
Arsy masih mencoba untuk mencerna maksud dari sang Dokter, dirinya masih tidak percaya jika dirinya tengah hamil.
"Apa!! Istri saya hamil, Dok?" teriak Raska tidak percaya.
"Saya belum bisa memastikannya, Pak. Hanya baru kemungkinan . Kalau begitu, ibu Arsy silahkan untuk berbaring dan dilakukan pemeriksaan melalui USG." Jawab ibu Dokter menjelaskan.
"Baik, Dok." Jawab Arsy dengan tenang, dan dibantu sang suami untuk berbaring.
Saat Arsy sedang berbaring, pada bagian perutnya diolesi dengan sesuatu cairan yang seperti gel.
"Stop!! perut istri saya mau diapain, Dok?" tanya Raska yang tidak mengerti dunia Wanita.
"Pak, istri bapak ini akan dilakukan pemeriksaan pada kandungannya. Tidak mungkin saya akan mengarahkan benda ini ke punggung bapak, sangat tidak mungkin." Jawab sang Dokter sambil menggelengkan kepalanya penuh keheranan.
Arsy yang mendengarnya pun hanya nepuk jidatnya, tatkala melihat suaminya yang begitu terlihat polos.
'Aku sedang tkdak ikutan kambuh, 'kan? kenapa suamiku menjadi aneh seperti itu. Bahkan lebih norak dari orang yang kurang pengalaman. Kuliah diluar Negeri, ilmu dan pengalamannya sih! kemana? sungguh membuatku semakin pusing akhir akhir ini.' Batinnya sambil menelan salivanya.
"Baiklah, terserah ibu Dokter saja. Kalau sampai terjadi apa apa dengan istri saya, maka saya akan tutup klinik ini." Ucap Raska dengan serius, semakin lama banyak berdialog dengan Raska semakin penasaran ibu Dokternya.
Sesekali memperhatikan sosok laki laki yang ada dihadapannya, namun Dokter tersebut segera menepisnya. Takut jika salah orang yang dituju, pastinya akan memalukan.
"Lihatlah, didalam kandungan ibu Arsy sudah terlihat sesuatu yang akan tumbuh di rahimnya. Ukurannya masih sangat kecil, bahkan tidak ada satu bola pimpong."
__ADS_1
"Benarkah, Dok? kalau saya benar benar hamil? saya takut jika kenyataannya saya tidak sedang hamil. Saya trauma Dok, saya teringat saat saya di Vonis mengidap kanker rahim. Dan disaat itulah saya tidak memiliki sebuah harapan, saya merasa putus asa. Sampai sekarang bayangan itu masih ada, bahkan sangat sakit."
"Saya tidak bohong, Bu. Bahwa bu Arsy benar benar sedang hamil, dan pastinya didalam rahim ibu ada calon bayi ibu Arsy. Buanglah bayangan buruk pada pikiran ibu Arsy, yang saya takutkan akan mengganggu pertumbuhan si jabang bayi yang sedang ibu Arsy kandung. Karena kebanyakan pikiran atau setres berat dapat mengganggu pertumbuhan calon bayi."
"Terimakasih atas sarannya, Dok. Akan saya usahakan untuk menghindari pemikiran yang dapat mengganggu pertumbuhan calon anak saya." Jawab Raska menimpali.
"Dan, jangan lupa. Jaga kesehatan istri bapak, jangan banyak bergadang dan diatur pola makannya. Ini ada beberapa vitamin dan susu untuk di konsumsi istri bapak. Perbanyak makan buah dan sayuran dan juga daging atau ikan. Jangan lupa, vitamin dan susunya pun harus rutin. Sering seringlah periksa kandungan, agar dapat mengetahui perkembangan janin yang ada didalam kandungan istri bapak.
"Baik, Dok. Saya akan ingat selalu nasehat nasehat dari ibu Dokter." Jawab Raska dan kemudian segera berpamitan untuk segera keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Kalau begitu kami berdua permisi untuk pamit keluar, Bu."
"Baiklah, jaga selalu kesehatannya. Jangan lupa pesan pesan yang sudah diterima, semoga ibu Arsy dan janin yang dikandung selalu diberi kesehatan." Ucap sang Dokter mendoakan dan menyemangati.
Arsy dan Raska kini keluar dari ruangan pemeriksaan.
Begitu juga dengan Raska, perasaannya sangat bahagia. Apa yang dinanti nantikan kini telah terkabul seperti yang diharapkannya. Tidak hanya Arsy yang merasa kehilangan kedua orang tuanya, Raska sendiri pun merasakan bagaimana rasanya kehilangan kedua orang tuanya. Disaat dirinya sudah menemukan kebahagiaannya, Raska tidak dapat berbagi kebahagiaannya kepada kedua orang tua yang dicintainya.
Raska pun mengerti dengan apa yang dirasakan pada istrinya, perasaan rindu yang tidak jauh berbeda dengan dirinya. Dilihatnya sang istri yang masih terlihat bersedih, Raska segera memeluk istrinya untuk memberi ketenangan. Agar perasaan sedihnya dapat berkurang, meski rasa rindu yang teramat dalam ingin sesekali bertemu. Namun, itu tidak akan mungkin terjadi.
"Aku tahu, kamu pasti merindukan kedua orang tua kamu. Sama, akupun begitu. Mau bagaimana lagi, kita tidak boleh egois. Apapun yang sudah menjadi takdir, kita tidak boleh menolaknya."
"Aku hanya merasa tidak memiliki siapa siapa selain kamu."
__ADS_1
"Kata siapa, masih ada kakek dan yang lainnya. Bukankah kamu masih memiliki saudara?" ucap Raska mengingatkan.
"Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku, aku tidak tahu jika kamu bukan jodohku. Mungkinkah aku akan merasa tenang seperti ini, meski perasaanku saat ini sangatlah sedih."
"Itu sudah takdir dariNya, kamulah bagian dari hidupku. Apapun masalah yang kamu hadapi, kenyataannya aku dapat dipertemukan denganmu. Walau dalam keadaan yang sesulit apapun, kita tetap dipertemukan." Ucap Raska sambil membantu istrinya untuk memasangkan sabuk pengamannya.
Pelan pelan Raska mendekatkan diri pada istrinya. Dengan lembut, dirinya mencium kening istrinya. Arsy pun tersenyum saat mendapati sikap suaminya yang begitu menyayanginya.
"Aku akan selalu berada di dekatmu, kapanpun itu." Ucap Raska dan tersenyum, kemudian segera mengenakan sabuk pengaman miliknya.
Setelah merasa tidak ada yang kurang, Raska segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Arsy yang menatap lurus kedepan, tiba tiba tersenyum mengembang sambil mengusap perutnya berkali kali.
Sesekali Raska memperhatikan istrinya yang terlihat sudah tidak lagi bersedih, membuatnya ikut tersenyum tanpa Arsy mengetahuinya.
"Sayang, setelah ini kita akan kemana? mungkin kamu menginginkan sesuatu. Selagi kita masih didalam perjalanan, kita bisa mampir ke suatu tempat yang kamu inginkan."
"Aku sedang tidak ingin sesuatu apapun, yang aku inginkan hanya buah yang segar."
"Baiklah. Sebelum membeli buah yang segar, kita beli susu khusus ibu hamil dan sekalian vitaminnya. Aku tidak ingin anakku tidak terpenuhi kebutuhannya, kita harus mendahulukan kebutuhan calon anak kita."
"Iya, benar yang kamu bilang. Aku jadi sudah tidak sabar ingin segera memiliki buah hati, sepertinya tidak lagi kesepian."
"Bersabarlah, baru saja hadir di rahim kamu. Kenapa kamu ingin segera besar didalam kandungan, semua butuh proses."
__ADS_1
"Iya, sayang ... aku mengerti. Bagaimana kalau besok kita pergi ke Asrama, aku ingin mengadakan syukuran atas hadirnya calon bayi kita. Tidak hanya itu, aku merindukan Hanum. Karenanya, aku dapat bertemu suamiku ini. Hanum lah yang sudah memberikan kebahagiaan untukku."
"Iya, sayang ... apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi, selagi aku bisa akan akan aku lakukan." Jawab Raska sambil mengusap usap pucuk kepala istrinya.