Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Serba bingung


__ADS_3

Arsy maupun Raska masih penasaran dengan apa yang akan diucapkan Alia. Keduanya fokus menatap Alia.


"Sebenarnya kenapa Alia, katakan." Tanya Arsy semakin penasaran.


"Begini Arsy, lebih baik ayo ikut aku masuk ke kamar tamu. Akan aku tunjukin kepada kamu, sekalian akan aku jelaskan." Jawab Alia sedikit cemas, lagi dan lagi Alia takut akan terjadi kesalahpahaman.


"Baiklah, apakah laki laki yang ada disampingku ini boleh ikut?" tanya Arsy lagi.


"Tentu saja boleh, mari..." ajak Alia untuk masuk ke kamar tamu. Sedangkan Arsy maupun Raska mengekori dari belakang.


Ceklek, Alia membuka pintu kamar. Perasaan Alia mulai khawatir dan juga takut, mau tidak mau Alia harus berkata jujur demi persahabatan.


Alia segera masuk dan diikuti Arsy dan Raska dari belakang. Tiba tiba Arsy maupun Raska sama sama membelalakkan kedua bola matanya. Seperti tidak percaya, namun memang kenyataannya.


"Apa.....! mas Darma?" ucapnya langsung menengok kearah Alia. Sedangkan wajah Alia berubah menjadi pucat, jantungnya berdegup kencang karena takut saat Arsy menatapnya. Begitu juga dengan Raska, yang dimana dirinya menengok ke arah Alia. Wajah Alia semakin terlihat pucat, seakan dirinya tertangkap basah.


Alia hanya mematung diri, dirinya belum berani membuka suara. Apalagi Arsy adalah suaminya, sedangkan disampingnya adalah sepupu Darma.


"Kenapa mas Darma ada disini?" tanya Arsy penasaran.


"Apa Darma mengalami kecelakaan?" tanya Raska yang juga penasaran.


"Boleh tidak, kita berbicara diluar. Aku takut suami kamu akan terganggu, aku akan jelaskan semuanya. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak berbuat macam macam dengan suami kamu." Jawab Alia mengajak untuk membicarakan tentang Darma.

__ADS_1


"Baiklah, mari.." ucap Arsy yang kemudian segera keluat dari kamar dan mencari tempat yang bisa untuk bercerita.


"Duduklah," pinta Alia sambil mempersilahkan. Arsy dan Raska pun segera duduk.


Perasaan Arsy semakin tidak karuan, dirinya pun bingung untuk menjelaskannya kepada Alia, perihal hubungannya dengan Darma. Dan ternyata ketiganya mengatur pernafasannya agar tidak terlihat salah bicara.


"Maafkan aku, Arsy. Sebenarnya waktu aku sedang berada di taman, aku melihat ada seorang laki laki berada di taman xxxx sedang meneguk minuman yang lumayan cukup banyak. Karena aku penasaran, maka aku meminta bantuan salah seorang yang lewat didepanku untuk menghampirinya. Setelah terlihat begitu jelas, ternyata lelaki itu adalah suami kamu. Berkali kali suami kamu menyebut nama kamu, dan suami kamu terlihat tidak ingin kehilangan kamu. Karena semakin hilang kesadarannya, maka aku membawa suami kamu kerumah ini. Dan aku berkali kali menghubungi kamu, tetapi kamu tidak mengangkat telfonnya. Hanya itu, Arsy... maafkan aku yang sudah lancang membawa pulang suami kamu." Ucap Alia menjelaskan.


Arsy yang mendengarkan penjelasan dari Alia terasa teriris hatinya. Meski terasa sakit akan penghiatannya, namun dibalik masalah pasti ada penyebabnya. Namun tidak bagi Arsy untuk membuka hatinya kembali kepada Darma.


Dengan pelan, Arsy menarik nafas dalam dalam. Agar dirinya tidak terbawa oleh suasana, Arsy berusaha bersikap biasa biasa saja agar tidak terlihat gelisah.


Sedangkan Raska yang mendengar penjelasan dari Alia merasa kasihan dengan keadaannya. Raska tidak bisa membayangkan jika dirinya benar benar menikah dengan Arsy. Yang dimana Arsy adalah wanita yang pernah dicintai oleh Darma sepupunya. Namun dirinya pun tidak ingin mengecewakan permintaan sang kakek, Raska sangat takut jika sewaktu waktu sang kakek benar benar akan meninggalkannya untuk selama lamanya.


"Arsy, kamu marah?" tanya Alia merasa tidak enak hati dan juga takut.


"Tidak, aku tidak marah. Terimakasih ya, Alia. Kamu sudah menolong mas Darma, mungkin kalau tidak ada kamu mas Darma entah bagaimana keadaannya." Jawab Arsy dengan sebaik mungkin, karena dirinya pun berusaha untuk menjaga perasaannya Raska. Yang dimana sudah menjadi calon suaminya.


Gludung gludung gludung jedderrr... suara petir berulang ulang membuat Arsy, Alia, dan Raska kaget dibuatnya.


Hujan pun turun disertai kilat dan petir yang bersahutan. Arsy pun ketakutan saat mendengar suara petir yang begitu menggelegar di telinganya. Raska yang melihat ekspresi Arsy yang ketakutan dengan suara petir yang begitu nyaring merasa kasihan melihatnya.


Raska pun segera mendekatkan dirinya didekat Arsy, namun sayangnya Raska tidak bisa berbuat apa apa karena posisi status Arsy yang masih disangkanya istri Darma.

__ADS_1


"Jangan takut, petirnya akan segera berlalu." Ucap Raska mencoba menenangkan, meski masih terdengar suara petir yang menggelegar. Kemudian pak Anton segera menemui Raska yang sedang duduk sambil mengobrol dengan Arsy dan juga Alia.


"Maaf tuan Raska, diluar hujan sangat deras. Ditambah lagi suara petir yang begitu nyaring dan sangat tajam ditelinga. Mungkin lebih baik menginap saja, tuan tidak perlu khawatir karena masih ada kamar untuk istirahat." Ucap pak Anton dengan sopan.


"Iya, Arsy. Kamu dan sepupu suami kamu menginaplah disini, kasihan juga suami kamu yang masih belum sadarkan diri. Besok pagi saja pulangnya, bagaimana?" pinta Alia.


Sedangkan Raska dan Arsy sama sama menatap satu sama lain. Seakan meminta pendapat, Raska yang merasa waktu sudah larut malam dan ditambah lagi hujan sangat deras akhirnya mengangguk sambil menatap Arsy. Begitu juga dengan Arsy ikut mengangguk mengisyaratkan bahwa dirinya menyetujui pendapat dari Raska.


"Baik Pak, saya dan Arsy akan menginap ditempat bapak." Jawab Raska meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu, tuan. Saya permisi untuk istirahat," ucapnya yang kemudian bergegas pergi meninggalkan Raska dan Arsy maupun Alia putrinya.


Sedangkan Alia yang melihatnya pun merasa aneh akan ?sikap Arsy maupun Raska yang begitu menyimpan tanda tanya besar baginya.


"Oh iya, Arsy. Kamu tidur dengan suami kamu, dan untuk sepupu suami kamu tidurnya di kamar sebelah. Sedangkan Arsy dan Raska sama sama menatap, keduanya sama sama bingung untuk menjawabnya.


"Maaf sebelumnya, biar aku yang tidur dengan Darma. Aku takut jika emosi Darma masih belum terkendali, dan Arsy menjadi sasarannya." Jadi biar Arsy tidur dikamar sebelah atau tidur dengan kamu jika kamu mengizinkannya." Jawab Raska mencoba mencari alasan, agar Arsy tidak satu kamar dengan Darma. Karena Darma bukanlah suami Arsy lagi, melainkan mantan suaminya.


Alia yang mendengarkannya pun merasa aneh. Di tambah lagi yang selalu membuat keputusan selalu Raska, pikirnya.


"Baiklah, tidak apa apa. Karena aku pikir Arsy istrinya mas Darma, maka tidak ada salahnya jika Arsy tidur satu kamar dengan suaminya." Ucap Alia berusaha untuk tidak terlihat seperti detektif.


"Kalau begitu, kalian berdua segeralah istirahat. Karena aku pun ingin beristirahat badanku terasa pegal pegal." Jawab Raska berusaha menyudahi obrolannya.

__ADS_1


__ADS_2