Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Malam yang menegangkan


__ADS_3

Raska dan kedua sahabatnya kini sedang menikmati kebersamaannya. Sedangkan Arsy sedang menikmati kebersamaannya bersama anak anak asuh suaminya dan bersama Alia juga istri Tirta.


"Tirta, Raska. Aku pulang, ya. Aku ada kepentingan bersama Tuan Angga, pamannya Tirta." Ucapnya berpamitan.


"Kepentingan apa? mau dijodohkan dengan cucunya Tuan Angga, hah?" ledek Raska sambil senyum mengejek.


"Enak saja, bukanlah. Aku ada kerja sama dengan perusahaan adiknya yang berada di Amerika. Aku akan berangkat ke Amerika dalam waktu dekat ini. Soal urusan kamu sudah bereskan, kan? dan sudah tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan kamu, bukan?" jawab Boni dan bertanya. Sedangkan Raska hanya mengangguk.


"Hati hati, kalau pulang bawalah pendamping hidupmu." Ucap Raska sambil memicingkan alisnya.


"Baik, sampai ketemu dengan kalian berdua. Aku pasti kembali, aku hanya sementara." Jawabnya kemudian berpamitan.


Ketiganya saling berpelukan satu sama lain, kemudian Boni pergi meninggalkan pesta pernikahan Raska.


Setelah Boni pamit pulang, kemudian Tirta yang juga ikut pamit untuk pulang.


"Bro. Aku pamit pulang juga, ya. Kasihan istriku yang sedang hamil, aku takut istriku kelelahan. Sebentar lagi kamu pasti juga akan mengalami sepertiku. Percayalah, pilihan dari kakek kamu adalah yang terbaik untuk kamu." Ucap Ferdi meyakinkan dan berpamitan.


"Terimakasih, Tir. Hati hati dijalan." Jawabnya, Tirta pun tersenyum dan dibalas oleh Raska.


Setelah bayangan Tirta sudah tidak nampak lagi, kini para tamu undangan yang lainnya ikut berpamitan untuk pulang. Kini tinggallah kesunyian di ruangan pesta, hanya suara para pelayan yang sedang membereskan ruangan pesta pernikahan Raska dan Arsyla.


Pesta pernikahan yang tidak begitu megah, dan hanya sebuah pesta yang cukup sederhana karena permintaan sang mempelai wanita. Raska maupun sang kakek pun menerima permintaannya.


Arsy masih memasang wajah tegang dibawah tangga. Dirinya bingung untuk masuk ke kamar milik suaminya, karena dirinya takut jika dirinya tidak satu kamar dengan sang suami.

__ADS_1


Raska yang melihat sosok Arsy yang sedang mondar mandir di bawah tangga pun penasaran.


"Hei, kamu kenapa. Ada yang sedang ditunggu?" tanyanya penasaran.


"Aaa iya, ada yang sedang aku tunggu." jawabnya asal.


"Siapa?" tanyanya lagi sambil menaikkan satu alisnya.


"Siapa lagi, kalau bukan kamu."'Jawab Arsy sedikit gugup.


"Kenapa tidak menungguku di kamar, kamu takut sendirian?" tanya Raska dengan entengnya. Sedangkan Arsy kikuk dibuatnya.


"Ah iya, ya. Aku lupa, aku kira aku sedang di depan hotel." Ucapnya pura pura bodoh, sedangkan Raska sendiri cuek dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Ini kenapa lah, otakku. Seharusnya dia ini sadar, aku kan menikah dengannya tanpa ada rasa cinta. Seharusnya dia tahu maksudku, jika aku takut masuk ke dalam kamarnya. Aaah... bukankah laki laki ini memang susah di tebak, seperti halnya waktu makan. Aku yang mendapat sialnya. Hemmm Gumamnya berdecak kesal.


Dug!! "Awwww.." Arsy meringis kesakitan, saat Raska menutup pintu kamar yang dimana Arsy yang langsung ingin masuk namun justru keningnya tiba tiba membentur pintu kamar.


"Kenapa?" tanya Raska santai. Sedangkan Arsy masih mengusap ngusap keningnya yang lumayan sakit karena benturan dari pintu secara mendadak.


"Tidak apa apa, hanya sedikit nyeri." Jawabnya sambil meringis, sedangkan Raska segera mengecek kening milik Arsy. Dan dilihatnya lumayan cukup membekas warna merah karena benturan dari pintu.


"Cepetan masuk, dan kunci pintunya." Ucap Raska sambil mencari salep untuk mengobati rasa nyeri pada kening Arsy.


Arsy sendiri sangat takut saat disuruh mengunci pintu. Yang dimana pikirannya melayang kemana mana. Perasaan Arsy jauh lebih takut saat berada dikamar bersama Raska. Arsy benar benar merasakan gugup dan tegang saat satu kamar dengan laki laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.

__ADS_1


Ya Tuhan... apa karena kita berdua tidak saling mencintai, hingga jantungku berdegup sangat kencang dan juga rasa takut pastinya. Apa aku bisa tidur satu kamar dengannya? rasanya tidak mungkin, pasti setelah ini aku atau dia yang akan tidur di sofa. Yang jelas pasti aku yang akan tidur di sofa itu. Sungguh tidak bisa aku bayangkan. Gumamnya dengan perasaan campuraduk.


"Hei.. kenapa kamu berdiam diri disitu. Cepatan kesini dan duduklah, aku akan mengobatimu." Perintah Raska sambil menunjukkan obat salep yang berada di tangannya.


Dengan gugup dan cemas, Arsy mendekati Raska yang sudah duduk diatas tempat tidur. Dengan pelan, Arsy langsung duduk disampingnya.


Sikapnya yang dingin, terkadang membuat Arsy salah tingkah dan juga membuat Arsy salah berucap.


"Diam, jangan protes." Ucapnya lalu mengoleskan salep pada kening istrinya. Arsy hanya bisa nurut dan diam, karena diriny takut jika salah ucap.


Setelah selesai mengoleskan salep, Raska langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Arsy duduk diatas tempat tidur sambil menyandarkan tubuhnya.


Benarkah ini akan menjadi kamarku? atau... ini hanya mimpi buruk. Kamarnya memang benar benar sangat elegan dan juga terlihat memukau. Mimpi apa aku semalam, sampai sampai aku sudah menikah lagi. Drama apa lagi yang akan aku terima, mungkinkah akan jauh lebih buruk lagi. Atau.... aaaaaaa gumam Arsy tiba tiba tercengang saat melihat sosok Raska yang hanya melilitkan handuknya dan sangat terlihat jelas dada bidangnya yang begitu menggoda penglihatannya Arsy. Ditambah lagi dengan gaya rambutnya yang masih basah, membuat jantung Arsy berdegup tidak beraturan.


Tampan sekali suamiku, benarkah dia ini suamiku? aaah rasanya aku ini mimpi. Arsy.. sadar Arsy... kamu itu tidak cinta dengannya. Gumam Arsy yang masih bengong melihat sosok Raska sehabis mandi.


"Naksir?" ucap Raska sambil melemparkan handuknya dan menutup wajah Arsy hingga membuyarkan lamunannya.


"Apa apaan sih kamu ini, aku jadi susah bernafas." Ucapnya dengan memperlihatkan wajahnya yang masam. Raska tetap cuek dan tidak perduli dengan ucapan dari Arsy. Sedangkan Arsy mengerucutkan bibirnya sambil melirik ke arah Raska. Namun sayangnya, Raska hanya mengumpatkan senyumannya sambil menyisiri rambut hitamnya.


"Buruan segera mandi, apa perlu aku yang memandikanmu. Cepetan, sebelum aku berubah pikiran." Ucap Raska yang masih fokus di depan cermin.


Arsy yang mendengarnya langsung bergegas bangkit dari duduknya sambil membawa handuk yang dilemparkan Raska masuk ke kamar mandi.


Raska yang melihat ekspresi Arsy hanya senyum senyum tidak jelas saat Arsy sudah masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Arsy yang sudah berada didalam kamar mandi langsung mengunci pintunya dan segera berendam untuk menghilangkan rasa penatnya yang dimana dalam seharian sibuk bertemu dengan para tamu undangan.


Sedangkan Raska sambil menunggu rasa kantuknya, dirinya menyibukkan dengan laptopnya di atas tempat tidur.


__ADS_2