Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Merasa diganggu


__ADS_3

Sesampainya di ruang kerja, Vina kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Darma hanya memperhatikan istrinya yang sibuk dengan pekerjaannya.


Vina yang merasa sedari tadi diperhatikan suaminya tidak memperdulikannya. Vina tetap fokus dengan pekerjaannya, meski sedikit risih diperhatikan suaminya terus menerus.


"Pak, jangan melihat aku begitu dong, Pak. Aku jadi tidak konsen menyelesaikan pekerjaanku." Jawab Vina dengan enteng.


"Aku sedang mengawasi kamu, agar kamu tidak sibuk dengan ponsel kamu." Jawabnya beralasan.


"Terserah pak Darma saja, awas! kalau sampai macam macam." Ucap Vina mengancam, sedangkan Darma hanya tersenyum tipis melihat istrinya.


'Ternyata aku perhatikan, sebenarnya ini perempuan ok juga. Pantas saja, sedari tadi Hendi melihatku penuh kesal.' Batin Darma, kemudian kembali keposisinya menatap layar komputernya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama didalam ruangan, Vina dan Darma merasa capek. Tidak terasa juga, waktu kerja pun telah selesai. Senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibir Vina. Dengan sedikit melirik kearah istrinya, Darma pun ikut tersenyum.


"Pak Darma."


"Hemm!!"


"Kok hem! sih, Pak."


"Bilang tinggal bilang, susah amat."


'Ini patung apa boneka lah, benar benar mengesalkan.' Batinnya heran.


"Jadi ngomong apa tidak, hah?"


"Aku pulangnya naik apa, Pak?" tanya Vina memberanikan diri.


"Suami kamu siapa?"


"Pak Darma."


"Suami kamu pulangnya naik apa?"


"Mobil pribadi."


"Sudah tahu jawabannya, 'kan?"


"Nanti banyak yang membicarakan kita, bagaimana?"


"Kita akan semakin terkenal, apalagi kalau semua tahu bahwa kamu istriku." Jawab Darma dengan santai dan segera melangkahkan kakinya untuk pulang, sedangkan Vina sendiri masih belum siap jika statusnya akan diketahui oleh banyak orang.

__ADS_1


Sambil berjalan beriringan, semua karyawan kembali dikagetkan lagi. Begitu juga dengan Hendi, yang merasa mendapatkan api cemburu dengan Bosnya sendiri.


"Vina, tunggu!" seru Hendi memanggilnya. Vina maupun suaminya sama sama menoleh ke sumber suara, dan membalikkan tubuhnya kebalakang.


"Ada apa, Hen?" tanya Vina sedikit takut. Sedangkan Darma hanya menjadi pendengar.


"Pulang bareng aku yuk, Vin." Ajak Hendi sedikit takut jika Bosnya akan melarangnya.


"Maaf, Hen. Sepertinya aku tidak bisa, aku mau pulang bersama pak Darma." Jawabnya sebaik mungkin.


"Oooh! ya sudah kalau begitu. Saya permisi, Pak." Ucap Hendi permisi dengan Bosnya, Hendi sendiri tidak berani membujuk Vina untuk ikut pulang bersamanya. Ditambah lagi yang dihadapinya adalah Bosnya sendiri, Hendi lebih memilih untuk mengalah.


Tanpa menjawab ucapan dari Hendi, Darma terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Lagi dan lagi, Vina terburu buru mengimbangi langkah kaki suaminya yang begitu lebar.


Sesampainya didepan kantor, mobil milik Darma sudah berada di depan kantor. Semua yang melihat mobil milik Bosnya terkagum kagum. Meski statusnya yang sudah duda dua kali, namun tetap masih terlihat tampan dan membuat para wanita tergoda dan ingin menjadi istrinya.


Entah berapa banyak wanita yang akan patah hati, setelah mengetahui statusnya yang sudah menikah dan beristrikan dengan sekretarisnya sendiri.


"Pak Darma, tunggu!" seru salah satu karyawan yang sangat tergila gila dengan Bosnya.


"Ada apa, katakan."


"Boleh, ajak taman kamu satu lagi." Jawab Darma dengan santai, sedangkan wanita tersebut sangat kegirangan mendengarnya.


'Setidaknya awal yang baik.' Batin wanita tersebut dengan bangganya.


"Ditunggu sebentar ya, Pak. Jangan ditinggal, titik." Jawabnya dan menarik salah satu karyawan yang masih berdiri didepan kantor.


"Ada apa sih Yen, kamu mau mengajak aku kemana?"


"Jangan banyak omong, kita akan pulang bareng Pak Darma."


"Yang benar saja, Yen."


"Diam, ikut aku." Ucapnya sambil menarik tangan temannya.


Sedangkan Darma dan Vina sudah masuk kedalam mobil, keduanya masih saling diam. Sedangkan Vina merasa risih berada di dalam mobil bersama karyawan lainnya.


"Vin, kamu duduk dibelakang dong. Aku tidak terbiasa duduk dibelakang, kepalaku pusing." Ucap Yeni beralasan.


Vina hanya menoleh kearah suaminya, seakan meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan dari Yeni.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak bisa duduk dibelakang, kamu tidak perlu ikut pulang bareng." Jawab Darma ikut menimpali.


"Baik deh, demi bisa satu mobil dengan Pak Darma apa boleh buat." Ucapnya dengan lirih, kemudia Yeni dan temannya masuk kedalam mobil milik Bosnya.


Vina hanya menatap luar sambil melamun, Darma sendiri pun merasa tidak nyaman saat karyawannya ikut satu mobil dengannya.


"Pak Darma, kapan nikah?" tanya Yeni tanpa ada rasa malu.


"Aku sudah menikah, jadi diamlah." Jawab Darma dengan jujur, sedangkan Vina tiba tiba menoleh kearah suaminya dengan tatapan serius.


"Bapak mau bohongi saya, ya. Perasaan tidak ada berita tentang bapak menikah, pasti Pak Darma asal jawab deh."


"Istriku sangat aku rahasiakan, agar tidak ada yang dapat menemukannya. Istriku sangat cantik dan juga pintar, sangat disayangkan jika aku publikasikan." Jawabnya sambil melirik kearah istrinya, sedangkan Vina merasa tersindir dengan penampilannya yang jauh dari kata cantik.


"Tunjukkan dong, Pak. Kenalkan kepada media, jika Pak Darma benar benar sudah menikah."


"Nanti, jika sudah saatnya. Sekarang masih aku simpan rapat rapat istriku, agar tidak dilirik oleh kelalawar di kantor." Jawabnya sambil menyetir mobilnya.


"Vin, rumah kamu dimana? kenapa kamu belum turun turun juga." Tanya Yeni yang penasaran dengan alamat rumah Vina.


"Kalian aku turunkan disini, karena aku harus putar balik. Aku lupa ada sesuatu yang tertinggal, dan pastinya sangat penting." Ucap Darma beralasan, dirinya sudah sangat berisik dengan pertanyaan pertanyaan dari karyawannya.


"Tapi, Pak. Rumah kita berdua tinggal dikit lagi sampai." Ucap Yeni memelas.


"Iya, pak. Kasihan kita berdua jika harus berjalan kaki." Ucap temannya.


"Tidak bisa, kalian berdua harus turun disini. Lain kali saja sampai depan rumah kalian, untuk sekarang aku tidak bisa." Jawab Darma yang sudah sangat risih dengan keberadaannya kedua karyawannya.


Mau tidak mau, Yeni dan temannya turun dari mobil Bosnya. Disaat itu juga, Yeni teringat dengan Vina yang tidak ikut turun.


"Pak, kenapa Vina tidak ikut turun dengan kita." Tanya Yeni yang merasa iri dengan Vina.


"Vina sekretarisku, sepenuhnya aku yang bertanggung jawab." Jawab Darma meyakinkan, sedangkan Vina hanya bisa diam.


Yeni dan temannya hanya bisa pasrah dengan keputusan Bosnya, keduanya terpaksa turun dari mobil Bosnya. Meski menyesal, semua sudah terlambat.


Setalah kedua karyawannya turun dari mobilnya, Darma kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kasihannya mereka berdua, harus jalan kaki." Ucap Vina sambil menatap luar.


"Itulah hukuman yang suka iri dengan temannya." Jawab Darma sambil fokus menyetir.

__ADS_1


__ADS_2