
Sedangkan Raska yang mendengar penuturan dari Arsy langsung membalikkan badannya.
"Kamu bilang apa tadi? kamu ingin pergi kerumah sahabat kamu? memangnya ada masalah apa, sehingga sudah malam begini menyuruhmu untuk segera datang. Memangnya tidak ada hari besok? hemm" jawab Raska sambil menaikkan alisnya satu.
"Kamu mau menolongku, tidak? kalau tidak mau aku akan berangkat sendiri. Aku akan jalan kaki, soal keselamatan itu nomor terakhir. Yang penting sahabatku tidak kenapa kenapa." Ucap Arsy langsung pergi mimggalkan Raska yang sedang berdiri mematung.
"Tunggu didepan, aku akan segera mengeluarkan mobil." Jawab Raska dengan suara yang keras, Arsy yang mendengarnya pun tersenyum mengembang. Perasaannya terasa lebih tenang, karena dirinya tidak lagi ketakutan untuk berjalan kaki sampai di rumah sahabatnya.
Raska sendiri langsung menyambar jaket dan juga kunci mobilnya, kemudian langsung bergegas pergi.
Setelah itu, Raska langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Didalam perjalanan, Arsy hanya berdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Begitu juga dengan Raska yang sedang fokus dengan setir mobilnya.
Arsy mencoba menengok kearah Raska, dirinya berharap tidak ada kekesalan di raut wajah Raska yang sedang fokus menyetir. Tanpa disengaja, Raska pun menengok kearah Arsy. Kedua bola mata mereka bertemu, namun keduanya langsung membuang muka masing masing. Arsy sendiri langsung menatap luar jendela kaca mobil, agar dirinya tidak disangka yang tidak tidak. Begitu juga dengan Raska, dirinya langsung menatap lurus kedepan. Agar tidak terlihat mencuri pandang.
"Rumahnya mana, awas kalau sampai kamu membohongiku. Tahu sendiri kamu akibatnya, bahkan aku akan membuangmu ke desa terpencil yang dihuni hanya kamu saja." Ucap Raska dengan ketus dan sambil mengancam.
"Aku tidak bohong, aku serius. Kita akan kerumah sahabatku, sebentar lagi kita akan sampai." Jawab Arsy mencoba meyakinkan.
Ini orang tidak percaya banget sih, lagian siap juga yang mau kabur. Cih... batin Arsy berdecak kesal.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Raska memasuki halaman rumah milik sahabat Arsy. Perasaannya Arsy tiba tiba merasa tidak enak, pikirannya pun gelisah. Ditambah lagi dirinya datang tidak bersama sang suami, melainkan dengan sepupunya. Tiba tiba Arsy baru teringat akan statusnya, kedua tangannya tiba tiba berubah berkeringat dingin.
"Kenapa wajah kamu terlihat pucat, kamu sakit? apa kita pulang saja." Tanya Raska yang merasa khawatir dengan kondisi Arsy yang tiba tiba terlihat berubah pucat.
"Aku tidak apa apa, mungkin karena aku cemas dengan apa yang akan disampaikan oleh sahabatku." Jawabnya sedikit gugup.
"Baiklah, ayo kita turun." Ajak Raska sambil melepaskan sabuk pengaman.
"Kalau kamu keberatan untuk masuk, kamu bisa menungguku di dalam mobil." Jawab Arsy tidak enak hati karena merasa sudah merepotkan Raska.
"Aku ikut kamu masuk, aku tidak ingin disangka supir kamu." Ucapnya datar.
"Baiklah, aku tidak memaksamu. Mari..." jawab Arsy sambil membuka sabuk pengaman. Namun naas, tiba tiba sabuk pengaman Arsy susah untuk dilepaskan. Berkali kali mencoba untuk melepaskan sabuk pengamannya, tetap saja Arsy tidak bisa melepaskannya.
"Melepaskan sabuk pengaman saja kamu tidak bisa, anak manja." Ucap Raska asal. Sedangkan Arsy hanya bisa diam dan pasrah dengan apa yang di ucapkan Raska. Selagi bukan harga dirinya yang dihina, Arsy hanya menganggapnya senda gurau.
Raska pun mencoba melepaskan sabuk pengaman milik Arsy, entah kenapa Raska pun sedikit kesulitan untuk membukanya. Tiba tiba kedua mata diantara keduanya saling bertemu satu sama lain, jarak yang begitu dekat. Arsy pun merasakan Nafas hangat dari Raska dari dekat. Detak jantung keduanya saling berdegup sahut menyahut, Arsy maupun Raska sama sama tidak menyadarinya akan hal itu. Didalam pikiran keduanya masih melayang jauh dengan bebas. Raska semakin mendekatkan bib*rnya semakin dekat.
"Kamu sengaja mencari kesempatan, iya kan?" bisik Raska lembut dan berhasil membuka sabuk pengamannya. Sedangkan Arsy sendiri kaget dan membelalakan kedua bola matanya saat Raska mengatakan hal dianggapnya sangat menyindir bahwa dirinya seakan wanita yang tidak baik.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, aku mencari kesempatan. Enak saja, jelas jelas aku kesusahan untuk membukanya. Lagian aku juga tidak meminta bantuan kamu, itu kan kamu sendiri yang membantuku." Jawabnya kesal dan memalingkan wajahnya.
"Asah sudahlah, cepetan turun. Aku tidak mau pulang kemalaman, aku sudah sangat mengantuk." Ucap Raska berusaha memberi ancaman.
"Bukannya aku sudah bilang, jangan ikut masuk. Tunggu saja didalam mobil, dan aku tidak akan mengatakan kalau aku diantar oleh laki laki. Atau... kalau mau pulang silahkan pulang. Besok aku ganti kerugian kamu, kamu tinggal berikan totalannya. Kalau aku sudah punya uang, aku akan langsung membayarmu." Jawab Arsy yang tidak kalah kesalnya.
Raska yang mendengarkan penuturan dari Arsy semakin geram. Raska langsung mencengkram kedua lengan Arsy yang lumayan cukup kuat, hingga Arsy sendiri meringis kesakitan.
"Kamu bilang apa tadi, ucapkan sekali lagi. Kamu kira aku ini seorang supir, yang seenaknya kamu mengataiku. Baiklah, aku akan pergi dari sini. Terserah kamu mau pulang atau tidak, aku tidak perduli." Ucap Raska dengan emosinya yang tiba tiba memuncak.
Arsy hanya diam, dirinya pun merasa bersalah akan ucapannya yang membuat Raska murka. Arsy pun tidak kuasa untuk meminta maaf, karena sudah merasa sangat malu dengan ucapannya sendiri kepada Raska.
Sedangkan Raska hanya berdiam diri setelah mencengkram kedua lengan milik Arsy. Tiba tiba Raska teringat akan pesan dari sang kakek, yang dimana dirinya harus menjaga Arsy dengan baik. Arsy sendiri pun langsung membuka pintu mobil dan segera turun.
Saat Arsy akan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah milik Alia, tiba tiba Raska langsung mengekor dari belakang. Arsy yang merasa bahwa Raska berada di belakangnya hanya diam dan tidak berkonten lagi, dirinya takut disangka menyinggung perasaannya.
Arsy kini sudah berdiri didepan pintu, kemudian tiba tiba Raska menekan tombol bel pintu. Keduanya masih saling diam, Arsy maupun Raska tidak ada yang membuka suara.
Didalam rumah, Alia yang mendengar suara bel pintu langsung bergegas untuk keluar. Perasaannya pun campur aduk ada rasa tenang, namun juga cemas. Alia takut jika Arsy akan salah paham dengannya. Berkali kali Alia mencoba mengatur pernapasannya. Agar perasaan gugupnya hilang disaat itu juga.
__ADS_1
Ceklek, Alia membukakan pintunya. Dilihatnya Arsy bersama seorang laki-laki yang jauh lebih tampan dari Darma membuat Alia penasaran.
Siapa laki laki ini, apa mungkin kakaknya Arsy yang hilang itu. Benarkah? ganteng banget.. mimpi apa aku ini, sahabatku datang bersama laki laki yang begitu sangat tampan. Gumam Alia yang masih bengong.