
Yona pun mengangguk dan segera memanggil Darma yang sedang beristirahat dikamar. Sedangkan Zelyn wajahnya terlihat masam akibat jawaban dari sang kakek yang membuat hatinya terasa kesal.
Tuan Nugraha dan istrinya masih menikmati cemilan dan minuman yang sudah dihidangkan oleh pelayan. Zelyn pun kehilangan nafsunya untuk ikut menikmati cemilannya. Sedangkan sang kakek fokus dengan layar telivisinya, entah kenapa sang kakek hanya cuek dengan keluarga Nugraha.
"Ferly, Nugraha." Ucap kakek memanggil dan masih fokus pandangannya ke layar televisi.
"Iya pa," jawab keduanya.
"Apakah Darma sudah resmi bercerai?" tanya sang kakek sambil menggoyangkan kakinya.
"Darma sudah mengurus perceraiannya, pa..." jawab nyonya Ferly yang selaku putri dari kakek Gantara.
"Apa kamu yakin, kalau mantan istri Darma benar benar mengidap penyakit kanker rahim?" tanya sang kakek menyelidik.
"Benar Pa, aku tidak bohong. Pihak rumah sakit yang telah memberi bukti hasilnya." Jawabnya dengan meyakinkan.
"Apa kamu tidak menyesal telah memisahkan putramu dengan menantumu itu." Tanya sang kakek yang masih mengintrogasi putrinya. Sedang Zelyn semakin kesal mendengarkannya. Entah ada angin apa Zelyn mulai menikmati cemilan yang ada di depannya.
"Untuk apa aku menyesal, jelas jelas mantan istri Darma tidak bisa memberikan keturunan. Lalu untuk apa dijadikan istri Darma, Pa?" jawabnya dan bertanya.
"Kenapa kamu tidak berusaha untuk menyembuhkannya, dan kenapa kamu gegabah mengambil keputusan." Tanya sang kakek yang masih menyelidik.
"Kami sudah berusaha, tetapi mau bagaimana lagi kalau dokter sudah memvonisnya. Karena penyakitnya benar benar sudah dinyatakan tidak dapat disembuhkan." Jawabnya berusaha meyakinkan.
Tidak lama kemudian, Darma sudah duduk disamping Zelyn. Disudut bibir Zelyn tersenyum mengembang, pasalnya Zelyn tidak lagi kesepian seperti obat nyamuk.
"Ada apa kakek memanggilku?" tanya Darma mengagetkan sang kakek.
__ADS_1
"Duduklah," perintah sang kakek yang tidak memperhatikan Darma yang sudah duduk disamping Zelyn.
Kakek Darma seketika itu juga langsung berbalik arah, hingga kini sudah dapat melihat Darma yang sudah duduk didekat istrinya.
"Sebenarnya ada apa sih, kek? kenapa kita disuruh berkumpul? katanya hari ini Raska akan memperkenalkan calon istrinya kepada kita. Kok sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya?" tanya Raska memberondong berbagai pertanyaan kepada sang kakek.
"Tunggulah, mungkin sedang dalam perjalanan. Kakek sengaja mengumpulkan kalian semua karena kakek ingin menikmati kebersamaan kita yang masih bisa berkumpul." Jawab sang kakek menjelaskan.
"Apa tidak ada yang lainnya untuk disampaikan?" tanya nyonya Ferly menimpali. Sedangkan kakek Ganta hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari putrinya.
"Dari dulu sikapmu tidak pernah berubah, Ferly.. kamu selalu mengutamakan nafsumu dari pada keselamatanmu." Jawab sang kakek mengingatkan.
"Maksud Papa?" tanya nyonya Ferly yang sedikit geram atas sikap ayahnya yang masih tidak mengerti akan keinginannya.
Sedangkan Darma semakin kesal melihat sikap ibunya yang begitu berambisi untuk mendapatkan segalanya.
"Iya Pa," jawab nyonya Ferly sambil meneguk minumannya.
"Kakek, kak Raska mana? kenapa sampai sekarang pun belum juga datang. Apa mungkin sebenarnya kak Raska belum mempunyai..." tanya Yona yang tiba tiba terhenti.
"Buang prasangka burukmu itu, Yona. Kakek tidak menyukai dengan perkataan yang selalu berprasangka buruk terhadap orang lain. Bisa jadi Raska sedang mengalami kemacetan dalam perjalanannya. Dan mungkin saja Raska sengaja datang sedikit terlambat." Jawab sang kakek menatap tajam ke arah Yona, bahkan Yona sendiri takut dibuatnya.
Semua berubah menjadi hening, tidak ada yang berani berucap sepatah katapun. Karena apa yang akan diucapkan pasti selalu salah dimata sang kakek. Semua memilih untuk menikmati cemilan sambil menonton film kesukaan kakek.
Sedangkan di perjalanan, Raska dan Arsy masih saling membuang muka. Keduanya sama sama menatap luar jendela kaca mobil. Sopir Raska yang melihatnya pun hanya senyum senyum tidak jelas.
Sampai kapan tuan dan nona akan terus terusan seperti itu. Batinnya sambil fokus pada setirnya.
__ADS_1
"Ternyata benar, kan? kamu mau menjualku. Agar kakek tidak bisa mencariku. Kenapa sih kamu tidak usir saja aku ini, agar aku bisa bebas. Aku janji, aku tidak akan pernah muncul dihadapan kamu dan juga kakek kamu. Percayalah denganku, aku tidak akan ingkar janji." Ucap Arsy membuka suara, sedangkan Raska masih pada posisinya. Yang dimana kedua matanya langsung terpejam sambil mendengarkan Arsy yang sedang menggerutu.
"Kamu dengar tidak sih, aku ini berbicara dengan serius. Aku tahu, kamu itu tidak tidur. Dan kamu mendadak pura pura tidur, cepatlah jawab pertanyaanku tadi. Jangan jual aku, lebih baik kamu usir aku saja. Aku pasti menerimanya dengan senang hati." Ucapnya berulang ulang.
"Sudah berbicaranya?" tanya Raska yang tiba tiba menengok kearah samping dan menatap lekat wajah Arsy lebih dekat. Arsy yang ditatapnya pun berubah menjadi salah tingkah, jantungnya berdegup sangat kencang. Yang dimana Arsy bingung untuk berucap kembali. Arsy sendiri segera membenarkan posisi diduduknya, lalu pandangannya lurus kedepan. Raska yang melihat Arsy dengan sikapnya penuh salah tingkah tersnyum tipis sambil melihat di luar jendela kaca mobil.
"Kamu tidak perlu takut, sebentar lagi kita akan sampai dirumah kakek." Ucap Raska sambil bersandar dan menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya.
Arsy berusaha mengatur pernafasannya agar tidak menjadi gugup saat bertemu dengan sang kakek.
Kedua mata Arsy terbelalak saat melihat pintu gerbang yang begitu tinggi dan juga panjang.
Kini mobil yang ditumpanginya memasuki halaman rumah megah dan juga sangat besar. Begitu banyak penjaga disekitaran halaman rumah. Arsy menatapnya begitu sangat takjub. Meski dirinya dahulu pernah menjadi bagian keluarga yang terbilang kaya, namun masih lebih kaya dengan rumah yang dia datangi bersama Raska.
Dan tibalah di halaman rumah kakek Gantara, yang dimana sudah menjadi tempat tinggal Raska sepenuhnya. Raska yang melihat ekspresi Arsy hanya tersenyum tipis.
"Ayo turun, kasihan sama pak Bambang sudah membukakan pintu mobil untuk kamu." Ajak Raska sambil menunjuk kearah pak Bambang. Arsy masih diam mematung, dirinya berusaha menerka nerka namun tidak kunjung mendapat jawabannya.
"Kamu mau turun apa mau tinggal di dalam mobil, hah?" bisik Raska di dekat telinga Arsy.
"Aaah iya, aku mau turun. Ini beneran rumah kakek?" tanya Arsy yang masih tidak percaya.
"Bukan, ini rumahku. Kamu percaya, kan?" jawabnya dengan memicingkan satu alisnya.
"Aku tidak percaya sama kamu, karena aku yakin bahwa rumah ini adalah milik bos kamu. Dan kamu akan menjualku iya, kan?" Ucap Arsy yang masih berusaha menebak.
"Aku tidak akan menjualmu, justru aku akan membelimu. Karena apa? kamu itu sangat unik. Bisa ku jadikan saham yang menghasilkan......" ucap Raska yang tiba tiba terhenti. Karena Raska sendiri geli untuk melanjutkannya.
__ADS_1
"Menghasilkan apa! uang? jangan harap. Sudah aku pastikan kamu akan masuk sel tahanan." Jawab Arsy dengan sinis.