Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Sampai tujuan


__ADS_3

Pak Bejo masih tidak percaya, jika Vina mau mendorong mobilnya.


"Maaf Nona, kenapa tidak menunggu orang lain lewat saja. Saya benar benar takut terjadi apa apa dengan Nona, nanti Tuan marah."


"Tenang saja, Pak. Yakinlah dengan Vina, bapak tidak bakalan mendapat amarah dari suami Vina. Ayo Pak, kita dorong mobilnya sebisa mungkin. Yakin ya, Pak. Kita bisa, ok." Jawab Vina mencoba meyakinkannya.


"Berhitung mundur ya, Pak." Pinta Vina dibarengi senyum dan mengangguk.


"Sayang, kita mulai ya. Jangan tinggi tinggi gasnya, nanti bisa kelabasan." Perintah Vina.


"Iya, ya." Jawabnya singkat.


"Ayo, Pak. Tiga ... dua ... sa-tu ..." seru Vina berhitung mundur sambil mendorong kuat. Begitu juga dengan Pak Bejo yang ikut mendorong kuat mobilnya.


"Hiiiiiaaaaaatttttciiiaaah!!!" teriak Vina sekencang mungkin. Tanpa disadari oleh suaminya dan pak Bejo, mobilnya pun dapat lepas dari kubangan yang cukup sulit.


"Apa!!!!!! Nona, benarkah kita sudah mendorongnya." Ucap pak Bejo yang masih belum percaya, jika mobilnya telah berhasil diselamatkan.


"Benar, Pak. Mobilnya sudah dapat diselamatkan, kita berhasil." Jawab Vina dan tersenyum mengembang.


"Sayangku!!!" teriak Darma sambil berlari dan langsung memeluk istrinya erat dan menciumi kedua pipi istrinya.


"Sayang, lepaskan." Jangan bikin malu, ada Pak Bejo. Nanti kalau ada orang lewat bagaimana? kita ini di desa, sayang." Ucap sang istri mengingatkan.


"Aku sangat kagum denganmu, sayang. Aku menjadi minder, tenagaku tidak sebanding dengan tenaga kamu. Aku kira kamu wanita lembek, tidak tahunya perkasa." Jawab Darma memuji dan tersenyum mengembang.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Nona, benar benar tangguh. Saya juga tidak pernah menyangkanya, ternyata penilaian saya salah." Ucap pak Bejo ikut menimpali.


"Kalau begitu, kita lanjutkan kembali ke tujuan kita." Ajak Darma, kemudian segera masuk kembali kedalam mobil.


"Sayang, lihatlah. Banyak persawahan yang luas, dan banyak tanaman padi dan berbagai macam jenis jenis sayuran. Sepertinya di desa ini sangat makmur kehidupannya, ada peternakan juga sepertinya itu." Ucap Vina sambil menunjuk yang ia katakan.


"Iya, ada banyak kolam ikan juga. Wah ... rupanya kakek benar benar sangat pintar memilih tempat untuk berlibur. Tidak melulu di luar Negri, tetapi didesa. Apakah kamu menyukainya, sayang? katakan dengan jujur." Tanya Darma sambil memandang keluar jendela yang penuh pemandangan yang sangat indah.


"Aku tidak begitu suka liburan ke luar Negri, justru aku lebih suka di tanah air. Karena apa, karena masih banyak tempat yang tidak kalah bagusnya dengan luar Negri, aku yakin itu." Jawab Vina dengan senyum manisnya.


"Pastinya, nanti kita lihat tempat yang akan kita tuju. Semoga tempatnya akan jauh lebih adem lagi, dan juga sangat asri dan udaranya masih segar." Jawabnya, Vina yang mendengarnya pun mengangguk dan tersenyum.


'Aku benar benar sangat beruntung memiliki istri yang begitu sederhana, bahkan tidak muluk muluk keinginannya. Bukan karena tidak enak hati, tetapi memang kesederhanaannya yang sudah melekat dengan kepribadiannya. Ternyata kegagalan berumah tangga, tidak mesti akan menjadi lebih buruk. Ternyata anggapanku itu salah, dan ternyata jodohku jauh lebih baik dari sebelumnya.' Batin Darma yang begitu sangat besyukur memiliki istri sosok Vina.


"Sayang, kenapa kamu melamun. Lihatlah, banyak anak anak yang mengembala kambing. Seru juga, ya. Aaah! aku benar benar sudah tidak sabar, aku ingin segera sampai ditempat tujuan." Ucap Vina sambil menunjuk kearah anak anak yang sedang mengembala kambingnya bersama teman temannya.


Setelah memakan waktu yang lumayan cukup lama, kini telah sampai ditempat yang dituju. Pak Bejo maupun Darma dan istrinya segera turun dari mobil, sebelumnya membuka sabuk pengaman masing masing.


Darma dan Vina kini telah menginjakkan kami ditempat yang cukup sederhana, keduanya sambil celingukan. Sekitaran rumahnya banyak tanaman sayuran dan juga ada tanaman buah buahan yang buahnya lebat.


"Sayang, lihatlah. Tempatnya sangat indah, bahkan aku lebih memilih tinggal di pedesaan. Sepertinya sangat nyaman dan tanpa polusi, bahkan udaranya masih terasa segar. Sayangnya, mungkin kita akan segera pulang." Ucap Vina yang tiba tiba menunjukkan muka masamnya.


"Hem! belum juga masuk kedalam, kamu sudah kepikiran pulang. Jangan aneh aneh lah, mikirin yang bukan bukan." Jawab Darma, yang kemudian mengikuti langkah kaki pak Bejo dan diikuti juga sama Vina dibelakang suaminya.


"Pak Bejo, beneran nih. Didalam tidak ada penghuninya?" tanya Vina yang masih penasaran.

__ADS_1


"Tidak ada penghuninya, ayo masuk." Jawabnya dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.


"Sayang, kok tiba tiba aku jadi merinding nih. Ada apa, ya? semoga saja tidak horor." Ucap Vina sedikit ada rasa takut akan sesuatu yang berhubungan dengan mistis.


"Hus!! jangan aneh aneh, kamu." Ucap Darma menenangkan.


"Bukannya aneh aneh, tapi sedikit seram dan horor saja sih." Jawabnya sambil celingukan disetiap sudut ruangan.


"Silahkan duduk, Tuan dan Nona." Ucapnya, kemudian mempersilahkan untuk duduk. Setelah itu, pak Bejo memberikan arahan tentang isi rumah yang akan dijadikan tempat tinggal sementara.


"Maaf Nona, ini rumah milik kakek Gantarang bersembunyi dari keluarga. Sekarang, kakek Gantara mewariskan tempat ini semua milik kakek yang ada di daerah ini untuk tuan Darma. Berharap untuk dikelola dengan baik, dan tidak boleh tamak ataupun pelit atau juga sifat buruk dilarang untuk memilikinya." Ucap pak Bejo menjelaskannya.


"Jadi, selama kakek menghilang. Rupanya didesa ini kakek bersembunyi? pantas saja, susah untuk ditemukan." Jawab Darma dan teringat dikala sang kakek tidak pernah terlihat, dan dikabarkan telah tiada.


"Kalau begitu, Tuan dan Nona silahkan untuk istirahat. Saya akan mencarikan makan malam untuk Nona dan Tuan, saya rasa sudah saling ngantuk dan juga lapar." Ucap pak Bejo pamit untuk keluar membeli makan malam.


"Iya, Pak. Terimakasih sebelumnya, sudah banyak merepotkan bapak." Jawab Darma merasa tidak enak hati.


Setelah pak Bejo pergi meninggalkan rumah, Darma dan Vina segera masuk kedalam kamar untuk beristirahat.


Ceklek, Darma membuka pintu kamarnya. Keduanya langsung masuk dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Sayang, aku kira kamarnya seperti didesa. Ternyata sama saja seperti yang ada di kota."


"Memangnya kenapa, sayang?" tanya Darma sambil menatap langit langit kamarnya. Afna hanya tersenyum saat mendengar pertanyaan dari suaminya.

__ADS_1


"Maksud aku tuh, rumah pada umumnya dikampung dengan kondisi yang sangat sederhana. Kalau ini mah, paling bagus dan terkaya di desa. Aku kira, kamar mandinya dibelakang pakai gayung." Jawab Vina yang juga ikut menatap langit langit kamarnya.


"Hem!! nanti kamu semakin ketakutan, lagi. Ingin ke kamar mandi harus pergi kebelakang." Ucap Darma mengingatkan. Sedangkan Vina hanya tersenyum malu."


__ADS_2