Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Sebatang Kara


__ADS_3

Arsy yang tidak sanggup untuk bersuara, dirinya hanya mematung menjadi saksi.


Darma mapun Zelyn yang masih sibuk dengan urusan mereka berdua, tiba tiba merasa ada sesuatu yang membuatnya untuk menengok kearah pintu.


JEDUAR.......


Jantung Darma seakan copot seketika. Yang dimana sang istri sudah berada di ambang pintu kehancuran. Zelyn hanya tersenyum mengumpat. Arsy sendiri langsung menurini anak tangga dengan tubuhnya yang sempoyongan.


"Sayang!" seru Darma yang langsung memakai pakaian lengkapnya. Kemudian segera mungkin untuk mengejar istrinya.


Dengan larinya yang lumayan cukup kencang, Arsy tidak memperdulikan apa yang ada didepannya. Tetap berlari, seakan tanpa ada penghalang didepannya.


"Sayang...!" seru Darma yang masih mengejar Arsy sekencang mungkin, namun sayangnya Arsy sudah lebih jauh dari kejaran Darma.


Pikiran Darma benar benar tidak karuan, hatinya hancur disaat itu juga. Yang dimana sang istri telah melihatnya sendiri didepan mata.


Karena sudah tidak dapat mengejar Arsy, disaat itu juga Darma berhenti dan mematung penuh penyesalan atas perbuatannya yang senonoh didepan istrinya.


"Maafkan aku, sayang... aku benar benar tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya. Aku benar benar menyesal atas semua perbuatanku, sayang..." Ucap Darma lirih.


Sedangkan Arsy masih lari kecil karena nafasnya yang sudah terengah engah karena kejaran dari sang suami.


Bruuug..... Arsy menabrak seseorang yang tidak dikenalinya.


"Maaf, maaaf mas... saya tidak sengaja" ucap Arsy dengan perasaannya yang takut.


"Maaf, maaf... apa kamu tidak lihat daganganku. Hah! semua berserakan kemana mana gara gara kamu menabrakku. Aku tidak mau tahu, sekarang bereskan daganganku." Ucap seorang laki laki yang merasa kesal karena dagangannya berserakan akibat Arsy menabraknya.

__ADS_1


Dengan sigap Arsy segera membereskan buah buahan yang berserakan akibat dari ulahnya yang menabraknya dan tidak fokus saat dirinya berlari. Seorang laki laki tersebut hanya menyilangkan tangannya di bidang dadanya.


Setelah semua selesai dan tidak ada lagi buah buahan yang berserakan, Arsy segera menyerahkannya kepada pemiliknya.


"Maaf mas, sudah selesai." Ucap Arsy menyerahkan keranjang buah kepada laki laki tersebut.


Kedua bola mata laki laki itu segera memeriksa buah buahannya yang sudah jatuh berantakan.


"Kamu harus menggantinya atas perbuatanmu ini." Jawabnya sambil menunjukkan buah yang sudah rusak.


"Jangan khawatir, aku akan menggantinya. Berapa jumlah keseluruhan harga buah ini, nanti akan aku bayar semuanya." Ucap Arsy dengan enteng, lelaki itu yang melihat penampilan Arsy dan gaya bicaranya Arsy membuatnya menyelidik.


"Aku tidak mau diganti dengan uang, karena menurutku kalau lembaran uang kertas kamu mudah untuk melakukannya. Tetapi aku memintamu untuk bekerja ditempatku, aku tidak mau kamu beralasan." Jawabnya untuk meminta Arsy menjadi pekerjanya.


"Aku tidak mempunyai waktu untuk bekerja. Aku tetap akan mengganti rugi, namun tidak sekarang. Aku pergi.." Ucap Arsy langsung pergi meninggalkan laki laki penjual buah tersebut.


"Hei....! tunggu, jangan kabur...!!!" seru laki laki tersebut dengan suara kerasnya. Namun Arsy tidak memperdulikannya, dirinya tetap berlari sekencang mungkin agar dirinya dapat meluapkan kekesalannya.


Sedangkan Arsy masih berlari kecil mencari tempat yang dimana bisa dijadikan untuk menghilangkan kepenatannya.


Sedangkan laki laki tersebut segera pergi dan membawa buah yang sudah terlihat sangat memar karena jatuh berserakan.


"Kamu kenapa terlihat kesal, mana buahnya." Ucapnya sambil menatap temannya.


"Sial aku, Bro. Gara gara aku bertemu dengan cewek sialan, buah yang sudah aku beli berubah menjadi memar. Lihatlah, bagaimana ini." Jawabnya sambil menaruh satu ranjang buah yang dibeli.


"Apa....! ini buah semuanya memar. Terus kamu minta ganti ruginya, kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Boro boro ganti rugi, yang ada tuh orangnya kabur. Katanya sih mau menggantinya, tapi aku menolaknya. Aku memintanya untuk bekerja dengan kita." Jawabnya.


"Terus.... orangnya sudah kabur? habiskan itu buah!" ucapnya lalu pergi.


"Bro... hanya karena buah pada memar, lalu kamu menyuruhku untuk menghabiskan. Cih... jiwa pelitmu meronta ronta." Gerutunya sambil mengacak acak rambutnya.


"Apa kamu bilang, pelitku meronta ronta. Aku hanya tidak menyukai orang yang tidak bertanggung jawab." Jawabnya langsung pergi keluar dan mengendarai motor buntutnya.


Ditempat lain, Arsy masih melangkahkan kakinya dijalanan. Dengan gontai, Arsy berusaha menjaga keseimbangannya. Air mata Arsy tidak henti hentinya mengalir, perasaannya berkecamuk tidak karuan. Serasa ingin menyudahi kehidupannya yang begitu kelam dan terasa sangat sakit. Yang dimana dirinya sudah kehilangan kedua orang tuanya, ditambah lagi penyakitnya, dan sekarang harus menerima kenyataan atas perbuatan suaminya yang menjijikkan.


Tidak terasa Arsy sudah sampai didepan rumahnya, perasaannya masih sangat hancur. Arsy tidak menyadari dengan langkah kakinya yang sudah mengantarkan dirinya sampai di depan rumah.


Tiba tiba Arsy dikagetkan dengan sosok laki laki yang tidak asing baginya, Arsy menatap lekat wajah laki laki tersebut. Perasaan senang maupun sedih bm tercampur menjadi satu.


"Paman Robi...." ucap Arsy memanggil.


"Pergi kamu dari rumah ini! sekarang rumah ini sudah bukan rumah kamu lagi. Dan kamu tidak mempunyai hak atas rumah ini maupun perusahaan. Kamu yang tidak lain adalah hanya anak pungut. Pergi dari sini, cepat!" Ucap Tuan Robi sambil melemparkan tas berukuran sedang yang berisi pakaian Arsy.


"Paman, jangan usir Arsy, paman.. Arsy mohon.. Dimana kak Reno paman? bukankah kak Reno bersama paman? Arsy mohon.. jangan usir Arsy, paman..." ucap Arsy sambil berlutut dan melingkarkan kedua tangannya ke salah satu kaki pamannya sambil bersimpuh meminta belas kasihan.


"Pergi...! kamu bukan bagian keluarga Kesuma. Kalau kamu ingin tahu dimana kakak kamu, percuma! karena aku sudah membuangnya dijalanan. Asal kamu tahu, kakak kamu sudah lupa ingatan. Jadi... kakak kamu tidak akan mengenalimu lagi." Terangnya dengan lantang.


"Tapi, paman.. Arsy mohon.. izinkan Arsy untuk tinggal dirumah ini.." pinta Arsy merengek, namun sayangnya tidak diperdulikan. Pintu rumah pun langsung ditutup dan dikunci. Berkali kali Arsy menggedor gedor pintu rumah, nemu tidak mendapatkan jawaban apapun.


Arsy pun langsung pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya, yang dimana dirinya tumbuh besar hingga dewasa.


Dijalanan, penampilan Arsy yang berantakan tidak karuan. Wajahnya yang nampak pucat, mata yang sembab, dan air mata yang tidak ada hentinya mengalir deras. Semua hilang, hancur, berantakan. Tidak ada satupun yang tersisa orang yang benar benar ada didekatnya. Arsy yang kini benar benar sebatang kara, tanpa ada senyuman disudut bibirnya. Semua musnah bagai ditelan bumi. Hancur sehancur hancurnya.

__ADS_1


Dengan tubuhnya yang gontai, Arsy melanjutkan langkah kakinya entah kemana arah tujuannya. Sahabat, saudara pun entah dimana.


Kemana aku harus pergi, dan dimana aku harus singgah. Apakah hidupku akan seperti anak jalanan? mungkinkah diakhir hidupku setragis ini. Apa aku mampu untuk melewatinya, sedangkan aku ini berpenyakitan. Mama.... Papa... kak Reno... Arsy rindu.... Arsy tidak kuat... batin Arsy yang bersandar di depan ruko yang sudah tutup, yang dimana banyak anak anak jalanan yang sedang menikmati makan malam bersama beralaskan koran koran bekas.


__ADS_2