
Vina merasa lelah mengejar langkah kaki suaminya yang cepat, hingga nafasnya terasa ngos ngosan.
Dengan nafasnya yang ngos ngosan, Vina langsung duduk didepan suaminya. Kemudian, dirinya segera mengatur pernafasannya.
"Makanya, jangan banyak mengobrol."
"Iya, maaf. Besok aku tidak lagi lagi turun didepan kantor." Jawabnya, sedangkan Darma tersenyum tipis.
"Bu, kemari." Panggil Darma kepada salah satu pelayan di kantin.
"Ih, kamu ini. Dia masih muda, kenapa kamu panggil ibu."
"Suka suka aku, dong. Kamu panggil suami kamu saja dengan sebutan bapak, terla-lu." Jawab Darma sambil mengambil keripik tempe yang ada didepannya, Vina pun tidak menyangka dengan suaminya yang ternyata tidak pilah pilih dalam hal makanan.
'Aku kira orang seperti Pak Darma ini tidak suka keripik tempe, rupanya doyan banget ngemil. Aku pikir doyannya makanan di Restoran, dan alergi di kantin. Ternyata dugaanku sangat salah, syukurlah.' Batin Vina dengan menatap suaminya dengan lekat.
"Permisi, Pak. Mau pesan apa, pak?" hanya salah satu pelayan kantin.
"Nasi goreng dua porsi sama ayam gorengnya, minumnya air hangat saja." Jawab Darma, sedangkan Vina hanya nurut dengan pesanan suaminya.
"Kok pakai ayam sih, sayang. Ini masih pagi, nanti kekenyangan." Ucap Vina yang tanpa sadar memanggil Darma dengan sebutan sayang. Darma yang mendengarnya pun tersenyum mengembang.
"Justru sangat baik, karena kita butuh tenaga ekstra didalam ruangan kerja." Jawabnya dengan enteng.
"Bolehkah aku, gabung?" tanyanya mengagetkan.
"Raska? ada apa kamu datang ke kantorku sepagi ini. Kamu tidak lagi mendapat perintah dari kakek, 'kan?" tanya Darma mengintrogasi.
"Tidak, aku datang kesini dengan membawa kejutan untuk kalian."
"Kejutan, kenapa tidak telfon saja atau datang kerumah kan bisa."
"Suka suka aku, dong."
"Sudah cepetan, apa yang mau kamu sampaikan."
"Kakek memintamu untuk berbulan madu, ini tiketnya. Ada persyaratan yang harus kalian terima."
"Tiket berbulan madu? apaan ini. Tiket bis, kedaerah xxx."
__ADS_1
"Bulan madu, atau ... urusan proyek pembangunan, hah?"
Raska hanya tersenyum mendengar ucapan dari sepupunya.
"Iya begitu deh ... pepatah tua mengatakan." Jawab Raska dibarengi senyum melebar.
"Kamu ikut, 'kan?" tanya Darma berharap ikut andil didalamnya.
"Tidak! istriku sedang hamil, dilarang keras bepergian kemana mana."
"Tapi, kenapa naik Bis. Kenapa tidak memakai kendaraan lainnya, hemm."
"Protes sendiri saja dengan kakek, kok ke aku? hem!"
"Baiklah, nanti akan aku baca lagi isi didalamnya. Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini, aku mau menikmati sarapan pagi dengan istriku." Ucapnya, sedangkan Rasa mulai curiga. Bahwa sepupunya sepertinya sudah mulai jatuh cinta dengan istrinya.
"Iya ya, aku pergi. Selamat menikmati sarapan paginya." Jawabnya, kemudian Raska segera pergi dari kantor sepupunya.
Semua karyawan berbisik membicarakan sosok Raska yang terlihat sangat tampan dan juga menggoda.
Sedangkan Darma dan Vina menikmati sarapan paginya dengan satu piring nasi goreng dan ayam goreng.
"Tidak akan terjadi, aku akan tetap membawamu kemanapun aku pergi." Jawab Darma meyakinkan."
"Awas! kalau sampai bohong, aku remas lebih kuat lagi nanti jari jemari kamu." Ancam Vina mengeluarkan jurus andalannya, Darma yang mendengarnya hanya bergidik ngeri saat teringat dirinya menahan rasa sakit akibat ulah istrinya sendiri.
"Tidak, jangan khawatir. Aku tidak akan pernah melakukan hal buruk kepada kamu, karena kamulah yang akan menetap direlung hatiku untuk selama lamanya." Jawab Darma menggoda, sedangkan Vina hanya senyum tipis.
Setelah selesai menikmati sarapan paginya, Vina maupun Darma kembali ke ruang kerjanya.
"Aku mau menemui karyawanku sebentar, karena aku harus mencari penggantimu jika kita ke luar kota. Kamu masuk saja dulu, keruang kerja. Nanti aku menyusul, jika aku sudah bertemu dengan salah satu karyawan yang sudah aku percayai."
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku masuk ke ruang kerja terlebih dahulu." Jawab Vina, Darma pun mengangguk.
Setelah itu, Vina segera masuk ke ruang kerjanya. Berharap tidak ada pekerjaan yang numpuk didalam ruangan.
"Hei Vina," sapa salah satu karyawan kantor. Vina pun segera menoleh kesumber suara yang tengah memanggilnya.
"Ada apa, ya?" tanya Vina penasaran.
__ADS_1
'Pasti tentang pak Darma, siapa lagi kalau bukan laki laki yang jadi bintang film dikantor ini.' Batin Vina.
"Kamu sangat beruntung menjadi sekretaris pak Darma, biasanya baru bertahan dua jam saja sudah dipecat." Jawabnya sambil menatap wajah Vina yang tiba tiba kaget mendengar ucapan karyawan tersebut.
"Memang kenapa?" tanyanya.
"Biasa, berpenampilan seksi dan menggoda pak Darma." Jawabnya dengan tatapan serius.
'Ini perempuan mau apa sih? kurang kerjaan amat lah. Rupanya memanggilku hanya diajak ngegosipin suamiku, cih! yang benar saja.' Batinnya penuh heran.
"Kalau begitu, saya pamit. Banyak pekerjaan dan tugas di kantor." Ucapnya, kemudian segera pergi meninggalkan karyawan tersrbut.
'Ih, aneh sekali sih itu, Vina. Diajak ngobrol palah pergi begitu saja, mentang mentang sering diajak pak Darma makan siangnya.' Batinnya berdecak kesal.
Sedang Vina dengan terburu buru masuk ke ruang kerjanya, berharap suaminya bulan datang lebih dulu.
Ceklek, Vina membuka pintu ruangannya dengan pelan. Berharap, sang suami belum masuk kedalam ruangan miliknya.
Vina yang merasa penasaran dengan ruangan kerjanya, Vina melihat lihat dengan isi didalam kantornya.
Dengan pelan, Vina duduk dikursi kerja milik suaminya.
"Wah ... rupanya jadi Bos enak banget, ya. Kerjaan banyak yang mengerjakan. Banyak karyawannya lagi, mimpiku benar benar nyata. Ternyata, apa yang diomongkan ibu dan bapak benar kenyataannya. Bahwa aku akan mendapatkan suami yang sukses, asal aku dapat bersabar. Meski kenyataannya melalui jalur pernikahan yang dadakan, seperti tahu bulat.
Tidak hanya di kursi kerjanya, Vina pun masih penasaran dengan lacinya. Vina masih teringat saat sang suami memandangi sebuah foto, sedangkan Vina tidak tahu pemilik fotonya dan juga foto siapanya.
Dengan pelan, Vina menarik laci tersebut. Vina berusaha mencari sebuah foto yang membuatnya curiga.
'Kira kira foto siapa, ya? kenapa aku jadi penasaran.' Batinnya sambil merogoh laci tersebut.
Dengan lekat, Vina melihat foto tersebut dengan seksama. Sesekali dirinya memperhatikan foto yang membuatnya curiga.
"Foto pengantin, Foto siapa? tapi ... kok seperti foto suamiku, tapi ... yang perempuannya seperti kak Arsy. Aaah! tidak mungkin, kak Arsy suaminya kak Raska. Sedangkan pak Darma suamiku. Apa foto temannya, tapi kenapa suamiku memandangi foto ini terlihat sedih.' Batin Vina penasaran.
Karena masih ada rasa penasaran, Vina kembali merogoh laci tersebut. Berharap akan ada foto yang lebih jelas lagi, pikirnya.
Vina tersenyum melebar saat satu lembar foto tengah ia dapatkan dari laci tersebut.
"Apa!! kak Arsy dan pak Darma? maksudnya?" Seketika itu juga, tubuh Vina gemetaran. Apa yang dilihatnya benar benar tidak disangkanya. Pikirannya kosong, badannya lemas tidak berdaya.
__ADS_1