
Di Gubuk masa depan anak anak, semua anak anak sudah berangkat ke sekolah. Suasananya pun berubah menjadi sepi, Arsy teringat akan sebuah lembaran foto yang diambilnya.
"Sebenarnya foto apa sih semalam, bikin penasaran saja." Gerutu Arsy yang mencoba mengambilnya kembali.
"Cih.... aku kira foto apaan, rupanya foto masa imut imutnya dia. Tapi kenapa besarnya berubah menjadi amit amit, kenapa tidak jadi bayi aja terus. Hemmm.. " gerutu Arsy yang kemudian meletakkannya kembali kedalam laci.
"Ooooh.... disuruh kerja palah malas malasan kamu ini, cepetan kamu ke dapur lalu masak. Di ruanganku ada kakek, jangan banyak drama kamu di tempat ini. Masak yang enak, awas kalau sampai masakan kamu menyumbat pernafasanku." Ucapnya memberi tugas. Sedangkan Arsy kaget dibuatnya.
"Baik, aku akan segera memasaknya." Jawab Arsy yang kemudian bergegas pergi ke dapur.
Gile itu orang, mentang mentang pemilik Gubuk masa depan anak anak. Terus bersikap semaunya, menyebalkan. Batin Arsy yang sedikit geram.
Sedangkan sang kakek sedang berkeliling dihalaman sekitar rumah. Tiba tiba indra penciuman sang kakek menghirup aroma yang begitu menggugah selera. Dengan langkahnya yang tidak begitu cepat, sang kakek mendatangi arah aroma masakan berasal.
Disudut bibir sang kakek tersenyum mengembang, tatkala melihat sosok wanita yang terlihat masih muda yang sedang sibuk memasak. Kakek pun segera menghampirinya, sedangkan Arsy masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Wah... sepertinya kamu jago memasak, pantas saja cucuku sangat betah tinggal disini." Ucap sang kakek mengagetkan.
"Kakek... kakek siapa?" tanya Arsy gugup dan mematikan kompornya.
"Kakeknya Tara, kamu pasti calon istrinya Tara. Iya, kan?" jawab sang kakek dan bertanya. Arsy yang mendapatkan pertanyaan dari kakek Ganta pun hanya bisa bengong.
"Kakek... kenapa ada disini?" ucapnya cemas akan sosok Arsy yang disangkanya calon istrinya.
"Kenapa kakek tidak boleh pergi ke dapur? kamu malu ketahuan jika calon istrimu sedang memasak? apa jangan jangan kalian berdua sudah menikah? kalaupun kalian berdua belum menikah, maka secepatnya kalian berdua segera menikah. Kakek tidak ingin orang orang diluar sana menggosipi kalian orang yang tidak baik." Ucap sang kakek memberondong berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
Keduanya pun bingung harus menjawab apa, agar sang kakek tidak salah sangka. Apalagi cucunya sendiri, sudah mengatakan memiliki calon istri.
"Kakek.. kita berdua belum menikah, karena..." jawabnya terhenti karena bingung untuk menjawabnya.
"Karena apa? karena sebenarnya kalian berdua sudah menikah. Iya, kan?" ucap sang kakek menebak.
"Maaf kek, sebenarnya maksud kakek apa, ya? sedari tadi saya tidak mengerti dengan pertanyaan kakek. Apakah kakek bisa menjelaskannya?" tanya Arsy penasaran.
"Kata cucu kakek, bahwa cucu kakek sudah memiliki calon istri. Katanya seorang janda, apakah kamu orangnya? jika iya, maka segeralah kalian menikah." Jawab sang kakek, sedangkan Raska hanya berdiam diri tidak berani berkutik jika berhadapan dengan sang kakek. Arsy pun bingung dibuatnya, kenapa status jandanya sudah terbongkar.
Berarti kemarin dia memang benar benar mengikuti aku. Kalau tidak, kenapa tahu statusku sudah menjadi janda. Dan kenapa dia mengaku mempunyai calon istri seorang janda. Apakah aku ini akan dijadikan umpannya, agar selamat dari kakeknya. Perlu diselidiki. Batin Arsy semakin geram melihat sosok Raska.
"Kenapa kamu diam? jadi benar, bahwa kamu adalah calon istrinya cucu kakek. Iya, kan?" tanya kakek dan berusaha menebak. Sedangkan Raska sendiri masih belum berani membuka suara, dirinya tidak menyangka jika dirinya terjebak dalam ucapannya sendiri.
Apa aku bilang, berbicara dengan kakek sama saja mengelilingi bundaran. Tidak ada selesainya kalau tidak menuruti kemauannya. Batin Raska dengan pikirannya yang masih kacau.
"Iya, kek. Kita berdua sudah menjalin hubungan dengan sangat baik. Dan kakek tidak usah khawatir, kita berdua akan segera menikah setelah beban diantara kita sudah tidak ada." Jawab Raska langsung mendekati Arsy dan menggenggam tangannya untuk membuktikannya didepan kakek Gantara
lalu dengan cepat Raska langsung menimpali untuk menjawab pertanyaan dari sang kakek. Dengan sigap, Raska memberi kode kepada Arsy agar mengikuti apa yang di kode Raska. Karena Arsy sendiri takut jika akan berujung hukuman yang menggila, akhirnya menuruti apa yang diperintahkan Raska. Meski hanya sebuah kode, Arsy sendiri sudah bisa menebaknya.
"Baiklah, akan kakek tunggu keputusan dari kalian berdua dalam jangka dua minggu, jika tidak ada jawaban maka kakek akan tetap menikahkan kalian." Ucap sang kakek mengagetkan Arsy maupun Raska. Keduanya hanya menelan salivanya masing masing dan saling menatap.
"Sudah, lanjutkan memasaknya. Dan kamu, bantu calon istri kamu memasak. Karena tidak hanya seorang wanita saja yang harus memasak, seorang lelaki pun harus pintar memasak." Ucap sang kakek dengan tatapannya yang terlihat sebuah ancaman untuk Raska.
Kehadiran kakek benar benar diluar pikiranku, aku mengira bahwa kakek benar benar sudah tiada. Tetapi kenyataannya masih hidup dan jauh lebih baik kondisi fisiknya. Apa yang harus aku lakukan, apa iya aku harus menikah dengan cara pura pura. Batin Raska sambil mematung.
__ADS_1
"Tapi, kek... aku masih merindukan kakek." Jawabnya merayu.
"Nanti setelah makan siang, kamu bisa sepuasnya menemani kakek. Malam ini kakek pun akan tinggal di tempat ini." Ucap sang kakek. Sedangkan Raska bingung dibuatnya.
"Tapi kek... tempat ini tidak cocok buat kakek." Jawab Raska mencoba bernegosiasi dengan sang kakek, namun sayangnya sifat seorang kakek Gantara tidak bisa diganggu gugat. Apapun yang menjadi keputusannya tetap tidak bisa dirubah.
"Kata siapa tempat ini tidak cocok buat kakek. Rupanya kamu sengaja mengajak kakek berbicara yang tidak penting, agar kamu terbebas dari perintah kakek. Kalau begitu, cepat temani calon istri kamu memasak. Kakek mau istirahat di kamar kami, jangan banyak protes." Ucap sang kakek langsung pergi meninggalkan Raska.
Apapun yang sudah menjadi keputusan kakek benar benar tidak bisa dirubah, sekalipun itu pernikahan sandiwara. Hemmmm... batin Raska sambil mengacak acak rambutnya yang sudah rapi.
Mau tidak mau, Raska terpaksa membantu Arsy untuk memasak. Bukan karena tidak bisa memasak, Raska hanya tidak enak hati dengan Arsy. Ditambah lagi Arsy hanya korbannya yang dijadikan sasaran empuk. Tapi justru sasarannya kembali kepada si empunya.
"Mana yang harus aku bantu," tanya Raska mengagetkan Arsy yang sedang sibuk memasak.
"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu. Meski kakek yang menyuruhmu sekalipun. Duduklah, itu sudah membuatmu aman." Jawab Arsy sambil masak.
"Sudah, jangan banyak protes. Aku pun bisa membantumu, biar pekerjaan ini cepet selesai. Aku tidak ingin mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi dari kakek." Ucap Raska langsung merampas apa yang dipegang Arsy.
Keduanya saling menatap dalam pandangan yang sangat dekat, membuat Arsy semakin bedegup kencang pada jantungnya.
"Kalian berdua mau masak atau mau bercinta? kakek sudah lapar." Ucap sang kakek mengagetkan.
"Baru saja aku mau membantu memasak, kenapa kakek datang ke dapur. Bukankah tadi kakek bilang mau istirahat?" jawab Raska dan bertanya penuh kekesalan. Seakan dirinya diikuti kakek setiap langkah kakinya.
"Karena kakek sudah lapar, makanya kakek balik lagi ke dapur." Jawab sang kakek tersenyum tipi.
__ADS_1
Sedangkan Arsy serba bingung akan ucapan ucapan yang dilontarkan sang kakek tentang pernikahan.
Aku harus segera pergi dari tempat ini, sebelum aku dijadikan umpan oleh laki laki ini. Batin Arsy yang semakin kacau pikirannya.