Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Kesedihan Arsy


__ADS_3

Arsy yang masih terbaring di rumah sakit, dengan pelan Arsy berusaha membuka kedua matanya. Arsy mencari sosok suaminya disetiap sudut ruang rawatnya. Namun tetap saja, Arsy tidak menemukan sosok Darma suaminya.


"Dimana suamiku? kenapa aku tidak melihatnya." Ucapnya lirih sambil menahan rasa sakit pada bagian perutnya.


Tiba tiba ada suster yang masuk kedalam ruang rawatnya. Arsy pun segera menanyainya.


"Suster, suami saya ada dimana?" tanya Arsy sambil menahan rasa sakitnya.


"Maaf Nona, suami Nona sedang ada perlu. Dan Nona disuruhnya untuk bersabar." Jawab suster.


"Terimakasih Suster." Ucap Arsy.


Sedangkan Darma segera menelfon Ayahnya untuk mengurus pemakaman kedua orang tua Arsy. Kemudian Darma langsung menemui istrinya, karena takut jika sang istri terlalu lama untuk menunggunya.


Dengan langkah kakinya yang begitu berat, Darma berusaha untuk kuat. Agar sang istri tidak menaruh curiga terhadap dirinya. Dan tibalah Darma didepan pintu ruang rawat istrinya, perasaannya pun sangat berat untuk masuk kedalam. Darma bingung harus memulai dari mana untuk memberinya kabar duka. Darma masih mondar mandir didepan pintu, terasa berat untuk masuk. Namun tiba tiba Ibunya Darma pun telah datang.


"Darma, bagaimana keadaan istri kamu?" tanya sang Ibu yang ikut cemas.


"Darma belum masuk, Ma.. Darma takut untuk memberinya kabar duka ini, Ma.." jawab Darma lesu.


"Sekarang kamu temui Dokter yang telah memeriksa keadaan Arsy. Apakah boleh memberinya kabar duka, takutnya Istri kamu tidak kuat menahan kesedihannya dan juga menjadi depresi." Ucap sang Ibu memberi saran.


"Baik Ma, kalau begitu Darma akan menemui Dokter. Dan untuk Mama masuklah, Darma minta untuk menghibur Arsy. Agar tidak begitu mengkhawatirkan keadaannya, Darma takut terjadi apa apa terhadapnya. Bisa kan, Ma?" jawab Darma meminta tolong.


"Kamu tidak perlu khawatir, Mama tidak akan membuatnya sedih. Mama akan berusaha untuk mencoba menghiburnya." Ucap sang Ibu menenangkan pikiran putranya. Darma pun tersenyum lega, kemudian segera menemui sang Dokter untuk dimintai jawaban. Setelah itu, sang Ibu segera masuk ke ruang rawat Arsy.

__ADS_1


Ceklek, sang Ibu membuka pintu ruang rawat. Dan dilihatnya sang menantu yang sedang terbaring lemas. Nyonya Ferly segera mendekati menantunya.


"Nak.. bagaimana keadaan kamu?" tanya Ibu mertua.


"Keadaan Arsy terasa lemas dan perut masih terasa sakit, Bu..." jawab Arsy dengan suara lirih.


"Darma mana?" tanya Ibu mertua basa basi.


"Arsy sejak sadarkan diri belum melihat mas Darma, Bu..." jawab Arsy lesu.


"Memang tidak meninggalkan pesan?" tanyanya pura pura.


"Kata suster sedang ada keperluan. Tapi sampai saat ini belum terlihat juga, Bu..." jawab Arsy.


"Oooh, ya sudah kita tunggu saja. Kamu mau makan bubur, tidak? nanti Ibu suapin." Ucap Ibu mertua menawari.


Tiba tiba terdengar suara ada seseorang yang membuka pintu.


"Mas Darma..." seru Arsy memanggil suaminya. Darma yang melihat keadaan Arsy semakin tidak tega, jika harus memberi kabar duka untuk istrinya. Darma segera mendekati istrinya untuk mencoba menenangkan pikirannya yang sedang sedih.


"Sayang, kamu sudah sadar, bagaimana keadan kamu? apakah masih terasa sangat sakit?" tanya Darma sambil mengelus pipinya.


"Aku hanya merasa sedikit sakit dibagian perutku, terasa mulas tapi entah apa. Aku sendiri susah untuk mengartikan rasa sakitku ini. Oh iya, aku ingin menelfon Papa dan Mama. Aku rindu dengan mereka berdua, sudah lama aku mengabaikan ponselku. Kamu bisa menelfon Mama atau Papa, kan?" Jawab Arsy dan memohon.


"Sayang... sebenarnya...." jawab Darma menggantung kalimatnya. Mau tidak mau Darma tetap memberi kabar duka ini kepada istrinya, karena takut akan menyesal belum menatap wajah sang Mama dan Papanya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa, Mas?" tanya Arsy semakin penasaran. Darma pun yang melihat kondisi Arsy tidak tega untuk mengutarakannya. Takut Arsy akan semakin ngedrop dan fisiknya semakin lemah.


"Maafkan aku, sayang... sebenarnya Mama dan Papa telah berpulang." Jawa Darma langsung terdiam.


Jeduer....... Arsy serasa tersambar petir. Detak jantungnya seakan terhenti, pencahayaannya pun terasa gelap. Bahkan bibirnya tak kuasa untuk berteriak saat suaminya mengucapkan kabar yang dashat menurutnya.


"Apa......!!!! berpulang? maksud mas Darma, apa!" Bentak Arsy sekeras mungkin.


"Iya, sayang. Mama dan Papa telah tiada. Tadi pagi saat mau berangkat ke Kantor mengalami kecelakaan hebat. Dan tidak dapat tertolong, maafkan aku. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tetapi aku takut kamu membenciku." Ucap Darma menjelaskan, seketika itu juga tubuh Arsy tidak berdaya. Badannya terasa lemas, namun entah ada angin apa dengan Arsy yang langsung beranjak pergi begitu saja dan melepas selang infusnya tanpa pikir panjang.


"Sayang, kamu mau kemana?" ucap Darma sambil mengejar Arsy yang begitu cepat langkahnya.


"Sayang... tunggu... kita bisa pulang bersama." Seru Darma berteriak memanggil istrinya.


Sedangkan Arsy tidak perduli dengan Darma yang berulang ulang memanggilnya. Arsy yang berlarian menahan rasa sakit pada bagian perutnya, sambil menumpahkan air matanya sepanjang perjalanan dirinya berlari sekencang mungkin.


Brugg... Arsy pun menabrak seseorang yang sedang melangkahkan kakinya dengan tegap. Arsy pun kaget dibuatnya, tanpa pikir panjang Arsy meninggalkan seseorang laki laki yang ditabraknya. Namun naas, lelaki itu sudah mencengkram lengan Arsy dengan sigap.


"Lepaskan, aku mohon lepaskan... Papa dan Mamaku sudah tiada.. aku mohon, jangan halangi aku untuk melihatnya yang terakhir kalinya." Ucap Arsy tanpa melihat siapa sosok laki laki tersebut, Arsy masih saja menunduk tidak berani menatap wajah sosok lami laki yang ditabraknya. Sedangkan laki laki tersebut berhasil menarik gelang Arsy yang bertuliskan Arsyla. Dan segera melepaskan cengkramanannya. Arsy yang tanpa sadar bahwa gelangnya sudah tidak ada di pergalangan tangannya, dirinya tetap berlari untuk segera pulang.


Sedangkan laki laki tersebut tersenyum tipis saat dirinya berhasil menemukan jejak Arsy. Entah apa maksud dari lelaki tersebut mengambil gelang Arsy.


Dengan langkahnya yang gontai, Arsy benar benar sudah tidak dapat menopang tubuhnya untuk melangkahkan kakinya. Dan disaat itu juga, Arsy terjatuh dan tidak sadarkan diri. Dengab sigap, Darma segera menangkap tubuh istrinya yang terjatuh karena pingsan.


Kemudian Darma segera membawa istrinya untuk masuk kedalam kamarnya. Agar dapat beristirahat, Darma pun segera menelfon Dokter sepesial penyakit Arsy.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, sang Dokter pun telah datang dan memeriksa keadaan Arsy. Darma begitu panik, ditambah lagi dirumah kedua orang tua Arsy kini sudah dipadati para takziah. Darma sendiri bingung untuk mengatasi keadaan istrinya jika sudah sadarkan diri dari pingsannya. Karena rasa penatnya, Darma mengusap kasar wajahnya.


__ADS_2