
"Apa kau memiliki permintaan terakhir?" Tanya monster itu
"Tentu saja, aku punya. Matilah!!" Kata Aris sambil mengeluarkan cahaya dari tubuhnya dan membuat elemen tanahnya hancur
"Apa!!" Kata monster satunya
"Baiklah, kita mulai ronde kedua" Kata Aris matanya berwarna biru
Mereka bertiga kaget karena Aris bisa mengeluarkan dirinya sendiri dari jeratan elemen tanah.
"Hebat!!" Kata Arina
"Baru kali ini aku melihatnya begitu" Kata Angelia
"Kekuatan yang luar biasa!!" Kata Dinda
"Ada apa? Apa kalian ketakutan saat melihat kekuatanku?" Tanya Aris
"Ba-bagaimana kami takut kau hanyalah seorang manusia biasa" Kata monster itu sedikit tegang
"Baiklah kalau begitu manusia biasa ini akan mengalahkan kalian berempat" Kata Aris
"(tersenyum) He.. jangan senang dulu kau. Baiklah kawan, kita kalahkan dia" Kata monster satunya
Mereka berempat pun menyerang secara bersamaan.
"Jadi, siapa yang paling pantas dipanggil "biasa"? Kalau menyerang secara bersamaan?" Tanya Aris meledek
"Banyak omong kau, rasakan ini!!!" Kata monster satunya mengeluarkan sihir api
"Ini juga!!" Kata monster itu mengeluarkan sihir air
"Matilah!!" Kata monster satunya mengeluarkan sihir angin
"Hancurlah!!" Kata monster satunya mengeluarkan sihir tanah
"(tersenyum) Penghapusan Energi" Rapalan Aris sambil melapakkan 1 tangannya
Semua elemen yang menyerang Aris menghilang dan membuat semua orang kaget dan bahkan monster itu sendiri.
"Ba-bagaimana bisa?" Tanya monster itu kepanikan
"Apa? Manusia biasa ini hanya melapakkan tangannya" Jawab Aris
"Hebat!!" Kata Arina
"Apa dia bisa menggunakan sihir itu?" Tanya Dinda
"Setahuku dia hanya bisa menggunakannya dengan pedang. Dan ini pertama kalinya aku melihat ia tanpa menggunakan pedang" Kata Angelia
"Jadi, dia sudah 2 kali menggunakan sihir itu?" Tanya Dinda
"Ya, yang kutahu sihir itu berada di tingkat SSS" Kata Angelia
"Jadi? Biarpun dia tidak bisa menggunakan sihir, tapi dia bisa menggunakan sihir itu?" Tanya Dinda
"Dibilang sihir bukan. Tetapi, bisa dikatakan teknik" Kata Angelia
"Bagaimana? Apa kalian ingin melanjutkannya?" Tanya Aris
"Sialan, bagaimana ini?" Tanya monster itu
"Kita harus membawanya atau kita yang akan menjadi persembahannya" Jawab monster satunya
"Sepertinya kalian takut ya, kalau begitu aku akan menggunakan tangan kosong saja" Kata Aris
"Sombong sekali dia" Kata monster itu
"Tidak apa-apa, selagi kita bisa membawanya itu sudah cukup" Kata monster satunya
"Woy kau, apa benar kau hanya menggunakan tangan kosong?" Tanya monster itu
"Ya, tentu saja" Kata Aris
"Baiklah ini kesempatan kita. Serang!!" Kata monster itu
__ADS_1
Pertempuran yang besar terjadi dan Aris hanya menggunakan tangan Kosongnya, para monster yang menggunakan sihir pun kelelahan.
"Ada apa? Apa hanya segini kekuatan kalian?" Tanya Aris meledek
"Cih.. dia pintar sekali" Kata monster itu
"Jika kalian tidak maju biarkan aku yang maju" Kata Aris sambil berlari ke salah satu monsternya dan menendangnya
"Ini lah balasan jika kalian tidak menuruti apa kata lawanmu" Kata Aris
"Di-dia tewas?" Tanya monster satunya
"Cepat sekali" Kata Dinda
"Ayolah, hibur aku lagi" Kata Aris
"Kita harus mundur" Kata monster itu
"Apa? Apa kau yakin?" Tanya monster satunya
"Lebih baik kita berkorban untuk raja kita daripada mati ditangan manusia" Jawab monster itu
"Baiklah" Kata monster satunya
"Oh.. kalian mundur, ya? Tapi kau tahu kelasnya belum bubar. Bagaimana kalau kita saling berbagi jawaban dan saling mencontek?" Tanya Aris
"Aku tidak mengerti apa maksudmu" Kata monster itu
Mereka pun mundur tapi Aris tidak semudah itu melepaskannya. Aris mengeluarkan panah angin yang berwarna putih.
"Apa itu?" Tanya Dinda
"Itu.. adalah busur angin" Kata Angelia
"Apa kau pernah melihatnya?" Tanya Dinda
"Tidak. Ini pertama kalinya aku melihat dia menggunakan sihir" Kata Angelia panik
"Seramnya" Kata Arina
Mereka semua pun tewas dan menghilang.
"Kelas dibubarkan" Kata Aris
"Hebatnya" Kata Angelia
"Kalian, keluarlah!!" Kata Aris
Sontak mereka bertiga pun kaget dan ternyata ia mengetahuinya bahwa mereka sedang bersembunyi. Mendengar itu mereka bertiga langsung keluar dan menunjukkan dirinya.
"Aris.." Kata Dinda sambil ketakutan
"Anu.." Kata Angelia ketakutan juga
"Maafkan kami yang telah melihatmu dan melanggar perintahmu" Kata Arina
"Sudahlah, lupakan saja. Ayo kita pergi" Kata Aris
"baik" Kata mereka serentak bersuara kecil
Saat dijalan mereka ketakutan akan kekuatan aslinya dan menjaga jarak dengannya.
"Anu.. Aris kami benar-benar minta maaf" Kata Dinda
"Sudahlah.. tidak apa-apa" Kata Aris
"Apa dia marah?" Tanya Angelia
"Aku rasa begitu karena kita mengabaikan perintahnya" Jawab Arina
"Lagipula ini kan salahmu" Kata Arina
"Kenapa aku?" Tanya Angelia
"Kau, kan yang menyuruhnya untuk mengejarnya" Kata Arina
__ADS_1
"Sudahlah kalian jangan bertengkar, kau tidak lihat kesedihan dia" Kata Dinda
"(kaget) Masa?" Tanya Angelia
"Aku rasa memang dia sedang marah" Kata Arina
"Ada apa tuan? Sepertinya mereka bertiga sudah salah paham padamu" Kata Quester lewat telepati
"Biarkan saja mereka, sekarang yang jadi pertanyaannya adalah siapa raja mereka? Pada saat itu raja iblis belum ada dan hanya monster-monster yang kecil" Jawab Aris lewat telepati
Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka berempat sampai di depan asrama perempuan dan Aris meminta izin untuk pulang.
"Baiklah, sampai jumpa" Kata Angelia
"Apa menurutmu dia masih marah?" Tanya Dinda
"Sudahlah aku yakin dia pasti baik-baik saja" Jawab Angelia
"Aku harap begitu" Kata Arina
Keesokan paginya di kelas, Arina dan Dinda melihat Aris yang sedang melihat ke arah jendela, mereka berpikir mungkin dia sedang sedih karena pada waktu itu mereka bertiga mengabaikan perintahnya.
"Coba kau hibur dia" Kata Arina
"Memangnya apa yang terjadi padanya?" Tanya Dedi
"Sudahlah ajak kemana saja. Pokoknya hibur dia!!" Kata Dinda kesal
"Ba-baiklah" Kata Dedi yang ketakutan
"Ehm.. Aris nanti setelah pulang sekolah maukah kau pergi denganku?" Tanya Dedi sambil tersenyum
"Ah maaf, setelah ini ada beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan. Mungkin lain kali" Jawab Aris sambil membalas senyumannya
"Maaf, aku sudah berusaha semampuku" Kata Dedi
"Tidak apa-apa, terimakasih" Kata Arina
"Kalau begitu saya permisi dulu" Kata Dedi sambil pergi
"Terus, apa yang harus kita lakukan? Dia menjadi begitu semenjak kita melihat sihirnya" Kata Dinda
"Kita masih butuh orang dalam untuk melihat kondisinya" Kata Arina
"Seperti?" Tanya Dinda
"Tentu saja dia" Jawab Arina
Mereka berdua pun menemui Dedi yang sedang berada di kantin.
"Dedi!!" teriak Arina
"Ada apa?" Tanya Dedi sambil menghampiri mereka berdua
"Kami membutuhkan pertolonganmu" Jawab Arina
"Memangnya apa yang bisa aku tolong?" Tanya Dedi
"Tolong awasi Aris terus" Jawab Arina
"Memangnya dia melakukan kesalahan apa?" Tanya lagi Dedi
"Pokoknya awasi saja dia dan laporkan semuanya!!" Jawab Arina tegas
"Ba-baiklah" Kata Dedi ketakutan
"Dengar, pokoknya awasi dia terus dan laporkan semuanya jika dia sedang tidur maka kau ikut tidur juga dan juga usahakan untuk bangun sebelum dia, mengerti?" Tanya Arina
"Untuk apa aku melakukan semua itu?" Tanya Dedi
"Aku yang akan membayarmu!! Apa begini sudah jelas" Kata Dinda
"Baiklah, serahkan saja padaku" Kata Dedi
"Sekarang kita akan tahu apa yang terjadi padanya" Kata Arina
__ADS_1
...END...