Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Kesialan


__ADS_3

Setelah menikmati makan malam bersama di rumah kediaman tuan Nugraha, Arsy dan Raska berpamitan untuk pulang.


Paman, tante, dan juga kakek. Raska sama Arsy pamit untuk pulang, apakah kakek mau ikut pulang bersama kita?" ucapnya berpamitan.


"Kakek mau menginap dirumah tante kamu, mungkin satu minggu lagi kakek baru pulang. Bisa jadi, satu bulan bahkan lebih. Kakek tidak ingin mengganggu hari bahagia kalian berdua, yang pasti kakek ingin memberi waktu untuk kalian berdua untuk menikmati pengantin baru." Jawab sang kakek.


"Tidak ada kakek terasa sepi, tapi ya sudahlah. Raska tidak bisa memaksa kakek, semua keputusan ada pada kakek. Kalau begitu, kita berdua pamit pulang." Ucap Raska, kemudian setelah berpamitan keduanya mencium punggung kakek Ganta dan kedua orang tua Darma. Setelah itu, Arsy dan Darma segera keluar dan kembali masuk kedalam mobil.


Selama perjalanan, Arsy hanya diam sambil menyandarkan kepalanya pada jendela kaca mobil. Sedangkan Raska fokus dengan setir mobilnya.


Disisi lain, Darma mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat Yona ketakutan, dan ditambah lagi sang kakak terlihat menyimpan kekesalan.


"Kak Darma, pelan dong! jangan ngebut ngebut. Yona belum menikah, kak Darma! berhenti."


Sssstttttttt .... Darma pun mendadak menghentikan mobilnya.


DUG!!! "aw! sakit, kak! sakit. Kakak kenapa sih, jadi emosi begini. Kakak lupa, pesan dari kakek."


Darma menoleh kearah Yona dengan tatapan tajam, sedangkan Yona sendiri sangat ketakutan saat sang kakak mendadak emosinya memuncak.


"Kamu pikir, otak kakak tidak penat! hah!"


BRAK!! Darma memukul setir mobil dengan kuat. Kemudian langsung keluar meninggalkan Yona yang masih ketakutan dengan kakaknya.


"Kak Darma!! tunggu!" teriak Yona berusaha mengejar sambil berteriak. Namun, tetap saja tidak dihiraukan oleh sang kakak.


Yona merasa prustasi menangani emosi Darma yang meluap. Tidak mempunyai pilihan lain selain menghubungi kedua orang tuanya untuk segera mencari keberadaan sang kakak, takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya.


Darma masih terus berjalan dengan prustasi, semua harapan sudah sirna begitu saja. Tidak mungkin dirinya memperjuangkan mantan istrinya untuk kembali, Darma menyadari akan kesalahannya yang sudah menyakiti perasaan mantan istrinya.


Darma berkali kali mengacak acak rambutnya hingga terlihat berantakan. Darma tidak perduli dengan penampilannya, dirinya terus berjalan entah kemana yang akan ia tuju." Sial! sial! ini semua gara gara Zelyn, iya! Zelyn lah penyebab semuanya.


"Seharusnya aku ingat Raska, yang kapan saja bisa merebutnya kembali. Gara gara keteledoranku, kini Raska tanpa merebut Arsy dapat dimilikinya. Aaah! sial! semuanya." Gerutu Darma sambil menendang bekal botol air mineral, dan melayang entah kemana karena kekesalannya.

__ADS_1


"Aaww!! sial! siapa lagi yang melempar botol ini." Gerutunya kesal saat dirinya sedang menyantap makanan, tiba tiba harus tumpah begitu saja karena ulah seseorang yang dengan entengnya menendang botol air mineral.


"Yang melempar, laki laki itu mbak. Yang rambutnya berantakan, itu orangnya seperti sedang prustasi." Ucap salah seorang yang lewat dan melihat kejadiannya langsung, dan kemudian menunjukkannya pada si korban.


"Terimakasih, Mas!" Jawabnya. Kemudian segera menghampiri laki laki yang sudah membuatnya kesal.


"Heh! das*ar pecundang! tanggung jawab dong! main seenaknya saja." Bentak wanita tersebut dengan geram.


Darma pun segera menoleh, ucapannya seakan seakan benar adanya. Darma merasa tersindir saat wanita tersebut berucap seenaknya, pikirnya.


"Mau apa! hah! enak saja ngatain aku seorang pecundang. Sok tahu bangat kamu, cih!" Jawab Darma sambil menatap dengan tatapan kesal pastinya.


"Idih! sudah bersalah, masih tidak mau mengaku. Laki laki macam apa, kamu!"


"Kamu dibayar berapa, hah! sampai sampai ucapan kamu itu rapi dan mulus."


"Das*ar! Jaka sembung."


"Kamu bilang apa! hah!" Darma ikut emosi, ditambah lagi dengan ucapan dari wanita tersebut benar benar terdengar sangat nyata menyindir.


Darma semakin mendekati wanita tersebut dan mencengkram lengannya sedikit kuat.


"Kamu pikir, aku sudah menyet*ubuhi tubuhmu ini. Hingga dengan entengnya kamu memintaku untuk bertanggung jawab! jika kamu masih memaksaku untuk bertangung jawab. Maka aku akan melakukannya dengan senang hati, dan aku akan bertanggung jawab.


PLAK!!! Wanita itu menampar pipi Darma begitu sangat kuat.


"Kamu! berani sekali kamu menamparku. Bukankah kamu bilang sendiri, aku dimintai tanggung jawab."


"Da*sar! laki laki tidak peka."


"Apa kamu bilang, hah!"


"Iya, kamu Jaka sembung."

__ADS_1


"Kalau aku Jaka sembung, maka kamu Nyi janturnya." Ucap Darma yang juga sudah terasa geram dan kesal. Bukannya mendapatkan ketenangan karena masalah yang sedang menimpanya, justru Darma mendapat malapetaka.


"Sekarang, kamu belikan aku makanan. Aku sudah sangat lapar, ini semua gara gara kamu yang sudah melayangkan botol air mineral pada makanan aku sedang aku nikmati hingga jatuh begitu saja." Ucap wanita tersebut sambil menarik kuat lengan Darma.


"Apa kamu bilang, minta dibelikan makanan. Aku tidak mau, itu salah kamu sendiri makan di pinggir jalan."


"Ok! jika kamu tidak mau membelikan aku makanan, jangan harap aku akan melepaskanmu." Ucapnya mengancam dan meremas jari jemari Darma begitu sangat kuat. Bahkan Darma meringis kesakitan, tenaganya dengan tenaga wanita tersebut lebih kuat darinya. Darma sendiri tidak menyangkannya jika tenaganya akan kalah dari wanita tersebut.


Mau tidak mau, Darma menuruti kemauan wanita tersebut.


"Baik, akan aku turuti permintaan kamu. Tapi, lepaskan tangan kamu ini. Jari jariku terasa mau patah, sakit."


"Ini hukuman kamu yang sudah membuatku kesal, aku bisa melakukannya lebih dari ini."


"Iya iya iya! aku kalah! das*ar Nyi jantur." Gerutunya sambil berjalan menuju warung makanan.


"Jaka sembung, diam! kamu." Ucapnya sambil membentak.


"Cewek sepertimu galak, susah lakunya."


"Bod*oh! bukan urusan kamu. Cepetan jalannya, aku sudah sangat lapar."


"Aw! sakit, ngeri juga kamu bisa meremas jari jariku begitu kuat."


"Agar kamu tidak macam macam denganku."


"Iya iya iya!" Jawab Darma berdecak kesal.


Sesampainya di warung makan, semua melihatnya penuh heran. Pasalnya keduanya bergandengan tangan, semua terheran melihatnya.


"Cie ... Vina ... sudah berani menggandeng pasangannya nih ... ups!" ledek temannya yang tidak menyangka dengan sosok Vina yang sudah berani menggandeng seorang laki-laki. Ditambah lagi, Darma yang terlihat tampan meski dengan rambutnya yang berantakan. Namun, tidak membuat Darma kehilangan ke tampanannya.


"Neng Vina ... calon suami neng Vina, ya. Selamat ya, Neng. Jangan lupa, kalau menikah kabar kabar sama ibu." Ucap pemilik warung.

__ADS_1


"Tenang saja, Bu. Pasti akan kami undang semua yang mengenal Vina, jangan khawatir." Jawab Darma menimpali, sedangkan Vina langsung meremasnya kuat jari jemari milik Darma. Sadangkan Darma meringis menahan rasa sakit.


'Gile nih anak, tenaganya seperti monster.' Batin Darma menahan rasa sakit.


__ADS_2