
Setelah menikmati makan malam bersama Hanum, Arsy segera membersihkan diri. Karena tubuhnya yang terasa sangat gerah lengket, membuatnya tidak nyaman jika harus tidur langsung.
Ditempat lain, Darma sedang mengutuki dirinya sendiri. Sudah hampir tengah malam Darma juga belum menemukan Arsy. Darma benar benar menyesali perbuatannya dan juga baru terasa rasanya kehilangan Arsy.
"Sayang... kamu ada dimana? kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu telah diusir dari paman kamu... sayang... pulanglah.." ucap Darma lirih sambil berjalan kaki dengan tubuhnya yang sempoyongan.
"Darma...." seru sang Ayah yang melihat putranya baru pulang dengan tubuhnya yang tidak seimbang. Meski berat, tuan Nugraha memapah putranya sampai ke dalam rumah.
Setelah sampai didalam rumah, Darma di tidurkan di sofa ruang tamu.
"Darma kenapa, Yah?" tanya sang istri penasaran..
"Sepertinya Darma dari tadi mencari Arsy, karena tidak dapat menemukannya, maka Darma melampiaskan amarahnya sendiri. Nanti dia juga menyadari, bahwa istrinya yang penyakitan itu tidak ada gunanya." Jawab tuan Nugraha tanpa memikirkan kondisi putranya. Sedangkan sang ibu tersenyum puas.
"Ibu... mas Darma kenapa?" tanya Zelyn penasaran.
"Darma masih tergila gila dengan istrinya yang penyakitan itu." Jawab nyonya Ferly, dan terlihat senyum puas pada diri Zelyn yang melihat kondisi sang suami.
Setelah itu, Zelyn meminta tolong kepada salah satu pelayan laki laki untuk memapah Darma sampai kedalam kamar.
Karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat ditahan lagi, Zelyn langsung tidur disamping Darma. Kini kamar yang seharusnya ditempati Arsy, kini sudah ditempati Zelyn dengan berbagai cara kelicikannya.
Dilain sisi, Arsy tidak dapat memejamkan kedua matanya. Ingatannya pun kembali pada suaminya yang telah dicintainya, namun kenyataannya tidak seperti yang diketahuinya.
Kamu jahat, mas... kamu benar benar beijingan. Apa salahku denganmu, sehingga kamu tega gadaikan perasaanku dengan penyakitku. Setidaknya kamu berterus terang, aku pasti akan mundur sebelum melangkah. Aku benar benar menyesal mengenalimu, aku benci... benci..... batin Arsy dengan pandangannya ke langit langit kamar yang berukuran sangat kecil dan juga sempit.
Karena merasa gerah dan pikirannya yang kacau, Arsy keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Tepatnya di halaman gubuk anak anak, Arsy duduk termenung menatap bintang di langit yang terlihat begitu cerah. Tanpa diminta Arsy menitikan air matanya kedua pipinya. Arsy menangis sesenggukan, menyesali akan pernikahannya. Semua hilang dan tidak pernah kembali.
Setelah ini, kemana tujuanku nanti. Tidak mungkin aku akan disini terus, ada saatnya aku harus hengkang dari tempat ini setelah hukumanku selesai. Kak Reno... dimana kakak sekarang? Arsy sangat merindukan kakak.. Mama dan Papa sudah pergi meninggalkan kita untuk selama lamanya, kak... Arsy sudah tidak mempunyai siapa siapa lagi selain kak Reno. Batin Arsy sambil menatap bintang bintang yang bertebaran di langit.
"Sudah tengah malam, masuk. Aku tidak ingin orang sekitar melihatmu." Ucap seseorang yang mengagetkan. Arsy pun kaget dubuatnya, yang dimana dirinya sedang melamun dan menangis. Tiba tiba ada sosok laki laki datang mengagetkan.
"Maaf, aku hanya ingin sendiri." Jawab Arsy yang langsung masuk kedalam kamar.
"Das*r wanita aneh, tengah malam diluar dan menangis. Kurang kerjaan, minta dibelaskasihani. Cih... semua wanita sama saja." Gerutunya kemudian dirinya yang duduk bekas tempat Arsy melamun.
Sedangkan Arsy menoleh ke tempat yang dimana dirinya duduk dan melamun.
Laki laki aneh, bilang saja mau ikut menyendiri. Pakai alasan mengusirku, cih... gumam Arsy saat melihatnya. Kemudian dirinya segera masuk ke kamar, karena takut Hanum mencarinya.
Selain itu, Boni segera menghampiri Tara yang sedang duduk dihalaman sekitar rumah.
"Bro, besok aku pulang. Aku ada urusan, besok aku ada pertemuan penting dengan salah satu perusahaan memintaku untuk bekerja sama. Tetapi aku tidak tahu perusahaan yang mana dan milik siapa aku kurang tahu, karena baru saja aku ditelfon Papa." Ucap Boni menjelaskan.
"Ooooh rupanya kamu meniru wanita tadi yang sedang melamun sambil menatap bintang bintang yang bertebaran..." ledek Boni tertawa lepas.
"Gile kamu, untuk apa aku meniru wanita aneh tadi yang melihat bintang terus nangis, das*r wanita lemah." Ucap Tara asal.
"Kamu itu yang tidak peka, yang namanya wanita melamun dan menangis itu berarti sedang ada masalah berat, bahkan bumi yang diinjaknya terasa hancur." Jawab Boni menjelaskan.
"Wanita menangis itu, kebanyakan menipu untuk mendapatkan apa yang dia mau." Pungkasnya.
"Itu kan, mantan kamu si Amel." Ucap Boni sedikit geram saat menyebutkan nama Amel.
__ADS_1
"Jangan kamu ungkit wanita busuk itu, dia lebih pantas untuk santapan ikan hiu." Jawabnya yang langsung pergi ke kamar.
"Mau sampai kapan kamu akan menutup hatimu untuk wanita lain. Sudah kehilangan kedua orang tua, kehilangan wanita yang dicintainya lagi. Dan kini hartanya diperebutkan, sungguh malang nasibmu itu Bro.. kehidupanmu yang terlihat manis, namun benar benar jauh dari pandanganku. Ngenes, pewaris tunggal tetapi jomblo." Gerutu Boni kemudian mengacak acak rambutnya.
Boni pun langsung mengejar langkah kaki Tara yang begitu sangat cepat dan gesit.
Gile itu anak, jalan kaki saja seperti lomba lari. Batin Boni sambil jalan cepat.
"Bro... tunggu," ucap Boni menghentikan langkah kaki sahabatnya. Namun sayangnya ucapan Boni tidak diperdulikan, dirinya tetap berjalan dan langsung masuk kamar. Boni pun langsung menyusul untuk segera masuk ke kamar sahabatnya. Namun sebelum masuk, Tara berdiri diambang pintu dan menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya.
"Mau apa?" tanyanya.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan satu hal, tetapi pedas. Cepat segera menikah, agar kamu tidak pusing memikirkan keluarga kamu yang merebutkan sebagai pewaris." Jawabnya sambil memanyunkan mulutnya.
"Kalau kamu bisa mencarikannya, kenapa tidak! sekarang kamu masuk kamar dan tidurlah. Aku sudah sangat lelah dan juga ngantuk tentunya. Sudah sana pergi dan istirahat." Ucap Tara dengan kondisinya yang sudah sangat mengantuk.
Sedangkan Boni segera masuk kedalam kamarnya dan menjatuhkan badannya ditempat tidur.
"Tadi dia bilang apa? kalau aku bisa mencarikannya? apa iya yang diucapkannya itu benar adanya. Palingan juga hanya bersenda gurau." Gerutunya yang sambil berbaring.
Karena merasa kedua matanya yang benar benar terasa sangat mengantuk, membuatnya langsung tertidur pulas.
Berbeda dengan Tara, yang sedari tadi mondar mandir karena tidak bisa tidur. Entah kenapa kedua matanya susah untuk di pejamkan, akhirnya dirinya menyibukkan di ruang pribadinya. Yang dimana dijadikan ruangan privat yang dikhususkan untuk kepentingannya.
Tiba tiba ponselnya berbunyi, menandakan ada seseorang yang tengah menelponnya.
"Katakan, ada berita apa tengah malam begini." Tanyanya.
__ADS_1
"Begini Tuan, orang yang kami selidiki sudah pergi. Dan soal keberadaannya masih kami lakukan pencarian." Terangnya dengan sedikit kecemasan.
"Lakukan seperti perintahku." Ucapnya, lalu langsung mematikan sambungan telfonnya.