
Vina yang merasa diperhatikan suaminya, dirinya merasa tidak nyaman dengan penampilannya sendiri. Darma mendekati istrinya, Vina semakin gugup dibuatnya.
"Pak Darma, sebenarnya aku mau dibawa kemana sih. Aku tidak akan dijual, 'kan?" Tanya Vina sedikit cemas.
"Ada pembelajaran dirumah, agar kamu tidak bergaya seperti laki lako lagi. Sungguh, kepalaku pusing melihat penampilan kamu. Aku tidak melarangmu berpenampilan apa adanya, setidaknya jangan seperti laki laki." Jawabnya penuh penjelasan.
"Tapi, pak ... aku sangat nyaman dengan penampilanku yang biasanya." Ucap Vina masih pada pendiriannya.
"Kamu sudah bersuami, dan kamu bukan lagi anak remaja pada umumnya. Bukan berarti aku mengatur kamu, setidaknya kamu bercermin tentang status kamu. Bukan lagi anak remaja dan bebas berpendapat maupun bebas bergaul dan berpenampilan. Sekarang kamu istriku, sepenuhnya aku yang berhak merubahnya." Jawab Zayen mengingatkan.
"Iy, deh. Aku akan mencobanya, aku tidak yakin jika aku bisa merubahnya."
"Kenapa kamu tidak yakin, aku saja yakin."
"Aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Jangan dibuat pusing, sekarang aku akan mengajakmu ke rumah orang tuaku."
"Tapi, aku takut akan ditertawakan oleh keluarga kamu. Apalagi kamu mempunyai adik perempuan, biasanya tidak menyukai saudara iparnya."
"Kata siapa, adikku tidak akan berani melakukannya." Darma mencoba meyakinkannya, Vina hanya mengangguk. Kemudian, keduanya segera keluar dari ruangan tersebut. Darma berpikir, sebelum kedua orang tuanya datang kerumahnya, Darma mendatangi rumah orang tuanya terlebih dahulu.
Saat Vina dan Darma keluar dari ruangan, semua kagum melihat sepasang suami-istri yang sangat serasi, membuat para pengunjung terkesima melihatnya. Bahkan banyak para karyawan yang patah hati karena statusnya Darma yang sudah mendapatkan istri barunya.
"Pak, kenapa semua memperhatikan kita. Apakah pak Darma orang yang sangat terkenal?" tanya Vina berbisik dengan polosnya.
"Diam, itu jauh lebih baik." Jawab Darma mengingatkan.
"Iya, pak Darma." Ucap Vina dibarengi senyum.
'Cih! ada angin apa ini, sampai sampai aku tersenyum didepannya. Disangka aku menggodanya lagi, aduh.' Batin Vina mengutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini, aku mau mengambil mobil di parkiran."
"Baik pak, aku akan menunggunya disini." Jawab Vina sambil melihat orang yang lalu lalang keluar masuk ke butik.
'Yang benar saja, aku mau diajak kerumah orang tua Pak Damar. Apa yang harus aku lakukan, aku benar benar tidak mempunyai keberanian. Sedangkan aku tidak mempunyai obrolan yang setara dengan keluarga Pak Darma.' Batin Vina semakin cemas.
Tidak lama kemudian, mobil yang Darma kendarai sudah berada didepan istrinya.
"Cepetan masuk, nanti kita terlambat." Ucapnya beralasan. Cuba pun segera masuk kedalam mobil, perasaannya pun tidak tenang perihal akan diajaknya kerumah mertuanya.
"Sepertinya kita tidak jadi menemui mama dan papa. Malam ini mama dan papa ada acara dengan rekan bisnisnya." Ucapnya, Vina yang mendengarkannya pun merasa lega.
"Oooh! percuma dong, aku sudah mengganti penampilanku ini." Ujar Vina sambil memanyunkan bibirnya, Darma yang melihat ekspresi istrinya hanya senyum tipis sambil fokus dengan setirnya.
"Tidak ada yang percuma, aku akan mengajakmu ke Restoran. Yang terpenting, jahat sikapmu. Jangan kamu tunjukkan gaya laki laki kamu itu, yang seenaknya meremas kuat jari jemari tanganku." Sindir Darma mengingatkan kejadian yang sudah dilewati bersama istrinya.
"Itu sih lain, aku akan melakukannya jika ada yang memulainya. Maka jangan heran, jika aku bisa melakukannya dengan sangat kuat." Jawab Vina dengan enteng, sedangkan Darma yang mendengarnya pun bergidik ngeri, ditambah lagi pernah menjadi korban istrinya.
"Kita mau ke Restoran mana sih, pak? perasaan sedari tadi melewati Restoran. Tetapi kenapa pak Darma terus melajukan mobilnya."
"Nanti juga akan berhenti, jika Restoran yang akan kita tuju sudah terlihat." Jawab Darma dengan pandangannya fokus ke depan.
Tidak lama kemudian, keduanya telah sampai di Restoran ternama. Yang tidak lain adalah Restoran Merpati jaya milik keluarga Danuarta.
Sesampainya didalam Restoran, Vina takjub dengan fasilitas dan pelayanan yang sangat memuaskan.
'Ini pasti Restoran orang gedongan, seumur hidupku baru kali ini aku menginjakkan kakiku ditempat Restoran yang begitu sangat mewah. Biasanya paling bagus juga masuk kewarung makan. Pantas saja, pak Darma merubah penampilanku. Rupanya ini alasannya, agar aku tidak terlihat kampungan dimata orang lain.'
"Kenapa melamun, ayo duduk."
"Baik, pak." Jawab Vina sedikit gugup, kemudian keduanya segera duduk saling berhadapan.
__ADS_1
"Jangan panggil aku dengan sebutan bapak, kenapa. Aku ini suami kamu, bukan bapak kamu." Ucapnya lirih, namun sedikit geram mendengar sebutan bapak. Seakan dirinya suami yang terkejam sedunia terhadap istrimu sendiri.
"Lalu aku harus panggil siapa, pak?" tanya sang istri dengan polosnya.
"Panggil apa lah, terserah kamu. Mau mas, abang, abeng, obong, sayang, sayeng, soyong." Jawab Darma menyebutkan satu persatu sebutan untuk dirinya sebagai suami.
"Tapi ..." ucapnya terhenti.
"Tidak ada tapi tapian." Jawab Darma pasrah dengan istrinya.
"Maaf Tuan, Nona. Silahkan untuk memilih menu makanan dan minuman." Ucap salah satu pelayan Restoran, Darma segera memilih porsi makanan dan minuman.
"Kamu mau pesan apa? tunjukan."
"Aku nurut saja, aku bingung mau memilih." Jawabnya, Darma pun segera memesan makanan dan minuman yang sama. Pelayan pun segera kembali ketempat kerjanya, sedangkan Vina dan Darma duduk santai sambil menunggu pesanannya datang.
"Aku mau kebelakang sebentar, jangan pergi kemana mana. Bisa bisa kamu tersesat, aku tidak mau bertanggung jawab." Ucap sang suami sedikit mengancam.
"Tenang saja pak, aku tidak akan kabur." Jawab Vina meyakinkan.
Disela suaminya pergi ke toilet, Vina dengan posisinya yang sedang duduk sendirian tanpa adanya suami. Vina menyibukkan dirinya dengan ponselnya, alih alih Vina membuka media sosialnya. Sesekali mengambil gambar didalam restoran, Vina pun segera update foto tersebut.
Tidak memakan waktu lama, teman teman sekolah maupun teman kuliahnya pun ikut membanjiri kolom komentarnya. Semua terkejut dengan postingan miliknya, Vina hanya senyum senyum membaca komentar komentar dari teman temannya.
"*Wih ... sukses sekarang kamu ya, Vin. Jangan lupain kita kita dong, ajak kita kita menikmati makan bersama di Restoran ternama itu."
"Iya nih, Vina. Makin sukses saja kamu, sekarang. Ngomong ngomong kapan tanggal nikahnya bersama babang Hendi."
"Jangan lama lama kalian berdua memendam perasaannya, cepetan ungkapin. Kita semua sudah tidak sabar menunggu undangan dari kalian*."
Begitulah isi komentar komentar dari teman temannya Vina, semua membicarakan hubungannya dengan teman akrabnya. Yang tidak lain adalah Hendi, Vina hanya tersenyum getir membacanya. Mau bagaimana lagi, dirinya tidak disukai oleh keluarga Hendi karena latar belakang Vina yang terbilang sangat miskin. Vina menyadarinya, bahwa dirinya tidak pantas untuk menjadi menantu orang kaya seperti orang tua Hendi.
__ADS_1
Hendi yang melihat postingan Vina pun hanya mengabaikannya, Hendi sendiri tidak berani untuk muncul di postingan Vina wanita yang dicintainya dari waktu masih SMA. Hendi takut, jika komentarnya akan membuat calon istrinya naik darah dan bisa melakukan apapun untuk mencelakai Vina.