
Didalam perjalanan, Darma dan Vina menikmati hari liburannya ke luar kota. Sesekali menikmati pemandangan antara daerah yang satu ke daerah yang lainnya benar benar sangat memuaskan berbagai pemandangan indah yang terlihat.
"Sayang, sebenarnya kita mau pergi kemana? kota? desa? atau pegunungan sih?" tanya Vina sambil menatap serius didepan suaminya.
"Menurut kamu? kota atau ...." ucapnya tehenti. Vina maupun Darma saling menatap dengan perasaan cemas, begitu juga dengan supirnya.
"Kenapa berhenti, Pak?" tanya Darma pada supirnya.
"Sepertinya ban mobilnya bocor deh, Pak." Jawabnya cemas, kemudian segera keluar dan memeriksa kondisi mobilnya.
"Darma maupun Vina segera melepas sabuk pengamannya dan keluar untuk ikut memeriksa kondisi mobilnya.
"Apa ... ban mobilnya masuk kedalam kubangan. Aduh! bagaimana ini, Pak?" ucap Darma semakin lemas.
"Maklum, Pak. Jalanan desa, ya seperti ini." Jawabnya sambil garuk garuk tengkuk lehernya.
"Bapak sih, kenapa lewat jalur ini. Memangnya kita mau dibawa kemana sih, Pak?" tanya Darma yang juga masih belum mengerti arah tujuannya. Yang Darma tahu hanya mengurus proyek. Soal proyeknya pun, Darma tidak mengetahuinya.
"Ke Desa, Tuan. Ini permintaan tuan Besar kakek Gantara, nanti setelah sampai akan saya jelaskan dengan rinci." Jawabnya berusaha meyakinkan majikannya.
"Asik nih, ke desa. Pasti suasananya sangat Asri dan dingin." Ucap Vina dengan senyum mengembang.
"Benarkah? sok tahu." Ucap Darma menimpali dengan ketus.
"Hem! ya sudah kalau tidak percaya, aku sih percaya saja dengan perkiraanku." Jawabnya yang ikutan ketus
"Maaf Tuan, kita mau mencari bantuan dengan siapa?" tanya pak supir sambil celingukan. Berharap akan beberapa orang lewat untuk membantu mendorong mobil tersebut.
"Kurang tahu, Pak. Belum terlihat ada orang lewat, sepi." Jawabnya yang juga ikut celingukan.
__ADS_1
Vina sendiri sedang berpikir untuk mencari cara, agar dirinya dapat menyelesaikan kesulitannya.
"Aku ada ide, sayang." Ucap Vina yang tiba tiba mendapatkan ide yang menurutnya cemerlang.
"Ide apaan? awas saja, kalau idenya konyol. Pikiran Kamu kan bisa melancong jauh sampai ke Antartika jika mencari ide atau jalan buntu." Tanya Darma ingin tahu.
"Enak saja, tidak lah. Begini caranya, pak Bejo dan kamu yang mendorong mobilnya." Jawab Vina dan tersenyum.
"Terus ... yang menyalakan mesinnya siap? yang nyetir siapa? hem!"
"Kamu menyepelekanku rupanya, cepat dorong. Biar aku yang mengoperasikan mesin mobilnya, nasib ada ditangan kamu dan pak Bejo."
"Sok sok an mengoperasikan mobilnya, palingan juga suara dreeuummm dreeuuumm." Ejek suaminya sambil menunjukkan ekspresinya. Entah kesambet demit mana lagi, keduanya kembali beradu argumen.
Tidak pakai lama, Vina langsung masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Darma yang melihat tingkah istrinya pun hanya menggelengkan kepalanya dan memijat pelipisnya. Tidak hanya itu, pak Bejo sendiri ikut dibuat heran dengan tingkah istri majikannya.
'Sepertinya aku kurang yakin, jika istrinya Tuan Darma dapat mengendarai mobil. Terlihat dari penampilannya saja sudah bisa ditebak dengan mudah. Mungkin saja melewak, sembari menunggu orang lewat, pikir pak Bejo yang meragukan kemampuan istri majikannya sendiri.
"Tuan, yakin tidak nih. Jika istrinya Tuan dapat mengendarai mobil, takutnya benar benar tidak bisa mengoperasikannya. Kalau kelabasan dan menabrak sesuatu, bagaimana? saya takut." Tanya pak Bejo penuh dengan rasa ketakutan jika terjadi sesuatu dengan Vina.
Darma sendiri masih memikirkan dengan perkataan pak Bejo, Darma takut perkataa pak Bejo benar benar kenyataannya.
"Sayang, turun saja kamu. Nanti kalau beneran kelabasan, bagaimana? nanti kamu nabrak sesuatu." Ujar Darma sambil menatap istrimu dengan serius.
"Sudahlah, kamu jangan khawatir. Aku bisa mengoprasikannya, yakinlah." Jawab Vina mencoba meyakinkan suaminya itu.
"Kamu yakin, jika kamu bisa mengendarai mobil? nanti kelabasan dan menabrak sesuatu bagaimana, sayang? ayolah turun." Pinta suaminya yang takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Yakin lah, kenapa kamu meragukan suami kamu. Oh iya, aku sampai lupa. Aku mantan kernet mobil dan juga supir mobil, jadi jangan takut. Palingan juga, nih mobil aku bawa kabur." Jawab Vina sambil mengedipkan matanya menggoda. Darma yang melihat ekspresi istrinya bukannya tergoda, justru bergidik ngeri melihatnya.
__ADS_1
Darma kembali kebelakang dan mengajak pak Bejo untuk ikut mendorong mobilnya.
"Pak, ayo kita dorong nih mobil." Perintah Darma.
"Tuan, benar benar yakin nih. Jika Tuan mengizinkan Nona untuk mengoperasikan mobilnya, kalau kelabasan bagaimana nanti, Tuan? saya benar benar takut." Jawabnya dan bertanya kembali.
"Sudahlah, Pak. Mendingan kita nurut saja dengan istriku, Pak." Ucap Darma meyakinkan.
"Iya, Tuan." Jawabnya, kemudian pak Bejo maupun Darma segera mendorong mobilnya. Dengan tenaganya yang ekstra, Darma dan pak Bejo mengeluarkan tenaganya sekuat mungkin.
"Satu ... dua .... ti-ga ...." seru pak Bejo berhitung berkali kali, namun tetap saja tidak berhasil.
"Sudahlah, sayang. Kita tunggu orang lain lewat saja, kita berdua tidak dapat mendorongnya. Tenaga kita cuman dua orang, tetap saja percuma." Ucap sang suami yang sudah menyerah.
"Begini saja, kamu yang mendorong mobilnya bersama pak Bejo." Jawab Vina dengan santai, sedangkan Darma yang mendengarnya merasa terhina dan tidak percaya.
"Tudak, aku tidak mengizinkan kamu mendorong mobil. Kamu ini perempuan, tenaga kamu tidak ada separuhnya dengan tenaga laki laki. Jangan, aku tidak mengizinkan kamu. Kalau kamu terjadi apa apa, siapa yang nanggung? kamu sendiri yang merasakannya." Aku tidak mengizinkanmu, jangan protes." Ucap Darma sedikit khawatir, jika istrinya sudah bersikeras.
"Halah! begitu saja takut, jangan khawatir. Aku sudah terbiasa melakukannya, percaya saya denganku." Jawabnya, kemudian segera turun dari mobil.
"Cepetan masuk kedalam, lakukan dengan benar. Mau tidak mau, aku akan menarukmu sampai didepan setir mobil." Ancam Vina sambil menarik tangan milik suaminya itu.
"Baiklah, sayang. Tapi, jangan kamu paksakan jika kamu tidak kuat untuk mendorong. Ingat loh, kamu ini perempuan. Jangan membuang buang tenaga yang tidak sepatutnya kamu lakukan." Ucap Darma yang tidak rela jika istrinya ikut mendorong mobilnya.
"Iya ya, jangan khawatir." Jawabnya, kemudian segera kebelakang mobil membantu pak Bejo untuk ikut mendorong mobilnya.
Pak Bejo yang melihat aksi Vina pun terkejut dibuatnya. Bagaimana tidak terkejut, seorang suami saja tidak mampu mendorong mobilnya. Tiba-tiba sosok perempuan yang tidak lain istri Bosnya yang ikut membantu mendorong mobil.
"Maaf, Nona. Kenapa Nona ikut mendorong mobilnya? kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bagaimana? saya khawatir." Tanya pak Bejo merasa tidak enak hati, saat istri majikannya ikut turun tangan.
__ADS_1
"Tidak apa apa, Pak. Sudahlah, jangan di bahas dulu. Sekarang, ayo kita dorong mobilnya. Semoga berhasil, Pak." Jawab Vina meyakinkan, pak Bejo hanya bisa mengangguk pasrah.