
Dedi setiap hari selalu mengawasi Aris dan yang ia dapat hanyalah kehidupan normalnya saja.
"Masa kau setiap hari mengawasinya hanya pulang dan tidur" Kata Arina marah-marah
"Sudahlah, sepertinya dia sedang capek saja" Kata Dinda menenangkan Arina
"Cih.." Kata Arina
"Sepertinya dia memang sedang menghawatirkannya, ya? Oh.. ini imbalanmu" Kata Dinda sambil memberikan uang padanya
"Terimakasih, tuan putri memang hebat. Kalau begitu aku pergi dulu. Oh iya.. aku lupa mengatakan ini, dia sekarang sering ke toko senjata. Pada saat aku mengawasinya selalu saja ditahan oleh penjaga toko. Mungkin kau bisa menanyakan itu padanya" Kata Dedi
"Ah, baiklah. Terimakasih banyak" Kata Dinda
"Kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih tuan putri" Kata Dedi
"Dadah.. sering ke toko senjata, ya? Apa senjatanya sudah rusak? Makanya ia sering mengunjungi tempat itu? Mungkin lain kali aku akan menanyakannya" Kata Dinda dalam hati
Saat jam istirahat Dinda langsung pergi ketempat nya Arina, dia memberikan informasi tentang Aris yang sering ke toko senjata. Mendengar itu ia pun terkejut dan langsung mengeceknya apakah benar.
"Jadi sekarang kita pergi ke toko senjata?" Tanya Arina
"Dari informasi itu memang benar katanya" Jawab Dinda
"Baiklah, kita akan pergi ke toko senjata" Kata Arina semangat
"Ya!!" Kata Dinda
Setelah jam pulang mereka berdua langsung pergi ke toko senjata, di depan pintu mereka berdua ditanyai maksud kedatangannya dan mereka menjawab sedang ingin mencari senjata. Mendengar itu penjaga toko langsung membiarkan mereka berdua masuk. Saat di dalam toko, mereka tidak menemukan aris dan tidak berapa lama akhirnya Aris sampai di toko tersebut. Mereka yang melihatnya langsung bersembunyi di sekitaran rak-rak senjata.
"Apa yang kita lakukan?" Tanya Dinda
"Diamlah, nanti kita akan mengetahui apa maksud tujuannya datang ke toko ini" Jawab Arina
"Ini senjata yang sudah kau pesan" Kata pemilik toko sambil memberikan pedangnya
"Baiklah" Kata Aris sambil menerima senjatanya
"Bagaimana?" Tanya pemilik toko
"Bagus, saya suka. Baiklah aku akan mengambilnya" Kata Aris sambil memberikan uangnya
"Baik tuan, terimakasih banyak" Kata pemilik toko
Tidak berapa lama akhirnya Aris pergi meninggalkan toko tersebut dan tidak menyadari adanya Arina dan juga Dinda. Setelah keluar dari toko tersebut Arina dan Dinda mengikuti Aris hingga sampai di asrama laki-laki. Melihat itu mereka berpikir bahwa apa yang dikatakan Dedi benar karena ia hanya melakukan hal-hal normal pada umumnya. Jadi, mereka memutuskan untuk mengakhiri misi untuk mengikuti Aris dan pulang ke kamarnya masing-masing. Keesokan paginya saat jam sekolah mereka melihat Aris pergi ke ruangan latihan sihir dan juga bertemu dengan Angelia. Mereka melihat Aris memberikan pedang itu kepada Angelia dan pada saat itu juga Angelia melihat mereka berdua sedang mengintip dari pintu ruangan tersebut. Melihat itu Angelia langsung memanggil mereka berdua dan mereka pun terkejut panik, mendengar itu mereka pun langsung masuk ke ruangan latihan sihir dan menanyakan alasannya kenapa Aris berubah sikapnya semenjak kejadian itu.
"Oh itu, aku sedang memikirkan pedang yang bagus buat ketua OSIS" Kata Aris
__ADS_1
"Pedang? Memangnya ada apa? Aku tidak pernah lihat dia menggunakan pedang" Tanya Arina
"Begini ya Arina, sebentar lagi aku akan melakukan pertandingan pedang antar sekolah dan aku menyuruh dia untuk mengajariku beberapa teknik pedang dan juga spesifikasi pedang yang bagus" Jawab Angelia
"Pertandingan pedang? Dimana acara itu?" Tanya Dinda
"Tentu saja di kerajaanmu. Kerajaan Ruhyus" Jawab Angelia
"Kerajaanku? Aku tidak pernah mendengar itu dari ayah" Kata Dinda
"Mungkin kau tidak pernah pulang makanya kau tidak mengetahui event apapun yang ada di kerajaanmu" Kata Angelia
"Begitu ya, kalau begitu aku akan meminta izin dan melihatmu bertanding" Kata Dinda
"Baiklah terimakasih banyak. Jadi, apa kau mau melatihku?" Tanya Angelia
"Kan, sudah kukatakan. Aku akan menerimanya dan yang memberi misi ini adalah kamu juga" Jawab Aris
"Dengar,kan? Sekarang pikiran yang mengganjal sudah hilang?" Tanya Angelia
"Sudah, ternyata begitu ya aku kira ia marah karena kami tidak mematuhi perintahnya" Kata Dinda
"Sudahlah lagipula aku juga yang membawa kalian. Sekarang, bisakah kami mulai berlatihnya? Aku tidak mau ada yang ganggu dan bukankah sudah mau masuk jam pelajaran?" Tanya Angelia
"Be-benar kami seharusnya belajar" Kata Dinda tertawa terpaksa
Mereka berdua pun pergi dan memasuki ruangan kelas untuk jam pelajaran. Di tempat ruangan sihir, Aris langsung mengajari macam-macam teknik pedang dan juga sesekali mempraktekkan tekniknya.
"Kau hebat, ya?" Tanya Angelia kagum
"Yah, ini belum seberapa. Sepertinya jika bersaing dengan rivalmu aku akan kalah" Jawab Aris tertawa kecil
"Tidak, aku yakin kamu akan memang" Kata Angelia memberi semangat
"Baiklah kalau begitu aku akan membuat latihannya semakin sulit" Kata Aris semangat
"Kenapa malah memberikan pelatihan yang sulit padahal kau sudah kuberi semangat" Kata Angelia
Setelah jam pulang akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Tetapi, angelia masih ingin berlatih. Mendengar itu aris tidak bisa meninggalkannya begitu saja. jadi, ia juga terus memantau perkembangannya.
"itu sudah bagus. Bagaimana kalau kita mencoba bertarung?" Tanya Aris
"Bertarung? Tentu saja aku akan kalah" Jawab Angelia
"Jangan merendahkan dirimu sendiri. Cobalah" Kata Aris sambil mengambil batu sihir dan memakainya ke tangan
"Untuk apa kau mengambil batu sihir?" Tanya Angelia kebingungan
__ADS_1
"Bukannya pertandingan itu boleh menggunakan sihir, ya?" Tanya Aris
"Benarkah? Aku lupa. Bagaimana kau mengetahuinya?" Tanya Angelia curiga
"Yah, aku hanya menebaknya saja. Sialan aku lupa bahwa aku pernah melihat pertandingan ini" Kata Aris dalam hati
"Begitu, ya. Aku lupa. Baiklah kita adu pedang" Kata Angelia
"Aku suka semangatnya" Kata Aris
"Jadi, apa peraturannya?" Tanya Angelia
"Tidak ada. Sederhana saja" Jawab Aris
"Baiklah kalau begitu. Aku mulai" Kata Angelia sambil mengeluarkan sihir air
"Hebat juga. Tapi..." Kata Aris sambil memutar pedangnya dan membuat serangan airnya terbelah
"Sihir apa yang barusan kau gunakan?" Tanya Angelia
"Aku hanya menggunakan sihir angin untuk memotongnya" Jawab Aris
"Hebat juga. Ternyata kau pengguna pedang yang bagus" Kata Angelia
"Kuingatkan padamu bahwa pengguna pedang tidak pernah berbicara. Yang berbicara adalah pedangnya" Kata Aris sambil menyerang
Angelia kewalahan menghadapi serangan Aris dan yang bisa ia lakukan adalah hanya menghindar.
"Tunggu.. aku bilang tunggu" Kata Angelia terus menghindar
"Fokuslah. Elemen Tanah - Akar Tanah" Rapalan Aris
Angelia yang melihatnya langsung kaget dan terjerat dalam akar tanah miliknya. Dan Aris langsung mengacungkan pedangnya ke arah leher Angelia.
"Menyerahlah" Kata Aris
"Ba-baiklah aku menyerah" Kata Angelia
"(menghela nafas).. Ingat, jika kau ingin benar-benar menguasai teknik pedang maka fokuslah terhadap lawanmu dan hilangkan kesadaranmu sehingga membuat lawanmu tertekan dan menyerah" Kata Aris menurunkan pedangnya dan akar tanahnya hilang
"Ba-baiklah. Aku mengerti" Kata Angelia
"Kita sudahi dulu. Besok saat pulang sekolah kita akan adu pedang lagi. Ingatlah untuk fokus" Kata Aris sambil pergi
"Baik" Kata Angelia bersedih
...END...
__ADS_1