Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Salah paham


__ADS_3

Sambil melangkah masuk kedalam ruangan kerja pak Darma, Vina berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. Agar dirinya tetap tenang dan tidak gelisah.


Sedangkan sosok laki laki yang menghuni ruangan kerja, sedang sibuk dengan posisinya yang sedang fokus dengan layar komputernya. Sedangkan Vina dan sekretsris Riko sudah berdiri tegak dihadapan seorang laki laki yang sedang fokus dengan komputernya.


"Pak Darma, ini yang anda minta dan sesuai dengan permintaan Pak Darma." Ucap sekretaris Riko serius, sedangkan Darma sendiri masih belum meresponnya. Dirinya masih fokus dengan pandangannya.


"Tinggalkan wanita ini, dan kamu bersiap siaplah untuk pindah tempat. Aku sudah tidak membutuhkan kamu." Jawabnya yang juga belum melihat sosok Vina yang sedang berdiri didepannya.


'Ini Bos macam apa, ya! mata mana mata, kenapa ini orang fokus dengan komputernya. Apa iya, pak Darma orang yang sangat dingin dan kaku.' Batin Vina berdecak kesal.


"Maaf, Pak .. saya harus ngapain ya?" tanya Vina memberanikan diri.


'Mampus, aku!' batinnya dengan perasaan takut.


Darma pun segera mendongak kepalanya keatas, dan memperhatikan sosok perempuan yang akan menjadi sekretarisnya.


"Kamu!!!!!" Teriak keduanya sekencang mungkin. Darma pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ngapain kamu berada di kantorku, hah! Kamu masih kurang puas mau mengikutiku. Jangan bilang kalau kamu datang ke kantorku mau minta tanggung jawab dariku. Cih!! Keluar kamu dari ruanganku. Aku tidak mau mendengar alasan kamu yang aneh itu, apalagi minta tanggung jawab dariku."


"Apa!!!!!" Plak!! Darma langsung mendapat tamparan hebat dari seseorang, pastinya bukan Vina yang menamparnya. Melainkan dari sang ayah yang sedari tadi mendengarkan ucapan Darma dari awal sampai akhir. Vina yang melihatnya pun shok dan kaget, kedua tangannya langsung menutup mulutnya. Vina benar benar tidak menyangka sebelumnya.


"Das*ar laki laki pecundang kamu, mana martabat kamu sebagai pemilik peeusahaan ini. Sekarang juga, kamu harus meminta maaf dengan perempuan ini. Dan kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan kamu, jadilah laki laki yang bertanggung jawab. Mau tidak mau, sekarang kamu harus menikahi perempuan ini."


"Maksud Papa, apa? menikahi perempuan ini, yang benar saja. Papa itu salah paham, Darma tidak melakukan apa apa dengan perempuan ini. Darma saja tidak mengenalnya, papa itu salah paham."

__ADS_1


"Heh! Nyi Jantur, kamu jelaskan semuanya kepada Papaku."


"Benar, Pak. Saya dan Pak Darma tidak melakukan apa apa, ini semua salah paham. Semuanya tidak seperti yang Bapak kira, percayalah dengan saya."


"Papa tidak percaya denganmu, Darma. Kamu pikir Papa akan mempercayai alasan kalian berdua. Tidak, keputusan Papa sudah bulat. Dari pada membuat malu keluarga, hari ini juga akan Papa nikahkan kalian berdua. Tidak ada penolakan, titik."


"Pak ... saya mohon ... ini semua salah paham, percayalah dong Pak dengan saya. Saya belum siap menikah, ini semua tidak seperti yang bapak pikirkan." Rengek Vina sambil berlutut dan menangis.


"Lepaskan!"


"Dan kamu, Darma. Papa tidak mau tahu, Papa tidak ingin nama baik keluarga kita menjadi buruk gara gara ulah kalian berdua." Ucapnya kemudian langsung memanggil anak buah untuk menarik paksa Darma dan Vina. Ayah Darma sendiri langsung keluar dari ruangan kerja putranya dan menguncinya dari luar. Sebelumnya langsung mengganti kode ruangan tersebut. Kini, tinggal lah Vina dan Darma didalam ruangan.


"Heh! Jaka sembung! bantuin aku dong! aku tidak sudi menikah denganmu."


"Heh! Nyi Jantur! kamu pikir aku sudi menikah denganmu. Cih! perempuan galak sepertimu tidak pantas menjadi istriku."


'Bagaimana aku menjelaskannya, ah! iya, aku mau minta tolong Raska. Biarin lah masang muka tembok dengan Raska, yang penting aku bisa lepas dari perempuan galak ini.' Batinnya mencari ide.


"Heh! Jaka sembung! berpikir dong. Jangan diam saja, apa jangan jangan semua ini rencana kamu, ya!"


"Aku sedang berpikir, bodo*h!"


Tidak lama kemudian, pintu ruangan kini telah terbuka lebar. Dua anak buah dari Tuan Nugraha kini sudah menarik paksa keduanya, Vina dan Darma.


"Pa, kalau semua karyawan melihatku bagaimana?"

__ADS_1


"Jangan khawatir, kita lewat jalur pribadi." Jawab sang Ayah dengan enteng.


"Pak ... tolong dong, lepasin saya. Sebenarnya saya itu mendaftar untuk menjadi sekretaris pak Darma." Ucap Vina sambil berjalan dengan kondisi tangan di ikat.


"Percuma kalian berdua beralasan, tidak akan dipercaya."


"Cepetan kalian berdua masuk kedalam mobil."


Karena tidak mempunyai cara yang ampuh, Darma dan Vina segera masuk kedalam mobil. Vina masih saja merengek untuk mendapat belas kasihan.


"Pak, setidaknya saya menghubungi adik saya. Kasihan adik saya, jika tidak mengetahui hal ini. Setidaknya adik saya yang akan jadi saksinya, Pak ..." rengek Vina memelas.


"Baiklah, katakan alamat rumah kamu dan siapa nama adik kamu."


Mau tidak mau, Vina memberi alamat kepada Ayahnya Darma dan nama adiknya. Dengan cepat, Tuan Nugraha segera memerintahkan anak buahnya untuk menjemput adik dari Vina.


'Kutukan apa ini, kenapa aku bisa terjebak dengan kondisi seperti ini. Ya ... Tuhan ...." batin Vina dengan lesu. Dunianya seakan gelap, mimpinya begitu buruk. Hancur sudah harapannya untuk menggapai cita citanya, seakan hidupnya sudah berakhir. Tidak ada sebuah harapan yang diperjuangkan.


Vina pun menunduk sedih, pikirannya kosong. Senyum yang baru menghiasinya, kini harus disapu dengan air mata. Darma yang melihatnya tiba tiba hatinya tersentuh, merasa sangat bersalah atas ucapannya yang terucap begitu saja.


'Maafkan aku, gara gara ucapanku kamu harus mendapat kesialan yang tidak bisa kamu lupakan. Aku akan berusaha bernegosiasi kepada Papa untuk menggagalkan pernikahan konyol yang kamu maksud.' Batin Darma yang merasa bersalah, meski sebenarnya Darma juga tidak menginginkan pernikahan konyol yang seperti Vina katakan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, tidak terasa sudah sampai di depan gedung yang sangat menakutkan bagi Vina. Dirinya benar benar belum menginginkan pernikahan, hanya cita cita yang ada dalam angannya. Namun, cita citanya terhempas begitu saja.


"Ayo turun, adik kamu sudah ada didalam. Sekarang tinggal kamu yang harus mempersiapkan diri untuk menjadi suami Darma." Ucap Ayah Darma dengan serius.

__ADS_1


"Pa, kasihan wanita ini, Pa ... lebih baik papa pikirkan kembali. Kita berdua tidak melakukan apa apa, semua yang Papa pikirkan itu salah. Percayalah dengan Darma, Pa. Kasihan wanita ini, dia benar benar mendaftar sebagai sekretaris."


"Papa bukan orang bod*oh, yang mudahnya kalian bohongi. Kalau sudah menjadi suami istri, tidak ada mata kotor diantara kalian. Kalian bebas melakukan apa saja, dan Papa tidak lagi mendengar ucapan tanggung jawab yang seperti kamu ucapkan tadi di dalam kantor." Jawab sang Ayah yang tetap pada pendiriannya.


__ADS_2