Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Rahasia yang terbongkar


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Arsy segera beres beres sambil menunggu anak anak pulang sekolah.


"Ternyata calon istri cucuku sangatlah rajin, kamu tidak lagi di suruh suruh cucuku, kan?" tanya sang kakek menyelidik.


"Tidak kek, Arsy sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini. Kakek kenapa tidak istirahat?" jawab Arsy dengan gugup dan bertanya.


"Kakek mau istirahat dirumah saja, kakek tidak ingin merepotkan kamu. Oh iya, besok cucu kakek akan mengajak kamu ke rumah kakek. Jadi.. kamu jangan menolak permintaan kakek." Ucap sang kakek sambil tersenyum.


"Iya, kek. Arsy tidak janji, tapi akan diusahakan bisa datang di rumah kakek." Jawab Arsy tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu, kakek pamit pulang. Ingat pesan kakek yang tadi, ya." Ucap sang kakek tersenyum, Arsy pun mengangguk dan mencium punggung sang kakek.


Setelah itu, Raska dan kakek Gantara pergi meninggalkan Arsy sendirian. Meski tidak ada orang lain, Arsy selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan pekerjaan lainnya.


Sembari bersih bersih halaman sekitar, Arsy teringat akan sebuah pernikahan yang diinginkan kakek Gantara. Arsy berkali kali berfikir untuk mencari cara agar dirinya tidak dilema, dan bisa lepas dari jeratan pernikahan yang menurutnya sangat menggelitik pikirannya.


"Sebenarnya kakek tadi bercanda atau memang sungguhan apa yang dikatakan, aku sendiri sedikit tidak percaya. Namun jika benar benar kenyataan untuk menikah, aku harus bagaimana? tempat tinggal saja aku tidak punya. Jika aku kabur dari rumah ini, lantas aku harus pergi kemana. Teman saja entah dimana sekarang, benar benar menyebalkan." Gerutu Arsy sambil membersihkan halaman.


Dilain tempat, kakek Gantara kini sudah berada di rumah utama. Raska semakin menciut nyalinya, yang dimana permintaan sang kakek yang benar benar menyulitkannya.


Didalam kamar, Raska menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dirinya selalu terbayang saat kejadian di dapur, yang dimana dirinya berani menggenggam tangan seorang wanita. Dan tanpa ada beban Raska begitu mudahnya mengatakan memiliki hubungan spesial dengan Arsy. Entah keterpaksaan atau karena sedang tidak mempunyai cara lain.


"Aku harus kembali ke Gubuk masa depan anak anak, tidak mungkin aku tidur di rumah ini. Aku harus meminta izin kepada kakek, kasihan anak anak jika tidak ada yang berjaga. Ditambah lagi aku belum mencari satpam untuk aku jadikan penjaga di rumah Gubuk." Gerutu Raska sambil mengambil jaket didalam lemari.


"Aah iya, aku baru ingat. Bukankah malam ini aku ada perlu sama Tirta. Andai aku mengundurkan diri dari Restorannya, kira kira reaksi apa yang akan Tirta berikan padaku." Gerutunya lagi yang berhenti diambang pintu kamarnya.


Karena pikirannya yang semakin gusar, Raska segera menemui sang kakek untuk dimintai izin.

__ADS_1


Tok tok tok Raska ketuk ketuk pintu dan segera masuk kedalam kamar kakek Gantara dengan perasaan takut dan gugup pastinya.


"Kakek.. maaf aku mengganggu." Ucap Raska sambil pelan untuk berbicara.


"Ada apa kamu masuk ke kamar kakek tidak permisi, hah? begitu kah ilmu yang selama ini kamu dapatkan setelah kakek tinggal tanpa kabar, hah?" Hardik sang kakek menakuti.


"Maafkan aku, kek... aku hanya ingin meminta izin untuk tinggal di tempat yang dimana anak anak yang aku beri tempat tinggal." Jawab Raska sambil memohon.


"Memangnya tidak ada satpam?" tanya sang kakek yang masih pada posisinya bersandar.


"Tidak, kek. Waktu itu aku dan Boni yang tinggal disana. Tapi sejak Boni pamitan ada urusan dengan perusahaannya, sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya." Jawab Raska menjelaskan.


"Baiklah, jika ada apa apa kamu segera telfon kakek." Ucap sang kakek.


"Tidak cuman aku saja lah, kek... begitu juga dengan kakek. Jika kakek membutuhkan sesuatu, kakek jangan lupa segera menelfonku." Jawab Raska dengan komentarnya.


"Terserah kamu, sana pergi. Das*ar anak muda, baru saja pulang sudah kangen berat. Benar benar harus cepat nikah, kalau tidak bisa membuat resah keluarga dan warga sekitar." Ucap sang kakek mengingatkan.


Didalam perjalanan, Raska masih memikirkan sesuatu maksud dari sang kakek untuk mengajaknya main kerumah. Raska pun takut jika akan mendapat jebakan dari sang kakek. Berkali kali Raska menebak, namun tetap saja tidak mendapatkan jawabannya.


Tiba tiba ponselnya pun berdering, seperti ada seseorang yang menelfonnya. Raska pun segera mengangkatnya.


"Ada berita apa, katakan! Jangan bertele tele." Ucap Raska yang tidak menyukai sesuatu yang lama.


"Begini tuan, saya sudah menemukan segala bukti dari penyakit mantan istri Darma. Apakah saya perlu menemui tuan untuk saat ini?" jawab seseorang diseberang telfon.


"Aku yang akan datang menemui kamu ditempat biasa. Jangan pakai lama, aku akan segera datang." Ucap Raska memberi perintah dan langsung mematikan sambungan telfonnya.

__ADS_1


Raska segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dirinya sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan disampaikan oleh anak buahnya.


Tidak lama kemudian, Mobil pun sudah berhenti disebuah tempat yang dimana dijadikan tempat untuk pertemuan dengan orang orang yang dianggapnya penting. Raska segera keluar dari mobilnya dan bergegas masuk kedalam.


"Silahkan duduk, tuan." Ucap salah satu anak buahnya.


"Apa yang akan kamu sampaikan, cepat katakan." Ucap Raska yang tidak suka basa basi.


"Ini tuan, bukti dari segala bukti tentang mantan istri tuan Darma. Silahkan tuan untuk melihatnya sendiri." Jawabnya sambil menyerahkan sebuah rekaman video dari CCTV di berbagai rumah sakit, termasuk rumah sakit miliknya.


Dengan seksama, Raska memperhatikan video tersebut dengan sangat lekat. Detik demi detik pindah menjadi durasi yang menjadi cukup lama Raska melihat dan mendengar rekamannya.


Darahnya berubah mendidih, rahangnya mengeras. Otaknya seakan langsung bekerja dengan hebat, kedua tangannya mengepal seakan ingin melayangkan tinjuannya. Anak buahnya yang melihat ekspresi Raska pun sangat ketakutan akan amarahnya akan di lampiaskan kepada anak buahnya.


Setelah mengetahui semuanya, Raska langsung menutup laptopnya dengan kasar.


"Sekarang kalian cepatlah pergi, simpan bukti ini serapat mungkin. Akan ada saatnya bukti itu akan aku lemparkan kepada pemiliknya, untuk sementara masih aku biarkan untuk bernafas." Perintah Raska, dengan sigap semua anak buah segera meninggalkan Raska sendirian didalam.


Raska pun masih duduk dan masih dipenuhi emosi yang tinggi, Raska berusaha mengatur nafasnya sebisa mungkin. Agar pikiranya sedikit tenang. Setelah merasa lebih baik, Raska segera pergi meninggalkan tempat khusus pertemuan.


Didalam perjalanan, Raska tanpa pikir panjang segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Restoran milik Tirta.


Setelah sampai di Restoran Tirta, Raska segera menuju tempat yang dimana dijadikan tempat khusus.


"Hei bro, kenapa wajah kamu terlihat kusam, kusut dan tidak karuan. Kamu ada masalah, duduklah." Ucap Tirta mempersilahkan duduk sambil berkomentar.


"Ada perlu apa kamu mengajak pertemuan? ada masalah?" tanya Tirta penasaran.

__ADS_1


"Kakek Gantara masih hidup." Jawab Raska dengan meninggikan alisnya sebelah.


Tirta yang mendengarnya pun shok dan kaget.


__ADS_2