Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Kegagalan


__ADS_3

Setelah membayari bubur ayamnya, Darma dan Vina memilih untuk segera pulang. Selain perutnya yang sudah lapar, keduanya pun tidak ingin makanannya akan berubah teksturnya.


"Sayang, sepertinya ada yang tidak beres deh. Aku teringat dengan apa yang tadi ibu bicarakan, memangnya perkebunan milik kakek selama ini di pekerjakan siapa? orang yang dipercaya kah? atau ... ada udang dibalik batu." Ucap Vina sambil berjalan sambil membicarakan sesuatu yang menurutnya sangat mengganjal dipikirannya.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan di rumah. Sekaligus aku mau meminta bantuan pak Bejo untuk mencari kebenaranya, sayang sekali aku tidak seperti Raska yang memiliki anak buah yang handal." Jawab Darma yang merasa dirinya selalu menggampangkan sesuatu.


"Hem ... kenapa tidak kamu coba mencari anak buah yang handal?" tanya Vina.


"Aku tidak seperti Raska, karena aku sudah merasa nyaman ada kedua orang tuaku. Berbeda dengan Raska, yang didikannya sangat keras dari kakek." Jawab Darma yang menyesali akan masa lalunya yang selalu berbuat santai.


"Sudah lah, jangan diteruskan lagi ceritanya. Nanti kita lanjutkan kembali setelah sarapan pagi." Ujar Vina menyudahi obrolanannya.


Setelah cukup lama berjalan kaki, Darma dan Vina kini telah sampai di halaman rumah. Keduanya pun memasuki rumah yang cukup sederhana, namun dengan pekarangan yang sangat luas. Bahkan disekelilingnya banyak berbagai macam tanaman buah dan sayuran dan juga perikanan. Hanya saja tidak ada peternakan, selain bau yang menyengat. Takut mengganggu pernapasan para tetangga.


Setelah sampai di ruang makan, Vina maupun Darma segera mencuci tangannya. Kemudian mengajak Pak Bejo dan ibu Meli untuk ikut sarapan pagi bersama.


"Ibu Meli, ayo kita sarapan pagi. Kebetulan tadi waktu jalan jalan disekitaran sini, saya dan suami membeli bubur ayam." Ajak Vina dengan ramah, ibu Meli sendiri sedikit sungkan untuk menerima ajakan dari majikannya.


"Tapi, Nona ... saya tidak pantas untuk duduk bersama Nona. Lebih baik Nona sarapan pagi dengan Tuan, biar saya sarapan paginya dibelakang." Jawab ibu Meli sedikit malu, dan tentunya tidak enak hati.

__ADS_1


"Jangan malu terhadap kami, Bu. Kita disini tidak memiliki siapa siapa untuk dijadikan saudara selain ibu dan pak Bejo." Ucap Darma ikut menimpali.


"Pak Bejo, ayo kita sarapan pagi bersama. Jangan ada yang enggan maupun malu, aku dan istri di desa ini tidak memiliki siapa siapa selain kalian berdua. Maka temanilah kami untuk sarapan pagi. Tidak hanya itu, makan siang maupun malam pun akan tetap seperti biasanya, yaitu bersama dalam satu meja." Panggil Darma pada Pak Bejo untuk ikut sarapan pagi bersama dalam satu meja.


"Tapi, Tuan." Jawabnya terhenti.


"Tidak ada tapi tapian, ayo kita sarapan pagi." Ajak Darma sambil meletakkan bubur ayamnya di posisi masing masing.


Darma duduk bersebelahan dengan sang istri, sedangkan Pak Bejo bersebelahan dengan ibu Meli. Mau tidak mau, Pak Bejo maupun ibu Meli akhirnya tidak bisa untuk menolaknya.


Setelah menikmati bubur ayam yang telah dijual oleh bapak bapak penjual keliling, Vina dan Darma kembali masuk ke kamar. Sedangkan ibu Meli tengah membereskan meja makan, Pak Bejo sendiri menyirami tanaman bunga yang berada didepan rumah.


"Sayang, bagaimana kalau kita meminta Kak Raska untuk membantu kita. Bukankah anak buah Kakak sangat handal dalam melakukan penyelidikan. Bahkan, mencari wanita yang dicintainya pun dapat terkuak dengan mudahnya. Tidak hanya itu, kamu juga pernah bilang padaku bahwa yang membongkar kebusukan mantan istrimu juga Raska lah yang melakukan penyelidikan." Ucap Vina membuka obrolannya.


"Aku malu, aku sudah mengecewakannya. Aku tidak bisa menjaga istrinya, dan harus kecewa karena aku." Ujar Darma yang merasa sangat bersalah atas kejadian yang sudah membuat mantan istrinya tersiksa batinnya.


"Itu masa lalu, kenapa kamu mengingatnya. Bukankan sekarang sudah baikan? lantas untuk apa kamu malu dan mesti ragu. Hanya saudara laki laki kamu itu yang dapat menolong warga kampung disini. Kasihan mereka yang harus mendapatkan bantuan dari kakek, dan kini harus diambil alih oleh orang yang tidak bertanggung jawab." Jawab Vina mencoba mengingatkan.


"Akan aku pikirkan kembali, aku tidak ingin melakukan sesuatunya dengan ceroboh. Oh iya, apa kamu bersedia untuk tinggal bersamaku di kampung ini? aku sekarang bukanlah suami kantoran. Justru aku akan mulai terjun di perkebunan, bahkan persawahan. Memang sih, bukan jadi buruh. Tetapi, tetap saja terjun ke lapangan untuk meninjau hasilnya dan keadaan." Ucap Darma menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tidak mempermasalahkannya, apapun yang kamu kerjakan akan aku terima hasilnya. Asal tetap bersamamu dan saling menerima kekurangan satu sama lainnya, itu sudah membuatku lebih baik." Jawab Vina dengan menatap lekat wajah suaminya.


Darma pun tersenyum mendengarnya, lagi lagi dirinya teringat saat pertama kali bertemu dengan sang istri. Pertemuan yang benar benar konyol, pikirnya.


"Sayang, aku sudah terasa gerah nih. Aku mandi terlebih dahulu ya, sayang." Ucap Vina yang sudah mulai terasa gerah pada bagian bagian tertentu. Sedangkan Darma mulai berpikir dan mencari ide, tanpa pikir panjang langsung menggendong istrinya masuk ke kamar mandi.


"Sayang, lepasin dong. Turunkan aku, kamu mau ngapain sih sayang? jangan aneh aneh deh, pagi ini aku mendapat panggilan bulanan. Jadi, kita mandinya bergantian." Ucap Vina sambil senyum mengembang, sedangkan Darma yang mendengarnya pun hanya memasang muka masamnya. Seakan seperti tercekik begitu saja, mau tidak mau harus menahannya.


Dengan pelan, Darma menurunkan istrinya. Kemudian, segera ia keluar dari kamar mandi dan menyibukkan dirinya dengan laptopnya.


Sedangkan Vina kini tengah membersihkan diri dengan telaten, bahkan tidak terlewatkan sedikitpun.


Setelah selesai membersihkan diri, Vina segera keluar dari kamar mandi. Lalu, setelah itu dirinya mengenakan pakaian santainya. Darma sendiri yang melihat istrinya sudah mandi, cepat cepat ia pergi ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan Darma, hanya Darma yang dapat mengetahuinya.


Serasa sudah cukup untuk membersihkan diri, Darma segera mengenakan pakaian santainya. Lalu mendekati istrinya yang sedang duduk didepan cermin sambil menyisiri rambutnya, setelah itu ia meraih pengering rambut yang tidak jauh dari jangkauannya.


Dengan pelan, Darma membungkukkan punggungnya. Kemudian, Darma mengambil kesempatan emas untuk mencium pipi milik istrinya. Vina yang mendapati ciuman dari sang suami pun tersenyum merekah di bibirnya.


"Sini, aku bantu kamu untuk mengeringkan rambut kamu." Ujar Darma sambil meraih pengering rambut yang berada ditangan milik istrinya, Vina sendiri tidak dapat melakukan penolakan.

__ADS_1


Dengan sangat telaten, Darma mengeringkan rambut istrinya. Vina hanya menatap suaminya lewat bayangan dari cermin yang berada didepannya. Darma sendiri tidak begitu fokus dengan cermin, meski sang istri tengah memperhatikannya.


__ADS_2