Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Pilihan yang sulit


__ADS_3

Arsy masih dilema akan permintaan suaminya untuk berobat ke Luar Negeri, perasaannya pun berkecamuk tidak karuan. Arsy hanya bisa diam membisu, tanpa berkata apa apa didepan suaminya.


"Sayang, kenapa masih diam. Semangat dong, sayang... kita akan berjuang bersama. Percayalah denganku, usaha tidak akan membohongi hasil. Jangan kamu pikirkan terlalu dalam, semua pasti akan berlalu." Ucap Darma meyakinkan istrinya.


"Baiklah, aku nurut saja apa yang kamu suruh." Jawab Arsy pasrah.


"Nah, begitu dong. Kamu harus semangat, dan kita akan berjuang bersama." Ucap Darma menyemangati.


"Terimakasih ya, sayang... aku semakin cinta denganmu." Jawab Arsy tersenyum bahagia.


Arsy segera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, sedangkan Darma kini sudah berada di kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelan itu, Arsy merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemudian Arsy mengganti posisinya dengan memiringkan tubuhnya, dirinya berusaha untuk memejamkan kedua matanya agar bisa terlelap dari tidurnya.


Lambat laun, Arsy tertidur dari posisi miringnya. Darma yang sudah selesai mandinya, kini dirinya segera menarik kursi kecil. Kemudian ditatapnya wajah istrinya dengan lekat. Perasaannya hancur berkeping-keping, yang dimana harapannya yang sudah disusun sejauh dini hari. Tetapi takdir berkata lain, Arsy maupun Darma sama sekali tidak kepikiran dengan hal buruk yang akan menimpanya.


Keduanya sama sama bersemangat untuk melewati hari harinya sebelum hari pernikahannya. Namun disaat usai resepsi pernikahannya yang begitu megah dan mewah, dan semua stasiun televisi tengah menayangkan berita pernikahannya. Namun kenyataannya tidak sesuai yang di angan angankannya.


Tidak lama kemudian, Darma segera tidur disamping istrinya. Tiba tiba pendengaran Darma di kagetkan dengan suara ketukan pintu, kemudian segera membukanya.


Ceklek, Darma membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Bu?" tanya Darma penasaran.


"Tidak ada apa apa, Ibu dan Ayah hanya ingin membicarakan sesuatu dengan kamu. Apakah kamu bisa?" jawab sang Ibu dan bertanya, Darma pun hanya mengangguk dan mengekor dibelakang Ibunya menuju ruang kerja sang Ayah.

__ADS_1


"Masuklah," perintah sang Ibu. Sedangkan Ayahnya sudah duduk di ruang kerjanya.


"Darma, duduklah. Ayah ingin bicara sama kamu, ini penting untuk masa depan keluarga kita dan juga masa depan kamu." Ucap sang Ayah, Darma pun segera duduk. Begitu juga sang Ibu, duduk di dekat Darma.


"Ada apa sih, Yah?" tanya Darma sedikit merasa curiga.


"Sampai kapan kita harus menunggu kamu yang akan membujang berstatus suami?" jawab sang Ayah balik bertanya.


Dengan berat, Darma menarik nafas panjangnya. Agar kegusaran dalam hatinya tidak membuahkan emosi.


"Maksud Ayah, apa?" tanya Darma sedikit lesu. Darma sendiri bisa menangkap apa yang diinginkan Ayahnya. Namun Darma pura pura tidak tahu.


"Kamu juga belum mengerti maksud Ayah, apa? seharusnya kamu dapat menangkap apa yang Ayah katakan." Jawab sang Ayah menjelaskan.


"Apa kamu lupa, Raska Gantara adalah ancaman untuk kamu. Jika kamu tidak segera memiliki keturunan laki laki maka kita hanya mendapatkan 25%." Jawab sang Ayah mengingatkan.


"Lalu apa yang Ayah inginkan. Ayah tahu sendiri, kan? istri Darma sedang sakit." Ucap Darma.


"Kamu harus menikah lagi, dan ceraikan istrimu." Jawab sang Ayah tanpa beban.


"Apa...!!!" brak... ucap Darma lantang dan menggebrak meja.


"Darma! mau tidak mau kamu harus menikah lagi. Itu sudah keputusan Ayah, dan sampai kapan kamu akan bertahan menahan nafsu kamu sendiri." Jawab sang Ayah bertanya, Darma masih diam membisu.

__ADS_1


Benar kata Ayah, sampai kapan aku bertahan menahan nafsuku. Aku lelaki normal, yang juga menginginkan kebahagiaan yang sempurna. Tapi.. aku pun tidak ingin menyakiti perasaan istriku. Bagaimanapun aku sudah berjanji untuk menjaganya. Batin Darma


"Kenapa diam, tidak bisa menjawab?" tanya Ayahnya lagi.


"Darma belum bisa, Lagian Darma juga belum mempunyai pandangan yang bisa Darma nikahi. Biarlah waktu akan berjalan dengan sendirinya, lagian Ayah juga sudah mempunyai perusahaan. Lantas kenapa bingung, yang terpenting untuk kebutuhan sehari hari masih cukup kan?" jawab Darma menjelaskan.


"Ayah memberimu kesempatan satu mimggu. Jika kamu tidak mempunyai jawban, maka kamu harus menikah dengan wanita pilihan Ayah dan Ibu. Mau tidak mau kamu harus menikahinya." Ucap sang Ayah mengancam.


"Terserah Ayah, Darma sudah muak dengan kemauan Papa. Dulu Ayah dan Ibu sangat menyukai Arsy, dan menyuruh kami berdua untuk segera menikah. Sekarang setelah mengetahui Arsy mempunyai penyakit, Ayah dan Ibu ingin Darma segera menikah lagi. Pers*t*n semua!" jawab Darma dengan emosi yang memuncak dan langsung meninggalkan Ayah dan Ibunya di ruang kerja, lalu membanting pintu yang lumayan cukup keras dan juga mengagetkan.


Darma segera masuk kedalam kamar, dan dilihatnya wajah istrinya yang begitu teduh. Darma langsung berbaring disamping istrinya, lalu ditatap nya langit langit kamarnya. Darma merasa sudah tidak tahan akan sikap kedua orang tuanya yang selalu mengaturnya.


Maafkan aku, istriku.. aku sebenarya hanya mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah dengan kamu, dan aku ingin selalu bersamamu. Sudah cukup panjang perjalanan asmara kita, namun kenapa aku harus memilih jawaban yang sangat sulit. Tapi... apa aku mampu untuk menahan nafsuku. Aku laki laki normal, yang juga butuh sentuhan lembut. Yang dimana ada seseorang wanita yang selalu memberiku kehangatan untuk bercinta. Tapi... kamu sendiripun tersiksa pastinya. Aa...... bedebah!!! batin Darma dengan perasaan kesalnya.


Karena kegusaran dalam pikirannya, Darma langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Karena pikirannya yang panas dan juga jantungnya yang tidak karuan, emosi dan nafsu kini beradu dalam pikirannya.


Dengan emosinya yang tidak dapat dikontrol, Darma segera ke kamar mandi untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan air. Arsy yang tiba tiba terbangun dari tidurnya dan seketika itu juga Arsy mencari keberadaan suaminya. Kemudian Arsy mendengar suara percikan air di kamar mandi.


Arsy sendiri hanya bersandar di tempat tidur sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


Dan tidak lama kemudian, Darma keluar dari kamar mandi. Arsy yang melihat suaminya merasa heran, dan juga merasa bingung dan juga cemas.


"Mas Darma kenapa? kok malam malam begini mandi?" tanya Arsy sedikit takut, karena Arsy belum juga memberikan hak suaminya. Dengan perasaan bersalah, Arsy kemudian memilih untuk diam. Karena dirinya takut jika menyakiti perasaan suaminya.

__ADS_1


"Aku hanya merasa gerah, badanku panas." Jawab Darma beralasan, namun Arsy tidak percaya. Karena Arsy tengah berpikir, bahwa suaminya menginginkan haknya. Tetapi keadaan yang tidak bisa menyerahkan mahkotanya yang terluka untuk suami tercintanya. Arsy hanya diam beribu bahasa, agar dirinya tidak salah ucap.


__ADS_2