Keberadaan Yang Tersembunyi

Keberadaan Yang Tersembunyi
Kekasihku - Maya


__ADS_3

Setelah itu, Aris keluar dari kamarnya dan makan bersama dengan lainnya.


"Jadi, bagaimana perkembangan mereka?" Tanya Tasya


"Dalam 2 hari ini mereka cukup berkembang. Aku sangat terkesan" Jawab Aris


"Syukurlah. Kalau begitu" Kata Tasya


"Aku sudah selesai. Aku mau keluar dulu mencari angin segar" Kata Aris


Semuanya merasa aneh dengan sikapnya Aris. Quester pun keluar untuk menemuinya.


"Tuan, ada apa?" Tanya Quester yang sedang mengkhawatirkan kondisinya


"A-Aku mengeluarkan penghapusan energi" Jawab Aris sambil meneteskan air matanya


"Jarang sekali melihatmu menangis, Tuan. Kemarin-kemarin kau menggunakannya seperti biasa saja" Kata Quester


"Itu karena... Karena mereka adalah orang yang harus kulindungi" Kata Aris


"Sudah, sudah. Aku bersyukur karena kamu tidak mengenai yang lain" Kata Quester


"Ya, terimakasih banyak" Kata Aris


"Sepertinya kau sedang lelah. Kemarilah, biar kupeluk dirimu" Kata Quester


"Baik. Tolong" Kata Aris menerima pelukannya


Keesokan paginya. Riana dan Ririn sudah berada di belakang rumah untuk latihan selanjutnya.


"Kalian cepat sekali" Kata Aris


"Tentu saja. Lagipula aku ingin mencoba hadiah terbaruku" Kata Riana


"Baguslah. Aku suka semangat kalian" Kata Aris


"Master, bagaimana cara menggunakan buku ini?" Tanya Ririn


"Aku lupa memberitahumu, ya. Baiklah, Riana. Latihan lah dengan bayanganku" Kata Aris sambil mengeluarkan bayangannya


"Baik" Kata Riana


"Apa yang harus aku lakukan dengan buku ini?" Tanya Ririn


"Apa kau sudah melihat isinya?" Tanya balik Aris


"Sudah. Selanjutnya?" Tanya Ririn


"Apa kau sudah mempraktekkannya?" Tanya lagi Aris


"Mempraktekkannya? Apa maksudmu?" Tanya balik Ririn


"Coba ikutin rapalan yang ada di buku itu" Jawab Aris


"Baik. Kalau begitu, Elemen Angin - Tebasan Angin" Rapalan Ririn


Ririn pun mengeluarkan sihir angin berupa angin yang sangat tajam dan membuat pohon menjadi berbekas.


"Master, kau lihat? Aku melakukannya" Kata Ririn


"Ya. Baguslah" Kata Aris


"Jadi, begitu. Apa aku bisa menggunakan yang lain?" Tanya Ririn


"Boleh saja. Asalkan sihir itu cukup untuk membuatnya keluar" Jawab Aris


"Jadi, tidak semua sihir bisa keluar, ya" Kata Ririn

__ADS_1


"Ya, mereka akan keluar jika kapasitas sihirmu tidak lebih dari sihir yang dibutuhkan" Kata Aris


"Begitu, ya. Aku paham sekarang" Kata Ririn


"Untuk sekarang, lebih baik kau membaca dan praktekkan langsung. Agar kau bisa memanggilnya lagi tanpa menggunakan buku itu" Kata Aris


"Baiklah. Akan aku lakukan" Kata Ririn


Tidak lama, wanita itu sampai di kantor asosiasi sihir. Ia langsung menemui resepsionisnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis itu


"Aku ingin bertemu dengan Ida dan juga Ade" Jawab wanita bersabit itu


"Baiklah. Silahkan duduk. Nanti akan saya panggilkan" Kata resepsionis itu


Wanita itu pun menuruti apa yang dikatakannya. Dan tidak berapa lama, datanglah Ade dan juga Ida.


"Selamat pagi. Pak Ade dan juga Bu Ida" Kata wanita itu


"Jadi kau yang memanggil kami. Maya" Kata Ade


"Ya. Terimakasih banyak karena memenuhi permintaan saya" Kata Maya


"Jadi, ada apa?" Tanya Ida


"Aku ingin bertemu dengan kekasihku, Darma. Dimana dia?" Tanya Maya


Mereka pun terkejut karena mendengar pertanyaan itu.


"Sebenarnya, Darma sudah lama meninggal. Kejadiannya 5 tahun lalu. Kami tidak tahu apa penyebabnya. Soalnya ia tiba-tiba menghilang begitu saja" Jawab Ade


"Bohong" Kata Maya


"Apa?!!" Kata mereka berdua terkejut


"Benarkah? Lalu dimana dia?" Tanya Ida


"Aku tidak tahu. Tapi, menurutku. Ia pernah kesini beberapa hari sebelumnya" Jawab Maya


"Aku tidak suka bercanda, Maya. Tolong jangan membuat candaan seperti itu" Kata Ade


"Untuk apa aku berbohong? Aku telah mengenal Darma cukup lama. Dan tidak mungkin juga aku lupa dengan baunya" Kata Maya


"A-Aku harus kembali bekerja. Silahkan minum tehnya" Kata Ade


"Aku juga. Masih ada yang membutuhkanku di kantor" Kata Ida


"Baiklah. Aku akan membuktikannya pada mereka bahwa dia masih hidup" Kata Maya


Maya pun melacak sihirnya dengan kemampuannya dan tidak lama ia mendapatkannya. Sihir itu mengarahkannya ke suatu tempat yang sangat jauh.


"Ketemu!!!" Kata Maya


Maya pun langsung bergegas ke tempat yang dituju. Di lain tempat, Aris merasa ada yang melacak sihirnya. Ia pun kaget dan terkejut.


"A-Apa ini? Ada yang melacakku. Kukira mereka sudah menyerah. Tapi, siapa?" Tanya Aris dalam hati


"Master, ada apa?" Tanya Ririn


"Tunggu sebentar" Jawab Aris sambil pergi


Aris pun bergegas ke dalam hutan dan mencari monster apa saja untuk dikalahkan.


"Quester, ikut aku" Kata Aris lewat telepati


"Ya, Tuan" Kata Quester yang sedang berada di dalam rumah

__ADS_1


Setelah menyusul, Quester diberitahu untuk membunuh satu monster apa saja.


"Memangnya ada apa , Tuan? Kau terlihat begitu panik" Kata Quester


"Seseorang telah melacak sihirku" Kata Aris


"Melacak? Bukankah mereka semua sudah menyerah" Kata Quester yang sedikit terkejut


"Ya, aku pikir mereka menyerah. Tapi, jika itu salah satu anggota asosiasi sihir. Itu tidak mungkin. Kemungkinan besar orang itu adalah yang memiliki kemampuan diatas anggota asosiasi sihir lainnya" Kata Aris


"Tapi, siapa itu?" Tanya Quester


"Maya. Kekasihku pada saat aku masih menjadi The Master Academy" Jawab Aris


"Kekasih? Bukankah bagus, apalagi kalian belum pernah ketemu sama sekali setelah sekian lama" Kata Quester


"Pada saat aku memakan buah itu, sudah kuputuskan untuk membuang semua hal yang berada dalam genggamanku. Tapi, selagi mereka membutuhkanku maka aku akan membantunya dengan nama baruku" Kata Aris


"Begitu, ya. Lalu? Mengapa kita harus mencari monster untuk dibunuh?" Tanya Quester


"Aku membutuhkan darahnya agar dia gagal melacakku. Dia hebat dalam indra penciuman dan juga melacak" Jawab Aris


"Bukankah jika kita menghilangkan sementara aliran sihir bukankah itu sudah cukup?" Tanya Quester


"Seseorang yang telah dilacak dan pada saat yang dilacak mengetahui bahwa dirinya sedang dilacak maka percuma dia bisa mengelak. Karena, mereka pasti menemukan dengan cara lainnya" Jawab Aris


"Lalu kegunaan darah ini apa?" Tanya lagi Quester


"Darah monster nanti akan ku gunakan untuk melumuri seluruh badanku. Agar indra penciumannya terganggu" Jawab Aris


"Ternyata Tuan takut, ya dengan seseorang Maya. Kupikir Tuan adalah manusia terkuat yang tidak takut apa-apa" Kata Quester


"Aku masih manusia Quester. Bukan monster" Kata Aris


"Ya, aku tahu itu. Lihat Tuan, disana ada satu" Kata Quester


"Bagus. Bunuhlah" Kata Aris


"Baik" Kata Quester


Quester mengalahkan monster itu dengan menggunakan cakarnya.


"Bagus, Quester. Kalau begini, kita akan aman" Kata Aris


"Kita? Apa aku juga harus menggunakannya?" Tanya Quester


"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Lagipula yang diincar itu kan aku" Jawab Aris


"Baiklah. Akan saya lakukan juga" Kata Quester


Mereka pun membelah perutnya dan melumuri seluruh badannya dengan darah dari monster tersebut. Tidak lama, Maya sampai dan terkejut melihatnya.


"Cepat sekali. Padahal belum lama ini ia melacakku" Kata Aris dalam hati


"Katakan, dimana kekasihku?" Kata Maya mengacungkan sabitnya


"Kekasihmu? Aku tidak tahu" Kata Aris


"Kalau begitu, kenapa tubuh kalian dipenuhi oleh darah?" Tanya Maya


"Kami adalah petualang. Jadi, wajar saja jika kami membasmi monster akan terkena cipratan darahnya" Jawab Aris


"Lalu? Kenapa penciumanku hanya sampai sini?" Tanya Maya


"Mana kutahu" Jawab Aris


"Baiklah. Kalau kalian tidak memberitahuku maka aku akan membuat kalian bicara" Kata Maya

__ADS_1


...END...


__ADS_2