
Lelaki yang tengah mengejar Raska, sudah sejajar langkahnya dengan Arsy.
"Hai, apakah kamu kekasihnya Raska?" tanyanya mengagetkan.
"Iya." Jawabnya ketus, sedangkan laki laki tersebut langsung meninggalkan Arsy dan mengejar Raska.
Tambah satu lagi orang aneh. Hemm... Gumam Arsy sambil geleng geleng.
" Hai, Raska. Apakah kamu marah denganku?" tanyanya. Raska hanya cuek dan hanya fokus dengan langkah kakinya.
Laki laki tersebut segera menghadang Raska dari depan.
"Bro..." ucapnya. Raska hanya senyum sinis.
"Sudah sana pergi dari hadapanku. Sepertinya kamu cocok dengannya." Jawab Raska ketus.
"Wanita yang mana? kekasihmu itu?" tanyanya lagi.
"Aku tidak mempunyai kekasih." Jawabnya singkat. Tanpa disadari bahwa Arsy sudah berada di dekatnya dan mendengar semua jawaban darinya.
Deg... perasaan Arsy terasa sangat sakit, saat mendengar Raska tidak mengakuinya. Benar benar Arsy tidak menyangkanya, namun Arsy sadar diri bahwa pernikahannya memang hanya sebuah paksaan dan perjodohan. Arsy menyadari untuk tidak menuntut akan pernikahannya, sudah mempunyai suami sudah lebih dari cukup. Setidaknya dirinya tidak dijadikan kambing hitam akan statusnya sebagai seorang janda. Bagi Arsy tidaklah mudah menyandang status janda, dan Arsy sudah cukup bersyukur atas statusnya yang sudah bersuami. Tanpa pikir panjang Arsy segera menepis pikiran buruknya.
Aku sadar diri, aku adalah seorang janda yang datang dikehidupannya. Statusku yang akan selalu menghantuiku, setatus apa lagi kalau bukan setatusku seorang janda. Gumamnya lalu melewati Raska dan laki laki tersebut untuk segera pulang ke rumah. Raska sendiri tidak memperdulikan Arsy yang sudah melewatinya.
"Bro, kamu serius wanita itu bukan kekasih kamu? aku tidak percaya. Dilihat dari ekspresi kamu , sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dariku." Tanyanya yang masih penasaran.
"Dia memang bukan kekasihku, tetapi istriku." Jawabnya kemudian mengernyitkan dahinya.
"Apa... istri kamu? serius?" tanyanya semakin tambah penasaran.
"Serius lah, aku baru menikah kemarin. Maaf, jika aku tidak memberimu kabar. Karena yang aku tahu bahwa kamu tinggal di Amerika bersama calon istri kamu." Jawabnya.
__ADS_1
"Aku sudah putus dengan Kamel, tidak ada kecocokan. Dia masih berharap denganmu, sepertinya dalam waktu dekat ini Kamel akan pulang ke Tanah Air." Ucapnya menjelaskan.
"Mengharapkanku, tidak salah? bukankah Kamel mengejarmu?" jawab Raska dan bertanya.
"Karena kamu." Jawabnya sambil berjalan, namun tiba tiba Raska menghentikan langkah kakinya.
"Karena aku, memang apa salahku dengannya? apakah kamu pulang untuk ingin menyatukanku dengannya?" ucapnya lalu bertanya.
"Awalnya sih iya, aku ingin lepas dari perjodohan. Kamu tahu sendiri kan, aku masih mencari keberadaan adikku. Tapi rupanya kamu sudah memiliki seorang istri, sepertinya itu mustahil." Jawabnya, sedangkan Raska mencoba menarik nafas panjangnya agar lebih leluasa untuk bicara.
"Aku tidak pernah mencintai Kamel, aku hanya menganggapnya teman. Itu saja, tidak lebih." Ucap Raska.
"Bohong, kamu pasti mengelak." Jawab lelaki tersebut.
"Aldan, Aldan... jangan bahas wanita itu lagi. Aku sudah mempunyai istri, dan aku tidak ingin mengecewakan kakek." Ucap Raska menjelaskan.
"Kakek?" tanyanya kaget dan penasaran.
"Iya, ternyata kakek masih hidup. Sekarang sudah ada dirumah, ayo mampir." Jawabnya lalu mengajak.
"Sebenarnya siapa nama adik kamu, siapa tahu aku bisa membantu mencarikannya. Kamu selalu menyembunyikan identitas adik kamu. Bagaimana aku bisa membantu kamu, kamu masih saja tertutup denganku. Orang tua kamu siapa namanya, janganlah kamu sembunyikan identitasmu." Tanya Raska penasaran.
"Aku sendiri lupa alamat rumahku, waktu itu aku masih kecil. Aku teringat saat kecelakaan itu aku masih sangatlah kecil. Usiaku yang masih enam tahun kalau itu, kecelakaan hebat yang aku alami. Dan aku pernah lupa segalanya, aku diadopsi oleh seseorang yang begitu sayang terhadapku. Disaat aku kembali teringat, namun sebagian ingatanku tidak bisa aku ingat lagi. Aku hanya teringat jika aku mempunyai adik perempuan, tapi bagiku itu mustahil jika selamat. Aku memanggil gadis kecilku dengan sebutan Ella. Aku hanya bisa berharap bisa bertemu dengannya, tapi bagiku sangat tipis harapanku." Jawab Aldan dengan lesu sambil duduk di sembarang tempat.
"Aku doakan, semoga kamu dapat dipertemukan kembali dengannya." Ucap Raska sambil menepuk nepuk punggung Aldan.
"Terimakasih," jawabnya lalu bangkit berdiri dan melanjutkan langkah kakinya menuju rumah kakek Ganta.
Dan kini keduanya telah sampai di rumah, Raska dan Aldan segera mencuci tangannya. Kemudian Raska mengajak sahabatnya untuk menemui sang kakek.
Dilihatnya kakek Ganta yang sedang duduk santai di taman belakang ditemani Arsy.
__ADS_1
"Selamat pagi kakek.." sapa Aldan mengagetkan dan mencium punggung tangan kakek.
"Pagi.. siapa kamu? sepertinya tidak asing dengan wajah kamu. Apakah kamu Aldan?" jawab sang kakek mencoba menebaknya.
"Benar, kakek. Aku Aldan, apa kabarnya kakek?" jawabnya dan bertanya kabar.
"Kabar kakek sangat baik, ditambah lagi kakek sudah mempunyai cucu menantu. Dan kamu Raska, istri ada didekat kamu kenapa tidak diperkenalkan dengan Aldan. Nanti kalau bertemu dijalan kan enak, tidak salah orang." Ucap sang kakek.
"Perkenalkan, ini istriku satu untuk selamanya. Arsyla Kesuma," ucap Raska memperkenalkan istrinya ke sahabatnya dan menuntun tangan Arsy untuk mengulurkan tangannya. Aldan pun ikut mengulurkan tangannya.
Tiba tiba Arsy tercengang melihat pergelangan tangan milik Aldan, Arsy mencoba mengingat ingat sebuah surat dari ibunya.
Kak Reno... benarkah ini kak Reno? apa aku salah orang. Aku yakin, laki laki ini adalah kak Reno. Tanda lahirnya masih ada, dan aku yakin itu. Gumamnya semakin menggebu.
Sedangkan Aldan sendiri pun juga kaget dibuatnya, saat mendengar nama Arsyla Kesuma. Entah kenapa dirinya seperti mengenali nama tersebut.
"Aldan, kamu kenapa bengong? kamu mengenali istriku?" tanya Raska heran dengan raut wajah Aldan yang tiba tiba berubah aneh menurutnya.
"Aaah tidak, aku hanya teringat akan ada janji dengan seseorang. Kalau begitu aku pamit pulang, lain waktu aku akan datang lagi kesini. Dan selamat atss pernikahan kamu, semoga bahagia selalu rumah tangga kamu. Aku pulang," jawabnya mencari alasan dan memberi ucapan selamat.
"Baik lah, aku tunggu. Dan terimakasih atas ucapan doanya." Ucap Raska dan tersenyum.
"Sama samaa, Aldan pamit pulang ya, kek.." ucapnya pamit pada sang kakek.
"Iya, hati hati." Jawab sang kakek dan tersenyum. Aldan pun segera pergi meninggalkan rumah kakek Gantara, namun tiba tiba hati kecil Arsy terasa terpanggil saat langkah kaki Aldan sampai diambang pintu.
"Kak Reno....... seru Arsy berteriak dan langsung berlari dan merangkul Aldan dari belakang tanpa memikirkan orang orang disekitar. Raska yang melihatnya pun kaget tidak percaya.
Darah Raska seketika itu juga terasa mendidih, detak jantungnya semakin tidak beraturan. Nafasnya sulit untuk dikontrol, yang dimana Arsy tiba tiba berlari dan merangkul Aldan dari belakang.
"Kak Reno.. Arsy sangat merindukan kakak..
__ADS_1
Mama dan Papa sudah meninggalkan kita selama lamanya. Arsy tidak mempunyai siapa siapa lagi.. kak Reno masih ingat Arsy kan.. kakak tidak lagi lupa ingatan, bukan? Arsy hanya punya kakak, jangan tinggalkan Arsy lagi kak..." ucap Arsy sambil menangis dan masih dalam posisi melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aldan.
Aldan yang mendengarnya pun menitikan air matanya, dirinya menyadari bahwa yang memeluknya adalah benar benar adiknya. Dengan nafasnya yang sangat sesak, Aldan berusaha untuk tenang. Begitu juga dengan Raska, dan kakek Ganta yang masih diam mematung karena kaget dengan sikap Arsy yang tiba tiba memeluk Aldan.