Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Tidak sengaja


__ADS_3

Perjalanan yang begitu melelahkan bahkan sangat menguras pikirannya, Arsy telah sampai didepan rumah yang bertuliskan Gubuk masa depan anak anak. Perasaan Arsy pun terasa sangat lega, meski hampir petang Arsy telah sampai.


Didepan pintu gerbang yang ukurannya tidak begitu lebar. Ada sosok laki laki yang sudah berdiri, tatapannya pun terlihat menakutkan. Arsy hanya tertunduk dan tidak berani menatapnya.


"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang. Kamu kira tidak akan mendapat hukuman, masuk dan bereskan ruanganku." Ucap Tara dengan tatapan sinisnya.


"Tapi.... bukankah waktunya sudah hampir gelap, aku capek dan ingin beristirahat." Jawab Arsy dengan lesu.


"Apa kamu lupa, kamu masih mempunyai hukuman. Jadi... cepat lakukan yang sudah aku perintahkan." Ucap Tara langsung pergi meninggalkan Arsy yang masih berdiri didepan pintu gerbang.


Sedikitpun tidak memiliki rasa kasihan, bahkan dengan entengnya lalu pergi begitu saja. Sepertinya hati dia terbuat dari batu, sampai sampai seenaknya sendiri. Mentang mentang pemilik rumah ini, berbuat semaunya. Sifat angkuh begitu dibilang kakak yang sangat baik, cih.... menyebalkan. Gumam Arsy sedikit kesal.


Arsy pun segera masuk kedalam dan segera melakukan perintah Tara yang menyuruhnya untuk membersihkan ruangannya.


"Kak Arsy, kakak kenapa baru pulang? kakak kerja?" tanya Hanum sambil membaca buku.


"Kakak belum mendapatkan pekerjaan, mungkin hari ini bukan hari ini bukan hari keberuntungan kakak. Kalau begitu, kakak mau beres beres dulu ke ruangan kak Tara. Kamu belajar saja yang rajin bersama yang lainnya. Tidak apa apa, kan?" jawab Arsy beralasan.


"Ini kan sudah gelap, kenapa kakak beres beres. Kakak pasti capek, biar Hanum yang bilang sama kak Tara. Nanti kalau kakak sakit, bagaimana?" ucap Hanum yang merasa kasihan melihat Arsy yang baru saja pulang harus mendapatkan tugas.


"Tidak apa apa, kakak sudah terbiasa melakukannya di rumah kakak dulu. Jadi... Hanum tidak perlu khawatir dengan kakak. Kamu cukup belajar saja kakak sudah sangat senang." Jawab Arsy berbohong, sedangkan Hanum mengangguk dan kembali duduk bersama temannya untuk belajar.

__ADS_1


Padahal kakak tidak pernah melakukan pekerjaan semacam ini, semua pelayan yang melakukannya. Aku bisa melakukannya pun karena aku selalu memperhatikan para pelayan bekerja. Soal memasak aku memang bisa, itu semua karena mama yang selalu mengajakku untuk membantunya memasak. Batin Arsy sambil berjalan menuju ruangan Tara yang akan dibereskannya.


Tok tok tok.. Arsy mengetuk ngetuk pintu ruangan khusus milik Tara.


"Masuk," perintah Tara yang masih duduk dan fokus pandangannya dilayar komputernya.


"Maaf, aku mau membersihkan ruangan ini." Ucap Arsy dengan gugup dan perasaannya yang bercampur aduk.


"Silahkan, dan ingat! jangan sampai ada benda yang jatuh. Jika sampai kamu menjatuhkan benda berhargaku, maka aku tidak akan segan segan untuk memberi hukuman yang lebih berat." Ucapnya memberi ancaman.


"Iya, aku mengerti." Jawab Arsy, kemudian dirinya segera membereskan ruangan tersebut dengan sangat berhati hati. Arsy takut melakukan kesalahan yang fatal, ditambah lagi ruangan tersebut benar benar isinya barang barang yang sangat berharga.


Langkah demi langkah, Arsy merapikan buku buku yang tersusun tidak beraturan. Tiba tiba Arsy menemukan sebuah foto keluarga diantara buku buku yang tersusun dan membuatnya sontak kaget. Dengan sigap Arsy langsung menyembunyikan foto tersebut.


Arsy pun kaget atas benda yang telah jatuh olehnya. Tara yang seketika itu juga kaget dan menetap tajam ke arah Arsy.


"Apa....!!!!" teriak Tara yang langsung berdiri dan menatap Arsy dengan jarak yang sangat dekat dan tatapan matanya yang sangat tajam seakan ingin menerkamnya hidup hidup.


Seketika itu juga Arsy langsung memejamkan kedua matanya karena tidak kuasa menatap Tara yang dimana membuatnya sangat ketakutan.


"Maafkan aku, maafkan aku." Ucap Arsy berulang ulang sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Buka! mata kamu!" bentak Tara dengan emosi yang meluap.


Arsy masih memejamkan kedua matanya, dirinya masih ketakutan akan suara Tara yang menggelegar ditelinganya.


"Aku tidak sengaja, aku mohon maafkan aku. Aku benar benar tidak sengaja, aku mohon maafkan aku." Ucap Arsy berulang ulang karena merasa bersalah besar dan merengek meminta maaf. Tara yang semakin yakin, bahwa suara memohon minta maaf adalah suara wanita yang pernah dirampas gelangnya.


"Kamu bilang apa, minta maaf? kamu kira aku akan memaafkan kamu. Lihatlah, benda yang kamu jatuhkan adalah benda yang sangat berharga bagiku. Benda itu adalah milik kedua orang tuaku yang sudah meninggal, dan kamu sudah merusaknya. Jadi jangan salahkan aku jika kamu harus menjadi budakku sampai aku bosan menjadikan kamu sebagai budakku." Ucap Tara memberi sebuah ancaman untuk Arsy.


"Tapi... sampai kapan, aku pun ingin menikmati hidupku dengan bebas." Jawab Arsy meminta keringanan.


"Sampai aku bosan dengan kamu. Kalau kamu bisa menggantikan barang yang sama, maka aku akan melepaskan hukuman untuk kamu." Ucap Tara yang masih pada pendiriannya.


"Itu namanya pemerasan, aku pun ingin bekerja, dan aku ingin memiliki masa depan yang cerah." Jawab Arsy berusaha memohon.


"Kamu minta gaji berapa? hah! aku akan memberimu sebuah rumah dan mobil setelah aku bosan dengan kamu." Ucap Tara dengan menyunggingkan senyum sinisnya. Arsy yang melihat senyuman sinis dari sudut bibir Tara membuat Arsy semakin muak melihatnya.


"Aku tidak perlu rumah dan mobil, cukup kebebasan untuk aku bisa bekerja di luar. Aku ingin mendapatkan gaji yang normal, bukan gaji gila dari kamu. Aku tidak menyukainya, anggap saja aku berhutang budi. Jadi aku bekerja tanpa gaji, tapi aku minta izinkan aku untuk bekerja di luar sana." Jawab Arsy berusaha menjelaskan.


"Akan aku pertimbangkan, sekarang lebih baik kamu bereskan semuanya. Dan ingat! jangan ada yang jatuh lagi. Jika masih ada yang jatuh, aku akan membuatmu lebih menyakitkan. Didalam ruangan ini adalah semua kenangan dari kedua orang tuaku, bagiku harganya tidak ternilai. Siapapun yang merusaknya, maka harus menerima hukuman dariku, termasuk kamu." Ucap Tara yang kemudian ke luar dari ruangannya dan masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


Sedangkan Arsy perasaannya berubah menjadi dongkol, yang dimana dirinya sangat kesal akan peraturan yang dibuat oleh Tara. Bahkan dirinya harus menjadi budaknya sampai Tara bosan.

__ADS_1


Hukuman macam apa tadi, aku harus menjadi budaknya. Memangnya aku ini terlihat sangat terhina kah? sehingga menjadikanku sebagai budaknya. Das*ar orang aneh, apa yang dia mau harus terpenuhi. Memangnya dia itu sekaya apa coba, rumah seperti ini saja sudah sombong. Gumam Arsy yang sambil mengambil pecahan barang yang sudah dijatuhkannya.


Meski kesal dan juga benci, Arsy tetap tidak berani untuk melawan. Ditambah lagi dirinya tidak memiliki tempat tinggal.


__ADS_2