
"Aku dan Angelia sebenarnya adalah majikan dan pelayan. Angelia bertindak sebagai majikan dan aku adalah pelayannya" Kata Debi
"Majikan dan pelayan? Apa dia keluarga bangsawan?" Tanya Aris
"Ya, dia adalah keluarga bangsawan. Dan keluarga ku adalah pelayan yang sudah melayani keluarga Frasiska selama beberapa generasi" Jawab Debi
"Begitu, ya. Tidak heran kalian berdua cukup dekat. Apa yang lainnya juga sudah tahu bahwa kalian adalah majikan dan pelayan?" Tanya lagi Aris
"Tidak. Hanya kau yang tahu soal ini" Jawab Debi
"Jadi, begitu. Baiklah, waktunya sudah sore. Aku mau pulang dulu. Jika jubahnya sudah selesai, aku akan langsung berangkat" Kata Aris
"Baik. Terimakasih banyak" Kata Debi
"Ternyata hanya sebatas majikan dan pelayan, ya. Aku tidak tahu ada keluarga bangsawan yang bersekolah disini" Kata Aris dalam hati
Malam harinya, di kamar Aris.
"Tuan, kita tidak akan berjualan lagi?" Tanya Quester
"Kondisinya saat sini belum memungkinkan. Aku juga ingin sekali berjualan. Tapi, melihat kondisi Angelia yang sedang tidak baik-baik saja membuatku ingin sekali membantunya" Jawab Aris
"Tuan ku memang begitu orangnya. Aku senang menjadi hewan peliharaanmu" Kata Quester
"Aku butuh uang untuk membayar uang sewa gerobaknya. Aku yakin pak Aryo pasti sudah menungguku" Kata Aris
"Tapi, darimana kita mendapatkan uangnya?" Tanya Quester
"Aku yakin, Riana dan juga Ririn uangnya belum cukup terkumpul. Aku akan menunggunya sedikit lagi. Aku punya ide gila" Kata Aris
"Ide gila?" Tanya Quester
"Ya. Aku akan sedikit memaksa Angelia untuk memberikanku uang. Anggap saja sebagai hadiahnya" Jawab Aris
"Tuan, kau jahat sekali" Kata Quester jijik
"Jangan begitu, aku ini bijak bukan jahat" Kata Aris
"Terserah kau saja. Aku mau tidur" Kata Quester
"Tidur? Tumben-tumbenan, padahal ini masih sore" Kata Aris terkejut
"Aku tidak tahu. Pokoknya aku ingin sekali tidur" Kata Quester
"Baiklah. Aku akan ke tempatnya Angelia, kau tidur saja" Kata Aris
"Baiklah. Jangan sampai terbawa suasana, ya" Kata Quester
"Ya" Kata Aris
Aris pergi ke asrama perempuan untuk bertemu dengan Angelia.
"Lantai 3, ya. Sepertinya aku bisa membukanya" Kata Aris sambil menggunakan masker
"Siapa itu?" Tanya Angelia yang melihat ke arah jendela
Saat membalikkan badan, Aris menutup mulutnya Angelia sekaligus mendorongnya ke kasur.
"Apa ini? Siapa dia? Apa aku akan diperkosa olehnya?" Tanya Angelia dalam hati dengan penuh kepanikan
"Tenanglah. Ini aku" Kata Aris sambil membuka maskernya
"Kau, kenapa? Kalau kau ingin tubuhku katakan saja. Aku akan memberikannya padamu" Kata Angelia sedikit terkejut
"Aku tidak tertarik dengan tubuhmu, walaupun aku ingin sekali. Ada yang ingin aku dapatkan darimu" Kata Aris
"Eh? Apa itu?" Tanya Angelia
"Aku sudah mendengar semuanya dari Debi. Bahwa kau dan dia adalah majikan dan pelayan" Jawab Aris
__ADS_1
"Setelah itu? Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya lagi Angelia
"Karena kau adalah keluarga bangsawan. Tolonglah beri aku uang, sekarang aku sangat miskin sekali. Aku mohon" Kata Aris sambil bersujud dan menangis
"Kau ini, memalukan sekali. Bangunlah, aku akan memberikannya padamu" Kata Angelia
"Benarkah? Yah, aku tahu kau bangsawan paling baik dengan kalangan orang bawah. Jadi, kapan aku akan menerimanya?" Tanya Aris tersenyum sambil berdiri
"Untuk urusan itu, kenapa tidak minta saja pada Debi? Uangku disana semua" Kata Angelia
"Disana semua? Bagaimana bisa seorang wanita menitipkan semua uangnya kepada seorang pelayan?" Tanya Aris sambil berteriak
"Jangan keras-keras, jika ada laki-laki disini kau tahu apa yang akan terjadi, kan?" Tanya Angelia
"Maafkan aku" Kata Aris
"Dasar kau ini. Jadi, kapan kau akan berangkat?" Tanya Angelia
"Aku memesan jubah kepada Debi. Setelah jubah itu selesai maka aku akan segera berangkat. Aku minta alamat orangtuamu, ada yang ingin kubicarakan padanya menyangkut perjodohan ini" Kata Aris
"Baiklah, akan aku kirimkan kepada Debi" Kata Angelia
"Kalau begitu, aku pergi dulu" Kata Aris
"Tunggu, kau tidak ingin merasakan tubuhku?" Tanya Angelia menggoda
"Tubuhmu memang bagus. Tapi, untuk sekarang aku tidak tertarik. Mungkin jika kita menikah, aku jadi tertarik dengan tubuhmu. Baiklah, waktunya aku pergi. Aku tidak ingin berlama-lama disini" Jawab Aris sambil pergi meninggalkan Angelia
"Menikah, ya. Berani sekali dia berbicara itu kepadaku. Jika kau menginginkannya maka akan kubuat kau menjadi suamiku" Kata Angelia dengan senyum jahatnya
Aris pun kembali ke asramanya. Saat membuka kamarnya, ia melihat Quester yang sudah tertidur dengan nyenyak.
"Kau ini..." Kata Aris bersuara pelan sambil menutupi tubuhnya Quester dengan selimut
"Tuan, aku lapar" Kata Quester mengigau
"Ya, ya. Aku akan memberikanmu makanan" Kata Aris sambil mencium keningnya
"Quester, apa yang kau lakukan?" Tanya Aris sambil berjalan ke arah dapur
"Tuan, aku sedang memasak. Cobalah" Kata Quester
"Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu setelah itu aku akan memakan masakanmu" Kata Aris
"Baik. Aku tunggu" Kata Quester
Setelah mandi dan bersiap-siap, Aris langsung makan masakannya Quester.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Quester
"Ini enak. Aku tidak tahu kau bisa masak. Bagaimana kalau kau saja yang membuka usaha berjualan makanannya?" Tanya Aris
"Eh? Tuan yakin?" Tanya balik Quester
"Tentu saja. Dan aku percaya padamu" Jawab Aris
"Baiklah, aku akan lakukan" Kata Quester
"Hari ini aku akan meminta izin untuk tidak bersekolah. Quester, ikut aku. Kita akan bertemu dengan teman lama" Kata Aris
"Baik, Tuan" Kata Quester
Aris pun pergi ke sekolah menggunakan baju biasa dan bukan seragam. Ia pergi dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh siswa lain. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor OSIS.
"Oh, Aris. Ada apa?" Tanya Angelia
"Aku ingin pergi menemui orang yang akan mewakilkanku. Debi, bisa bantu aku dengan absensinya?" Tanya Aris
"Tidak masalah, Tuan" Jawab Debi
__ADS_1
"Tuan? Bisakah kau berhenti memanggilku begitu. Aku lebih suka dipanggil namaku. Lagipula kau adalah seniorku" Kata Aris
"Aris?" Tanya Debi
"Ya, begitu" Kata Aris
"Baiklah, Debi akan mengurus masalah absensinya. Kau pergilah" Kata Angelia
"Terimakasih banyak" Kata Aris pergi meninggalkan kantor OSIS
Setelah itu, Aris pergi menemui Quester yang sudah menunggunya di luar sekolah.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Quester
"Kau akan tahu. Ayo kita pergi" Jawab Aris sambil memegang tangannya Quester dan menghilang
Setelah itu, mereka sampai di sebuah desa.
"Ini dimana?" Tanya Quester
"Kita berada di desa yang tidak ada pengaruh dari antar kerajaan manapun. Aku tidak tahu nama desanya. Tapi, disanalah orang yang akan kita temui" Jawab Aris
"Di bar? Apa orang itu sangat kuat?" Tanya Quester
"Tentu saja. Ayo kita masuk" Jawab Aris
Aris dan Quester pun memasuki bar tersebut dan terdapat banyak orang yang sedang minum-minum.
"Yo, lama tidak berjumpa" Kata Aris menyapa dari arah pintu
"Kau... Semuanya hari ini bar tutup. Kalian dipersilahkan pergi" Kata Pelayan bar itu
"Apa? Aku baru saja sampai. Kenapa kau ingin sekali mengusir kami semua?" Tanya salah satu pelanggan bar
"Maafkan saya. Tapi, orang yang masuk ini adalah orang yang sangat penting. Silahkan pergi" Kata pelayan bar itu
"Apa? Dia hanya bocah biasa. Memangnya apa yang bisa ia lakukan?" Tanya pelanggan itu
"Tuan, saya sarankan untuk anda diam. Atau saya akan bertindak" Kata pelayan bar itu mengeluarkan aura yang sangat pekat
"Ba-Baiklah. Aku pergi" Kata pelanggan bar itu dengan penuh rasa ketakutan
"Kalian tenang saja. Setelah bar ini buka kembali, aku akan memberikan kalian semua diskon 50% sampai minggu depan" Kata pelayan bar itu
"Benarkah? Semuanya, ayo kita pergi. Alkoholnya akan dihargai setengah harga. Semua kita pergi" Kata salah satu pelanggan yang lain
Semua orang pun pergi meninggalkan Aris dan juga pelayan bar itu.
"Tuan, aku sudah lama menunggu kedatanganmu" Kata pelayan itu
"Tuan, dia siapa? Tanya Quester yang bersembunyi di belakang Aris
"Kau tidak ingat? Dia adalah Pak Alan. Dia orang satu-satunya yang tahu identitasku" Jawab Aris
"Pak Alan? Aku tidak kenal" Kata Quester masih ketakutan karena auranya
"Kau pasti Nona Quester, kemarilah. Aku punya kue kesukaan Anda" Kata Alan memberikan kue keringnya
"Tuan, kenapa dia tahu kue kesukaanku?" Tanya Quester yang masih ketakutan
"Aku jadi bingung, Alan. Bisa kau jelaskan padanya?" Tanya Aris
"Baik, Tuanku. Nona Quester, aku adalah pelayan setia yang selalu menemani Master Darma. Dan aku adalah orang yang selalu memberimu kue setiap kali Tuan Darma berkunjung. Apa kau sudah ingat?" Tanya Alan
"Maksudmu kakek-kakek yang suka berada di dapur?" Tanya balik Quester
"Benar. Itu adalah aku" Jawab Alan
"Kakek! Aku kangen dengan kakek. Kue kering buatanmu sangat enak. Tapi, tolong dong aura menakutkanmu dihilangkan, aku jadi merasa ketakutan" Kata Quester sambil berlari memeluk Alan
__ADS_1
"Nona Quester, akhirnya kau ingat" Kata Alan mengusap kepalanya Quester
...END...