Keberadaan Yang Tersembunyi

Keberadaan Yang Tersembunyi
Kelelahan


__ADS_3

"Sepertinya aku melihat toko daging disebelah sana" Kata Aris bersuara kecil


Tidak lama, ada toko daging mentah dan juga matang yang sedang dikunjungi banyak orang. Aris pun rela mengantri cukup lama untuk mendapatkan daging tersebut. Setelah mendapatkan daging, Aris pun pulang dengan perasaan yang senang.


"Akhirnya, aku mendapatkannya" Kata Aris senang


Setelah melakukan perjalanan pulang yang cukup lama, akhirnya Aris bisa pulang ke rumah walaupun langit sudah malam.


"Aku pulang" Kata Aris


"Selamat datang kembali, Kak Aris" Kata Tasya


"Selamat datang, Kak Aris" Kata Yuni


"Ya, terimakasih" Kata Aris


"Kak Aris, Keadaan Kak Quester sudah lebih baik" Kata Yuli


"Benarkah? Aku senang mendengarnya" Kata Aris sambil mengelus kepala Yuli


"Kak Aris, aku senang" Kata Yuli


"Oh, baiklah. Ririn, kuserahkan memasak daging padamu" Kata Aris


"Baik, Tuan" Kata Ririn


"Kalau begitu, aku juga ikut membantu" Kata Melani


"Baiklah, aku senang" Kata Ririn


"Kalau begitu, aku harus cek keadaan Quester" Kata Aris


"Baiklah, Kak Aris" Kata Yuni


"Kalian tunggu saja di meja makan, nanti Kakak menyusul" Kata Aris


"Kalau begitu, baiklah" Kata Yuli


Aris pun pergi ke kamarnya Quester.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Aris


"Sudah lebih baik. Ini berkat penyembuhan dari Tuan" Jawab Quester sambil berdiri


"hoi, jangan memaksakan diri. Kau masih butuh beberapa istirahat lagi" Kata Aris


"Tapi.. Aku ingin disamping Tuan" Kata Quester


"Ya, aku tahu. Malam nanti kita pulang. Aku tidak akan meninggalkanmu" Kata Aris


"Benarkah?" Tanya Quester


"Iya. Dan juga sebentar lagi, makanan akan segera datang" Kata Aris


"Makanan?" Tanya Quester yang kebingungan


"Kau tunggu saja, nanti juga akan segera tahu" Jawab Aris


Tidak berapa lama, akhirnya Riana mengantarkan makanan ke kamarnya Quester.


"Silahkan" Kata Riana


"Terimakasih" Kata Quester


"Cobalah" Kata Aris


Quester pun memakannya.

__ADS_1


"Enak. Siapa yang memasaknya?" Tanya Quester


"Untuk sekarang, Kak Ririn yang memasak" Jawab Riana


"Begitu, ya. Aku senang" Kata Quester yang terus memakan makanannya


"Oh, iya. Kenapa kau belum makan? Jika tidak, nanti keburu habis" Kata Aris


"Aku lupa. Kalau begitu, aku pergi dulu. Silahkan dinikmati makanannya" Kata Riana sambil menutup pintunya


"Kau habiskan makananmu" Kata Aris


"Kau mau kemana?" Tanya Quester


"Aku mau keluar mencari angin" Jawab Aris


"Oh, begitu. Aku paham" Kata Quester


"Baiklah, setelah ini, jangan lupa istirahat, ya" Kata Aris


"Baiklah" Kata Quester


"Kak Aris, mau kemana?" Tanya Tasya


"Aku mau keluar" Jawab Aris


"Kakak tidak mau makan dulu?" Tanya lagi Tasya


"Tidak. Kakak masih kenyang. Kakak cuma mau nyari angin" Jawab Aris


"Begitu, ya. Baiklah" Kata Tasya


"Hey, ada apa dengan Kak Aris?" Tanya Tasya


"Aku juga tidak tahu" Jawab Melani


"Kak Riana, apa kau tahu sesuatu?" Tanya lagi Tasya


"Apa kita selalu merepotkan Tuan Aris?" Tanya Ririn


"Aku rasa... Itu bisa jadi" Jawab Tasya


Semuanya pun merasa sedih. Tiba-tiba muncul Quester.


"Itu tidak benar. Aku rasa dia cukup senang dengan kalian semua. Kalian tahu, dia memperlakukan kalian semua sama seperti orang lain. Jadi, yang kalian lihat adalah ia ingin kalian memberinya sedikit waktu untuk dia menenangkan pikirannya" Kata Quester


"Apa Kak Aris memilki masalah?" Tanya Tasya


"Masalah? Aku rasa tidak. Kau tahu, setiap manusia juga perlu waktu sendiri. Jadi, lebih baik kalian tidak mengganggunya saat ini. Nanti setelah ia merasa baikan, kalian boleh mengajaknya bermain" Kata Quester


"Tapi, aku merasa sekarang seperti kita tidak bisa mendekatinya lagi" Kata Tasya


"Sudah kubilang, kan. Dia butuh waktu untuk sendiri" Kata Quester


"Ya, mungkin kau benar" Kata Melani


"Baiklah, aku dengar yang masak ini kau Ririn. Darimana kau belajar memasak seenak ini?" Tanya Quester


"Aku dulu suka berlatih di hutan. Jadi, aku sudah terbiasa hidup di alam liar" Jawab Ririn


Tiba-tiba, Septi turun dari bangkunya dan berlari keluar rumah. Yang lainnya pun melihatnya dan memperingatkan untuk tidak keluar rumah. Tetapi, Quester menahan mereka.


"Biarkan saja. Aku rasa dia obat yang pas untuk Tuan" Kata Quester


"Kak Aris" Kata Septi menghampiri Aris


"Eh? Septi, ada apa?" Tanya Aris yang kebingungan

__ADS_1


"Peluk!!" Kata Septi


"Peluk? Ada apa denganmu?" Tanya Aris benar-benar kebingungan


"Peluk!!" Kata Septi semakin keras


"Baiklah, aku tidak terlalu mengerti. Tapi, aku akan memelukmu" Kata Aris sambil mengangkat Septi dan memeluknya


Setelah beberapa saat, Aris tersadar apa yang dilakukan Septi adalah untuk membuatnya sedikit nyaman.


"Begitu, ya. Aku paham" Kata Aris dalam hati


Setelah itu, Aris melepaskan pelukannya dan membuatnya duduk di pangkuannya.


"Terimakasih, Septi. Aku jadi sadar. Aku sangat senang" Kata Aris


Aris hanya bisa melihat Septi tersenyum manis.


"Baiklah, sepertinya sudah malam. Kalian semua harus tidur dan juga aku harus kembali ke asrama untuk ujian sekolah besok" Kata Aris masuk kerumahnya sambil menggendong Septi


"Ya, semangat. Jangan sampai tidak lulus, ya?" Kata Tasya


"Ya, terimakasih dukungannya" Kata Aris


"Selamat tinggal" Kata Yuni


"Quester?" Kata Aris


"Baiklah. Semuanya, sampai jumpa" Kata Quester sambil melambaikan tangannya


"Jaga diri kalian, ya. Teleportasi" Rapalan Aris


Muncul cahaya dibawah kaki Aris dan seketika membuat Aris dan Quester menghilang. Tidak berapa lama, akhirnya mereka berdua sampai di kamarnya Aris.


"Ah, cukup menyenangkan" Kata Aris


"Kau benar, Tuan. Tapi, apakah rumah itu akan rubuh suatu hari nanti?" Tanya Quester


"Kau benar. Sepertinya aku harus merenovasi rumah itu dan juga aku tidak yakin bisa mengantarkan listrik kesana" Kata Aris


"Tidak perlu menggunakan listrik, cukup menggunakan sihir cahaya, kan?" Kata Quester


"Kau benar. Baiklah. Setelah kita membuat dapur mari kita merenovasi rumah" Kata Aris bersemangat


"Ya!!" Kata Quester bersemangat juga


"Dan sekarang, aku lelah sekali. Aku ingin segera tidur" Kata Aris


"Silahkan, Tuan. Terimakasih atas kerja kerasnya" Kata Quester


"Kalau begitu, aku tidur duluan, ya. Kau mau tidur didalam atau disini?" Tanya Aris


"Jika boleh, aku ingin tidur disini" Jawab Aris


"Kalau begitu, ya sudah. Aku duluan, ya. Aku sudah lelah" Kata Aris


"Ya, Tuan" Kata Quester


Aris pun tertidur duluan. Quester yang melihat Tuannya sedang tidur, merasa sangat bahagia. Karena ia bisa melihat wajah Tuannya saat sedang lengah.


"Bagaimanapun kau tetap manusia, ya. Tuan?" Kata Quester sambil menyentuh pipinya Aris


"Ah, aku suka yang besar" Kata Aris mengigau


Mendengar itu Quester memegang dadanya yang kecil.


"Maaf saja, Tuan. Jika punyaku dalam perkembangan. Aku pasti akan membuatnya semakin besar" Kata Quester

__ADS_1


Padahal Aris bermimpi diberi kue oleh orangtuanya. Dan ia disuruh memilih kue tersebut.


...END...


__ADS_2