
Didalam ruangan kerja, ada Viko yang sedang mondar mandir memikirkan penyeleksian sekretaris baru.
"Bagaimana ini, jika aku tidak mendapatkan sekretaris baru sesuai yang diminta pak Darma." Gerutu Riko sambil mengacak acak rambutnya.
Dengan malas, Riko bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, durinya segera keluar dan menuju ruangan khusus penyeleksian sekretaris.
"Cie ... yang lagi mau melakukan penyeleksian sekretaris ancur ... semangat, ya bro ..." ledek Beni sambil berjalan beriringan dengan Riko.
"Terus ... ejek terus ... seneng, ya. Melihat teman kamu ini dilema akut, hem." Jawab Riko sambil berkomat kamit.
Sesampainya didepan pintu, Riko menarik nafas panjangnya dan mengeluarkannya dengan kasar. Tidak hanya itu, Riko berkali kali mengusap usap keningnya. Seakan keringatnya bercucuran, dan benar benar sangat tegang.
'Kenapa pemilihan sekretaris yang ini jauh lebih memusingkan, seperti mau mencari calon istri saja. Sungguh, membuatku cemas dan gugup.' Batinnya, kemudian dengan terpaksa masuk kedalam ruang.
Ceklek, Riko membuka pintunya dengan sangat hati hati. Berharap, dirinya tidak pingsan didepan para peserta yang mendaftarkan diri untuk menjadi sekretaris.
"Selamat pagi, semua ..." sapa Riko seramah mungkin.
"Pagi juga, Pak ..." jawab semuanya serempak.
"Hari ini akan ada penyeleksian menjadi sekretaris, saya berharap untuk yang tidak terpilih untuk tidak berkecil hati." Ucap Riko sebaik mungkin.
Sesekali Riko melihat di setiap sudut ruangan, kedua matanya memeriksanya. Berharap, dirinya menemukan seseorang yang bisa dijadikan sekretaris di kantor Bosnya.
"Yang saya panggil namanya, harap untuk maju ke depan." Ucapnya lagi memberi arahan.
Sekiranya cukup mengerti, Riko memanggil satu persatu peserta yang akan dipilih menjadi sekretaris.
Sudah banyak yang maju kedepan untuk diseleksi, namun Riko sendiri belum juga menemukan yang cocok untuk dijadikan sekretaris.
'Bagaimana ini, jika aku tidak mendapatkan sesuai yang diminta pak Darma. Bisa bisa Hendi yang akan menjadi sekretaris, hem.' Batinnya sambil memijat pelipisnya.
"Mana masih tiga, peserta lagi. Bagaimsna ini, Ruwet, ruwet. Wes ongel, ongel ..." Gerutunya sambil menunduk dan memijat pelipisnya.
Riko pun melanjutkan penyeleksian yang tersisa yang tinggal tiga peserta lagi, pikiran Riko sendiri semakin kacau dibuatnya.
__ADS_1
Setelah kedua peserta maju kedepan, Riko pun belum juga mendapat jawaban. Pikiran Riko semakin kacau karena dirinya belum juga menemukan sesuai permintaan Bosnya.
'Semoga, pilihan yang terakhir ini adalah pilihan yang tidak mengecewakan.' Batin Riko penuh harap, meski dihantui dengan kecemasan.
"Rana Safira Saputri Indriyanata." Seru Riko memanggil nama tersebut sambil geleng geleng kepala.
"Ini, namanya saja sudah ancur. Apa iya, pemiliknya juga ikut ancur berantakan." Gerutu Riko sambil geleng geleng kepalanya.
Tidak menunggu lama, pemilik nama tersebut kini sudah berdiri tepat didepan Riko.
"Pak," panggilnya yang tidak mendapat jawaban.
"Pak!" sedikit dikeraskan volumenya.
Riko pun masih fokus dengan selembar kertas membaca formulir yang ada ditangannya.
"Pak!!!"
"Diam!" Bentak Riko, sedangkan peserta tersebut mundur beberapa langkah karena kaget.
"Kamu kira aku tidak mendengarkannya, hah! belum juga diterima. Kamu sudah berani membentakku, tidak sopan." Ucap Riko yang tiba tiba terdengar sinis.
'Yang benar saja ini, kenapa penampilannya tidak jauh beda dengan istrinya pak Darma. Sungguh, seperti mendapatkan durian runtuh.' Batinnya dengan perasaan senang dan juga sedih tentunya.
Bagaimana tidak senang, apa yang diminta Bosnya sudah ditemukan. Namun, rasa sedihnya tidak jauh beda ancur dan berantakannya dengan istri Bosnya sendiri.
"Apakah kamu mempunyai pengalaman bekerja?" tanya Riko basa basi.
"Tidak, Pak. Aku baru selesai menyelesaikan pendidikanku di ..." jawabnya terhenti.
"Dimana, katakan saja. Kamu tidak perlu malu, kantor ini yang dibutuhkan bekerja dengan baik dan mengikuti peraturan dengan baik juga." Ucapnya meyakinkan.
"Di Universitas xxx, Pak."
"Kamu, Aku terima. Sekarang juga, kamu ikut Aku ke ruangan yang sudah Aku tentukan." Ucap Riko sambil menatapnya dengan serius, sedangkan wanita tersebut kaget bukan main.
__ADS_1
"Pak, yang benar saja. Bapak tidak salah pilih, 'kan?" tanyanya yang tidak percaya.
"Lantas, apa maksud kamu mendaftar di kantor ini? apa hanya untuk pelarian? hem."
"Aku merasa kecil hati, Pak. Lihatlah, yang lainnya lebih cantik dan seksi. Bahkan aku rasa mereka semua pintar pintar, sedangkan aku ini apalah."
"Jangan banyak protes, jika kamu menolakmu aku akan mencari penggantimu."
"Eh! jangan, Pak. Kasihan aku ini, Pak. Jauh jauh dari ujung keujung demi diterima bekerja, aku tidak akan menyia nyiakannya." Jawabnya dan tersenyum lebar.
"Baiklah, ambil tas kamu. Kemudian ikutin aku, dan jangan banyak bicara." Ucapnya, kemudian segera membereskan mejanya.
"Sebelumnya, saya mau memberitahu. Bahwa yang diterima untuk menjadi sekretaris di kantor ini adalah Rana Safira Saputri Indriyanata." Ucapnya.
Setelah itu, Rana pun segera maju kedepan dan berdiri didekat Riko. Semua peserta yang melihat Rana sambil berdecak kesal, lagi lagi yang diterima yang selalu buruk penampilannya.
"Pak, saya mau tanya." Ucap salah satu peserta sambil mengangkat tangannya.
"Iya, tanyakan saja. Apa yang ingin kamu tanyakan, nanti akan ada jawabannya." Jawab Riko yang sudah mulai bosan jika harus berhadapan dengan yang namanya wanita.
"Kenapa kita kita yang berpenampilan rapi tidak pernah di terimanya, dan kenapa juga mesti yang ancur dipilih." Ucapnya dengan kesal, yang sudah dua kali tidak diterima.
"Maaf, ini semua sudah ketentuan pihak Kantor yang meminta untuk memilih sekretaris dari penampilan yang sederhana. Tidak yang muluk muluk, yang terpenting kesopanan dan patuh dengan peraturan yang diberikan oleh pihak kantor." Jawabnya menjelaskan, sedangkan wanita tersebut kalah telak. Kemudian segera kembali ke posisi semula di tempat duduknya.
"Kalau begitu, sudah jelas semuanya. Permisi ... sampai dikesempatan lain waktu." Ucapnya lagi berpamitan.
Setelah merasa tidak ada yang kurang, Riko pergi meninggalkan Kantor dan diikuti oleh Rana sekretaris baru dengan gayanya yang tidak jauh dari Vina. Penampilan yang tomboy, namun masih terlihat cantik dengan penampilannya yang sederhana.
"Pak, masih jauh, ya. Kok! dari tadi tidak sampai sampai diruangan kerjanya." Ucapnya sambil berjalan beriringan.
"Sebentar lagi sampai." Jawab Riko sambil mempercepat langkah kakinya, berharap si Rana akan kualahan mengejarnya. Namun, tidak disangkanya jika langkah kaki Rana jauh lebih cepat dari dirinya. Hingga keduanya masih sejajar melangkahkan kakinya masing masing.
'Gile ini cewek, langkah kakinya seperti jin iprit. Aku sendiri kualahan untuk berjalan lebih cepat darinya. Istrinya pak Darma saja kalah cepatnya dari perempuan ini, sungguh tidak aku sangka.
Setelah cukup gesit melangkahkan kakinya, Riko dan Rana kini telah sampai didepan ruangan yang akan ditempati oleh keduanya.
__ADS_1
"Ini, tempatnya?" tanya Rana menebaknya.
"Iya, ayo masuk. Jangan pikiran aneh aneh, pikirkan bagaimana caranya bekerja dengan baik." Jawab Riko menjelaskan.