
Pagi yang cerah, namun tidak secerah pikiran Arsy. Hanya kesedihan yang Arsy rasakan, perasaannya pun masih sama tidak bisa berfikir dengan positif. Dibayangan Arsy masih banyak pikiran yang menggantung dalam ingatannya.
Didepan cermin, Arsy masih mematung seperti tidak percaya akan musibah yang menimpanya.
Benarkah aku hanya sebatang kara, rupanya aku tidak mempunyai saudara. Menyedihkan sekali nasibku, entah bagaimana asal usulku yang sebenarnya, dan apakah aku masih mempunyai keluarga. Sedangkan kedua orang tua kandungku saja sudah tiada, bagaimana aku akan mengetahuinya. Gelang satu satunya pun sudah hilang entah kemana. Batin Arsy yang masih berdiri didepan cermin. Perasaannya pun masih tidak karuan, yang dimana dirinya sendiri sedangkan berjuang dengan nyawanya. Arsy benar benar takut, jika dirinya pun akan pergi meninggalkan suaminya untuk selama lamanya.
"Sayang... ada apa denganmu, kenapa kamu melamun?" tanya sang suami mengagetkan dan melingkarkan kedua tangannya dipinggang sang istri sambil berbisik. Arsy pun kaget dibuatnya, karena tiba tiba suaminya sudah ada dibelakangnya.
"Aku hanya sedang bercermin, apakah aku akan menjadi wanita kuat, atau... wanita lemah." Jawab Arsy beralasan.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu. Jelas jelas kamu itu wanita yang kuat dan tangguh. Aku saja belum tentu sekuat kamu, sayang... kamu benar benar istriku yang istimewa. Aku sangat bersyukur memiliki seorang istri seperti kamu. Meski kamu ada kekurangan, tetapi kamu berusaha kuat dan tegar." Ucap Darma menyemangati.
"Kamu tidak lagi membuatku kepedean, kan?" tanya Arsy yang merasa risih jika dipuji yang berlebihan. Karena membuat dirinya seolah membutuhkan pujian.
"Aku mengatakannya sesuai kenyataan, bukankah memang kenyataannya kamu itu wanita yang kuat. Sudahlah, sekarang masih pagi. Kita mengobrol sesuai waktu, tidak baik pagi pagi sudah bersedih. Aku mau mengganti pakaianku dulu, kamu jangan turun. Nanti kita turun bersama dan kita sarapan pagi." Jawab Darma sambil memakai pakaiannya.
"Baiklah, jangan lama lama." Ucap Arsy sambil duduk.
"Nah.... gitu dong. Jangan menyiksa diri, kasihan kesehatan kamu jika kamu tidak mau makan." Jawab Darma meyakinkan dan mengajaknya untuk sarapan. Arsy pun mengangguk.
Tidak memakan waktu lama, kini Darma sudah selesai memakai pakaiannya. Kini keduanya segera kaluar dari kamarnya dan menapaki anak tangga dengan pelan. Kemudian keduanya telah berada di ruang makan.
__ADS_1
Suasana sudah tidak seperti dulu lagi, namun sekarang yang ada hanyalah sebuah kenangan yang sulit untuk dilupakan. Arsy pun sangat sakit menerima kenyataan yang sangat pahit baginya, namun mau bagaimana lagi. Semua sudah kehendak Tuhan atas takdir pada setiap hambaNya.
Darma yang melihat istrinya banyak melamun, kemudian dirinya mencoba mengajak istrinya untuk mengobrol.
"Sayang, ayo dimakan makanannya. Nanti keburu dingin tidak enak, kasihan loh sama kesehatan kamu."'Ucap Darma mengagetkan sang istri yang sedang sibuk melamun.
"Aaah iya, aku hanya rindu masa masa kecilku saja. Tidak apa apa kan? jika aku teringat akan kenanganku dimasa lampau." Jawab Arsy beralasan.
"Iya, aku tidak akan pernah melarangmu atas semua apa yang kamu inginkan." Ucap Darma meyakinkan.
Darma pun berki kali sudah berusaha untuk mengalihkan ingatan Arsy tetap saja sedikit sulit. Sedangkan Darma berusaha untuk saling melengkapi.
Keduanya pun akhirnya segera menikmati sarapan, keduanya sama sekali tidak ada yang bersuara ketika menikmati sarapan pagi. Arsy pun berusaha untuk tenang dalam menghadapi masalahnya. Apapun itu, pikirnya.
Sedangkan Darma harus berangkat kerja, karena dirinya sedang berusaha agar dirinya sukses.
"Sayang, maafkan aku. Hari ini aku akan berangkat ke kantor, karena ada sesuatu hal yang penting didalam keluarga Gantara. Kamu, aku tinggal tidak apa apa kan, sayang?" ucap Darma meminta izin.
"Berangkatlah, aku tidak melarangmu jika itu memang itu pekerjaan kamu. Dirumah ini masih banyak pelayan yang baik terhadap Arsy, jadi sudah tidak ada yang dikhawatirkan." Jawab Arsy menjelaskan, Darma pun mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih, sayang.. kalau begitu aku berangkat. Jaga diri kamu baik baik, jika ada sesuatu telfon aku." Ucap Darma berpamitan, kemudian mencium kening milik istrinya lembut. Arsy sendiri tersenyum bahagia, dan mencium punggung milik sang suami. Kemudian Darma segera berangkat, Arsy pun mengantarkannya hanya sampai depan pintu utama.
__ADS_1
Setelah bayangan sang suami sudah tidak terlihat, Arsy segera kembali ke kamarnya. Namun tiba tiba kedua mata Arsy menangkap sebuah foto keluarga diwaktu Arsy masih kecil, yang dimana ada foto sang kakak dan juga kedua orang tuanya. Foto yang dimana Arsy sedang duduk dibangku SD kelas lima.
"Ma.... Pa... kenapa kita harus berpisah untuk selama lamanya. Sebenarnya Arsy sangat merindukan kalian bertiga, Arsy sekarang hanya sebatang kara. Tidak lagi memiliki saudara, Arsy benar benar sebatang kara. Dan sekarang Arsy hanya memiliki sang suami. Itupun usia pernikahan kami tinggal diujung tanduk. Antara berpisah karena kematian, atau... karena keturunan. Ma... Pa... Arsy harus bagaimana? Arsy sudah tidak kuat lagi, Ma...Pa.." gerutu Arsy saat menatap lekat foto yang terpajang di ruang keluarga. Arsy benar benar merasa terpukul akan nasib buruk tengah menimpanya tiada hentinya.
Karena kepalanya merasa pusing saat mengingat masa masa bersama keluarga tercintanya. Arsy segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat, Arsy berharap apa yang di jalaninya adalan sebuah ujian dan harus kuat dan juga sabar.
Setelah sampai di dalam kamar, Arsy segera merebahkan tubuhnya. Dirinya berharap waktu yang dijalaninya benar benar kenyataan, dan dapat melewatinya penuh kesabaran.
Sedangkan Darma masih dalam perjalanan, selama perjalanan Darma hanya bisa berdiam diri dengan raut wajah yang sangat sulit untuk diartikan.
Sayang... pikiranku benar benar benar sangat mengkhawatirkan kamu. Aku takut akan menjadi duri didalam hatimu, bahkan didalam ulu hati kamu paling dalam. Maafkan aku, sayang... aku akan selalu berusaha untuk yang terbaik untukmu. Batin Darma dengan pikirannya yang benar benar susah untuk mengalihkannya.
Disaat Darma sedang sibuk melamun, tiba tiba suara telfon tengah mengganggu lamunannya. Darma dengan malas untuk mengangkat telfon sebentar.
"Halo, Bu.. ada apa?" tanya Darma lesu.
"Kamu sekarang ada dimana dan dengan siapa?" jawab sang Mama terpaksa.
"Aku masih diperjalanan untuk pulang dan sendirian. Karena Arsy ingin menenangkan perasaannya, ada apa Ibu menelfon Darma?" ucap Darma dan balik bertanya.
"Cepatlah segera pulang, Ibu dan Ayah ada kejutan untukmu." Jawab sang Ibu yang sudah tidak sabar, entah kejutan apa yang akan diberikannya kepadaa putra kesayangannya.
__ADS_1
"Sabar, Bu.. sebentar lagi aku akan segera sampai. Lebih baik Mama sabar untuk menunggunya?" ucapnya segera menenangkan pikiran sang ibu.