Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

Didalam perjalanan Arsy menyandarkan kepalanya di jendela kaca mobil, fikirannya masih dengan penyakit yang dideritanya. Seketika itu juga, Arsy menitikan air matanya jika kenyataannya tidak bisa memberikan keturunan untuk sang suami.


Kapan penderitaan ini akan berakhir, apa mungkin penyakitku ini bisa sembuh. Bahkan suamiku sendiri tidak berani untuk menyentuhku, itupun hanya mencium keningku. Aku merasa terpenjara didalam hatinya, aku hampa. Apa suamiku mampu akan hidup seperti ini, dan apakah aku kuat untuk menjalaninya. Batin Arsy dalam lamunannya.


Tidak lama kemudiam, Arsy telah sampai didepan rumah Mertua. Perasaannya bercampur aduk, yang dimana di rumah mertua ada sahabat adik iparnya. Arsy merasa tidak nyaman sejak kedatangan wanita tersebut.


"Nona, kita sampai. Silahkan turun, Nona... ucap pak Sopir mengagetkan Arsy sambil membukakan pintu mobil.


" Maaf, Pak. Saya lupa kalau sudah sampai." Jawab Arsy dengan senyum paksa, kemudian segera turun dari mobil.


Sesampainya di depan pintu, Arsy serasa enggan untuk masuk kedalam rumah. Namun mau bagaimana lagi, Darma tidak mau pindah rumah. Sebenarnya Arsy ingin memiliki rumah sendiri, agar lebih nyaman dan tidak menjadi pusat mertua. Namun mau bagaimana lagi, kedua orang tua Darma melarangnya untuk pindah.


Dengan langkah kakinya yang pelan, Arsy mulai menapaki anak tangga menuju kamarnya. Dan dilihatnya wanita yang asing baginya yang sedang asik mengobrol dengan Ibu mertuanya kini tidak kunjung pulang juga. Arsy sendiri mulai resah sejak kedatangannya, ditambah lagi seperti akrab dengan suaminya. Perasaan was was pun tengah menghantui pikirannya. Sebisa mungkin, Arsy segera menepis pikiran buruknya.


Ceklek, Arsy membuka pintu kamarnya. Setelah itu, Arsy segera mengganti pakaiannya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sesekali Arsy menatap langit langit kamarnya dengan perasaannya yang berkecamuk tidak karuan.

__ADS_1


Aku berharap wanita itu tidak menginap di rumah ini. Jika ia, maka aku pun tidak tahu akan nasibku selanjutnya. Dan kenapa tiba tiba Ibu mertuaku berubah acuh, padahal dulu sangat ramah terhadapku. Dan juga perhatiannya yang begitu besar, tetapi saat aku dinyatakan mengidap kanker rahim semua berubah total. Hanya mas Darma yang masih memperlakukanku dengan baik, aku pun tidak bisa menjamin jika mas Darma tidak akan berubah. Semua lelaki mempunyai keinginan dan juga nafsu, apakah mas Darma akan bertahan menjadi suamiku. Ya.. Tuhan.. aku tidak bermaksud berprasangka buruk, aku hanya khawatir akan nasib pernikahanku. Gumam Arsy dalam benaknya yang sedang berkabut.


Karena pikirannya yang begitu rumit untuk memecahkan permasalahannya, Arsy tanpa sadar kini telah tertidur pulas. Beban yang berada dalam pikirannya kini berusaha untuk dilupakan, meski hanya lewat tidur. Setidaknya bebanpun ikut istirahat, Andai saja bisa ditukar dengan uang, mungkin saja banyak orang menjual kesedihannya.


Waktu yang begitu cepat untuk istirahat dan juga untuk melupakan masalah walau sejenak untuk tidur, disaat itu juga Arsy telah terbangun dari tidur pulasnya. Dilihat jarum jam yang sudah menunjukkan waktu sore. Arsy segera bangun dari tidurnya, dilihat disekelilingnya yang ternyata belum mendapati suaminya pulang. Arsy segera mandi sebelum suaminya pulang, berharap mendapat perhatian penuh dari suaminya.


Setelah selesai mandi dan juga merias diri, Arsy segera keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur menyiapkan makan malam. Dengan pelan Arsy menuruni anak tangga, dengan langkah kakinya yang cepat Arsy kini telah berada di dapur. Dan dilihatnya wanita asing yang sudah membantu pelayan rumah untuk mempersiapkan makan malam.


"Maaf, biar aku saja yang melakukannya. Karena kamu adalah tamu di rumah ini, jadi... biar aku saja yang menyiapkannya." Ucap Arsy yang berusaha merayu, agar wanita tersebut tidak mengambil alih untuk melayani suaminya. Entah kenapa perasaan Arsy semakin tidak nyaman sejak datangnya perempuan asing baginya, yang tidak lain adalah Zelyn teman adik iparnya.


"Tidak apa apa kok, kak.. aku hanya ingin membantu kakak saja kok.. sudah lama juga aku tidak melayani mas Darma. Dulu sebelum menikah aku sering menginap di rumah Tante Ferly, dan aku selalu melayani Mas Darma. Kak Arsy tidak perlu takut, aku sudah menganggapnya seperti kakak aku sendiri." Jawab Zelyn penuh alasan.


Kenapa Mas Darma tidak pernah menceritakannya kepadaku, dan kenapa aku harus mendengar ucapan dari wanita ini yang begitu mengiris hatiku pelan. Sungguh, rasanya aku mulai merasakan sedikit demi sedikit rasa sakit hati ku ini. Apa aku kuat untuk menjalani hari hariku. Batin Arsy yang masih sibuk menyiapkan makan malam bersama.


Dengan perasaan hancur, Arsy tetap menyiapkan malam. Tiba tiba terdengar suara langkah kaki Darma yang baru saja pulang dari dapur. Dengan sigap Zelyn segera menghampiri Darma yang baru masuk rumah. Sedangkan Arsy tidak menyadari jika suaminya telah pulang, karena dirinya sibuk dalam lamunannya.

__ADS_1


"Mas Darma... sapa Zelyn yang langsung mengambil tas dari tangan Darma, lalu meletakkan dikursi dekat tangga. Zelyn pun langsung mengajak Darma untuk langsung duduk di ruang makan.


"Dimana istriku, kenapa tidak menyambutku pulang." Tanya Darma.


"Kak Arsy sedang di dapur, tadi katanya masih nanggung kerjaannya di dapur." Jawab Zelyn bohong. Sedangkan kedua orang tua Darma tidak mempermasalahkan atas kebohongan Zelyn. Karena memang sebenarnya ada niat terselubung pada kedua orang tua Darma.


Darma yang merasa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, dirinya segera menemui Arsy yang sedang sibuk di dapur.


Dengan langkah kakinya yang pelan, Darma berusaha untuk tidak bersuara dari segi langkah kakinya sendiri.


Sedangkan Arsy sedang sibuk membereskan ruang dapur dan Arsy sendiri tidak menyadari jika suaminya sudah ada dibelakangnya. Dengan sigap, Darma langsung menutup kedua mata milik Arsy dengan kedua telapak tangan milik Darma. Arsy pun bingung dibuatnya, ditambah lagi tidak paham akan sosok yang tengah berdiri dari belakangnya.


Sedangkan di ruang makan, ada sosok wanita yang begitu geram melihat kemesraan Arsy dengan suaminya. Zelyn pun akan berusaha terus menerus untuk mengejar Darma sampai menjadi istrinya.


Dengan mencoba menebak siapa yang memeluknya, Darma juga belum berani untuk menyebutkan namanya. Darma masih saja menutup kedua mata istrinya. Karena tidak ingin membuat sang istri semakin kesal, Darma segera melepas kedua tangannya yang menutup wajah Miliki Arsy.

__ADS_1


"Kamu... kapan pulang? kenapa aku tidak mendengar langkah kakimu, apa kamu tidak beralaskan sepatu?" tanya Arsy penasaran.


"Karena dari tadi kamu hanya sibuk dengan duniamu sendiri, sampai sampai kamu lupa dengan suami kamu sendiri ." Jawab Darma


__ADS_2