Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Permintaan


__ADS_3

Tidak lama kemudian, pak supir telah pulang membawa pesanan dari majikannya. Apa lagi kalau bukan bakso mercon dan jenis makanan lainnya.


"Permisi Nona, ini pesanan tuan Raska." Ucapnya sambil menyerahkan beberapa pesanan yang dipesan oleh suami Arsy.


"Terimakasih pak, ini satu porsi bakso untuk bapak." Jawab Arsy kemudian memberi bakso dan jajanan lainnya kepada supirnya.


"Tidak usah, Nona. Saya sudah kenyang, nanti kalau tuan pingin nambah kan repot."


"Tidak mungkin nambah, pak. Ini sudah malam, jugaan sudah makan mie ayam dua mangkok. Percaya deh sama saya, pak." Ujar Arsy meyakinkan.


"Baik, Nona. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak. Kalau begitu, saat pamit untuk pulang." Ucapnya merasa malu dan tidak enak hati, sedangkan Arsy mengangguk dan tersenyum. Kemudian segera memanggil suaminya untuk menghabiskan baksonya.


Dengan pelan dan sangat hati hati, Arsy masuk kedalam kamar.


Ceklek, Arsy membuka pintu kamarnya dengan pelan. Dilihatnya sang suami yang sedang bersandar diatas tempat tidur sambil menyibukkan dengan laptopnya.


"Sayang,"


"Hem!"


"Gitu, ya."


"Eh, sayang. Kirain pak supir, sudah beli baksonya?" ucapnya sambil senyum lebar. Sedangkan sang istri hanya mengerucutkan bibirnya.


"Sudah, ayo turun. Nanti keburu dingin, kan sayang."


"Iya, deh. Hummmm pasti sangat menggoda bakso merconnya." Ujar Raska sambil membayangkan bakso merconnya.


Karena merasa sudah tidak sabar, Raska langsung keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan cepat.


Sesampainya di meja makan, Raska langsung menuangkan baksonya. Sedangkan istrinya menuangkan air minum kedalam gelas.


Disaat mengambil sambalnya, Raska dikagetkan dengan sesuatu yang ada didalam plastik. Karena rasa penasarannya, Raska mengambilnya dengan penuh hati hati.


"Apa!!! petasan!" teriak Raska penuh heran.

__ADS_1


"Yang benar saja, sayang. Kamu pesan petasan?" tanya sang istri yang masih bingung.


"Aku tidak pernah memesan petasan, aku cuman pesan bakso mercon, sama jajanan kering. Kenapa petasan juga di beli, apa ini milik pak Kadir?" jawab Raska yang masih susah untuk mencerna apa yang dimaksudkan oleh supir barunya.


Sedangkan Arsy masih mencoba mencerna maksud dari petasan tersebut, sesekali Arsy mencoba menggabungkan kalimat pada setiap pesanan yang dibeli.


"Hemmm ... sekarang aku tahu jawabannya. Yang dimaksud pak Kadir yaitu, bakso mercon." Ucap Arsy sambil menunjuk bakso dan kemudian petasan yang masih dipegang suaminya.


"Maksud kamu? aku masih belum percaya dengan ucapan ucapan kamu." Jawab Raska yang masih belum mengerti dengan apa yang diucapkan sang istri.


"Lah ini, bakso. Yang kamu pegang itu bukannya mercon, yang tidak lain adalah petasan." Ucap Arsy sambil menunjuk satu satu.


"Ampun! deh!" plak!! Raska menepuk jidatnya dengan kuat.


"Ini nih, kalau tidak nyambung. Yang dibeli apa, yang didapat apa. Hemmmm! mau bagaimana lagi, sudah terlanjur." Ucap Raska, kemudian segera menikmati baksonya tanpa mercon. Begitu juga dengan Arsy yang ikut menikmati baksonya.


Setelah selesai menikmati baksonya, Arsy dan Raska kembali masuk ke kamar untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya. Kemudian, setelah itu beristirahat.


Keduanya benar benar menikmati kebahagiaan yang tercipta bersama, Arsy maupun Raskw sama sama saling melengkapi dari kekurangan dan kelebihan masing masing.


Di pagi hari, Darma dan Vina kini disibukkan dengan aktivitasnya. Vina menyiapkan sarapan pagi sebelum berangkat bekerja, sedangkan sang suami sedang bersiap siap mengenakan pakaian kerjanya seadanya.


"Buset dah, seperti anak muda saja penampilanku ini." Gerutu Darma sambil bercermin.


Vina yang telah selesai menyiapkan sarapan paginya, dengan cepat segera membersihkan badannya yang sudah terasa gerah. Meski sebenarnya sudah mandi sedari tadi, namun efek dari aroma bawang didapur membuat tubuhnya ikut terasa bau tidak sedap.


Sesampainya didalam kamar, Vina tersenyum mengembang. Namun, tiba tiba senyumnya hilang begitu saja. Vina mencoba untuk menahannya, tetapi sang suami lebih dulu menangkap senyum dari istrinya melalui cermin didepannya.


"Tertawa saja sampai puas, biar sakalian gas pribadimu keluar dengan leluasa." Sindir Darma sambil mengenakan jam tangannya.


"Hem ... bukan begitu maksudnya, kamu terlihat sangat muda saat mengenakan pakaiannya Diki. Lihatlah, tambah ganteng, 'kan?"


"Ganteng dilihat dari monas? hem!"


"Serius, aku tidak bohong. Kamu sih, selalu pakai baju yang gelap gelap terus. Suram tau, masa depannya."

__ADS_1


"Tidak juga, tapi lihatlah. Baju warna biru kek gini, apa kata karyawan ku. Aku yakin, semua pasti menterawaiku. Pasti, aku disangkanya sedang kasmaran seperti anak muda lainnya."


"Tidak lah, kamu harus tampil beda sekarang. Agar hidupmu penuh warna, dan biarkan orang lain mengatai kamu yang tidak tidak. Yang terpenting kamunya merasa nyaman, aku pun tidak merasa terganggu dengan penampilan kamu. Justru, kamu yang aku kenal dulu dan yang aku kenal sekarang harus berbeda. Dulu kamu suka seenaknya saja ini dan itu, sekarang harus dirubah."


"Baik, sayangku. Kamu benar benar istriku yang istimewa, perduli dengan suami kamu ini." Ucapnya, kemudian mencium kening milik istrinya dengan lembut.


"Ah! sudahlah, aku mau mandi. Badanku sangat gerah, dan bau badan karena aroma masakan." Ujar Vina, kemudian segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesainya membersihkan diri, Vina segera mengenakan pakaian kerjanya. Vina mengenakan pakaian sederhananya, meski sedikit terlihat tomboy. Namun, masih terlihat wajah cantiknya.


Darma yang melihat penampilan istrinya hanya tersenyum, Vina yang merasa diperhatikan suaminya cuek cuek saja.


"Sayang, bagaimana dengan penampilanku? tidak terlihat seperti cowok, 'kan?" tanya Vina meminta di kritik.


"Tidak, kamu tetap terlihat cantik. Bahkan tidak berpakaian sekalipun, kamu tetap cantik." Ledek Darma sambil mengedipkan matanya. Vina yang mendengarnya pun bergidik ngeri.


"Tidak lucu." Ucap Vina sambil mengerucutkan bibirnya, Darma sendiri segera bangkit dari posisi duduknya.


"Kamu tetap terlihat cantik dimataku, kamulah wanita yang akan menjadi penghuni didalam hatiku untuk selama lamanya. Percayalah denganku, kamu adalah wanita terakhirku sampai tutuk usiaku." Jawab Darma kemudian memeluk mesra istrinya.


"Benar, kamu tidak bohong."


"Untuk apa aku bohong, bahkan aku tidak akan merasa malu menggandengmu disaat memasuki gedung kantor milikku."


"Aku percaya kok, sama kamu. Hanya saja, rasa takut kehilangan pasti akan muncul disaat suasana yang sedang tidak bisa diajak kompromi."


"Kalau begitu, ayo kita sarapan. Nanti kita terlambat, malu dong dengan karyawan teladan."


"Hem! iya ya, aku percaya." Jawab Vina, kemudian keduanya segera menuju ke ruang makan bersama suaminya untuk menikmati sarapan pagi di rumah yang cukup sederhana.


"Nasi gorengnya benar benar menggoda, rupanya kamu jago masak juga. Oh iya, apakah seperti ini hari hari kamu dirumah ini?" tanya Darma sambil menikmati sarapan paginya dengan nasi goreng dan telor ceploknya, ditemani sang istri dirumah yang sangat sederhana.


"Iya, seperti inilah hari hariku bersama adik kesayanganku. Sebelumnya, aku sangat berterimakasih denganmu. Kamu sudah mewujudkan cita cita adikku bersekolah di luar Negri, di Toronto lagi. Aku tidak bisa membalasmu dengan apa apa, aku sendiri tidak memiliki apa apa." Ucap Vina tertunduk malu.


"Kamu ini istriku, adikmu pun juga sudah menjadi adikmu. Jadi, kamu cukup cintai aku dan tidak akan pernah meninggalkanku." Jawab Darma sambil mengangkat dagu istrinya untuk menatapnya dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2