
"Maaf, maaf. Aku terlalu kebawa suasana. Jadi, mana kuncinya biar aku yang bukakan pintunya" Kata Arina
"Baik, baik. Ini dia" Kata Aris sambil memberikan kunci kamarnya
Arina pun membuka pintu kamarnya dan ia tidak terkejut sama sekali. Karena, isi kamarnya Aris tidak ada yang berubah. Sedangkan Dinda yang baru pertama kali melihatnya langsung terkejut.
"Jahatnya. Apa sekolah yang memberikan ini padanya?" Tanya Dinda yang sedih
"Ya, benar. Tapi, menurutku biasa saja. Karena, aku sudah terbiasa hidup susah" Jawab Aris yang sedang mengangkat kasurnya kedalam
"Dia sudah terbiasa dengan kamarnya. Aku saja bahkan menawarkan diri untuk tidur dikamarku. Tapi, dia menolaknya" Kata Dedi
"Punya kamar sendiri saja sudah membuatku cukup senang" Kata Aris tersenyum
"Kau menyedihkan. Kenapa kau tidak meminta padaku untuk mendapatkan tempat yang layak?" Tanya Dinda yang merasa sedih
"Yah, itu .. Aku hanya tidak ingin saja" Jawab Aris
"Begitu, ya" Kata Dinda
"Kalian taruh dipinggir saja. Sisanya biarkan aku yang rapikan" Kata Aris
"Aris, kasur ini taruh di pinggir dulu. Setelah ini kita keluarkan kasur yang lama" Kata Dedi
"Baiklah. Tolong, ya" Kata Aris
"Aris, kami taruh disini saja, ya. Kalau begitu, kami pulang dahulu. Takut penjaga asrama datang kemari" Kata Arina
"Baiklah, terimakasih atas bantuannya. Sekali lagi terimakasih banyak" Kata Aris sambil menundukkan kepalanya
"Sudahlah, lagipula kita ini kan teman" Kata Arina
"Arina.." Kata Aris bersuara kecil
"Ayo, Dinda. Waktunya kita pulang" Kata Arina
"Ayo" Kata Dinda
"Baiklah, Dedi. Kita istirahat dulu. Kasurnya sangat berat. Hari ini kita makan dulu saja, ya" Kata Aris
"Makan? Memangnya kita akan makan apa?" Tanya Dedi
"Kebetulan aku tadi membeli mie cup. Aku masak air panas dulu, ya" Kata Aris
"Aku tidak percaya kamu benar-benar memperhatikan kita" Kata Dedi
"Aku hanya memikirkan pasti akan lama. Makanya aku membeli beberapa makanan instan" Kata Aris
"Hebatnya. Kau memang temanku yang berharga" Kata Dedi
"Kau ini, ya" Kata Aris
Setelah menunggu beberapa lama. Mie cup pun siap dihidangkan.
"Wah, ini benar-benar enak. Aku tidak percaya" Kata Dedi
"Benarkan, Aku juga suka dengan mie cup ini" Kata Aris
"Aku merasa tubuhku sehat kembali" Kata Dedi
"Kalau begitu baguslah" Kata Aris
Setelah makan, mereka pun langsung merapikan kasurnya.
"Dedi, bantu aku mengangkat kasur ini" Kata Aris
"Baiklah, kasur ini kita akan kemanakan?" Tanya Dedi
__ADS_1
"Kasur ini akan kita buang. Dan kasur yang baru akan kita tempatkan" Jawab Aris
"Begitu, ya. Baiklah. Waktunya kita bersih-bersih" Kata Dedi
Aris dan Dedi pun bersih-bersih. Setelah sekian lama, akhirnya kasur baru selesai ditempati.
"Masih banyak ruang, ya?" Tanya Aris
"Apa ada yang kau pikirkan?" Tanya balik Dedi
"Aku rasa, aku ingin membuat dapur" Jawab Aris
"Dapur? Apa kau yakin?" Tanya Dedi
"Tentu saja. Libur nanti temani aku, ya" Kata Aris
"Baiklah. Memangnya apa yang akan kita beli?" Tanya Dedi
"Kita butuh kayu dan juga peralatan dapur" Jawab Aris
"Apa kau yakin?" Tanya Dedi
"Ya, kita akan merenovasi tempat ini" Jawab Aris
"Baiklah. Aku akan membantumu" Kata Dedi
"Terimakasih banyak" Kata Aris
"Tentu saja. Temanku" Kata Dedi
"Kalau begitu. Kau boleh pulang. Jangan lupa hari liburnya, ya" Kata Aris
"Baiklah, akan aku tunggu. Kalau begitu, aku pulang dulu" Kata Dedi
"Ya, terimakasih banyak" Kata Aris
"Kau sepertinya kesiangan?" Tanya Dedi
"Ya, aku kurang tidur" Jawab Aris
"Memangnya apa yang kau lakukan semalam?" Tanya Dedi
"Aku hanya memikirkan tentang kamarku" Jawab Aris sambil tersenyum
"Oh, begitu. Aku tahu kamu tidak sabaran. Tapi, tenang saja. Akan ada waktunya" Kata Dedi
"Kau benar. Oh, iya. Apa kau punya tugas-tugas yang sebelumnya? Aku sudah kebanyakan ketinggalan pelajaran" Kata Aris
"Oh begitu. Baiklah, aku akan memberikannya" Kata Dedi
"Terimakasih banyak, kawanku" Kata Aris
Setelah jam istirahat.
"Hey, apa kau tidak mau pergi ke kantin?" Tanya Dedi
"Tidak, aku masih harus mengerjakan tugasku. Aku tidak ingin ketinggalan kelas" Jawab Aris
"Begitu, ya. Baiklah, aku tinggal, ya. Apa kau ingin menitipkan sesuatu?" Tanya Dedi
"Coba kupikir. Bagaimana dengan roti lapis?" Tanya Aris
"Roti lapis? Kau ternyata terlalu tua, ya" Jawab Dedi
"Eh, memangnya kenapa?" Tanya Aris
"Aku pikir roti lapis hanya untuk kalangan orangtua" Jawab Dedi
__ADS_1
"Eh, ternyata jaman sekarang begitu, ya" Kata Aris
"Jaman sekarang?" Kata Dedi kebingungan
"Ah, tidak ada. Sudahlah, roti lapis saja" Kata Aris
"Baiklah. Kalau itu maumu" Kata Dedi
"Terimakasih banyak" Kata Aris
Saat sedang mengerjakan tugas, datanglah Arina dan juga Resti.
"Ada apa, Aris? Sepertinya kau sedang kesusahan?" Tanya Arina
"Ah, tidak juga" Jawab Aris
"Tapi, kau benar-benar seperti kesulitan. Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Resti
"Tidak. Tidak perlu" Jawab Aris
"Sudahlah, cepat katakan saja" Kata Resti
"Baiklah. Kalau begitu, bantu aku untuk mengerjakan tugasku" Kata Aris
"Tugas? Memang kita punya tugas?" Tanya Arina
"Sebenarnya, selama aku pergi misi guild. Aku sudah ketinggalan banyak pelajaran. Takutnya, jika aku tidak mengerjakan tugasku maka aku akan tinggal kelas" Jawab Aris
"Begitu, ya. Sini berikan padaku. Akan aku bantu" Kata Resti
"Apa tidak apa-apa? Nanti kau tidak bisa menikmati waktu istirahatmu" Kata Aris
"Tidak apa-apa. Lagipula aku bosan dengan makanan kantin" Kata Resti
"Bosan? Begitu, ya. Liburan nanti aku akan pergi ke pusat kota untuk membeli beberapa kayu. Setelah selesai dengan renovasi apakah kau mau mencicipi makanan buatanku?" Tanya Aris
"Makanan? Memangnya kau bisa memasak?" Tanya Arina
"Kau terlalu meremehkanku. Bagaimana kalau kau juga mencobanya" Kata Aris
"Begitu, ya. Baiklah. Aku akan mencobanya. Kemarikan tugasnya aku akan membantumu juga" Kata Arina
"Terimakasih banyak semuanya" Kata Aris
"Oh, iya. Kau bilang kau ingin pergi lagi? Memangnya apa yang ingin kau buat?" Tanya Arina
"Aku rasa aku ingin membuat dapur. Hal ini sudah aku bicarakan dengan Dedi. Dan diapun setuju" Jawab Aris
"Kalau begitu, apa aku boleh ikut denganmu lagi?" Tanya Arina
"Lagi? Apa kalian pernah pergi sebelumnya?" Tanya Resti
"Kami sudah pergi dengan Dinda. Pada saat itu kami berempat pergi ke pusat kota untuk membeli kasur. Karena kasur milik Aris sudah rusak" Jawab Arina
"Eh, senangnya. Aku juga ingin pergi. Aku terakhir pergi ke pusat kota dengan kakakku" Kata Resti
"Apa kau pernah pergi dengan kakakmu?" Tanya Aris
"Ya, dia pernah membelikanku sebuah cincin. Menurutnya cincinnya cocok denganku" Jawab Resti
"Begitu, ya. Aku sepenuhnya hampir tidak ingat. Pasti kakakmu sangat baik padamu" Kata Aris
"Ya, dia adalah kakakku yang sangat kusayang" Kata Resti sedih
"Baiklah. Kalian boleh ikut denganku" Kata Aris
...END...
__ADS_1