Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Jaga sikap


__ADS_3

Vina masih belum percaya, jika dirinya benar benar diterima menjadi sekretaris. Ada perasaan senang dan juga cemas, tentunya.


"Ayo, ikut aku. Jangan lelet, kamu sudah diterima menjadi sekretaris Pak Darma." Ucapnya dengan langkah yang cepat, sedangkan Vina sedikit kualahan mengikuti langkah Riko yang semakin gesit. Entahlah, mungkin sudah tidak sabar ingin menyerahkan sekretaris baru kepada Bosnya. Agar dirinya tidak ikut semakin gila seperti Bosnya sendiri yang semakin aneh menurutnya.


"Pak, tungguin saya dong. Langkahnya di pelankan sedikit dong, Pak." Ucap Vina yang tiba tiba menghentikan langkah kaki Riko. Kemudian, segera menoleh kebelakang dan membalikkan badannya.


"Kamu cukup ikutin aku saja, jangan banyak protes. Seharusnya kamu itu senang, karena kamu pasti diterima untuk jadi sekretaris."


"Tapi, alasannya apa? perasaan dari tadi tidak ada penyeleksian dan interview deh. Hanya dipandangi dan diteliti dan di introgasi, sedangkan denganku saja tidak."


"Berarti itu nasib kamu yang baik, sekarang lebih baik diam."


"Bagaimana aku bisa diam, aku saja belum mengerti syarat diterimanya menjadi sekretaris."


"Kamu lama lama nyebelin juga, sebelas dua belas dengan Pak Darma." Ucapnya gregetan.


"Riko, kenapa kamu terlihat kesal begitu. Apakah temanku ini membuat kesalahan, hingga kamu memasang wajah kesalmu." Tanya Hendi yang tiba tiba mengagetkan,


"Tidak, justru teman kamu telah membawa keberuntungan untukku."


"Kamu jangan macam macam dengan Vina. Sekali lagi kamu berani menggodanya, aku tidak segan segan menghajarmu." Ucap Hendi sambil mencengkram kerah baju milik sekretaris Riko.


"Gile kamu! siapa juga yang mau menggodanya. Karena aku sudah mendapatkan sekretaris baru, dan aku bisa tenang untuk pergi dari kantor ini. Kamu itu, punya ot*ak dipakai." Jawabnya lalu menyingkirkan tangan milik Hendi yang sedang mencengkram kerah bajunya.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh ketiganya, sudah ada sosok wanita cantik yang sedang berdiri didekat Hendi dengan penampilan yang sangat seksi. Vina yang memperhatikan penampilan wanita tersebut, bergidik ngeri karena penampilannya. Bahkan dirinya malu untuk melihat penampilan wanita tersebut.


"Sayang, siapa wanita itu. Sepertinya kamu mengenalinya dengan dekat, apa dia kekasih barumu?"


"Dia Vina, teman sekolah sekaligus teman di kampus."


"Oooh! aku kira kekasih barumu. Aku kasih tahu ke kamu, ya. Hendi ini calon suamiku, sebentar lagi kita berdua akan segera menikah. Jadi, awas saja kalau kamu berani beraninya mendekatinya. Aku pastikan, kamu akan hengkang dari kantor ini. Palingan kamu juga hanya dijadikan pesuruh oleh Pak Darma, lihatlah penampilan kamu yang tidak bisa memikat hati Pak Darma. Aku yakin, kamu akan dijadikan pesuruh yang handal dan nurut." Ucapnya mengejek, sedangkan Vina hanya bisa diam. Baginya percuma menghadapi mulut pedas seperti ibunya Darma, yang gila harta.


"Klara, kamu apa apaan sih! jaga bicara kamu. Sekarang kamu masuk ke ruangan kamu, cepat." Ucap Hendi dengan kesal, sedangkan Klara sendiri langsung pergi begitu saja.


"Aku sudah tidak punya waktu, ayo ikut aku masuk ke ruangan Pak Darma. Semakin cepat, semakin baik dan tidak membuatku banyak tugas." Ucap sekretaris Riko pergi begitu saja.


"Semangat, Vin. Semoga kamu berhasil, yakin itu." Ucap Hendi menyemangati.


Sedangkan Vina dengan terburu buru mengejar langkah Riko yang begitu gesit, bahkan jin iprit pun kalah gesitnya.


Vina masih berlari mengejar sekretaris Riko dengan nafasnya yang terengah engah.


"Pak Riko, tungguin aku dong." Panggil Vina dengan kencang, langkah sekretaris Riko pun terhenti begitu saja. Lagi lagi menoleh kearah Vina, dan sambil menunjukkan ekspresi wajah kesalnya.


"Cepat! atur pernapasan kamu, kita sudah berada di depan ruangan Pak Darma."


"Apa! di depan ruangan Pak Darma, yang benar saja. Aduh! aku bisa apa, semoga saja orangnya tidak seseram seperti yang aku bayangkan."

__ADS_1


"Memangnya, Pak Darma yang kamu bayangkan itu seperti apa, hah?"


"Pak Darma yang ada didalam pikiran burukku itu .... orangnya tinggi, rambutnya botak ada sisa rambut sekitar berjumlah dua puluh lima helai rambut, terus perutnya buncit, satu lagi, suka ngupil. Aaah! pokoknya ancur deh, Pak." Jawab Vina sambil membayangkan sosok Pak Darma, sedangkan sekretaris Riko tercengang saat mendengar penuturan dari Vina. Tidak lama kemudian, sekretaris Riko tertawa terpingkal pingkal. Tidak hanya itu, Vina pun ikut tertawa terpingkal pingkal sambil membayangkan penampilan Pak Darma dalan pikiran konyolnya.


Tiba tiba sekretaris Riko diam dan tidak lagi tersenyum.


"Ngaco, kamu. Pak Darma tidak seperti yang kamu bayangkan, dan pastinya hati kamu akan meleleh saat melihat sosok Pak Darma."


"Ah! aku tidak butuh sosok Pak Darma seperti apapun, mau ancur sekalipun aku tidak peduli. Justru aku sangat senang, karena tidak mengganggu kedua mataku." Jawab Vina dengan entengnya.


'Ini perempuan sebelas dua belas dengan Pak Darma, sama sama suka yang ancur. Apakah keduanya sedang pada sableng, ya.' Batin sekretaris Riko sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Pak, kenapa melamun. Jadi atau tidak, nih?"


"Ah! iya, sampai lupa aku. Ayo, ikut aku masuk ke dalam. Ingat! jaga kesopanan kamu, jangan main mata dengan Pak Darma. Nanti bisa bisa kamu dipecat, dan kamu akan kehilangan pekerjaan." Ucapnya mengingatkan.


"Iya, tenang saja. Pasti aku akan jaga sikapku, aku bukan wanita murahan yang mudah menggoda." Jawabnya, dan sekretaris Riko hanya mengangguk. Kemudian, segera mengetuk ngetuk pintu. Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka dengan sendirinya. Sedangkan Vina masih berdiam diri diambang pintu, dirinya merasa gugup untuk masuk kedalam ruangan. Entah kenapa, perasaan Vina tidak karuan. Antara ingin menyerah dan maju untuk melangkah. Vina masih saja berpikir untuk mencari jawaban yang baik untuk membuat keputusannya sendiri.


'Kira kira aku masuk kedalam atau tidak, ya? aku benar benar bingung. Kenapa aku merasa ragu untuk menjadi sekretaris pak Darma. Aku takut tidak sesuai dengan pikiranku, aku takut aku tidak bisa bekerja. Aah! bagaimana ini? kenapa aku bisa tidak yakin seperti ini. Mana detak jantungku tidak karuan lagi, benar benar menyulitkan pikiranku.' Batinnya yang terus berusaha untuk meyakinkan keputusannya.


"Cepetan masuk, pak Darma sudah berada di dalam dan sudah menunggu kamu. Ingat! jaga sikap kamu, jangan sampai kamu membuatnya naik darah. Pak Darma tidak suka yang aaa eee aaaa eee, bicaralah dengan kosa kata yang benar. Apalagi kalau kamu punya latah, tanpa nunggu satu detik kamu sudah dihengkang dari hadapan Pak Darma."


"Baik, aku akan jaga sikapku dengan baik sebaik mungkin."

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo masuk."


"Baik, Pak ..." jawabnya, dan mengikuti langkah kaki sekretaris Riko dibelakangnya untuk bertemu dengan Pak Darma di dalam ruangan kerjanya.


__ADS_2