
Arsy sangat bahagia saat melihat video dari laptop Raska, yang dimana dirinya tidak memiliki penyakit yang ganas dan mengerikan. Arsy benar benar sangat bersyukur, Arsy masih memiliki harapan untuk mendapatkan suami dan calon bayi yang dinantikan.
Namun, tiba tiba wajah Arsy terlihat murung. Yang dimana dirinya akan segera menikah dengan Raska. Arsy sedikit ragu untuk mendapatkan cintanya Raska, yang dimana sikap Raska yang sangat dingin dan cuek. Bahkan melihatnya tertawa pun tidak pernah.
Arsy merasa akan ada ujian lagi yang tidak kalah beratnya saat menjadi istri Darma. Pikiran Arsy melayang layang entah kemana, Arsy mulai merasa bingung untuk memutuskan pernikahannya yang kedua. Bayangan masa lalunya masih berada di ingatannya.
Raska yang melihat gegusaran pada diri Arsy hanya bersikap cuek. Raska berusaha mengartikan maksud dari raut wajah Arsy yang terlihat murung . Sebisa mungkin Raska menepis pikiran buruknya terhadap Arsy.
Setelah selesai melihat rekaman dari Raska, Darma segera meminta Salinannya. Raska pun sudah menyiapkannya untuk menjadi bahan bukti Darma saat menyelesaikan masalahnya di pengadilan.
"Raska, aku pulang." Ucap Darma berpamitan.
"Pakai saja mobilku, aku bisa meminta orang rumah untuk menjemputku." Jawab Raska sambil memberikan kunci mobilnya.
"Terimakasih kalau begitu," ucap Darma langsung bergegas pergi meninggalkan Arsy dan Raska di rumah tua.
Sedangkan Arsy bingung dibuatnya, ditambah lagi hanya berdua didalam rumah.
"Kita tidak pulang?" tanya Arsy semakin takut, Raska yang melihatnya pun hanya tersenyum mengumpat.
"Pendengarannya lagi terganggu mungkin, ditanya saja tidak di respon. Menyebalkan, benar benar menyebalkan." Gerutu Arsy sambil mengubah wajahnya terlihat masam.
"Kita pulang naik angkot, disini tidak ada taxi." Ucap Raska sambil melangkahkan kakinya keluar, sedangkan Arsy hanya mengekori dari belakang.
"Tunggu, aku takut." Kata Arsy langsung menggandeng tangan milik Raska dengan reflek.
Raska membiarkan Arsy menggandeng tangannya, meski sedikit risih. Namun mau bagaimana lagi, keduanya akan segera menikah. Raska tidak perduli dengan sikap Arsy, mungkin saja Arsy memang penakut.
"Eh, maaf. Bukan maksudku untuk menggandeng tangan kamu terus. Aku hanya merasa takut saja saat aku melihat sekeliling didepan rumah tua tadi." Ucap Arsy merasa malu dan melepaskan tangannya yang tengah menggandeng tangan miliknya Raska.
__ADS_1
Deg.. detak jantung Arsy semakin bergemuruh, yang dimana dirinya tidak bisa melepaskan tangannya sendiri. Raska yang semakin erat menggenggam tangan miliknya Arsy, membuatnya kualahan.
Tidak lama kemudian, Mobil sudah datang. Arsy dan Raska segera masuk kedalam mobil dan keduanya duduk berhimpitan dengan penumpang lain.
Didalam mobil berdesakan, Arsy yang semakin tersudut dan tidak memiliki tempat duduk. Dengan sigap, Raska langsung menarik tubuh Arsy hingga berada di pangkuannya. Arsy semakin gugup dibuatnya, wajahnya berubah merah merona.
"Sudah diam, sebentar lagi kita sampai." Ucap Raska yang melingkarkan tangannya dipinggang Arsy. Semua menatapnya dengan rasa cemburu. Bagaimana tidak, Raska yang begitu terlihat sangat tampan dan juga sangat perhatian. Bahkan terlihat sangat romantis, Arsy sendiri merasa risih diperlakukannya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, Arsy dan Raska telah sampai di depan rumah anak anak asuhnya. Keduanya pun segera turun dan masuk kedalam.
"Ternyata berat badan kamu berat juga. Banyak makan kamu, ya." Ucap Raska asal.
"Enak saja, badanku masih normal. Tidak melar dan tidak berlebihan. Kamunya saja yang mencuri perhatian orang, dan mencari kesempatan. Iya, kan!" jawab Arsy yang tidak mau kalah.
"Bukannya kamu senang tadi, duduk dipangkuanku. Kapan lagi coba, kalau bukan naik angkot." Ucap Raska sambil berlenggang kangkung. Arsy yang mengekorinya pun sangat geram mendengar ucapan dari Raska.
"Segera mandi, aku akan mengajakmu kerumah kakek. Karena hari ini kakek ingin di temani kamu." Ucap Raska langsung belok kearah kamarnya. Begitu juga dengan Arsy segera masuk ke kamarnya dan tidak membalas ucapan dari Raska.
Didalam kamar, Arsy menatap cermin dengan lekat. Dilihat dirinya sendiri yang kini sudah berstatus seorang janda. Arsy merasa tidak percaya, jika dirinya sudah tidak bersuami.
"Dulu aku pernah bermimpi untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia, namun mimpiku menjadi buruk. Aku harus kehilangan semuanya, dan aku tidak memiliki siapa siapa lagi sekarang. Sebatang kara, iya sebatang kara." Gerutu Arsy sambil memandangi wajahnya dari cermin.
Karena keasyikan melamun sambil bercermin, Arsy baru menyadari jika dirinya akan pergi ke rumah kakek Gantara.
"Kapan.... aku bisa melihat anak anak, baru saja sampai sudah diajaknya pergi. Aku juga ingin bermain dengan anak anak, namun mau bagaimana lagi." Gerutu Arsy kemudian menarik nafasnya dalam dalam, dan dikeluarkannya dengan pelan.
Sedang disatu sisi, Darma sudah sampai di depan rumahnya. Tanpa basa basi atau tanpa pikir panjang, Darma membuka pintu rumahnya dengan kasar. Pelayan yang berada dirumah semua kaget atas emosi Darma yang semakin menegangkan.
Kedua orang Darma masih duduk santai diruang keluarga, sedangkan Zelyn sendiri berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Persyet*n, semua!! bedeb*h, semua!! teriak Raska mengagetkan kedua orang tuanya dan Zelyn.
Dengan sigap, kedua orang tuanya dan Zelyn langsung menghampiri Darma yang sedang emosi memuncak.
Rahangnya mengeras, giginya bergesekan, dan darahnyanya mendidih sampai ke ubun ubun. Kedua tangannya pun mengepal, serasa ingin melayangkan tinjuannya.
"Darma, kamu kenapa? pulang pulang seperti kesetanun." Tanya ibunya sedikit takut dan cemas.
"Mas Darma. Kamu kenapa, sayang? kamu dibuat masalah sama Arsy?" ucap Zelyn yang belum mengerti dengan amarah dari Darma.
"Cuih.." Darma meludah ke sembarang arah sambil menatap sinis kearah Zelyn.
"Berapa target kamu di hotel!! jawab!!" ucap Darma membentak dan dengan tatapannya yang sangat tajam.
Zelyn yang mendapatkan pertanyaan dari Darma seperti tersambar petir.
"Maksud kamu apa, mas? aku benar benar tidak mengerti. Oh iya, mas. Aku hamil, aku hamil anak kamu." Jawab Zelyn penuh dengan alasan.
"Cuih.." meludah lagi.
"Kamu pikir aku akan percaya, aku tidak percaya jika di dalam rahim kamu ada anakku. Aku yakin, itu anak dari hubungan kamu dengan laki laki lain di hotel xxx. Jawab!!" Ucap Darma membentak.
"Mas, kenapa sih kamu menuduh aku rendahan seperti itu." Jawab Zelyn kemudian menangis dan memeluk nyonya Ferly.
PLAK!!! ayahnya menampar dengan hebat, Darma meringis kesakitan.
"Jaga bicara kamu, Darma!!" bentak sang Ayah. Darma masih berdiam diri tanpa memberontak. Sedangkan sang ibu hanya diam, karena tidak ingin Darma semakin kesal.
Sedangkan Zelyn merasa takut, jika semua rencananya akan gagal.
__ADS_1