Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Dibuat emosi


__ADS_3

Setelah menikmati makan malamnya, Vina langsung kembali masuk kedalam kamar. Meski berat untuk melangkah, namun tetap berusaha untuk kuat.


'Sangat membosankan, rasanya benar benar aku ingin pulang. Tapi ... aaaaaaah!!' batinnya dengan penuh kesal. Dengan cepat, Vina menapaki anak tangga. Sesampainya didepan pintu kamar, Vina dengan kasar membuka dan menutupnya kembali.


Setelah itu, Vina segera menggosok giginya dan cuci muka. Kemudian, Vina segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, berharap dapat melupakan kejadian yang sudah dilewatinya. Vina pun meraih selimut untuk menyelimuti tubuhnya hingga sampai pada bagian dada agar tidak merasa kedinginan. Vina yang merasa tidak ingin melihat suaminya, dirinya berusaha untuk memejamkan kedua matanya dengan posisi miring.


Suara langkah kaki pun terdengar oleh Vina, perasaannya kembali teringat saat dirinya menikmati sentuhan lembut dari suaminya.


'Kenapa sih, ini orang harus masuk ke kamar. Biarkan aku tidur pulas dulu, kenapa.' Batinnya berdecak kesal.


"Geser!" ucap Darma yang tiba tiba duduk didekatnya."


"Aku tidak mau, kamu saja yang tidur disebelah situ."


"Sudah! cepetan geser. Jangan salahkan aku jika aku meminta hakku." Ucapnya mengancam.


"Apa! meminta hak! enak saja, aku tidak akan pernah memberikannya untukmu."


"Apa kamu lupa, tadi sore kamu sudah memberikannya untukku. Kamu tahu, aku sudah menikmatinya." Ucapnya dengan terang terangan. Sedangkan Vina berubah menjadi kesal, otaknya terasa panas. Bahkan ingin rasanya melayangkan tinjuannya pada suaminya sendiri.


Mau tidak mau, Vina menggeser posisi tidurnya. Dirinya tidak ingin semakin dibuat gila oleh suaminya.


"Nah, gitu dong. Tinggal geser saja kok susah, begini kan enak." Ucap Darma sambil mematikan lampu, kemudian dirinya langsung merebahkan tubuhnya disamping istrinya. Sedangkan Vina dengan posisi yang membelakangi suaminya semakin ketakutan saat kamar berubah menjadi gelap.


"Kenapa lampunya dimatikan, kamu mau mencuri kesempatan, ya."


"Aku sudah terbiasa tidur tanpa menggunakan lampu, lebih tenang dan tidak silau." Jawabnya beralasan.

__ADS_1


"Bilang saja hanya alasan."


"Buat apa aku mencuri kesempatan, percuma jika melakukan sesuatu dalam kondisi gelap. Semua akan terasa pahit seperti jamu."


"Awas saja, kalau ternyata kamu bermacam macam denganku. Aku pastikan, nyawamu tinggal diujung tanduk." Ucap Vina berusaha mengancam.


"Terserah kamu, aku ngantuk. Aku mau tidur, jangan ganggu aku. Ingat! besok kamu sudah mulai bekerja menjadi sekretaris ku. Jangan berani beraninya kamu mendekati karyawan lainnya." Ucapnya memberi peringatan.


"Belum bekerja sudah banyak persyaratan." Gerutu Vina sambil memejamkan kedua matanya yang sudah terasa sangat mengantuk.


Sedangkan Darma tidak peduli dengan Vina yang menggerutu kesal, Darma pun langsung memejamkan kedua matanya. Berharap, pagi hari tidak sesuram yang dibayangkan, pikirnya.


Vina masih merasa takut, jika suaminya yang tiba tiba memaksanya untuk melakukan sesuatu yang sangat menakutkan dalam bayangan bayangan kotornya.


'Aku tidur di bawah saja apa, ya. Ini selimut aku jadikan alas untuk aku tidur, aku benar benar tidak berani untuk tidur satu atap dengannya. Aku takut, kejadian tadi sore akan terulang kembali. Tapi ... apa aku mampu menjaga milikku sendiri, aku pun terkadang terhipnotis olehnya. Aku sadar, bahwa dia juga laki laki normal. Aaah! kenapa pikiranku jadi kotor begini, sih. Tidak ... tidak ... kamu sadar Vin ... sadar ..' batinnya yang masih merasa kesal.


Vina pun berhasil pindah posisi tidurnya dibawah tempat tidur, perasaannya pun kini kembali lebih aman dan juga tenang pastinya. Karena dirinya tidak lagi satu atap dengan suaminya, akhirnya Vina tersenyum puas dan segera memejamkan kedua matanya. Berharap mimpinya tidak lagi buruk, seperti yang sudah dibayangkannya.


Sedangkan Darma sendiri mulai menggeser posisi tidurnya, berkali kali dirinya tidak mendapati istrinya disampingnya hingga sampai diujung tempat tidur.


BUUUUUGGG!!


"Aww!!" Darma terjatuh dari tempat tidur, Darma menindih istrinya. Sedangkan Vina sendiri susah payah untuk bernapas, dirinya merasa sedang bermimpi buruk atas perbuatan suaminya yang tidak tidak.


"Lepaskan aku, aku mohon ... lepaskan. Aku belum siap untuk melakukannya, aku takut ... aku mohon ... jangan paksa aku. Sungguh! aku belum siap. Maafkan aku, jangan kamu lakukan." Ucap Vina berkali kali, dirinya terus memohon untuk mencegah permintaan suaminya akan haknya.


"Bangun! woi! bangun. Ngomong apa lah kamu, siapa yang memintanya. Cepetan bangun, dan pindah tidurnya di atas." Ucap Darma mengagetkan, sedangkan Vina kebingungan dengan keadaan gelap gulita. Dirinya berkali kali menggeser badannya untuk mencari pegangan. Setelah dapat meraih tempat tidur, Vina segera bangkit dari posisinya.

__ADS_1


Cup! saat Vina berdiri tanpa disengaja, bib*ir keduanya saling menempel. Vina tercengang seketika itu juga, begitu juga dengan Darma yang kaget akan posisi satu sama lain. Keduanya kembali terhipnotis dan dengan sigap, Darma menahan tengkuk leher istrinya dan menci*uminya dengan lembut.


"Lepaskan!" ucap Vina membentak. Darma pun langsung melepaskan ciu*mannya dan segera menyalakan lampunya. Kini terlihat jelas muka istrinya yang terlihat sangat kesal.


"Kamu sendiri yang menempelkan bibir kamu seenaknya, jadi bukan salahku mencium kamu. Kamu sendiri, kenapa harus tidur dibawah. Kamu mau cari gara gara, untung saja aku tidak buas." Jawabnya enteng, kemudian kembali ke tempat tidur dan mencoba melupakan kejadian terburuk yang sudah menimpanya.


'Pernikahanku memang benar benar tidak ada yang benar, semuanya salah.' Batin Darma sambil memejamkan kedua matanya, berharap mimpi buruknya akan segera berakhir.


Sedangkan Vina kembali tidur disamping suaminya, meski terpaksa.


Keduanya kini kembali tidur dengan pulas, seakan akan apa yang telah terjadi pada dirinya masing masing hanya sebuah mimpi buruk yang tengah menimpanya.


Pagi yang masih petang, Vina langsung bangun dari tidurnya dan segera mandi untuk membersihkan dirinya agar terasa segar. Sedangkan Darma sendiri masih terlelap dari tidurnya, tanpa ia sadari bahwa sang istri sudah bangun lebih awal.


Pelan pelan, Darma membuka kedua matanya. Dilihatnya tidak ada sang istri di sampingnya, Darma pun segera bangkit dari posisi tidurnya.


Tiba tiba Darma terpesona saat melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono dan rambut basahnya. Darma hanya menelan salivannya dengan susah payah.


"Cepetan pakai baju kamu, kita akan berangkat ke kantor."


"Iya, Pak. Dan jangan lupa, bapak segera mandi. Nanti aku terlambat, dan bisa bisa aku dipecat."


"Siapa yang akan memecatmu, memang Bos kamu siapa?"


"Ah iya, aku lupa. Maaf, Pak."


"Cih! emang aku bapak kamu, main panggil pak pak."

__ADS_1


"Terus, aku harus panggil sebutan apa? apa iya, aku harus memanggilnya dengan sebutan Kakek, aaah! iya, Jaka Sembung. Iya ya, bagus 'kan?" ucap Vina dengan santainya.


__ADS_2