Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Pertemuan yang tidak disangka


__ADS_3

Di tempat lain, Seorang laki laki yang sudah mengenakan jasnya sedang bertengger duduk di kursi kerjanya.


Tok tok tok suara ketukan pintu telah membuyarkan konsentrasinya. Lelaki tersebut segera menekan remotnya hingga pintu pun terbuka.


Seorang laki-laki paruh baya telah masuk kedalam ruangan.


"silahkan duduk." Ucapnya.


"Katakan, ada perlu apa bapak datang kemari." Tanyanya serius.


"Begini tuan, setelah aku baca wasiat selanjutnya. Bahwa tuan disarankan untuk segera menikah. Setidaknya tuan sudah beristri. Jika tuan tidak kunjung menikah, sedangkan tuan Darma sudah menikah dan memiliki seorang anak laki laki maka tuan yang akan mendapatkan warisan 25%." Jawabnya menjelaskan.


"Apa.....! kenapa menjadi aku yang disudutkan." Bukankah Darma yang harus memiliki istri dan juga seorang anak laki laki dan akan mendapatkan 50%?" tanyanya lagi semakin kesal dengan syarat yang membuatnya geram.


"Itu wasiat yang pertama tuan, ternyata saya lupa untuk membaca wasiat yang kedua." Terangnya.


"Aaah syarat macam apa itu, kenapa mesti aku yang harus menikah juga. Sungguh menyulitkanku, silahkan keluar. Akan aku pertimbangkan lagi syarat itu." Ucapnya, dan bapak tersebut segera pergi meninggalkan ruangan yang begitu menegangkan.


"Syarat macam apa coba, kenapa aku harus menikah juga. Dan kenapa menjadi topik tandingan, bukankah aku yang berkuasa atas semuanya. Benar benar ada yang tidak beres, baik lah aku harus memainkan sebuah drama." Gerutunya sambil mengepalkan kedua tangannya dalam posisi berdiri dan membungkukan badannya.


"Wah wah.... sudah berani menggerutu rupanya kamu." Ucap seorang kakek yang telah mengagetkannya.


"Kakek...!!!! benar ini kakek. Aku tidak lagi mimpi kan?" plak plak plok plok ucapnya berteriak lalu menampar mukanya berulang ulang agar bisa mengetahui apakah mimpi atau nyata.

__ADS_1


"Iya. Ini kakek kamu, Raska." jawab kakek sambil geleng geleng kepala.


"Lalu kabar itu?" tanya Raska yang masih belum percaya.


"Kabar yang mana? kakek yang sudah meninggal? itu bohong. Kakek sengaja menjarakkan kamu agar kamu menjadi sosok pribadi yang kakek inginkan." Jawab sang kakek menjelaskan dengan entengnya.


"Apa....? selama ini kakek kemana?" tanyanya penuh kecurigaan.


"Kakek tinggal di desa ditemani orang suruhan kakek, dan kakek selalu memantau aktivitas kamu." Jawab sang kakek sekaligus menyulitkan Raska untuk menelan salivanya.


"Kakek... maafkan Raska, yang sudah tidak mencari tahu keberadaan kakek. Tetapi kenapa begitu lamanya kakek meninggalkanku seorang diri." Ucap Raska yang kemudian menunduk karena merasa bersalah. Dirinya yang selalu mengawasi keluarga Nugraha, justru tidak mencari tahu kebenaran tentang sak kakek meninggalkan rumah.


"Siapa gadis itu," tanya sang kakek menghardik.


"Kenapa kamu lupa, bahkan kamu selalu mengawasinya." Ucap sang kakek semakin membuat Raska bingung.


"Kenapa kakek bertanya seperti itu, Raska benar benar tidak mengerti kek..." tanya Raska yang bingung akan pertanyaan dari sang kakek.


"Hemmm sepertinya kamu berusaha menyembunyikannya dari kakek. Baiklah, akan kakek tunggu waktunya yang sudah tepat." Jawab sang kakek yang masih membuat Raska semakin bingung.


"Terserah kakek saja, aku benar benar tidak mengerti apa yang kakek maksud. Sekarang kakek mau kemana? aku mau ke Restoran milik Tirta. Apakah kakek mau ikut?" ucap Raska mengajak sang kakek.


"Sekarang antarkan kakek ke rumah paman kamu, Nugraha. Pergi ke Restorannya besok juga masih bisa, kan?" jawab sang kakek menyuruh.

__ADS_1


"Baiklah, akan aku temani kakek ke rumah putri kakek yang manja itu." Ucap Raska sedikit mengernyitkan dahinya. Sang kakek hanya tersenyum tipis saat melihat ekspresi Raska.


Didalam perjalanan, Raska hanya berdiam. Tidak berani mengucapkan sepatah kata pun, karena takut akan salah berucap dan justru akan kemakan omongannya sendiri jika berbicara dengan kakek Gantara.


"Sampai kapan kamu akan berstatus tanpa pasangan, apakah kamu menikmatinya?" sindir sang kakek membuka suara. Sedangkan Raska sedikit bingung untuk menjawab, karena apa pun jawabannya tetap akan bertambah banyak pertanyaan.


Aku diam pasti salah, aku berbicara akan tambah bersalah. Lalu apa yang harus aku jawab dari pertanyaan kakek. Ujung ujungnya aku yang akan mendapat sialnya, aku sudah paham akan maksud dari kakek. Batin Raska sambil fokus menyetir dan pandangannya lurus kedepan.


"Kamu sariawan? sehingga kamu sulit untuk berbicara. Apa perlu kakek yang mencarikan istri untuk kamu?" ucap sang kakek menghardik.


"Aaaah bukan begitu, kek... aku hanya masih fokus untuk menyetir, jika aku tidak fokus nanti bisa bahaya kek. Kakek tidak perlu repot repot mencarikan istri untukku, kek.." jawab Raska mencoba meyakinkan sang kakek.


"Apakah kamu sudah mempunyai calon istri? jika belum, percuma. Sama saja kamu butuh dicarikan seorang istri. Jika memang kamu sudah memiliki calon istri berarti kakek tidak perlu mencarikannya untuk kamu." Ucap sang kakek membuat Raska semakin gusar dengan pertanyaan pertanyaan dari sang kakek.


"Iya kek, aku sudah memiliki seorang calon istri. Kakek tidak perlu takut dan khawatir, karena aku tidak repot repot untuk minta dicarikan seorang istri dari kakek." Jawab Raska semakin gusar atas jawabannya sendiri yang dilontarkannya.


Bagaimana ini, kalau kakek benar benar benar serius dan memintaku untuk memperkenalkannya dengan kakek. Aku harus bagaimana? teman wanita saja aku tidak punya, apalagi seseorang yang aku kagumi. Tidak mungkin aku menyewa wanita asal, yang ada aku akan terjebak dalam status yang rumit. Aaaah kenapa kakek muncul dalam keadaanku yang masih bertahan pada kejombloanku. Gumamnya dalam hati.


"Kenapa kamu melamun? besok perkenalkan kakek dengan wanita yang kamu sukai, bahkan yang kamu cintai. Mau tidak mau, kamu harus memperkenalkannya kepada kakek." Pinta sang kakek menekan, Raska sendiri bingung dibuatnya. Karena dirinya sendiri sama sekali tidak mempunyai seorang kekasih.


"Iya, kek... besok calon istriku akan aku perkenalkan dengan kakek. Tapi... calon istriku tidak cantik kek, dan juga tidak kaya. Dia orang tidak punya, rumah pun tidak punya, janda lagi kek... bagaimana? kakek pasti tidak setuju, kan?" jawab Raska beralasan serendah mungkin, agar sang kakek menolaknya. Dan waktu bisa di undur lebih lama.


"Tidak apa apa, meski calon istrimu janda miskin sekalipun. Kakek tidak memberatkan kamu, asalkan wanita yang kamu cintai benar benar wanita yang baik. Asal kamu bahagia, kakek pun ikut bahagia. Ibu kamu pun dahulunya juga janda, tetapi janda kembang. Papa kamu tetap berjuang mendapatkannya, karena ibu kamu adalah wanita baik baik." Ucap sang kakek meyakinkan, sedangkan Raska bingung sendiri atas jawabannya untuk sang kakek. Justru sang kakek tidak memberatkan latar belakang wanita yang diucapkan oleh Raska.

__ADS_1


Aduh kek... kenapa kakek begitu yakin dengan jawabanku. Sedangkan aku saja asal menjawab. Benar, kan... kakek selalu pintar jika tanya jawab. Dan aku selalu kalah dan kalah terus. Gumam Raska sambil menyetir mobilnya.


__ADS_2