempat dan kau sendiri" Kata monster itu
"Jangan bodoh kau bisa mengalahkan kami" Kata monster satunya
"Tidak lain kalian hanyalah keroco yang lemah" Kata Aris
"Apa!!" Kata monster itu
"Rasakan ini manusia" Kata monster itu mengeluarkan senjata
"Terbakarlah" Kata Aris sambil mengangkat tangannya dan mengeluarkan api
Monster itu pun bisa menghindarinya.
"Dia bisa menghindar? Sepertinya kalian bukan monster biasa. Siapa kalian" Tanya Aris
"Tidak ada gunanya kau mengetahui kami. Karena kau akan mati disini" Kata monster itu sambil mulai menyerang
"Mereka menyerang?" Tanya Aris dalam hati
Tidak berapa lama akhirnya mereka bertiga sampai dan melihat Aris yang sedang bertarung sendiri melawan 4 monster.
"Kita harus membantunya" Kata Dinda
"Tunggu, kita perhatikan saja dulu" Kata Angelia
"Benar, jika ia sudah terpojok baru kita menyelamatkannya" Kata Arina
"Tapi.." Kata Dinda mulai panik
"Tenang saja. Dia itu kuat. Aku tahu karena aku yang menyuruh dia untuk menyelamatkan desa itu" Kata Angelia
"Baiklah. Aku akan menunggunya" Kata Dinda
Saat sedang menghindar Aris tidak melihat ada lingkaran sihir dibawah kakinya dan lingkaran sihir itu mengeluarkan tanah yang membuat Aris terjepit.
"Sepertinya kalian memang bukan monster biasa. Dan juga monster biasanya tidak menggunakan sihir tapi kalian berbeda. Siapa kalian?" Tanya Aris yang sedang terjepit diantara 2 tanah
"Kita harus menyematkannya!!" Kata Dinda semakin panik
"Tunggu dulu" Kata Angelia
"Tidak bisa, aku akan menyelamatkannya sendiri" Kata Dinda mulai berdiri
"Arina!!" Kata Angelia teriak
"Baik!!" Kata Arina
"Elemen Es - Akar Es" Rapalan Arina
Muncul akar es yang menahan kakinya Dinda.
"Apa kalian akan membiarkan dia mati begitu saja?" Tanya Dinda sambil menangis kecil
"Sudah kubilang, kan? Tenang dulu dan perhatikan" Kata Angelia
"Aris.. maaf" Kata Dinda sambil menangis
...END...
__ADS_1