
Vina masih dalam perjalanan pulang dengan menaiki mobil angkot milik teman sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Bimo sang pemilik mobil angkot sekaligus supirnya.
"Vin, kenapa kamu tidak pulang bersama Hendi. Bukankah kamu satu kantor dengannya?"
"Aku tidak mau merepotkan orang lain, lagian Hendi sudah memiliki calon istri. Calon istrinya saja satu kantor dengan Hendi, aku tidak mau disangka yang tidak tidak oleh orang orang. Apalagi dengan orang tua Hendi, aku tidak mau berhadapan dengan ibunya."
"Nah, berarti aku masih ada lowongan untuk menjadi istri kamu."
"Aku belum kepikiran, Bim. Aku mau fokus dengan pekerjaanku, aku masih ada tanggungan. Kasihan adikku jika aku harus menikah, pasti tidak dapat perhatian dariku." Jawabnya penuh alasan.
'Aku sudah menikah Bimo, mana mungkin ada lowongan. Meski ada, aku pun tidak tertarik denganmu. Kedua orang tua kamu pun tidak kalah pedasnya dengan ibunya Hendi, tapi pedasnya ibumu gemesin. Kejamnya ibumu tidak sekejam ibunya Hendi, tapi memang sama sama pedas. Cuman yang satu nyegrakin tenggorokan, yang satunya hidung.' Batin Vina sambil mengingat ingat saat dirinya dijadikan obyek memalukan.
"Aku turun disini saja, Bim. Aku takut, nanti ibumu melihatku. Aku lagi males lari dan lagi males main kejar kejaran dengan ibumu." Ucap Vina bergidik ngeri saat teringat dirinya dikejar sama ibunya Bimo.
"Kok gitu sih, Vin. Padahal aku ingin mampir di rumah kamu, sudah lama aku tidak main di tempat kamu. Terakhir aku main ditempat kamu, saat ibumu membawakan sapu untukku." Ucap Bimo yang juga teringat masa masa mudanya.
"Aaah! jangan mengingat ingat orang tuaku, aku jadi sedih dan merindukan beliau."
"Maaf, Vin. Kalau begitu hati hati, aku mau narik lagi." Ucapnya dan kembali melajukan mobilnya.
Sedangkan Vina dengan santainya berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumahnya. Semua orang ataupun tetangga sekitar semua heboh akan kedatangan mobil mewah yang sudah terparkir didepan rumahnya.
Vina yang melihat dari kejauhan pun ikut kaget banyak kerumunan orang orang di depan rumahnya. Dengan cepat, Vina berlari agar cepat sampai didepan rumahnya.
Vina terpenganga saat melihatnya, dirinya tidak percaya dengan orang orang yang berkerumun di depan rumahnya.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Vina pada salah satu tetangganya.
"Loh, kenapa kamu tidak tahu. Ini loh, rumah kamu akan di renovasi. Sekarang adik kamu sudah dibawa jalan jalan." Jawabnya menjelaskan.
"Kak Arsy dan kak Raska, Hanum ..."
__ADS_1
"Kak, selamat ya!" ucap Hanum membuat Vina bingung sendiri.
"Kenapa kamu pulang, kamu kabur?" tanya Rska, lagi lagi Vina bingung dibuatnya. Dirinya sendiri tidak dapat mencerna ucapan dari Hanum maupun Raska.
"Maksudnya? aku benar benar tidak mengerti, tolong jelaskan kepadaku. Dimana Diki adikku, aku ingin bertemu dengannya.
" Adik kamu sedang diajak untuk memilih kampus yang disukainya."
"Apa?"
"Iya, Vina. Ayo, aku antar kamu pulang. Tidak baik kamu meninggalkan suami sendirian di rumah." Ujar Arsy ikut menimpali.
"Jadi ... kalian sudah tahu, jika aku...." Ucapnya terhenti, Arsy langsung menempelkan jari telunjuknya pada bibir Vina.
"Ayo, aku antar pulang. Jangan menolaknya, kasihan suami kamu."
'Cih! suami aku, ini pasti ulah bapak tua itu. Benar benar menyebalkan, aku kira aku akan tidur pulas di rumahku sendiri. Rupanya sudah ada rencana sebelumnya, benar benar mimpi buruk.' Batin Vina berdecak kesal. Pernikahan yang benar benar konyol, pikir Vina.
Tiba tiba ada seorang ibu paruh baya datang ikut melihat keramaian didepan rumah Vina.
"Ada apa ini, kok rame rame." Tanyanya penasaran.
"Eh! ibunya Hendi, itu loh Bu. Rumah Vina sedang mau di renovasi, sepertinya dapat bantuan. Tadi adiknya Vina juga sudah pergi dengan mobil mewah, sepertinya mau diajak jalan jalan." Jawabnya menjelaskan.
Dengan jeli, ibunya Hendi dapat menangkap sosok laki laki yang tidak asing baginya.
"Apakah laki laki itu, yang memberi bantuan?" tanya ibunya Hendi sambil menunjuk ke arah Raska dan istrinya yang hendak masuk kedalam mobil.
"Iya, itu orangnya." Jawabnya membenarkan.
"Oooh!" Ibunya Hendi pun langsung memasang muka kesalnya.
__ADS_1
'Ada hubungan apa, antara Vina dan orang kaya itu. Kenapa begitu dekat dengan mereka, padahal dari dulu tidak pernah ada tamu orang kaya. Sedangkan laki laki itu adalah Bosnya Hendi di kantor yang pertama kerja, kemudian dipindahkan di kantor saudaranya. Aaah! kenapa aku jadi penasaran. Jangan jangan mau dijadikan istri kedua, bisa jadi.' Batin ibunya Hendi dengan prasangka buruknya.
"Aku yakin, Vina pasti mau dijadikan istri kedua. Biasanya kalau istrinya tidak mendapatkan keturunan, pasti menyewa perempuan untuk dijadikan istri kedua. Setelah anaknya lahir di usir, dan sebagai bayarannya ya seperti ini. Dibangunkan rumah mewah dan diberi uang banyak." Ucap ibunya Hendi asal bicara.
"Aduh ibu... jangan punya pikiran buruk, tidak baik. Jangan suudzon, siapa tahu saja balas budi karena sudah menolong anaknya atau istrinya. Berprasangka baik itu jauh lebih baik, dari pada suudzon." Jawabnya mengingatkan.
"Dibilangin kok ngeyel, pasti sudah disumpel sama Vina. Apalagi kalau bukan pake duit, iya dwit." Ucapnya kemudian segera pergi dari kerumunan.
Sedangkan Vina sedang dalam perjalanan bersama Arsy dan Hanum. Vina hanya diam, dirinya tidak tahu harus bicara apa.
Sedangkan Arsy pun bingung untuk memulainya, ditambah lagi jika Vina mengetahui bahwa dirinya adalah mantan istri suaminya.
Begitu juga dengan Raska, dirinya bingung untuk mengucapkan kata maaf atas rencana pamannya yang menikahkannya dengan paksa.
Sedangkan Hanum tertidur pulas, membuat Vina menjadi kikuk.
Setelah memakan waktu yang cukup lama di perjalanan, tidak terasa sudah sampai di halaman rumah baru milik Darma.
"Vin, kita sudah sampai. Ayo, kita turun."
Vina pun kaget mendengarnya, tanpa disadari bahwa dirinya sudah kembali lagi di rumah yang baru beberapa jam dirinya menginjakkan kakinya bersama Darma, suaminya.
"Mita sudah sampai? yang benar saja, kak .." tanya Vina tidak percaya.
"Benar, kita sudah sampai. Ayo, kita turun." Jawabnya dan tersenyum. Vina hanya menelan salivanya saat mendengar jawaban dari Arsy.
'Yang benar saja, aku akan tinggal bersama laki laki Jaka sembung itu. Aku yakin, aku pasti sedang bermimpi buruk. Tidak mungkin aku bersuamikan dengan laki laki itu.' Batinnya penuh kesal.
Sedangkan Vina, mau tidak mau tetap ikut masuk kedalam rumah. Meski hatinya sangat berat untuk bertemu dengan suami dadakannya.
'Melakukan ina ina saja, tidak. Eeeh main suruh nikah saja, das*ar orang tua Sableng. Pantas saja, anaknya Jaka Sembung. Nanti cucunya apa lagi, ya.' Batin Vina dengan perasaan kesalnya.
__ADS_1