
Darma yang mendengarnya pun langsung mendekati istrinya.
"Sekali lagi kamu sebut Jaka sembung lagi, aku akan paksa kamu untuk mengakui status kamu di kantor." Ucap Darma mengancam.
"Aku tidak takut, justru aku akan merasa tenang jika statusku banyak yang tahu. Karena apa, karena tidak ada lagi laki laki yang berani mendekati aku. Apa lagi suamiku pak Darma, wah ... semakin pada kabur. Karena pastinya takut dipecat, itu karyawan pak Darma. Kenapa? Pak Darma kira aku akan takut? tidak!" Jawabnya yang tidak kalah menantangnya.
'Benar juga kata dia, dan pastinya tidak ada laki laki yang dekatin.' Batin Darma merasa kalah telak.
"Terserah kamu saja, lah. Aku mau mandi, siapkan pakaian kerjaku. Semua ada di lemari, kamu tinggal pilih dan siapkan di atas tempat tidur. Jangan banyak protes, titik." Ucap Darma, kemudian segera masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Arsy sendiri langsung mengambil baju pakaiannya yang berada didalam lemari, dirinya mencoba memilih baju tidak ada yang cocok satupun. Vina merasa prustasi, semua pakaian yang tergantung adalah pakaian yang sangat anggun.
'Bagaimana ini, dari tadi aku tidak mendapati pakaian yang pas untukku. Semua sangat menggelikan, bahkan aku sendiri tidak terbiasa mengenakannya. Aaah! iya, aku pakai saja pakaian pak Darma. Aku yakin, pasti ada baju yang cocok untukku.' Batinnya sedikit prustasi.
Vina pun segera membuka lemari pakaian milik suaminya, Vina mencoba memilih pakaian yang kiranya cocok untuknya. Tiba tiba Vina mendapati pakaian yang menurutnya pas ditubuhnya.
"Nah, ini dia. Ini baru pas untuk aku, dan pastinya sangat cocok untukku." Ucapnya lirih.
Dengan cepat, Vina langsung mengenakan pakaiannya. Setelah dirinya merasa sudah rapi dalam berpakaian, Vina segera menyiapkan pakaian untuk suaminya.
'Aku tidak pernah menyiapkan baju kerja kantoran, ini benar benar tantangan buatku. Aaah! terserah aku, yang terpenting aku siapkan pakaian lengkapnya. Tunggu! yang benar saja, aku harus mengambil cel*ana dalamnya. Aaaah! benar benar menggelikan, sungguh tidak dapat aku bayangkan. Benar benar konyol kehidupanku yang sekarang, bersuami seperti tahu bulat. Apalagi kalau bukan dadakan, hem!' batinnya sambil mengambil pakaian lengkapnya.
Setelah menyiapkan pakaian lengkap milik suaminya, Vina segera menyisiri rambutnya. Dirinya lupa, bahwa rambutnya belum Vina sisir.
Tidak lama kemudian, Darma telah selesai mandi. Kemudian, Darma segera mengenakan pakaiannya. Tanpa ada rasa malu di depan istri barunya, Darma mengenakannya dengan santai tanpa rasa canggung. Sedangkan Vina sendiri fokus didepan cermin, dirinya tidak berani menoleh kearah suaminya. Takut, jika kedua matanya dapat menangkap bayangan yang tidak diinginkan.
Setelah selesai berpakaian, Darma mendekati Vina yang sedang duduk didepan cermin. Darma langsung meraih sisir rambut yang masih dipegang istrinya tanpa memperhatikan sang istri yang mengenakan bajunya.
Saat Darma sedang bercermin sambil menyisiri rambutnya, tiba tiba Vina tercengang saat melihat ketampanan sang suami. Vina sendiri baru menyadarinya, bahwa sang suami tidak kalah tampannya dengan Raska.
__ADS_1
'Benarkah ini suamiku, pantas saja banyak yang mendaftar untuk menjadi sekretarisnya. Tapi kenapa aku yang dipilihnya, hingga berakhir menjadi suamiku. Sungguh, aku benar benar tidak dapat mencernanya. Semua diluar pemikiranku, justru yang sedang aku pikirkan saat itu adalah tidak diterimanya menjadi sekretarisnya. Lah ini, satu kamar dan satu ranjang. Sungguh, aku merasa seperti mimpi.' Batinnya sambil menatap lekat suaminya lewat cermin.
"Kamu memandangiku seperti ini, ada apa denganmu?" bisik Darma didekat telinga istrinya sambil membungkukkan badannya.
"Aaah! itu perasaan pak Darma sendiri, aku hanya menunggu sisir untuk bergantian. Sini, sisir Rambutnya." Jawab Vina bergidik ngeri saat sang suami berbisik didekat telinganya.
"Cepetan, ayo kita berangkat." Perintah Darma sambil mengenakan jas nya.
"Seharusnya ini tugas kamu, mengenakan dasi dan jasnya juga. Tapi kamu lebih memilih sibuk didepan cermin, ya sudahlah." Ucapnya menggerutu.
"Maaf, pak. Aku belum terbiasa, dan aku takut salah."
"Jika salah, akan aku benarkan. Jika sudah benar, akan aku nilai bintang lima." Jawabnya asal. Sedangkan Vina tidak meresponnya.
"Cepetan, kenapa kamu masih duduk disitu. Apa perlu aku menggendong kamu, heem!!"
Vina pun langsung bangkit dari tempat duduknya, meski sedikit ragu akan penampilannya yang mengenakan baju milik suaminya. Vina berusaha untuk tenang dan membuang rasa cemas dan takut, pastinya.
"Apa? kamu memakai bajuku?"
"Iya, pak. Maafkan aku, habisnya aku tidak bisa pakai baju seksi. Aku lebih nyaman pakaian yang seperti, tapi bukan berarti aku suka sama wa*nita. Mengerikan, oooh! tidak ..." Jawab Vina sambil terbayang yang tidak tidak.
"Terserah kamu, itu hak kamu. Aku tidak ada paksaan untuk penampilan kamu, asal itu sopan dan tidak senonoh." Ucapnya sambil merapihkan penampilannya.
"Terimakasih, pak." Jawabnya, sedangkan Darma langsung keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Vina pun mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang sampai di ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Vina dan Darma menikmati sarapan paginya dengan segelas susu dan roti panggang. Setelah sarapan pagi, keduanya segera berangkat ke kantor.
"Duduk didepan, jangan protes."
__ADS_1
"Tapi, pak ... aku tidak terbiasa duduk didepan. Biar aku duduk dibelakang saja, Pak." Jawab Vina merasa canggung.
"Memang kamu pikir, aku ini supir kamu, hah? cepat, duduk didepan."
Vina yang mendengarnya pun sedikit merasa bingung, ditambah lagi jika sampai dikantor. Semua karyawan maupun staf lainnya akan heboh, dan pastinya akan membicarakannya.
Vina benar benar tidak dapat membayangkannya, apalagi jika calon istrinya Hendi yang melihatnya. Vina benar benar takut dan cemas, pastinya.
Dengan terpaksa, Vina duduk didepan. Meski hati kecilnya telah menolak permintaan sangat suami, mau tidak mau Vina tidak bisa menolaknya.
"Nah, gitu dong. Ini namanya istri penurut, tidak membangkang pada suaminya." Ucap Darma tersenyum tipis, sedangkan Vina sama sekali tidak meresponnya.
Vina terus fokus pandangannya ke arah luar jendela kaca mobil, Vina sama sekali tidak ada keberanian untuk menoleh kearah sang suami yang sedang fokus dengan setirnya.
Didalam perjalanan, keduanya hanya saling diam tanpa ada yang berucap sepatah katapun. Darma yang sedari tadi hanya fokus dengan setirnya, dan pandangannya pun fokus kedepan dan tanpa menoleh kearah sang istri.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, tidak terasa Vina dan Darma telah sampai didepan kantor.
"Sudah sampai, cepetan turun." Ucap Darma membuyarkan lamunan istrinya.
"Apa, sudah sampai? yang benar saja, pak."
"Buka lebar kedua mata kamu, kita sudah sampai atau belum?"
"Ah! iya, aku sampai lupa. Maaf, aku datang ke kantor ini baru dia kali."
"Jangan lupa, dilepas itu sabuk pengamannya."
"Terimakasih sudah mengingatkan aku, pak. Dan, terimakasih juga sudah memberikan tumpangan untukku."
__ADS_1
"Iya iya iya! cepetan turun." Perintahnya, Vina pun segera turun dari mobil suaminya.
Semua karyawan kaget bukan main, semua melihat Vina yang turun dari mobil Bosnya terheran heran.