Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Merasa terhina


__ADS_3

Vina masih terdiam, dirinya merasa bingung untuk berucap.


"Sudahlah, Vin. Jangan kamu pikirkan, ayo kita ke warung langganan kita dulu."


"Baiklah, ini yang terakhir."


"Siap." Hendi pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan Vina sendiri merasa cemas. Dirinya takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya, ditambah lagi para tetangga yang suka gosip sana sini.


'Semoga tidak terjadi hal buruk padaku, aku sangat takut dengan hal itu.' Batin Vina dengan cemas.


Tidak memakan waktu lama, keduanya telah sampai didepan warung makan yang menjadi langganan Vina dan Hendi sejak kuliah. Dan pelanggannya pun tidak hanya anak muda, bapak bapak dan ibu ibu pun banyak yang singgah di warung tersebut.


Saat Hendi dan Vina turun dari mobil, tiba tiba semua yang ada diwarung tersebut menoleh keluar. Tidak hanya itu, didalam warung pun banyak yang membicarakan sosok Vina yang satu mobil dengan Hendi.


"Hen! aku pulang saja, ya. Aku tidak mau jadi sorotan orang orang yang ada di warung. Nanti kalau ibu kamu tahu, bagaimana? aku tidak mau hal itu terjadi. Aku takut, Hen ... aku pulang saja, ya ... nanti kalau aku sudah diterima di kantor tempat kamu bekerja, kita bisa makan bareng. Untuk kali ini aku pulang saja, ya ..." rengek Vina sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Jangan gitu dong, Vin ... sekali ini saja. Sekalian, untuk mengetes mental kamu nanti jika bertemu orang orang di kantor. Kamu tahu sendiri, jadi sekretaris itu seperti apa. Harus kuat mental dan tegas." Rayu Hendi untuk meyakinkan.


"Tapi ... ini lebih ganas mulutnya, bahkan pedasnya cabe kalah pedasnya, Hen."


"Aah! kamu ini, dimana gaya bela diri kamu. Terlihat kuat, tapi hatinya loyo. Cemen lu!" Hendi mencoba membuat Vina agar mau menuruti permintaannya.


Karena tidak mempunyai cara lain, Vina terpaksa menuruti kemauan temannya. Mau tidak mau, Vina menyetujui keinginan Hendi.


"Baiklah, akan aku turuti permintaan kamu ini. Tapi ingat, ini yang terakhir."


"Baik, Nona cantik ..."


"Tidak usah ngegombal, kamu tahu?"

__ADS_1


"Tidak masalah, ngegombal sama calon istri sendiri." Jawab Hendi sambil menggoda.


"Hus! jangan ngomong aneh aneh. Jadi, mau ngajak aku makan siang atau tidak?"


"Iya, iya. Ayo, kita masuk kedalam. Ingat! jangan hiraukan mereka mereka yang tengah ngomongin kita." Ucap Hendi mengingatkan, sedangkan Vina hanya mengangguk.


Keduanya pun segera masuk kedalam, Hendi dan Vina mencari tempat yang kiranya nyaman. Setelah celingukan kesana kemari, kedua mata Vina menemukan tempat duduk yang terlihat sangat nyaman menurutnya.


"Hen, kita duduk disebelah sana, ya ...." ucap Vina sambil menunjuk.


"Baiklah, kamu duluan duduk. Aku mau pesan makanan yang sering dulu sering kita pesan."


"Kamu masih ingat?" tanya Vina dengan serius.


"Tentu saja, Bebek bakar dengan sambal yang super pedas dan juga ketimun beserta daun kemangi."


"Wah! kamu selalu mengingatnya, terimakasih. Kalau begitu, aku duduk dulu."


Setelah sampai di tempat yang telah dipilihnya, Vina segera duduk. Namun, tiba tiba ada seorang wanita yang datang dan duduk didepannya.


"Wah! hebat sekarang, ya. Sudah berani mendekati putraku, dan merasakan naik mobil mewahnya. Kamu itu ngaca! kamu itu tidak pantas bersanding dengan putraku. Asal kamu tahu, putraku sebentar lagi akan segera menikah. Hendi, sudah aku persiapkan calon istri yang jauh lebih baik dari kamu. Dan pastinya, calon istri Hendi orang yang berkelas. Tidak seperti kamu, pekerjaan yang tidak jelas. Kerjaannya berkelahi, pingin jadi jagoan tapi gagal." Ucap Ibu paruh baya yang tidak lain orang tua Hendi yang tiba tiba datang, dengan mudahnya menghina Vina begitu jelas. Sempat orang yang berada di dalam warung mendengarnya. Sedangkan Hendi sendiripun dapat menangkap ucapan dari sang ibu.


Dengan kasar, Hendi meletakkan dua porsi bebek bakarnya.


"Ma! jangan keterlaluan. Vina tidak bersalah, karena Hendi sendiri yang mengajaknya untuk makan siang di warung ini." Ucap Hendi dengan geram, sedangkan Vina hanya menunduk. Apa yang di ucapkan oleh ibunya kini terulang kembali, hati Vina pun terasa sangat sakit. Dirinya memang bukan orang terpandang maupun orang mampu. Keluarga Vina terbilang orang yang kurang mampu, ditambah lagi sejak kedua orang tuanya meninggal. Kehidupan Vina dan adiknya penuh kerja keras, terkadang keduanya harus menahan lapar.Namun, tidak membuat keduanya untuk menyerah.


"Pokoknya kamu harus jauhi ini anak, Mama tidak mau kamu dekat dekat dengannya. Kamu itu sudah mama jodohkan, kenapa kamu masih saja mendekati wanita miskin ini." Ucap sang ibu dengan terang terangan tengah menghinanya, Vina yang mendengarkannya pun seraya ingin melayangkan tinjuannya sampai ke ujung benua.


"Aku pulang, terimakasih atas tumpangannya. Maafkan aku yang sudah membuat kamu kena marah oleh mama kamu." Ucap Vina, kemudian langsung pergi meninggalkan tempat.

__ADS_1


"Duh, kasihan. Niat pingin makan enak, eeee gagal. Kasihan banget sih kamu, makanya ngaca!" ucap wanita yang juga menyukai Hendi.


"Sayang sekali mulut kamu, dapat apa sih kamu dari Hendi. Calon istri juga bukan, aku rasa kamu juga bukan type nya si Nyonya cabe."


"Heh! sialan kamu, lihat saja nanti. Akulah pemenangnya, Klara? out."


Vina yang mendengarnya pun hanya tertawa geli, kemudian dirinya segera pergi meninggalkan warung yang sudah dijadikan kenangan pahit dirinya tentang penghinaan yang sering ia dapatkan. Tidak hanya dekat dengan Hendi, Vina mendapatkan hinaan. Dekat dengan Bimo yang hanya pemilik beberapa angkot saja menjadi bahan hinaan.


Vina tidak dapat membayangkan, jika dirinya dekat dengan orang kantoran. Vina benar benar prustasi untuk melanjutkan misinya mendaftar menjadi sekretaris, takut akan mendapat penghinaan yang jauh lebih menyeramkan.


Sambil berjalan, Vina memegangi perutnya yang dirasa sangat lapar.


"Mau makan apa, siang ini. Telor lagi, nasi goreng lagi. Bosen sih tidak, hanya saja sangat membosankan." Gerutunya sambil berjalan menuju warung sembako untuk membeli telor dan beras.


"Bu ... Bu Sari ..." panggil Vina pada pemilik warung sembako.


"Eeh! Neng ... mau beli apa, Neng?"


"Telor satu kilogram dan berasnya dua liter ya, Bu ...."


"Baik, Neng. Ditunggu sebentar, ya. Oh iya, Neng ... sudah tahu beritanya belum?"


"Berita apaan, Bu?" tanya Vina penasaran.


"Itu, si Hendi. Sebentar lagi mau menikah dengan anak orang kaya, dan katanya sih satu kantor." Seketika itu juga, Vina membelalakan kedua bola matanya. Percaya tidak percaya, Vina kaget dibuatnya.


"Neng, kenapa melamun?"


"Tidak, Bu ... memangnya pernikahannya kapan?"

__ADS_1


"Katanya sih dalam waktu dekat ini, tapi tidak tahu juga. Kok Neng Vina tidak tahu, bukannya kamu sangat dekat dengan Hendi."


"Iya, Bu. Dekat sih dekat, tapi soal pribadi kita tidak pernah saling memberi tahu." Jawabnya sebaik mungkin.


__ADS_2