
Tirta masih bengong dengan apa yang sudah Raska ucapkan, antara tidak percaya dan percaya.
"Yang bener, bro? bagaimana ceritanya?" tanya Tirta penasaran.
"Aku tidak tau kenapa kakek masih hidup, aku sendiri belum menanyakan alasannya. Kata kakek sendiri sedang mengujiku, agar diriku memiliki kepribadian yang baik. Dan pusingnya lagi aku tuh disuruh segera menikah. Gara gara kakek suka menjebakku dengan pertanyaan pertanyaan yang terlihat bersenda gurau tapi dibuatnya serius. Bahkan bisa dikatakan serius, aku sendiri pusing." Jawab Raska sambil mengacak acak rambutnya.
"Pusing kenapa? jika kamu sudah mantap untuk menikah, kenapa tidak." Tanya Tirta memberi saran.
"Pasalnya, aku tertangkap basah dengan seorang wanita yang tinggal di Gubuk masa depan anak anak jalanan. Berawal dari Boni sebenarnya, tapi aku yang memintanya untuk tinggal di Gubuk ku gara gara wanita itu menabrak Boni. Saat itu Boni aku suruh untuk membeli buah satu keranjang bermacam macam buah, tetapi saat Boni mengangkat keranjangnya tiba tiba wanita itu menabrak Boni. Hingga buah satu keranjang berserakan, dan semua buah menjadi memar. Boni mengancam wanita itu, tetapi wanita itu kabur. Dan sialnya, wanita itu bertemu dengan Hanum. Salah satu anak jalanan yang bertemu wanita itu, dan membawanya ke Gubuk ku. Lalu aku menyandranya untuk tinggal ditempatku." Jawab Raska yang masih menjelaskan semuanya sampai Tirta benar benar mengerti.
"Itu sudah nasib kamu, makanya cepetan nyari istri. Kamunya saja yang santai, sekarang kamu terjebak sendiri." Ucap Tirta tersenyum.
"Reseh kamu, mentang mentang sudah memiliki istri. Cih..." jawab Raska berdecak kesal.
"Sama, dulu aku pun dingin dengan istriku sendiri. Tapi untuk apa mendinginkan suasana, rugi bro..." ucap Tirta meledek.
"Hemmm." Jawab Raska tanpa berucap sepatah kata.
"Iya, kamu diam tetapi menghanyutkan." Ucap Raska.
"Sudahlah, ayo kita makan. Aku sudah memesan sebelum kamu datang. Nanti keburu dingin, kasihan pelayanku yang sudah menyiapkannya." Ajak Tirta sambil mengambil porsi makan.
Raska pun ikut mengambil porsi makan, namun tiba tiba dirinya teringat dengan sosok Arsy dan anak anak. Raska lupa, bahwa lauk untuk makan malam sudah habis. Raska sendiri belum berbelanja keperluan dapur.
"Bro, aku pesenkan lauk untuk anak anak di rumah. Aku lupa belum berbelanja untuk makan malam, kasihan mereka yang dirumah." Ucap Raska membuka suara saat menikmati makan malam.
"Iya, kamu tenang saja. Tunggu tunggu, calon istrimu kenapa tadi tidak kamu ajak kemari. Kasihan juga calon istrimu belum makan malam." Jawab Tirta mengingatkan sambil meledak.
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara, habiskan makanannya dulu. Nanti aku akan ceritakan lagi yang akan membuatmu lebih tegang." Ucap Raska sambil mengunyah.
Tirta yang melihat ekspresi sahabatnya akhirnya nurut apa yang diucapkan oleh Raska.
Setelah selesai menikmati makan malam, pelayan segara membereskan tempat. Kemudian Raska dan Tirta melanjutkan obrolannya.
"Apa yang akan kamu katakan, tadi kamu bilang aku akan menjadi tegang." Tanya Tirta sambil memakan buah.
"Darma," jawab Raska datar.
"Darma? maksud kamu apa? aku tidak mengerti. Bahkan sungguh aku bingung dengan ucapanmu." Ucap Tirta tidak mengerti.
"Mantan istri Tirta yang kakek minta." Jawab Raska sambil menarik nafasnya perlahan.
"Apa....!! Darma?" ucap Tirta kaget.
"Karena mantan istrinya miliki penyakit yang ganas, yaitu penyakit kanker rahim. Yang mengatakannya keluarga Darma sendiri, karena paman beserta tante takut jika tidak mendapatkan warisan 50% kalau Darma tidak segera memiliki keturunan laki laki. Maka dari itu, Darma langsung menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertama." Jawab Raska menjelaskannya sedetail mungkin. Tirta adalah sebuah kunci Raska, apapun masalah yang dimiliki Raska akan disampaikannya kepada Tirta.
"Kasihan sekali wanita itu, sudah divonis memiliki penyakit dan ditambah lagi diceraikan. Miris sekali nasibnya, lalu bagaimana dengan kamu. Apa jadinya jika wanita yang akan kamu nikahi memiliki penyakit ganas. Apa kakek tidak menjadi murka?" ucap Tirta dan bertanya.
"Soal itu aku bisa mengatasinya, soal wanita itu yang membuatku bingung. Kita tidak ada rasa sama sekali, jika aku mengancamnya maka aku takut jika dirinya akan membenciku. Aku sendiri tidak menyukainya, itu saja karena kakek. Padahal aku sudah mengatakannya yang tidak tidak didepan kakek. Tetapi justru kakek sangat yakin dengan wanita itu." Jawab Raska sambil makan buah juga.
"Lebih baik kamu berterus terang dengan kakek, agar nanti tidak kecewa kalau wanita yang akan kamu nikahi ternyata memiliki penyakit yang kamu sebutkan tadi." Ucap Tirta mengingatkan, sedangkan Raska hanya mengangguk dan tidak merespon ucapan dari Tirta.
"Tenang saja, aku pasti akan mengatakannya. Aku tidak yakin, jika kakek akan menolaknya. Karena apa yang sudah menjadi keputusan kakek tidak bisa di ganggu gugat." Jawab Raska.
"Aaah sudah lah, cepetan bungkuskan makanan yang lengkap satu porsinya." Ucap Raska yang sudah tidak sabar ingin segera pulang.
__ADS_1
"Baik, tunggu sebentar aku ambilkan." Jawab Tirta kemudian segera pergi mengambilkan pesanan dari Raska.
Tidak lama kemudian, Tirta sudah menentang pesanan milik Raska.
"Nih, pesanan kamu. Tidak usah membayar, aku ikhlas menberinya untuk anak anak asuh kamu." Ucap Tirta sambil memberikan pesanan milik Raska.
"Terimakasih, Bro.. lain waktu aku akan mentraktir kamu." Jawab Raska sambil menerima pesanannya. Tirta pun mengangguk dan tersenyum.
"Aku pulang," ucapnya lagi dan berpamitan.
"Hati hati," jawabnya.
Raska pun segera pergi dari Restoran milik Tirta. Tanpa disengaja Raska berpapasan dengan seseorang yang tidak asing baginya.
"Raska," Ucapnya mengagetkan.
Raska sendiri langsung menengok ke arah samping, dan benar saja Raska bertemu dengan Darma mantan suami Arsy.
"Kamu, mau makan malam disini?" tanya Raska sambil melirik sinis ke arah Zelyn.
"Iya, Zelyn yang memintanya untuk makan di Restoran ini. Kamu belanja makanan banyak sekali, untuk apa?" jawab Darma dan bertanya.
"Oooh ini, untuk anak anak asuhku. Kenapa? mau datang? boleh. Alamatnya xxx jalan xxx pintu gerbang cat coklat. Silahkan jika mau mampir, tapi dilarang tangan kosong jika kamu ingin datang." Jawab Raska dengan enteng, Raska pun tidak akan bersembunyi tentang Arsy. Karena baginya percuma harus menutupi kenyataan, lebih tahu lebih jelas pikirnya.
"Baiklah, jika aku ada waktu luang akan datang. Kalau begitu aku mau menemani Zelyn makan malam." Ucap Darma yang tidak ingin berlama lama berdiri.
"Jaga istrimu, disini banyak buaya bertebaran." Jawab Raska langsung pergi keluar.
__ADS_1
Sana nikmati makan malam bersama nyi loreng, aku yang akan menemani mantan istrimu. Cih.... kenapa aku jadi bangga begini. Ini pasti racun dari kakek, hingga membuatku tidak karuan. Batin Raska sambil jalan menuju mobilnya.