Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Semua memperhatikan


__ADS_3

Hendi yang mengintip Vina yang sedang berada di dalam ruangan milik Bosnya pun terheran heran, padahal sekretarisnya saja pernah dilarangnya. Bahkan ada yang dipecat cuma cuma hanya karena ulahnya yang berani masuk kedalam ruangan tersebut.


'Kenapa pak Darma tidam marah, ya. Bahkan keduanya biasa biasa saja, aneh.' Batinnya penuh keheranan.


Sedangkan Vina dan Darma kini berjalan beriringan, semua karyawan yang melihat pun penuh keheranan. Semua berbisik membicarakab tentang Vina dan juga Bosnya, yang tidak lain adalah Darma suami Vina sendiri. Semua tidak ada yang tidak membicarakan Vina, semua membicarakan tentangnya.


"Eh, Vina pakai pelet apa, ya. Bisa bisanya jadi sekretaris pak Darma, padahal penampilannya ancur. Cantik, tidak! bagus pun juga tidak. Tapi, kenapa bisa jadi sekretarisnya."


"Iya, aku juga heran. Padahal waktu pendaftaran semuanya seksi dan juga cantik cantik, tapi tidak ada yang dipilih."


"Mungkin rabun kali, pak Darma nya." Ucap yang satunya ikut menimpali.


"Kalian bicara apa, hah? sekali lagi aku dengar kalian membicarakan Vina, aku laporkan kalian kepada Pak Darma." Ancam Hendi yang tiba tiba mengagetkan kerumunan.


Sedangkan Vina dan suaminya sudah berada didalam kantin dan duduk saling berhadapan satu sama lain. Entah ada angin apa tiba tiba Darma memperhatikan Vina, hngga Vina sendiri merasa malu dan pastinya kesal.


"Permisi, pak Darma dan mbak sekretaris. Mau pesan apa, ya?" tanyanya sambil menunduk.


"Saya pesan soto ayam dan teh hangatnya, Bu."


"Saya juga sama, Bu." Ucap Darma menimpali.


"Baik, Pak. Tunggu sebentar, saya permisi." Jawabnya, kemudian segera menyiapkan pesanannya.


Sedangkan Vina sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya sambil melamun, Vina serasa tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi istri Bosnya sendiri. Bahkan dirinya benar benar terasa mimpi, duduk didepan suaminya tanpa orang lain ketahui setatusnya.

__ADS_1


"Setelah pulang kerja nanti, ada pembelajaran untuk kamu." Ucap Darma dengan tatapan seriusnya, tentunya mengagetkan Vina yang sedang melamun.


"Maksud pak Darma?" tanya Vina yang masih tidak mengerti.


"Nanti setelah sampai rumah, kamu akan mengetahuinya sendiri. Sekarang waktunya makan siang, jadi jangan banyak bertanya."


"Baik, pak." Jawabnya singkat, dan berusaha menerka nerka maksud dari suaminya.


Tidak lama kemudian, Soto ayam yang dipesannya pun telah datang. Vina yang juga sudah merasa lapar, dengan gesit segera mengambil sendok dan sambal. Begitu juga dengan suaminya ikut mengambil sendok dan juga sambal, beserta takaran sambalnya.


Vina sendiri tidak memperhatikan suaminya yang mengikuti apa yang diambil oleh Vina sendiri, Darma yang tidak mengerti dengan takaran pedas pada sambalnya, dirinya asal mengambil sambalnya mengikuti takaran punya istrinya.


Dengan santai, Vina menikmati soto ayamnya. Namun tidak untuk Darma, bahkan entah sudah habis berapa tissu yang diambilnya. Vina masih fokus dengan soto ayamnya, bahkan sedari tadi dirinya tidak mendongakkan kepalanya. Vina masih menunduk sambil menghabiskan sotonya.


'Gila, nih sambal apa bukan lah. Pedasnya bikin otakku mendidih.' Batinnya yang sudah tidak tahan dengan rasa pedasnya. Sedangkan Darma keterangan saat melihat istrinya yang menikmati soto ayamnya dengan nikmat. Tidak bagi Darma, yang sedari tadi menarik tissu untuk mengusapnya.


Seketika itu juga, Vina kaget dan juga terheran heran saat melihat wajah suaminya yang bercucuran dengan keringat. Bahkan bibirnya berubah merah, namun terlihat manis. Sedangkan hidungnya pun seperti habis dijapit dengan japitan jemuran baju. Ingin tertawa, namun takut menyinggung. Apalagi yang suaminya sendiri, Vina berusaha untuk menahan tawanya.


"Pak, kenapa wajah pak Darma semuanya memerah. Pak Darma tidak lagi sakit, 'kan?" tanya Vina dengan penasaran.


"Kamu itu, perut kamu terbuat dari apa lah. Kamu ambil sambel dia sendok tidak ada reaksi apapun. Gara gara ngikutin selera kamu, mulutku seperti terbakar. Tidak cuman mulut saja, nih telinga seperti keluar asap." Jawab Darma sambil mengusap ingusnya yang masih mengalir deras, Vina yang melihat ekspresi suaminya pun hanya bisa nahan tawa.


"Kalau pak Darma tidak suka dengan sambal, jangan ngikutin orang lain yang suka pedas. Akhirnya, pak Darma sendiri yang mendapat sialnya. Seharusnya pak Darma menikmati sotonya, tapi sayangnya tidak dapat menikmatinya. Sebagai gantinya, nanti dirumah aku buatkan soto ayam buat pak Darma. Anggap saja, ganti rugi makan sotonya."


"Benar, ya. Awas! kalau Sampai kamu bohong, kamu akan aku larang untuk berangkat kantor. Aku akan menghukummu untuk menjadi ibu rumah tangga." Ancam Darma berpura pura.

__ADS_1


"Iya deh, jangan khawatir." Jawab Vina meyakinkan. Marena merasa kasihan melihat suaminya yang bercucuran keringat saat menikmati soto ayamnya, Vina segera mengambil tissu dan mengusap keringat pada bagian pelipis milik suaminya.


Darma sendiri tidak menyangka, jika istrinya begitu perhatian dengannya. Bahkan semua yang ada disekelilingnya pun tidak lepas pandangannya dan memperhatikan Vina dan Darma. Ada yang kecewa dan sakit hati saat melihat Bosnya mendapat perhatian dari sekretarisnya.


"Pak Darma kok tidak marah sih, padahal dia paling anti disentuh oleh karyawannya." Ucap salah satu karyawan yang masih menikmati makan siangnya.


"Namanya juga sedang terhipnotis, wanita jelek saja dipandang cantik dan sempurna." Jawab sampingnya.


"Maklum, pak Darma kan duda dia kali. Bahkan kedua mantan istrinya cantik cantik loh, ini sekretarisnya bu*ruk rupa." Ucap satunya lagi.


"Aku lebih suka pak Darma dengan Nona Arsy, selain ramah dan juga cantik, bahkan tidak memandang rendah dengan bawahannya." Ucap karyawan yang satunya lagi sedikit polos.


"Iya, sayangnya sekretaris Vina tidak bisa berpenampilan." jawabnya.


"Nona Arsy bukannya anak orang kaya, wajarlah jika terlihat sangat cantik dan juga terlihat sempurna."


Hendi yang mendengar komentar dari rekan rekan kerjanya pun tidak dapat melerai, karena dirinya sendiri pun merasa cemburu.Hendi yang melihat orang yang dicintainya sedang mengusap keringat Bosnya pun terasa sangat sakit hatinya. Begitu jelas dirinya melihat Vina yang begitu perhatian dengan Bosnya.


Setelah selesai mengusap keringat suaminya, Vina dan Darma segera kembali ke ruangan kerjanya. Semua karyawan yang tengah membicarakannya tiba tiba kembali pada posisinya masing masing. Namun tidak untuk Hendi yang masih berdiri mematung melihat Vina dan Bosnya.


Darma yang melihat ekspresi Hendi yang terlihat cemburu, Darma melangkahkan kakinya dengan santai. Begitu juga dengan Vina yang mensejajarkan langkah kakinya dengan suaminya, meski langkah kaki suaminya jauh lebih lebar darinya.


"Pak, jangan cepat cepat. Aku tertinggal, nanti aku disangkanya tidak bisa menjadi sekretaris yang baik."


"Makanya, belajar gesit jika berjalan. Sering seringlah olahraga jalan cepat, jadi kamu akan terbiasa melangkahkan kaki kamu. Bukankah kamu anggota pesilat, maksudku bela diri. Tetapi kenapa jadi lelet begini, hem!!"

__ADS_1


"Beda dong, Pak. Sekarang aku tidak pernah latihan, wajar jika aku sedikit lelet." Jawab Vina beralasan.


__ADS_2