Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Arsy masih mencoba mengingat ingat gelang yang dipakainya, perasaannya pun tidak tenang. Yang dimana gelang tersebut adalah pemberian dari sang kakek, Arsy sendiri belum sempat mempertanyakannya kepada sang kakek karena pembicaraannya terpotong saat Ibunya datang ingin berbicara dengan kakek.


Arsy mencoba berpikir kembali, agar dirinya dapat mengingatnya kembali. Namun tetap saja tidak mengingatnya.


Kakek... maafkan Arsy, sekarang gelangnya sudah hilang. Arsy bingung harus mencarinya dimana, Arsy benar benar tidak mengingatnya. Maafkan Arsy, kek.." batin Arsy dalam lamunannya.


"Sayang, sudahlah. Nanti juga ketemu, mungkin saja kamu lupa menaruhnya. Biasanya juga dapat ditemukan, karena kamu begitu mencemaskan." Ucap Darma menenangkan.


"Bagaimana aku bisa tenang, itu gelang sangat berarti untukku. Bahkan, Mama dan Papa tidak berani menjelaskannya kepadaku. Apa aku bisa tenang, ditambah lagi kakek sudah berpulang." Jawab Arsy sambil meneteskan air mata.


"Sabar, sayang.. kamu tidak perlu gegabah." Ucap Suaminya berusaha meyakinkan.


Arsy masih terdiam, tiba tiba dirinya teringat akan sesuatu.


Aaah iya, rahasia kotak berharga. Mama dan Papa pernah berpesan, bahwa aku diizinkan membuka kotak itu jika aku sudah menikah. Iya, aku ingat itu. Waktu itu aku masih duduk dibangku SMA, aku memergoki Mama dan Papa saat sedang beberes lemari dikamar. Dan disaat itu juga aku melihat sebuah kotak kecil, Mama bilang itu kotak berharga untukku kelak. Baiklah, aku akan mencari kotak itu. Batin Arsy penuh yakin.


"Kenapa kamu melamun lagi, sayang? ada apa denganmu?" tanya sang suami sembari memperhatikan ekspresi sang istri.


"Bantu aku untuk mencari kotak kecil dikamar Mama dan Papa, karena kotak kecil itulah yang satu satunya aku ketahui." Ajak Arsy untuk meminta tolong sang suami.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Darma penuh keraguan.


"Aku yakin, karena aku sudah menikah. Jadi aku sudah mempunyai hak untuk membukanya." Jawab Arsy penuh yakin.


"Baiklah, mari aku temani." ucapnya.


Setelah itu Arsy keluar dari kamarnya dan menuju kamar kedua orang tuanya.


Dengan perasaan cemas, Arsy berusaha kuat dan yakin. Arsy tetap pada pendiriannya, semuanya akan baik baik saja pikirnya.


Ceklek, Arsy membuka pintu kamar dan segera masuk. Lalu Darma mengikutinya dari belakang.


Arsy maupun Darma sama sama celingukan kesetiap sudut ruangan kamar. Ditatapnya kedua mata Arsy ke suatu lemari yang pernah untuk dijadikan tempat membunyikan sesuatu yang berharga. Arsy pun segera membuka lemari tersebut, dan situlah tempat untuk menyimpan sesuatu yang berharga. Arsy pun berusaha mengingat kode untuk membukanya.


"Aku mau membuka lemari itu, kamu coba cari dilain tempat. Siapa tahu diantara kita dapat menemukan apa yang kita cari." Perintah Arsy pada suaminya, Darma pun mengangguk dan mencoba memeriksa yang dimana membuatnya penasaran.


Dengan pelan Arsy mencoba membuka lemari tersebut, jantungnya pun bergemuruh saat membukanya. Perasaan takut maupun cemas dan was was terkumpul menjadi satu. Arsy memulai menyingkirkan pakaian pakaian, agar dirinya mudah untuk melakukan apa yang telah dituju.


Arsy terbelalak melihat apa yang menjadi tujuannya. Dengan gemetar, Arsy melakukan aksinya. Arsy menekan nomor yang sudah diingat.

__ADS_1


"Behasil." Ucap Arsy dengan senyum mengembang. Karena kode yang diberikan oleh Ibunya masih belum diganti. Sedangkan Darma segera mendekati istrinya, dan jongkok disamping istrinya.


"Kamu sudah menemukannya, sayang?" Tanya Darma sambil menatap barang barang maupun beberapa berkas telah dikeluarkan Arsy.


"Benar, aku sudah mendapatkannya. Dan Mama belum mengganti kodenya, jadi aku tidak begitu kesulitan untuk membukanya." Jawab Arsy yang masih sibuk untuk mengeluarkan beberapa berkas dan barang penting lainnya.


Tiba tiba kedua mata Arsy terbelalak saat melihat sebuah kotak kecil yang berada di hadapannya. Dengan pelan Arsy membuka kotak itu, tiba tiba dirinya menemukan surat berharga.


****


"Putriku.. kamu adalah putriku, sampai kapanpun. Karena aku yang merawatmu dan menyayangimu, bahkan mengkhawatirkan kamu.


Maafkan Mama dan Papa, sayang.. jika Mama belum memberi kebahagiaan yang sempurna. Tapi, kamu tetaplah putri Mama. Meski kamu tidak lahir di rahim Mama, dan bukan Putri kandung Mama. Tapi Mama tetaplah Mama kamu.


Maafkan Mama dan Papa yang sudah membohongi kamu. Maafkan Mama sayang...


Mama kamu adalah sahabat dari Mama. Kedua orang tua kamu telah berpulang saat kamu masih berusia 2 tahun, dikala itu mobil yang kami tumpangi telah jatuh kedalam jurang, saat itu kamu berada dipangkuan Kakek Harja. Dan Namun takdir berkata lain. Kedua orang tua kamu telah tiada, dan gelang yang kamu pakai adalah gelang Ibu kamu. Nama kamu sama dengan Ibu kamu, Mama tidak mempunyai cara lain selain menjadikan kamu anak Mama. Karena kedua orang tua kamu pernah mengatakan tidak mempunyai keluarga. Mama mengenalnya hanya sebagai rekan Kerja Papa kamu, tidak lebih. Namun, Ibu kamu sangat akrab dengan Mama. Hingga kami menjalin hubungan yang sangat baik. Maafkan Mama, sayang... jika Mama menyembunyikan identitas kamu.


Bahwa kamu anak dari Herwinata dan Arsyla Hainun. Dan untuk kakak kamu Reno juga bukan anak dari Mama dan Papa, waktu itu Mama dan Papa dalam keadaan genting karena hujan deras. Dan kedua bola mata Papa telah menangkap sesuatu dipinggir jalan yang ditutupi dengan daun pisang, dan terdengar suara tangis seorang bayi. Mama dan Papa semakin panik dan juga penasaran, setelah itu kami berdua keluar dari mobil untuk mendekati suara tangisan bayi. Dan benar saja, bayi mungil yang hanya terbalut oleh kain selendang. Tubuhnya memnggigil karena kedinginan, tangisnya menggemma ditelinga. Karena khawatir, Mama dan Papa membawanya pulang. Setelah sampai rumah, Mama segera memanggil Dokter. Kemudian Mama rawat dengan kasih sayang, namun takdir berkata lain. Saat kita bepergian, kita mengalami kecelakaan hebat. Namun, takdir tidak berpihak kepada kakak kamu. Hingga tidak dapat ditemukan, Mama sendiri tidak memiliki identitasnya seperti kamu. Mama hanya memiliki tanda lahir pada lengan kakak kamu, yaitu di pergelangan tangan kanan membentuk lingkaran seperti gelang. Maafkan Mama yang sudah membohongi anak anak Mama, maafkan Mama..." begitulah isi dalam lembaran kertas yang tertulis dengan rapi. Seketika itu juga air mata Arsy membanjiri kertas yang ada ditangannya. Arsy tidak henti hentinya menangis, Darma yang belum dapat membacanya seketika itu juga langsung menyambar kertas itu dan mengantonginya sebelum basa oleh Arsy karena air matanya.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? katakan. Jangan kamu simpan sendirian, aku ini suami kamu." Ucap Darma sembari menghapus air mata miliki Arsy.


"Kenapa hidupku sepahit ini, Mas? kenapa aku harus kehilangan orang orang yang aku sayangi. Aku tidak kuat, Mas... sungguh... aku tidak kuat.." jawab Arsy semakin lirih dan lunglai. Darma pun segera mengangkat istrinya dan membaringkan nya ditempat tidur.


__ADS_2