Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Sampai di Kantor


__ADS_3

Setelah Raska pulang, kini tinggal lah Vina dan Hendi dan juga Ibu Reni. Karena merasa kesal, Ibu Reni langsung pergi dari rumah Vina.


Kini, tinggal Vina dan Hendi yang masih berdiri mematung. Yang satu masih terbawa emosi, dan yang satunya meras sangat bersalah.


"Vin, maafkan aku. Gara gara aku, kamu menjadi bahan hinaan oleh orang tuaku. Oh iya, besok kamu sudah harus siap untuk pendaftaran. Ini alamat perusahaan yang harus kamu datangi, jangan terlambat." Ucap Hendi sambil memberikan sebuah lembaran alamat perusahaan yang akan didatanginya.


"Terimakasih Hen, kamu sudah banyak membantuku. Oh iya, tadi itu Bos kamu?" tanyanya semakin penasaran.


"Iya, dulu Bosku. Tapi, aku dipindah ke perusahaan milik sepupunya. Sebenarnya aku nyaman bekerja di tempat Bos Raska pimpin, tetapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan, jadi aku nurut saja."


"Oooh, aku kira."


"Kalau begitu, aku pulang Vin. Sampai bertemu besok di kantor."


"Iya, Hen. Terimakasih, sampai ketemu besok."


Setelah Hendi pulang, Vina segera menutup pintu rumahnya dan langsung menguncinya.


Dengan seksama, Vina membaca alamat yang diberikan oleh Hendi.


"Benarkah aku akan bekerja di kantoran? sepertinya aku tidak yakin akan diterima. Jadi sekretaris enak tidak, ya? aku takut mata keranjang. Apalagi kalau sudah punya istri, pasti siap siap akan menjadi topik trending. Aaah, kenapa kepalaku semakin pusing memikirkannya. Bekerja saja belum, kepalaku sudah terasa sangat pusing untuk memikirkannya." Ucapnya lirih sambil membaca alamat yang tertera pada lembaran kertas.


"Nama perusahaannya sih bagus, tapi apa aku bisa lulus. Palingan juga gagal, tidak bakalan diterima." Gerutunya sambil mengeluarkan belanjaan dari Raska.


"Kak, buka pintunya." Panggil sang adik sambil ketuk ketuk pintunya.


"Iya, sebentar." Jawabnya dari dalam.


"Kamu, sudah pulang?" tanyanya sambil menyalami adiknya. Diki pun mencium punggung tangan milik sang kakak.


"Sudah, Kak. Wah ... Kakak habis belanja? banyak banget belanjaannya. Dari siapa hayo? pasti dari pemilik hati kakak nih ..."


"Enak saja, ini kakak dapat dari pemilik Asrama yang di mana Hanum tinggal. Tadi pemiliknya datang bersama Hanum, nama Kak Raska."


"Wah .... pasti ganteng, sudah terlihat dari namanya."


"Ganteng banget, bahkan istrinya juga cantik banget."

__ADS_1


"Oooh sudah punya istri? kirain, kasihan deh Kakak. Harus bekerja keras lagi untuk mendapatkan sang pujaan hati."


"Tenang saja, jika sudah waktunya untuk bertemu pasti juga akan dipertemukan."


"Sip! Diki setuju dengan Kakak."


"Kakak ada kabar baik juga nih, mau tahu atau tidak?"


"Kabar baik? pastinya mau tahu dong ..."


"Besok Kakak mau daftar kerja jadi sekretaris, doakan kakak ya, Dik?"


"Kakak mau daftar kerja? Diki sangat senang mendengarnya, berarti kakak sudah membuka hati Kakak untuk menggapai cita cita Kakak. Semoga diterima ya, Kak ..."


"Iya Dik, Kakak sekarang sadar. Bahwa selama ini Kakak menyia nyiakan waktu Kakak tidak berguna, dan Kakak akan membuka lembaran baru tentang perjalanan hidup Kakak yang akan dimulai dengan cita cita. Terimakasih ya, atas doa dari kamu."


"Iya kak, sama sama. Karena selama ini Kalak lah yang menjadi tulang punggung Diki, dan suatu saat nanti Diki akan ikut berjuang seperti Kakak."


"Iya, Dik. Kita jangan pernah bertengkar, jika Kakak ada salahnya mohon dimaafkan dan beri Kakak nasehat."


"Iya, Kak. Kita sama sama untuk menjadi anak kebanggaan ibu dan bapak."


Setelah semua pekerjaan dapat diselesaikan, keduanya menikmati masakan yang sudah disajikan oleh Vina.


Malam pun telah tiba, keduanya sibuk dengan persiapan untuk berangkat ke tujuan masing masing. Tidak terasa, rasa kantuk pun tengah menguasai kedua matanya masing masing. Vina maupun sang adik akhirnya terlelap dari tidurnya.


***


Pagi yang cerah, Diki sudah membuat sarapan pagi. Sedangkan Vina sibuk dengan persiapannya, dirinya sedikit gelisah dan cemas pastinya.


"Kak, ini sarapannya. Ayo kita sarapan bareng, nanti Kakak terlambat."


"Iya, Dik. Sebentar lagi, Kakak sedang pakai sepatu."


"Iya, Diki tunggu."


Tidak lama kemudian, Vina keluar dari kamarnya dan duduk bersama sang adik untuk menikmati sarapan pagi.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan pagi, Diki maupun Vina kini berangkat berlawanan arah.


Vina yang sedari tadi menunggu angkutan umum lumayan memakan waktu yang cukup lama.


"Aaah! kenapa mobil angkatannya belum juga datang. Biasanya Bimo udah nongol saja, ini boro boro. Kenapa aku sudah sial duluan, ya." Gerutu Vina berdecak kesal.


Tiba tiba, kedua sudut bibir Vina pun tersenyum. Perasaan cemas kini dapat diredakan, tinggal perasaan gugup yang akan dialaminya setelah sampai di kantor.


"Cie .... Vina, mau kemana kamu?" tanya Bimo yang sudah berhenti didepan Vina.


Dengan cepat, Vina segera masuk kedalam bersama ibu ibu lainnya.


"Vin, kamu duduk di depan saja."


"Aku tidak mau sial lagi, aku takut akan bertemu Jaka Sembung." Jawabnya ketus.


"Jaka Sembung yang mana? lelaki yang kemarin? tidak mungkin lah. Apa iya, kamu akan bertemu dengannya lagi. Aku rasa tidak mungkin, itu karena kebetulan saja."


"Tapi aku yakin, aku pasti bertemu dengannya jika aku naik di depan." Jawabnya beralasan.


"Terserah kamu saja, aku hanya kasihan dengan penampilan kamu. Sudah dandan cantik, tapi duduk dibelakang." Goda Bimo dengan tawa.


"Diam, Bimo. Aku sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi seorang Bos, siapa tahu saja Bosku sangat cerewet." Jawab Vina sedikit kesal.


Setelah lama diperjalanan, Vina telah sampai didepan gedung yang menjulang tinggi dan sangat besar.


"Vin, kamu yakin? nanti kamu salah alamat lagi." Ucap Bimo mengingatkan, takut alamat yang di tuju Vina tidak tepat.


Tidak lama kemudian, muncul lah sosok laki laki yang dikenalnya, Vina pun tersenyum mengembang. Namun, tidak untuk Bimo yang tiba tiba berubah menjadi kesal saat melihat sosok laki laki yang menjadi saingannya.


"Pantas saja, bersemangat. Rupanya Hendi yang membawa Vina untuk bekerja di kantor ini. Aku pasti tidak ada apa apanya dengan Hendi, sedangkan Hendi anak orang kaya dan ditambah lagi bekerja di perusahaan yang terkenal." Gerutunya dan segera melajukan mobilnya.


Sedangkan Vina dan Hendi sudah berada didalam kantor, semua menatap heran dengan penampilan Vina yang cukup sederhana dan terlihat tomboy.


"Sini, berkas berkas kamu. Akan aku serahkan kepada sekretaris lama."


"Sekretaris lama, maksudnya?"

__ADS_1


"Sekretaris lama mau pindah tempat, jadi semoga kamu yang akan menjadi sekretaris barunya."


__ADS_2