
Didalam perjalanan keduanya hening, entah apa yang ada dalam pikiran keduanya. Ditambah lagi, Arsy kembali datang ke rumah yang pernah ditempatinya. Dan pastinya kenangan buruk yang pernah dirasakannya.
Raska pun tidak jauh beda dengan istrinya yang tengah memikirkan ketika sampai di rumah Darma.
'Sebenarnya aku tidak mau membawamu untuk datang ke rumah tante Ferly, tapi ini karena permintaan kakek. Mau tidak mau, aku tetap menuruti permintaannya. Semoga setelah berada di rumah tante Ferly tidak ada kericuhan.' Batin Raska sambil fokus dengan setirnya.
'Benarkah aku akan mendatangi rumah yang pernah membuatku terluka, apakah aku mampu untuk masuk kedalam rumah mas Darma.' Batin Arsy dengan pikirannya yang tidak karuan.
Keduanya hanyut dalam lamunannya sendiri, tanpa Arsy sadari telah sampai di halaman rumah milik mantan suaminya.
Raska pun segera melepas sabuk pengamannya, dan dilihatnya sang istri sedang melamun.
"sayang, kita sudah sampai. Mau turun atau tidak, kalau kamu tidak mau kita pulang saja." Ucap Raska sambil melambaikan tangannya didepan Arsy.
"Aah! kamu bilang apa, sayang ..."
'Aku yakin, kamu masih mengingat kenangan kamu dengan Darma. Aku bisa menebaknya dari cara kamu yang banyak melamun.' Batinnya sebisa mungkin untuk tenang.
"Kita sudah sampai, apakah kamu mau turun?"
"Benarkah? kamu tidak berprasangka buruk denganku, 'kan?"
"Untuk apa aku berprasangka buruk terhadapmu, jika kamu memang cinta denganku. Lalu, apa yang aku takutkan. Tidak ada, 'kan? intinya semua ada pada kamu. Karena kamu yang mempunyai masa lalu itu, bukan aku. Jadi, semua ada pada diri kamu." Jawab Raska dengan tenang, meski didalam hatinya menyimpan rasa cemburu.
"Aku mengerti apa yang kamu maksud, aku tidak akan mengecewakan kamu, sayang ..."
"Ayo, kita turun. Kakek pasti sudah menunggu kita." Ajak Raska, sedangkan Arsy sedang melepas sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil.
Kini keduanya sudah berada didepan pintu utama untuk masuk, Arsy berusaha untuk bersikap tenang agar tidak membuat perasaan suaminya kesal dengannya.
__ADS_1
"Tunggu, sayang." Seru Arsy memanggil, langkah kaki Raska pun terhenti dan kemudian menoleh kebelakang.
"Apa,"
"Kenapa kamu berjalan berlenggang kangkung, kenapa? kamu tidak mau aku gandeng? tanya Arsy dibuat cemberut.
"Oooh, aku kira kamu ingin berjalan seperti model."
"Hemm!! gitu, ya."
"Tidaklah, sayang .. sini aku gandeng. Mana mungkin aku akan membiarkan kamu begitu saja, nanti yang ngambek tidak cuma kamu saja. Tetapi calon anakku, ini." Jawab Raska sambil mengusap perut milik Arsy dengan lembut, lalu kemudian menggandeng tangan istrinya menuju ke ruang keluarga. Tanpa disadari Darma memperhatikan dan mendengar semua percakapan Raska dan Arsy mantan istrinya.
Meski sudah bercerai, hati Darma terasa teriris. Bagaimana tidak teriris dan terasa sakit, kedua matanya dan kedua telinganya dapat melihat dan mendengar mantan istrinya terlihat bahagia dengan suami barunya.
'Kenapa dulu aku tidak mempertahankan Arsy, dan kenapa juga aku menuruti permintaan ibu. Jadi, selama ini aku hanya menjadi penjaga istri Raska. Sungguh menyakitkan, ditambah lagi sedang hamil. Raska pasti sangat bahagia, sial.' Batin Darma penuh kesal dan cemburu pastinya.
"Raska! aku kira kamu tidak akan datang." Ucap Darma dengan tenang, dan dilihatnya mantan istrinya yang terlihat sangat cantik. Membuatnya seakan ingin merebutnya kembali, dan membina rumah tangga seperti dulu.
"Darma! kenapa kamu melamun," Panggil Raska sambil menepuk pundak milik Darma.
"Perasaan kamu saja, Raska. Ayo, kita temui kakek. Dari tadi kakek sudah menunggu kalian berdua, dan aku kira kamu tidak akan datang. Dan kamu Arsy, jangan pernah canggung berada di rumah ini. Bukankah...." Ucap Darma tiba tiba terhenti. Takut, jika Raska berubah pikiran dan langsung kembali pulang dengan emosi.
Seketika Raska menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Darma, sedangkan Arsy begitu takut jika keduanya akan berantem karenanya.
"Katakan! apa yang kamu maksud dengan ucapan kamu yang terhenti begitu saja. Hah! Katakan, cepat!" Ucap Raska yang sudah emosi lebih dulu dan mencengkram kerah baju milik Darma dengan kuat. Darma pun sangat kesusahan untuk bernafas akibat ulah dari sepupunya. Sedangkan Arsy semakin panik, jika akan terjadi sesuatu yang jauh lebih buruk dari pikirannya.
"Kamu salah paham, Raska. Lepaskan, aku bisa jelaskan." Jawab Darma mencoba menjelaskan.
"Sayang, lepaskan. Kasihan saudara kamu, kamu bisa tanyakan baik baik. Kalau anggapan kamu salah bagaimana? lepaskan, sayang ..." pinta Arsy memohon. Dirinya tidak ingin jika Raska akan malu sendiri karena ulahnya yang mudah emosi.
__ADS_1
"Kamu membela laki laki ini, hah! aku tahu laki laki ini pernah menjadi suami kamu. Dan pastinya juga sudah tidur dengan kamu, aku percaya itu. Makanya kamu semangat membelanya." Jawab Raska yang sudah memuncak emosinya.
"Raska, lepaskan. Aku bisa jelaskan ke kamu, dan jangan sudutkan istri kamu. Jika kamu mau marah, marah lah denganku."
"Wah! wah ... rupanya kalian berdua saling melindungi." Ucapnya sinis, kedua matanya kembali tajam.
Arsy bingung harus berbuat apa, ditambah lagi sang suami yang masih kesal dengannya karena ucapannya yang disangka membela mantan suaminya.
"Diam!!" teriak sang kakek mengagetkan. Raska maupun Darma hanya bisa menunduk tanpa berucap sepatah katapun. Begitu juga dengan Arsy, yang hanya diam di dekat suaminya. Sedangkan kakek Ganta segera mendekati kedua cucunya.
"Kalian berdua ini, masih saja seperti anak kecil. Apa pernah kakek mengajarkan sesuatu untuk berebut dan menjadi permusuhan? katakan!" Ucap sang kakek mengingatkan.
"Tidak." Jawab keduanya dengan posisi yang masih belum berubah. Keduanya masih terus menunduk dan tidak ada yang berani beralasan.
"Lantas, kenapa kalian berdua sampai berantem? dan kamu Raska! apa kamu lupa dengan status kamu."
"Statusku menjadi suami kedua." Jawab Raska singkat.
"Dan kamu Darma!"
"Aku hanya mantan suami." Jawabnya yang ikut singkat.
"Berarti kalian berdua sudah bisa menempatkan posisi kalian berdua masing masing. Kakek tidak perlu menjelaskan lagi kepada kalian, karena kakek yakin dengan kalian. Bahwa kalian bisa menempatkan posisi kalian masing masing. Arsy hanya korban kalian, bukan bahan rebutan. Kalian seharusnya bercermin diri kalian, kesalahan itu ada pada kalian. Sekarang minta maaf lah kepada Arsy, dan kamu Raska! simpan pikiran burukmu terhadap istrimu." Ucap sang kakek mencoba meredakan emosi pada kedua cucunya yang hanya akan menjadikan permusuhan.
"Iya, kek ... maaf." Jawab keduanya dengan posisi menunduk, sedangkan kedua orang tua Darma dan Yona hanya bisa diam jika kakek Ganta sudah bertindak.
"Baguslah, setelah itu kembali ke ruang makan. Kita akan makan bersama, dan kakek tidak ingin masalah lagi diulang lagi." Perintah sang kakek.
"Iya, Kek ...." jawabnya keduanya serempak.
__ADS_1