
"Baiklah apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Aris
"Anu.. aku.. aku.. aku tidak ingin menjadi anggota OSIS" Kata arina
"Oh.. ternyata begitu" Kata Aris
"Iya.. tapi aku takut aku tidak akan bisa bersama kalian lagi" Kata Arina sedih
"Sudahlah jangan sedih, jika kau tidak mau kau bisa menolaknya" Kata Aris sambil memegang bahunya
"Benarkah? Kalau begitu syukur lah" Kata Arina
"Ngomong-ngomong bisa tidak kau selesaikan makanan mu?" Tanya Aris
"Ohh iya.. maaf" Kata arina sambil memakan makanannya
Di arena.
"Baiklah semuanya hari ini kita akan lanjutkan pertandingannya dari sebelah kiri yaitu wakil ketua OSIS kita yaitu Debi dan lawannya adalah Hiro dari kelas 2" Kata penyiar
Debi pun memasuki ruangan arena bersama dengan Hiro dengan rambut hitam.
"PRIT!!" suara pluit wasit
"Elemen Api - Tinju Api" Kata Hiro
"Elemen Tanah - Dinding Tanah" Kata Debi
Terdengar suara ledakan yang besar dan Hiro pun menyerang saat dalam kepulan asap.
"Ah.." Kata Debi sambil menggenggam tangannya
"Apa? Kau menahannya?" Tanya Hiro
"Tentu saja aku juga bisa bela diri" Kata Debi
"Baiklah kalau begitu tunjukkan bela dirimu" Kata Hiro
"Baiklah" Kata Debi
Merekapun bertarung tanpa mengeluarkan sihir. Dan saat terakhir Debi pun berhasil mengalahkan Hiro.
"Pemenangnya Debi" Kata Penyiar
Di kantor.
"Kau sepertinya tidak mengalami kesulitan kan saat melawan dia?" Tanya Angelia
"Tidak, cuma teknik bela dirinya yang hebat aku sempat terpojok tapi saat-saat terakhir aku sedikit menggunakan sihir untuk menambah kekuatan pukulan" Kata Debi
"Begitu ya?" Tanya Angelia
"Ya.. aku sudah mendapatkan informasi bahwa Arina itu memiliki hubungan dengan Aris. Dan temannya pun mengatakan bahwa si Arina lah yang duluan" Kata Debi
"Si No Magic?" Tanya Angelia
"Ya.. awalnya aku berpikir untuk apa elemen terkuat ke-2 bersama dengan yang tidak memiliki bakat" Kata Debi
"Kalau begitu kau cari lagi informasi nya, besok adalah pertandingan ku yang terakhir" Kata Angelia
"Baiklah" Kata Debi
Cuaca yang indah menghiasi langit berwarna merah. Saat sore hari Arina meminta izin untuk menginap di asrama laki-laki tepatnya di kamar Aris.
"Aris, ada yang ingin aku bicarakan" Kata Arina
"Baiklah kalau begitu aku duluan ya" Kata Dedi
"Ya.. silakan hati-hati" Kata Aris
"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Aris
"Anu.. Aris bolehkah aku menginap hari ini?" Tanya Arina malu-malu
"Untuk apa? Pasti tidak boleh kan ada perempuan di asrama laki-laki" Kata Aris
"Tapi untuk hari ini saja" Kata Arina
__ADS_1
"Tapi kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan Victoria?" Tanya Aris
"Aku sudah minta izin bahwa aku pulang agak telat" Kata Arina
"Ya sudah.. tapi kau harus lewat belakang ya" Kata Aris
"Baiklah.." Kata Arina senang sekali
Pada saat Aris memasuki asrama ia langsung menuju pintu belakang asrama dan ia mengizinkan Arina untuk menginap di kamarnya.
"Sini.. cepatlah" Kata Aris dalam suara pelan
Arina pun berlari menuju kamarnya Aris. Ia tidak menyangka bahwa kamarnya memang hanya untuk dia yaitu lantai kayu tempat tidur yang sudah patah bahkan ia tidak diberi bantal maupun selimut.
"Maaf ya kalau kamarku berantakan tapi bisa kau lihat disini rapi" Kata Aris
"Tapi kau menggunakan lantai kayu dan tempat tidurmu sudah ada yang patah kaki-kakinya dan tidak ada bantal maupun selimut, bagaimana kau bisa bertahan disini?" Tanya Arina yang sambil sedih
"Kau tahu memang sepertinya aku layak disini karena aku tidak bisa menggunakan sihir" Kata Aris
"Pembohong.. kau pembohong" Kata Arina sambil nangis tersedu-sedu
"Mohon maafkan aku seharusnya kau sudah tahu kenapa aku tidak bisa membawa siapapun ke tempatku" Kata Aris sambil memeluknya
Saat berlalu waktunya tidur ia memberikan sebuah karung yang berisi kasur kecil bekas untuk dijadikan bantal dan kain yang sudah robek untuk selimut.
"Nih untukmu tidur" Kata Aris sambil memberikan bantal dan selimut
"Kau bagaimana?" Tanya Arina
"Aku akan tidur dilantai" Kata Aris
"Tidak boleh, kau tidak boleh tidur di lantai kau harus tidur bersamaku di kasur" Kata Arina tegas
"Kau tahu kan itu tidak boleh" Kata Aris
"Aku mengizinkan" Kata Arina
"Baiklah.. selamat malam" Kata Aris
"Selamat malam" Kata Arina
"Arina, bangun.. cepat waktunya pulang kalau masih disini agak berbahaya" Kata Aris
"Hm.." Kata Arina sambil meregangkan tangannya
Arina pun bangun dan pergi ke pintu belakang. Saat sampai di sekolah Arina tidak sengaja bertemu dengan Dedi.
"Oy.. Dedi" Kata Arina dengan keras
"Oh.. ya" Jawab Dedi sambil menunggu kedatangannya
"Apa kau melihat aris?" Tanya Arina
"Belum, memangnya kenapa?" Tanya balik Dedi
"Kau tahu keadaan kamarnya Aris?" Tanya lagi kata Arina
"Tahu, ternyata mereka lebih jahat daripada monster yang ada di dunia ini" Kata Dedi
"Apa kau tidak ingin menolongnya?" Tanya Arina
"Aku sudah pernah ingin tetapi ia menolaknya" Kata Debi
"Jadi percuma ya kalau kita menolongnya" Kata Arina sedih
Saat disekolah mereka berdua bertemu dengan Aris yang sudah ada di dalam kelas.
"Kalian terlambat" Kata Aris
"Aris .." Kata Arina
"Guru.." Kata Dedi
"Kenapa? Sepertinya kalian melihat monster?" Tanya Aris ketawa kecil
"Tidak, tidak ada" Kata Dedi
__ADS_1
"Baiklah murid-murid acara terakhir yaitu ketua OSIS melawan kelas 3 pengguna pedang sihir. Jadwalnya siang hari jika kalian ingin melihat silakan datang ke arena, terimakasih" Kata penyiar
"Apa kau ingin pergi?" Tanya siswa perempuan
"Ayo kita pergi" Jawab siswa perempuan
"Apa kau ingin pergi?" Tanya Dedi sambil menengok ke arah Aris
"Aku mau pergi ke arena latihan" Jawab Aris
"Kalau begitu aku juga ikut deh" Kata Dedi
"Jangan tinggalkan aku sendiri dong, aku juga mau ikut" Kata Arina
"Begitu ya baiklah" Kata Aris
Mereka bertiga pergi ke arena latihan sihir dan latihan. Terdengarlah suara penyiar bahwa Angelia ikut partisipasi dalam lomba The Master Academy.
"Sepertinya ia menang" Kata Aris
"Lagipula dia kan ketua OSIS disini, pemilihan ketua OSIS disini masih menggunakan sistem yang terkuat jadi siapa yang terkuat maka dia bisa menjadi ketua OSIS" Kata Arina
"Jadi begitu ya, Dedi coba kau keluarkan sihir bola angin dan kurangi waktunya lagi" Kata Aris
"Baiklah guru.. aku akan pergi kesana" Kata Dedi sambil pergi
"Baiklah kalau begitu sekarang giliran mu Arina" Kata Aris
"Eh aku? Kenapa aku?" Tanya Arina
"Sihir mu hawa es memang menakjubkan tetapi akan kalah dengan pengguna sihir api tingkat SSS jadi maka dari itu aku akan mengajarkanmu sihir peluru es" Kata Aris
"Peluru es? Aku sudah bisa" Kata Arina
"Begitu ya coba kau tembakan ke arah boneka itu dan buatlah beku dengan pelurumu?" Kata Aris
"Membuatnya beku? Tidak mungkin" Kata Arina
"Kalau begitu coba saja aku akan melihatnya" Kata Aris
Arina mengeluarkan sihir peluru es ke boneka tetapi tidak membeku.
"Elemen Es - Peluru Es" Rapalan Arina
"benarkan kau tidak bisa" Kata Aris
"Kau tahu itu sulit sekali" Kata Arina
"Sulit? kalau begitu lihat ini. Elemen Es - Peluru Es" Kata Aris
Boneka itupun membeku dan Arina kaget bahwa Aris bisa menggunakan sihir.
"Kau .. kau bisa menggunakan sihir?" Tanya Arina
"Aduh.. Arina maukah kau kuberi hadiah?" Tanya Aris
"Hadiah? Benarkah? Baiklah" Kata Arina
"Tundukkan kepalamu" Kata Aris
Arina pun menurut dan dengan menyentil dahinya Arina langsung pingsan saat beberapa saat ia terbangun dan menyuruh Arina untuk belajar sihir lagi.
"Eh kenapa aku?" Tanya Arina
"Kau pingsan mungkin kehabisan mana" Kata Aris
"Begitu ya?" Kata Arina
"Sekarang.. bisakah kau bisa menggunakan peluru es untuk membekukan boneka itu?" Tanya Aris
"Entah kenapa kalau melihat boneka itu kepalaku langsung pusing?" Tanya Arina sambil pusing
"Kan sudah ku bilang kalau manamu habis" Jawab Aris
"Baiklah kalau begitu aku mulai.. Elemen Es - Peluru Es" Kata Arina
Arina masih kesulitan untuk menggunakan sihir ini sehingga ia mulai kelelahan. Dan Aris tidak sadar ada wakil ketua OSIS yang sedang melihat mereka bertiga latihan dan parahnya Debi melihat Aris menggunakan sihir.
__ADS_1
...END...