
Di lain tempat, di suatu desa yang kecil.
"Apa sudah cukup?" Tanya Vera
"Yah, setidaknya bisa menambah untuk pemanggilan selanjutnya" Kata Bekti sambil tertawa
"Berapa banyak lagi yang kita butuhkan?" Tanya Vera
"Entahlah, kita sudah mengumpulkan sedikit lebih banyak semenjak ada yang mengganggu di Kerajaan Pelabuhan" Jawab Bekti
"Aku juga berpikir demikian. Siapa yang berani mengganggu rencana kita di Kerajaan Pelabuhan" Kata Vera
"Untuk sekarang, kita lupakan hal itu. Mari kita pergi" Kata Bekti
"Baik" Kata Vera
Mereka berdua pun menghilang. Di tempat kediaman keluarga Angelia, Aris pun berjalan-jalan di sekitaran rumah.
"Ternyata dunia ini indah, ya. Lihatlah, pemandangannya" Kata Aris
"Anda benar, Tuanku. Sungguh indah" Kata Alan
"Alan, semenjak aku tidak ada kemana dirimu?" Tanya Aris
"Saat kami semua mendengar bahwa dirimu hilang. Orangtuamu hampir tidak pernah pulang. Seakan-akan mereka sudah tidak ada yang menunggunya di rumah. Aku berserta pelayan yang lainnya hanya bisa bingung dan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada Tuan. Setelah itu, mulai satu persatu kami semua berpisah. Seperti sudah tidak dibutuhkan di rumah itu lagi. Aku pun membuka kedai dengan membuka toko itu aku harap aku bisa melupakan apa yang terjadi pada Tuanku. Tapi, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu, Tuan" Kata Alan
"Apa itu?" Tanya balik Aris
"Bagaimana anda bisa menemukan aku? Padahal aku sudah membuka toko disebuah tempat yang terpencil" Tanya Alan
"Kau tahu kan, aku bisa merasakan semua jenis Mana seseorang. Dan aku pun menyuruh Quester untuk mengeceknya dan ternyata benar. Walaupun Quester masih bingung dengan apa yang dia lihat, dia bisa menjelaskannya secara detail" Jawab Aris
"Sepertinya aku harus berterimakasih kepada Nona Quester karena telah mempertemukan kami" Kata Alan
"Aku juga ingin bertanya satu hal padamu" Kata Aris
"Apa itu, Tuanku?" Tanya Alan
"Bagaimana caranya kalian bisa keluar dari rumah itu? Sekarang kondisi disekitaran hutan Ecber sangat bahaya. Apa kau bisa jelaskan itu?" Tanya Aris
"Sebenarnya hutan itu tidak seperti yang sekarang" Jawab Alan
"Seperti sekarang?" Tanya Aris
"Ya. Aku juga ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hutan itu sampai-sampai hutan itu menjadi penuh dengan hewan-hewan ganas" Kata Alan
"Begitu, ya. Tapi, sekarang tenang saja. Aku adalah pemilik rumah itu. Aku akan melindungi apapun yang terjadi" Kata Aris
"Begitulah sifat Tuanku. Saya merasa sangat senang bisa melayani anda" Kata Alan
"Baiklah. Lebih baik kita kembali. Kita harus bersiap-siaplah untuk pertandingan ini. Aku harus menepati janjiku padanya" Kata Aris
"Ya, Tuanku. Aku juga akan ikut membantu" Kata Alan
Di kantor asosiasi sihir.
"Kita selalu mendapatkan laporan dari warga karena telah terjadi insiden penyerapan Mana. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya salah satu anggota asosiasi sihir
__ADS_1
"Prioritas kita adalah masyarakat. Apapun yang terjadi cari akar masalahnya. Kumpulkan semua anggota-anggota yang penting" Kata Bagas
"Baik" Kata semua anggota asosiasi sihir yang lain
"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Bagas dalam hati
Waktu sudah menunjukkan malam. Di kediaman keluarga Frasiska.
"Tuan, kau belum tidur?" Tanya Alan
"Belum. Aku belum mengantuk sama sekali" Jawab Aris
"Ada apa, Tuan? Kau seperti sedang dalam masalah" Tanya Alan
"Eh? Benarkah. Aku baik-baik saja. Jadi, kapan cucumu datang?" Tanya Aris
"Entahlah. Mungkin dia sekarang sedang ada di suatu tempat" Jawab Alan
"Apa kau belum mengiriminya surat lagi?" Tanya Aris
"Aku sudah mengiriminya dan sekarang belum mendapatkan balasannya" Jawab Alan
"Begitu, ya. Baiklah. Waktunya kita tidur. Besok pagi kita latihan" Kata Aris
"Baik" Kata Alan
Di Kerajaan Modern Eurlars. Lebih tepatnya di penginapan.
"Ah, sudah lama sekali. Aku jadi ingin tahu wujudnya seperti apa The Master Academy sekarang. Benar-benar membuat hatiku berdebar kencang" Kata Ratna sambil senyum-senyum sendiri
Tiba-tiba Aris bersin.
"Tidak. Tidak ada apa-apa" Jawab Aris
Keesokan paginya. Di kediaman keluarga Frasiska.
"Alan, mari kita pergi" Kata Aris
"Baik, Tuan" Kata Alan
"Kalian tidak sarapan dulu?" Tanya ibunda Angelia
"Bagaimana?" Tanya Aris
"Terserah, Tuan" Jawab Alan
"Baiklah. Kita sarapan dulu" Kata Aris
"Dimengerti" Kata Alan
Setelah sarapan, mereka berdua pergi ke sebuah lapangan kosong yang tidak terlalu besar di dalam hutan.
"Apa kau siap, Alan?" Tanya Aris
"Sangat siap, Tuanku" Jawab Alan
"Peraturannya harus serius, ya. Aku tidak ingin engkau mengalah padaku hanya karena aku adalah majikanmu" Kata Aris
__ADS_1
"Baik, Tuan. Aku mengerti" Kata Alan
"Tidak usah perduli kan aku. Aku bisa menyembuhkan lukaku sendiri dan juga dirimu. Maka dari itu, aku juga akan serius" Kata Aris
"Aku mengerti" Kata Alan
"Kalau begitu, mari kita mulai saja. Latihan kita" Kata Aris
Aris dan Alan pun bertarung dengan serius. Alan tidak bisa menggunakan sihir tapi kemampuan fisiknya diatas rata-rata manusia biasa.
"Kalau begitu, mohon bantuannya" Kata Alan
"Silakan" Kata Aris
Alan pun menyerang Aris dengan sangat cepat dengan menggunakan teknik bela dirinya. Aris hanya bisa mengimbanginya dan terkadang juga mengeluarkan sihirnya. Tetapi, sihirnya Aris mampu ditahan oleh Alan.
"Bagus sekali, Alan. Coba lebih kuat lagi, ya" Kata Aris
"Baiklah" Kata Alan
Alan mengeluarkan teknik seni beladiri nya yang berbeda dan teknik ini lebih cepat dari sebelumnya bahkan jika bisa menghindari tinjunya maka akan terkena seperti hembusan angin. Aris pun langsung menggunakan elemen tanah untuk membuat penglihatan musuh kabur dengan membuat debu tanah. Alan yang merasa ada sesuatu dibelakangnya langsung memukul dengan sekuat tenaga sehingga hembusan debunya menghilang sedikit. Dan secara tiba-tiba Aris muncul dari bawah tanah sambil mengacungkan pedangnya ke arah dagu Alan.
"Aku kalah" Kata Alan sambil mengangkat kedua tangannya
"Bagus. Kau masih kuat seperti dulu" Kata Aris
"Terimakasih banyak pujiannya, Tuan. Lain kali, aku akan pasti mengalahkan Tuan" Kata Alan
"Itu bagus. Akan aku tunggu sampai kau bisa mengalahkanku" Kata Aris
"Baik" Kata Alan
"Kalau begitu, kita kembali. Walaupun hanya sebentar tapi aku puas" Kata Aris
"Baik" Kata Alan
Mereka berdua pun kembali dari hutan. Setelah sampai di sana, mereka disambut oleh kedua orang tuanya Angelia.
"Kalian berdua ingin makan apa untuk nanti siang?" Tanya ibunda Angelia
"Coba kupikir? Mungkin apa saja. Semua masakan ibu sangat enak" Kata Aris
"Menurutku benar apa yang dikatakan Tuanku masakan ibu Frasiska sangat enak" Kata Alan
"Alan, mau mencobanya?" Tanya Aris
"Anda ingin?" Tanya balik Alan
"Tentu saja. Sesekali kita yang menjamu mereka" Jawab Aris
"Baiklah. Mohon maaf, untuk sekarang biarkan aku yang masak untuk kalian. Kalian berdua istirahat saja" Kata Alan sambil menundukkan kepalanya
"Eh, benarkah?" Tanya ibunda Angelia
"Kalau begitu, kami terima. Terimakasih banyak" Kata Ayahanda Angelia
Alan pun pergi ke dapur untuk memasak sesuatu. Di daerah tanah kosong di sebelah barat kota modern Eurlars. Terdapat beberapa monster yang cukup kuat. Dan lawannya adalah 5 orang wanita yang masih belia dan cantik-cantik. Mereka adalah Penari Perang.
__ADS_1
...END...