
Setelah kembali ke rumah, Aris langsung melihat tangannya yang terbakar cukup parah. Aris pun memberikan sihir penyembuhan kepada tangannya Quester. Dan tidak lama, tangannya yang terbakar sudah kembali menjadi normal.
"Kak Aris hebat, ya. Bisa menyembuhkan penyakit juga" Kata Yuni
"ini bukan apa-apa. Selagi masih bisa disembuhkan, maka saat itu juga aku akan menyembuhkan" Kata Aris
"Begitu, ya. Tapi, kenapa monster itu menyerang Kak Quester, ya?" Tanya Yuni
"Monster sekarang jauh lebih kuat daripada dulu. Makanya aku menyuruh untuk jangan terbang terlalu jauh. Karena sepertinya monster sekarang lebih agresif" Jawab Aris
"Kalau memang agresif, kenapa monster itu tidak menyerang ke rumah ini?" Tanya Ririn
"Sebenarnya aku memasang sihir yang kuat di sekitaran rumah ini jadi para monster itu tidak akan berani ke sini" Jawab Aris
"Jadi, intinya seperti penghalang, begitu, ya?" Kata Melani
"Benar sekali. Dan untuk sekarang kau beristirahatlah" Kata Aris
"Baik" Kata Quester sedih
"Tenang saja, ini juga bukan salahmu" Kata Aris
"Ya, kalau begitu. Aku mau istirahat dulu" Kata Quester pergi ke kamarnya Tasya
"Ah, itu kamarku. Biar aku yang mengantarmu" Kata Tasya
"Baiklah. Selanjutnya. Bagaimana dengan perkebunannya?" Tanya Aris
"Sejauh ini baik-baik saja" Jawab Ririn
"Apa kau merasakan ada monster?" Tanya lagi Aris
"Aku rasa tidak ada" Jawab Ririn
"Lalu, bagaimana dengan hasil bumi kita?" Tanya lagi Aris
"Hasil buminya masih ada dan juga ada beberapa yang busuk juga. Dan kita semua makan dari hasil itu juga" Jawab Melani
"Begitu, ya. Sepertinya aku harus menjual barangnya lagi. Riana, siapkan tasku dan pergi ke gudang. Aku akan menjemputmu disana" Kata Aris
"Baiklah, aku paham" Kata Riana sambil pergi menyiapkan apa yang dikatakan Aris
"Memang Kak Aris, mau pergi kemana?" Tanya Melani
"Aku ingin ke desa menjual beberapa hasil kita. Lagipula di asrama aku tidak ada kerjaan" Jawab Aris tersenyum
"Begitu, ya. Sampai jumpa" Kata Melani
"Ya. Apa kalian ingin sesuatu?" Tanya Aris
"Daging!!!" Kata mereka semua serentak
"Ya sudah. Aku pergi, ya" Kata Aris sambil meninggalkan rumahnya
Karena dekat, Aris melihat Riana yang sudah merapikan perbekalannya.
"Apa sudah semua?" Tanya Aris
"Ya" Jawab Riana
__ADS_1
"Terimakasih. Aku akan kembali secepatnya" Kata Aris
"Baik" Kata Riana
Aris pun pergi ke desa melewati hutan-hutan yang dipenuhi oleh monster-monster. Dan tidak berapa lama, akhirnya Aris sampai di depan gerbang desa tersebut. Ia melihat sekitaran dan ternyata ia mendapatkan tanah yang kosong. Ia pun langsung berlari ke arah tanah kosong tersebut untuk menjajakan dagangannya.
"Syukurlah. Akhirnya aku dapat tempat. Seperti biasa tempat ini sangat ramai" Kata Aris melihat sekeliling
"Hay anak muda, apa yang kau jual?" Tanya wanita cantik
"Ya, aku hanya menjual sayuran dan juga buah" Jawab Aris
"Darimana tempat ini berasal?" Tanya wanita cantik itu
"Aku menanamnya di hutan Ecber" Jawab Aris
"Hutan Ec-Ecber katamu?" Tanya wanita cantik itu sedikit terkejut dan ketakutan
"Iya, kebetulan hasilnya sangat banyak. Sampai-sampai aku jadi bingung untuk diapakan. Tetangga pun juga tidak ada" Jawab Aris menjelaskan dengan santainya
"Apa kau tahu di hutan sana terdapat monster yang ganas?" Tanya lagi wanita cantik itu
"Ya, aku tahu. Menurutku mereka cukup kuat. Tapi, aku sampai berhasil sampai kesini" Jawab Aris
"Kau tahu, kau membuatku sedikit takut" Kata wanita cantik itu
"Eh? Apakah aku menyeramkan?" Tanya Aris kaget
"Tidak, bukan itu. Maksudku kekuatanmu" Jawab wanita cantik itu
"Menurutku biasa-biasa saja. Jadi, bagaimana apa kau ingin mencobanya sebelum membeli?" Tanya Aris
"Tentu saja" Jawab Aris
Wanita itu pun mencoba apelnya dan terkejut karena rasanya.
"Apa ini? Rasanya sangat enak" Kata wanita cantik itu
"Itu Apel, kan?" Kata Aris
"Tidak, maksudnya rasanya. Aku belum pernah memakan apel yang rasanya lebih enak dari ini" Kata wanita itu
"Syukurlah, anda menyukainya" Kata Aris
"Berapa harganya?" Tanya wanita itu
"Aku menjual semua daganganku seharga 5 keping perunggu" Jawab Aris
"5 keping perunggu? Bukankah itu terlalu murah?" Tanya wanita itu
"Tidak tahu. Aku kemarin-kemarin menjual semuanya sama seperti sebelum-sebelumnya" Jawab Aris
"Kalau begitu, aku beli 3 apel dan juga kol nya 2" Kata wanita itu
"3 apel dan 2 kol, ya. Baiklah" Kata Aris sambil merapikan pesanannya
"Sepertinya kau masih muda? Apakah kau masih bersekolah?" Tanya wanita itu
"Tentu saja. Aku masih sekolah" Jawab Aris
__ADS_1
"Bukankah seharusnya kau sedang belajar untuk ujian sekolah?" Tanya lagi wanita itu
"Memang benar. Tapi, aku tidak paham apakah aku bisa atau tidak" Jawab Aris sambil tersenyum
"Aku yakin kau pasti bisa" Kata wanita itu
"Aku senang anda menyemangati saya. Ini dia pesanan anda" Kata Aris sambil memberikan satu kantung
"Terimakasih. Ini uangnya" Kata wanita itu
"Baik, terimakasih. Hati-hati di jalan" Kata Aris
Wanita itu pun pergi. Dan pedagang disampingnya pun mengatakan bahwa wanita itu adalah istri dari kepala desa ini.
"Benarkah? Aku tidak tahu. Apakah aku akan diusir dari desa ini dan tidak boleh berjualan lagi?" Kata Aris ketakutan
"Tenang saja. Dia itu orangnya sangat baik, begitu pula dengan suaminya" Kata pedagang disampingnya Aris
"Syukurlah, sepertinya aku bisa tenang" Kata Aris
Aris pun berjualan terus sampai sore hari dan yang tersisa hanya 2 mangga dan juga 1 jeruk.
"Syukurlah, daganganku habis" Kata Aris
"Oh, anak muda. Dagangan mu sudah habis, ya? Sudah mau pulang?" Tanya penjual disampingnya Aris
"Ya, lagipula besok aku harus ujian sekolah" Jawab Aris
"Begitu, ya. Kalau begitu semangat, ya" Kata penjual itu
"Ah, benar juga. Ini aku punya sisa dagangan. Kalau mau, silahkan diambil" Kata Aris
"Benarkah? Apa tidak apa-apa? Bagaimana nantinya kau akan dagang lagi?" Tanya penjual itu
"Tidak apa-apa. Lagipula hasilnya sangat banyak. Aku sampai harus diapakan nantinya" Kata Aris memberikan kantungnya
"Kalau begitu. Aku terima. Terimakasih, ya. Anak muda" Kata penjual itu
"Kalau begitu, sampai jumpa" Kata Aris sambil pergi
Tidak lama Aris pergi, datang wanita tadi dan juga suaminya.
"Kemana dia?" Tanya suami wanita itu
"Pak-Pak kepala desa, siapa?" Tanya balik penjual itu dengan sedikit ketakutan
"Anak muda yang berjualan disampingmu?" Tanya lagi kepala desa
"Dia-dia sudah pulang" Jawab penjual itu masih ketakutan
"Begitu, ya. Memang sudah waktunya, sih" Kata kepala desa
"Tenang saja, sayangku. Minggu depan mungkin ia akan kembali lagi kesini" Kata istri kepala desa
"Kau benar" Kata kepala desa pergi
"Penjual, aku minta maaf atas suamiku, ya" Kata istri kepala desa
"Ya, tidak apa-apa. Menakutkan sekali" Kata penjual itu
__ADS_1
...END...